Search This Blog

Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts
Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts

SKRIPSI PTK THE USE OF PICTURE SERIES TO HELP THE STUDENTS WRITE A RECOUNT TEXT

(KODE : PTK-0712) : SKRIPSI PTK THE USE OF PICTURE SERIES TO HELP THE STUDENTS WRITE A RECOUNT TEXT (MAPEL BAHASA INGGRIS KELAS X)

contoh ptk bahasa inggris kelas x

CHAPTER I 
INTRODUCTION

A. Background of the Study
English is well-known as a global language used by people to communicate with other people around the world. If someone does not know English, he will get difficulties in having communication with other people that use English. Therefore, mastering English language is very important.
The fact that mastering English is very important becomes the background for the government of Indonesia to put English in the formal education curriculum. The government of Indonesia has put English as a compulsory subject since the fourth grade of elementary school. It is expected that every student will be able to master English so the student does not find any obstacles dealing with language when the student is having communication with other people from around the world.
Feez (1998) argues that enabling learners to develop the knowledge and skills which will allow them to engage with whole texts appropriate to social context is the aim of English language teaching. Because of that, the government of Indonesia is implementing the School Based Curriculum which focuses on texts both in junior and senior high school levels. In the curriculum, senior high school students are obliged to learn English through different texts which have different function based on social context. Therefore, the syllabus used in the learning and teaching activities is text-based syllabus. The genre-based approach is one example of approaches used in text-based syllabus (Feez, 1998). Some texts to be taught in senior high schools are recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, spoof, hortatory exposition, explanation, discussion, and review (BSNP, 2006).
Those texts should be learned by the students in all language skills which are listening, speaking, reading, and writing. However, each student has different types of difficulties related to those four skills. Some of them consider writing as the most difficult skill to be learnt. Tiedt (1989 : 6) states that "of all the language skills, writing is the most difficult and it is a hard work." As with speaking, the writer generates ideas. On the other hand, writing is important to be mastered to express ideas without the pressure of face-to-face communication (Raimes, 1983). 
Unfortunately, based on the researcher's experience and observation when he was doing his Program Pengalaman Lapangan (PPL), many English teachers usually do not give equal portion of teaching to the four language skills when they are teaching the students. Many English teachers usually assign the students to write a text at home and then they submit their writing in the following meeting. The teachers do not understand that writing has to be done after several stages of writing starting from brain-storming until final draft of writing. They even do not give any feedback on the students' writing so that the students cannot know whether their writing is good or not. It can be the obstacle for the students to improve their writing skills.
The students in SMAN X also considered writing as the most difficult skill to learn. The researcher asked the students to write down their simple opinion towards writing on the back side of their drafts while the researcher taught the students. From the data, there were more than 50% students who stated that writing is difficult. They found a lot of difficulties in writing. Based on the researcher's observation, the students had problem in writing a recount text. They needed much time to start writing because they did not have any idea to write and they had very limited English vocabulary. Besides, the result of the students' recount texts was not really satisfying. Their ideas were not organized well. They also made mistakes mostly on the use of past tense, minimum requirements, and even some of them did not write proper recount text based on the generic structure of a recount text. It was so ironic since recount is one of the texts that have more value in the context of schooling (Gerot and Wignell, 1994) as cited by Mulya (2007 : 17). Feez (1998) adds that recount is classified as the simplest story text.
The reasons motivated the researcher to conduct a classroom action research to help the students write a recount text. Besides, the researcher, who considers that writing is not really difficult, wants to help the students in that class write a recount text so that they will not think that writing is difficult anymore.
The research offered a solution in the form of instructional media to overcome the problem faced by the students by using picture series. Picture series were chosen because they have many advantages. Using what appears in the pictures, the students can get ideas and opportunity to write in a connected way (Kreidle, 1968). It will help the students write a text without spending much time only to find ideas. Well-chosen picture series also give motivation to the students in learning situation, especially in learning how to write (Kieffer and Cochran, 1985). Besides, picture series provide material that offers guidance on vocabulary, sentence structure, and organization yet lets the students write about new subject matter (Raimes, 1983).
Some previous research dealing with the use of picture series in teaching writing showed good results. One of them was done by Setiawaty in 2003. Setiawaty used the picture series to help her students write a narrative text. Based on Setiawaty's research, the use of picture series helped her students write a narrative text. Understanding the advantages provided by picture series and also the problems in writing a recount text faced by the students, the use of picture series can be a good solution in the form instruction media for the students in this research in writing a recount text.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN MELALUI METODE QUANTUM WRITING

(KODE : PTK-0711) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN MELALUI METODE QUANTUM WRITING (MAPEL BAHASA INDONESIA SMK KELAS XII)

contoh ptk bahasa indonesia smk kelas xii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi untuk menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan proses pembelajaran, metode pembelajaran, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan agar relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa di masa yang akan datang, pemerintah perlu mengupayakan suatu pembaharuan terhadap sistem pendidikan.
Pembaharuan sistem pendidikan dapat dilakukan salah satunya melalui peningkatan mutu mata pelajaran Bahasa Indonesia karena merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting di SMK yang saat ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Hal ini perlu di tingkatkan, karena Bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan dan sebagai bahasa resmi yang telah disepakati bersama oleh seluruh bangsa Indonesia. Melalui bahasa manusia mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.
Mengingat pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi, maka dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK juga harus diarahkan pada tercapainya keterampilan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis, maupun dalam hal pemahaman dan penggunaan. Kemahiran bahasa lisan menekankan pada aspek bicara dan menyimak, sedangkan kemampuan bahasa tulis menekankan pada aspek menulis dan membaca. Sesuai dengan perkembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana yang menarik agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi siswa adalah menulis surat karena surat merupakan suatu pernyataan tertulis maka pemakaian bahasa pada surat-menyurat sangat mempengaruhi informasi yang disampaikan. Khusus untuk pemakaian bahasa pada surat menyurat yang sifatnya resmi, maka penulisan harus sesuai dengan kaedah atau aturan yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Menurut Tarigan (1994 : 1) keterampilan berbahasa mencakup empat aspek yaitu menyimak (listening Skill), Berbicara (Speaking Skill), Membaca (Reading Skill) dan Menulis ( Writing Skill). Penguasaan keempat aspek ini merupakan keterampilan dasar. Untuk menunjang keberhasilan tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia, maka siswa terampil dalam berbahasa yang mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan apresiasi sastra.
Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut, aspek keterampilan menulis merupakan aspek yang paling tinggi dan paling kompleks tingkatannya. Aspek keterampilan menulis jauh lebih sukar dan jauh lebih rumit dibandingkan aspek kebahasaan yang lainnya, seperti keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan membaca. Menulis merupakan salah satu dari pokok bahasan bahasa Indonesia yang bertujuan memberikan bekal keterampilan dan kemampuan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide atau pesan. Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulis menulis juga dapat diartikan sebagai cara berkomunikasi dengan mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis.
Keterampilan menulis dianggap sebagai keterampilan yang sulit dan rumit tetapi keterampilan menulis itu sangatlah penting untuk dipelajari dan dilakukan terus menerus. Keterampilan menulis harus didukung juga oleh keterampilan lainnya terutama keterampilan membaca, karena membaca dan menulis saling berkaitan. Menurut maksud dan menurut tujuannya surat dibagi menjadi empat macam surat yaitu : surat permohonan atau permintaan, surat keputusan, surat kuasa, dan surat lamaran.
Berdasarkan empat macam surat di atas, pelajaran menulis surat lamaran pekerjaan merupakan salah satu aspek pengajaran bahasa Indonesia yang pembelajarannya tidak difokuskan secara sungguh-sungguh, maka peneliti mengambil satu bentuk surat yang dijadikan penelitian yaitu surat lamaran pekerjaan karena dalam menulis surat lamaran pekerjaan siswa masih sangat sulit dalam menggunakan isi gagasan, pilihan kata, kalimat, paragraf, dan ejaan. Materi menulis surat lamaran pekerjaan ini diberikan pada siswa, untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan, khususnya dalam proses pembelajaran diperlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pemilihan metode yang tepat. Dalam upaya meningkatkan hasil menulis surat lamaran pekerjaan siswa kelas XII TFL SMKN X, penulis perlu melakukan inovasi kreatif, yaitu dengan cara menerapkan metode pembelajaran yang dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa, sehingga menimbulkan proses pembelajaran yang aktif.
Hasil observasi awal yang dilakukan di SMKN X terungkap dari keluhan guru bahasa Indonesia, menjelaskan bahwa pokok bahasan menulis surat mereka rendah.
Rendahnya kemampuan menulis siswa dipengaruhi beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal terlihat pada kurang terampilnya siswa mempergunakan ejaan dan memilih kata sehingga penyusunan kalimat masih banyak mengalami kesalahan. Faktor eksternal muncul dari pemilihan strategi dan pendekatan yang digunakan guru. Guru masih terikat pada pola pembelajaran tradisional dan monoton. Kondisi seperti ini dapat menghambat para siswa untuk aktif dan kreatif sehingga menyebabkan rendahnya kualitas siswa. Sistem pembelajaran dengan pendekatan tradisional yang masih diterapkan guru tidak mampu menciptakan anak didik yang diidamkan, terutama untuk bidang keterampilan menulis. Hal ini dikarenakan dominasi guru dalam pembelajaran dengan pendekatan tradisional lebih menonjol dan dikuasai guru, sehingga keterlibatan siswa kurang mendapat tempat. Guru lebih banyak mendominasi sebagian besar aktivitas proses belajar-mengajar sehingga para siswa cenderung pasif. Jika keadaan tersebut terus berlanjut, tanpa ada solusi penanggulangannya secara tepat dikhawatirkan lama-kelamaan akan menurunkan kemampuan dan kualitas siswa dalam menulis.
Pemilihan strategi dan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus betul-betul dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat mencapai sasaran.
Dalam meningkatkan partisipasi aktif fisik dan mental siswa, guru hendaknya tidak mendominasi aktivitas belajar-mengajar, tetapi memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk berinteraksi dengan guru, dengan materi pelajaran maupun dengan sesama manusia. Demikian juga siswa hendaknya diberi kesempatan berlatih pada saat guru menyampaikan pelajaran yang berupa suatu keterampilan. Untuk itu agar pembelajaran menjadi menyenangkan dan hasil menulis surat lamaran pekerjaan siswa menjadi lebih aktif maka guru menerapkan metode pembelajaran Quantum Writing karena merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi lewat proses menulis. Seseorang yang menjalankan konsep “Quantum writing”, akan merasakan bahwa dirinya sedang berinteraksi dengan dirinya yang unik, materi tulisan yang sedang ditulisnya, dan dengan pikiran-pikiran orang lain yang telah dibicarakannya sebelum dia menulis.
Pembelajaran dengan metode Quantum Writing mempunyai tahap-tahap dalam proses pembelajaran dalam menulis, tahap-tahap tersebut, yaitu tahap persiapan, draft kasar, berbagi, revisi, penyuntingan, penulisan kembali, dan evaluasi.
Dari latar belakang tersebut, maka penulis memilih judul yang akan memperbaiki kemampuan belajar Bahasa Indonesia dengan menulis surat lamaran pekerjaan yaitu berupa “PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN SISWA DI KELAS XII JURUSAN TEKNIK FABRIKASI LOGAM (TFL) SMKN X”.

SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR

(KODE : PTK-0710) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR (MAPEL IPS KELAS IV)

contoh ptk ips kelas iv

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan membantu manusia untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Belajar tentunya tak lepas dari pendidikan, pelajaran yang dikemas dengan menarik tentunya dapat membantu siswa lebih menyenangi pelajaran tersebut sehingga pelajaran tersebut dapat diterima oleh siswa. pembelajaran yang menarik tentunya dapat diberikan kepada siswa apabila guru menggunakan media belajar.
Belajar adalah suatu proses kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan pada tingkat pengetahuan atau sikapnya. Azhar Arsyad (2011 : 1).
Sedangkan Hujair (AH Sanaky 2013 : 11) mengemukakan proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan melalui saluran atau media tertentu. Proses komunikasi harus diciptakan dan diwujudkan melalui kegiatan penyampaian pesan, tukar menukar pesan atau informasi dari setiap pengajar kepada pembelajar atau sebaliknya. Pesan atau informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide, pengalaman, dan sebagainya.
Melalui proses komunikasi, pesan dapat diterima, diserap, dan dihayati oleh penerima pesan. Maka agar tidak terjadi kesalahan dalam proses komunikasi, perlu digunakan sarana yang dapat membantu proses komunikasi pembelajaran yang disebut dengan media pembelajaran.
Pendidikan IPS sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang bertanggung jawab, menuntut pembelajaran menarik dengan menggunakan media pembelajaran juga dapat menumbuhkan sikap belajar yang menyenangkan dan dapat memancing siswa menjadi aktif.
Dwi Siswoyo (2007 : 119) menyatakan bahwa guru merupakan pendidik yang berada di lingkungan sekolah. Keberhasilan suatu pembelajaran tergantung pada interaksi guru dengan siswa. interaksi guru dengan siswa akan muncul apabila guru dapat mengelola kelasnya dengan baik.
Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Menurut Hisyam Zaini (2008 : xiv) belajar aktif merupakan salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian disimpan dalam otak. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti siswa yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan belajar aktif ini siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran tidak hanya mental tapi juga fisik.
Konsep pembelajaran aktif bukanlah tujuan dari kegiatan pembelajaran, tetapi merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Aktif dalam strategi ini adalah memposisikan guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang aktif. Dalam proses pembelajaran yang aktif itu terjadi dialog yang interaktif antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru atau siswa dengan sumber belajar lainnya. Dalam suasana pembelajaran yang aktif tersebut siswa tidak terbebani secara perseorangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam belajar, tetapi mereka dapat saling bertanya dan berdiskusi sehingga beban belajar yang aktif ini diharapkan akan tumbuh dan berkembang segala potensi yang mereka miliki sehingga pada akhirnya dapat mengoptimalkan hasil belajar mereka. (Hamzah dan Nurdin Mohamad 2011 : 10).
Sedangkan Warsono dan Hariyanto (2012 : 12) mengemukakan pembelajaran aktif secara sederhana didefinisikan sebagai metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran aktif mengkondisikan agar siswa selalu melakukan pengalaman belajar yang bermakna dan senantiasa berfikir tentang apa yang dapat dilakukannya selama pembelajaran. Pembelajaran aktif melibatkan siswa untuk melakukan sesuatu dan berpikir tentang sesuatu yang dilakukannya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif merupakan strategi yang dapat diberikan kepada siswa supaya siswa memperoleh pelajaran yang bermakna, menemukan ide-ide, dan mengungkapkan apa yang telah diterima dalam proses pembelajaran.
Menurut Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2011 : 33) tentang ciri atau kadar dari proses pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa yaitu : 
a. Siswa aktif mencari atau memberikan informasi, bertanya bahkan dalam membuat kesimpulan.
b. Adanya interaksi aktif secara terstruktur dengan siswa.
c. Adanya kesempatan bagi siswa untuk menilai hasil karyanya sendiri.
d. Adanya pemanfaatan sumber belajar secara optimal.
Menurut Nana Sudjana (2005 : 61), keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dapat dilihat dalam
1. turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya;
2. terlibat dalam pemecahan masalah;
3. bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya;
4. berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah; melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru;
5. menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya;
6. melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis;
7. kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
Pembelajaran yang jika hanya gurunya saja yang aktif tanpa melibatkan siswa merupakan siswa pembelajaran kurang berhasil. Siswa yang tidak aktif cenderung hanya duduk dan diam saja. Jika guru memberi pertanyaan hanya siswa yang dikatakan pandai saja yang bias menjawab pertanyaan guru.
Menurut hasil observasi dengan guru bernama pak AHB hal inilah yang terjadi pada siswa kelas IV SD pada saat pembelajaran siswa kurang menunjukkan sikap yang aktif dalam belajar. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kurang efektifnya pembelajaran IPS, ketika pembelajaran berlangsung banyak siswa yang berbicara sendiri serta adanya beberapa anak yang kurang memperhatikan guru dengan mated yang diajarkan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Negeri X kelas IV, selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti menemukan permasalahan sebagai berikut.
Pada mata pelajaran IPS, siswa dalam mengikuti pelajaran belum sepenuhnya dapat berpartisipasi aktif dalam mengerjakan tugas, menjawab pertanyaan, bertanya, serta dalam menanggapi beberapa pertanyaan yang disampaikan guru. yang terlihat pada mata pelajaran IPS, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru selama proses pembelajaran kurang bervariasi dalam arti guru hanya menggunakan buku pedoman siswa, sehingga siswa menjadi tidak memiliki motivasi tinggi untuk aktif belajar. Hal ini dibuktikan pada saat dilakukan observasi, proses pembelajaran yang berlangsung guru menggunakan buku pelajaran IPS dan siswa mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru serta mengerjakan tugas. Akibatnya pembelajaran menjadi monoton yang membuat siswa merasa tidak bersemangat. Pembelajaran yang seperti ini kurang memberikan kesan untuk siswa dan pengalaman yang bam. Pembelajaran yang berpusat pada guru juga tidak memberikan sikap aktif pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. 
Penggunaan metode yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran juga menggunakan metode pembelajaran yang kurang bervariasi, sehingga membuat pembelajaran kurang menarik bagi siswa, akibatnya siswa hanya dapat membayangkan apa yang disampaikan guru, siswa tidak dapat melihat wujud dari apa yang sudah disampaikan guru. Berdasarkan permasalahan di kelas IVA, maka peneliti menerapkan penggunaan media pembelajaran yang dapat membuat aktif. Terdapat berbagai media salah satunya yang dapat membuat siswa aktif. Salah satunya adalah media gambar dimana siswa akan lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan proses pembelajaran. Dengan menggunakan gambar kita akan merasa lebih dekat, seolah-olah kita menyaksikan sendiri. Media gambar digunakan untuk mendapatkan gambaran yang nyata, menjelaskan ide, dan menunjuk objek (benda) yang sebenarnya. Media gambar adalah salah satu media yang paling tepat untuk siswa, media gambar yang diberikan kepada siswa sesuai dengan karakteristik siswa kelas IV yaitu siswa belum mampu berpikir secara abstrak, sehingga media yang paling tepat untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa adalah media gambar.
Media gambar dapat membuat pembelajaran lebih menarik, Oemar Hamalik (dalam Azhar Arsyad, 2011 : 2) menjelaskan untuk mewujudkan pembelajaran menarik tersebut, seharusnya menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahan alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Sudah saatnya pengajaran mata pelajaran menggunakan media. Sebab diyakini bahwa dengan memiliki media pembelajaran yang baik dan efekif dapat menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna. Oleh karena itu maka peneliti ini menerapkan penggunaan media pembelajaran dan media pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas IV bahwa siswa masih dalam tahap operasional kongkrit karena siswa belum bisa berpikir abstrak dan media yang cocok untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa adalah media gambar. Dengan menggunakan media gambar dapat membuat siswa lebih tertarik karena untuk mempelajari apa yang telah ditampilkan dalam gambar.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti mengambil judul "PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI X".

SKRIPSI PTK PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA, SIKAP KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR MATERI PERHITUNGAN PAJAK PPH 21

(KODE : PTK-0709) : SKRIPSI PTK PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA, SIKAP KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR MATERI PERHITUNGAN PAJAK PPH 21 (MAPEL AKUNTANSI KELAS XI SMK)

contoh ptk akuntansi kelas xi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan Negara. Hal ini karena pendidikan merupakan proses budaya yang bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Dengan pendidikan bermutu, akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan itu sendiri berlaku seumur hidup dan dilakukan dalam lingkungan, keluarga, pendidikan formal (sekolah) dan masyarakat. Untuk itu, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan Negara.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 menyebutkan bahwa : 
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Artinya proses pendidikan di sekolah merupakan proses yang terencana dan mempunyai tujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh guru dan siswa diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar yang kondusif serta proses belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara simbang.
Suasana belajar dan pembelajaran itu diarahkan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, sehingga pendidikan itu harus berorientasi pada siswa (student active learning) dan peserta didik harus dipandang sebagai seorang yang sedang berkembang dan memiliki potensi. Sedangkan tugas pendidik adalah mengembangkan potensi yang dimiliki anak.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen bab 1 pasal 1 poin (a) "Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah".
Artinya, proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap, pengembangan kecerdasan atau intelektual, serta pengembangan keterampilan anak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Guru merupakan pendorong belajar siswa yang mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat para murid untuk belajar. Dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik maka siswa akan lebih mudah memahami pelajaran dan mengembangkan ilmu pengetahuannya.
Salah satu persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas pendidikan nasional. Rendahnya kualitas pendidikan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, antara lain keterbatasan dana, ketersediaan sarana dan prasarana dalam aktivitas pembelajaran, dan pengelolaan proses pembelajaran. Kondisi tersebut diperburuk dengan minimnya sosialisasi kurikulum sebelum kurikulum baru dijalankan. Problematika pendidikan itulah yang menjadi tanggung jawab dan membutuhkan keseriusan lebih untuk mencari solusinya.
Sejalan dengan itu perlu dikembangkan iklim belajar mengajar yang menumbuhkan rasa percaya diri, sikap dan perilaku yang inovatif serta kreatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Dalam rangka mengembangkan iklim belajar mengajar seperti menumbuhkan rasa percaya diri, sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif, sangat diperlukan adanya keterkaitan antara komponen-komponen pendidikan. Komponen-komponen pendidikan yang meliputi guru, siswa, kurikulum, alat (media pembelajaran) dan sumber belajar, materi, metode maupun alat evaluasi saling bekerjasama untuk mewujudkan proses belajar yang kondusif. Oleh karena itu komponen-komponen dalam pendidikan tersebut tidak bisa dipisahkan karena memiliki keterkaitan yang penting, sehingga akan membentuk suatu sistem yang berkesinambungan dalam mencapai tujuan pendidikan.
Pembelajaran yang menyenangkan memang menjadi langkah awal untuk mencapai hasil belajar yang berkualitas. Dalam skripsi Amroni yang berjudul Efektifitas pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBM) pada prestasi mata pelajaran ekonomi akuntansi siswa kelas XI SMA Nurul Islami Semarang halaman 3 menyatakan "belajar akan lebih bermakna apabila siswa atau anak didik mengalami sendiri apa yang dipelajarinya". Akan tetapi, pelaksanaan pembelajaran di sekolah seringkali membuat masyarakat kecewa. Kondisi ini dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Sebagian besar siswa memiliki kemampuan dalam menyajikan materi melalui bahan hafalan semata, akan tetapi memahami dan mengerti secara dalam mengenai pengetahuan. Kondisi ini ditandai dengan siswa belum mampu menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan dan belum mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran, motivasi sangat diperlukan. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2010 : 75). Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seseorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya (Sardiman, 2010 : 75).
Dalam proses belajar mengajar guru sebagai sumber daya memiliki peranan yang penting karena merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan siswa. Proses belajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya akan tetapi ditentukan atau bahkan sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka (Hamalik, 2002 : 36).
Menurut Yunus Abidin (2014 : 122), model pembelajaran proses saintifik merupakan model yang menuntut siswa beraktivitas sebagaimana seorang ahli sains. Proses belajar secara saintifik mencakup beberapa aktivitas, diantaranya mengidentifikasi atau menemukan masalah, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan konsep yang ditemukan.
Salah satu proses belajar saintifik yang dapat diterapkan di kelas adalah penerapan strategi pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang dirancang dengan masalah-masalah yang menuntut siswa mendapat pengetahuan penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, memiliki strategi belajar sendiri, serta kecakapan berpartisipasi dalam tim. Pernyataan ini pernah ada dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Elfrida Gita (2014) yang menyatakan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi.
Pelaksanaan proses saintifik bertujuan agar dapat menumbuhkan keterampilan sikap kritis siswa selama proses interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa, sehingga siswa menghasilkan pertimbangan, keputusan yang tepat, dan menjawab secara lebih lengkap. Sependapat dengan penelitian jurnal yang telah dilakukan oleh Sri Wahyuni (Program Studi Kimia PMIPA FKIP-UT) tentang mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dengan penerapan strategi pembelajaran Problem Based Learning menerangkan bahwa keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, memecahkan masalah secara kreatif, dan berpikir logis sehingga menumbuhkan sikap kritis dalam diri siswa terutama dalam mata pelajaran Kimia (IPA).
Proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan pola berpikir siswa untuk lebih kritis dalam memecahkan materi pelajaran yang sudah disediakan. Dengan berpikir kritis akan berpikir lebih mendalam tentang materi-materi yang diajarkan dan motivasi siswa bertambah sehingga diharapkan prestasi belajar siswa juga akan meningkat dengan model ini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : "PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA, SIKAP KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS XI AKUNTANSI SMK X".

SKRIPSI PTK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FIQIH MATERI TATA CARA HAJI MENGGUNAKAN METODE SIMULASI (MAPEL PAI KELAS V)

(KODE : PTK-0708) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FIQIH MATERI TATA CARA HAJI MENGGUNAKAN METODE SIMULASI (MAPEL PAI KELAS V)


contoh ptk penelitian tindakan kelas

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan suatu usaha sadar individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan-latihan. Pendapat tentang belajar yang dikemukakan oleh Gregory A. Kimble (1997) bahwa, "Learning is a relatively permanent change in behavior or in behavioral potentiality that result from experience and cannot be attributed to temporary body states such as those induced by illness, fatigue, or drugs". Definisi ini secara sederhana diterjemahkan sebagai berikut : Belajar adalah perubahan relatif permanen dalam tingkah laku atau potensi perilaku yang diperoleh dari pengalaman dan tidak berhubungan dengan kondisi tubuh pada saat tertentu semacam penyakit, kelelahan atau obat-obatan. Setelah melalui proses belajar, maka akan ada hasil yang dicapai yaitu berupa hasil belajar. hasil belajar sebagai kemampuan yang diperoleh seseorang sesudah mengikuti proses belajar. Hasil belajar pada dasarnya adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh.
Pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Sistem nilai tersebut meliputi ranah pengetahuan, kebudayaan dan nilai keagamaan. Proses pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada peserta didik, namun lebih diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku, dan kepribadian anak. Untuk itu penyampaian proses pembelajaran hendaknya dikemas menjadi proses yang membangun pengalaman baru berdasar pengetahuan awal, membangkitkan semangat kerjasama, menantang dan menyenangkan. Tugas pendidik dalam konteks ini membantu mengkondisikan peserta didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar agar mampu berkembang dan berguna bagi dirinya sendiri, lingkungan dan masyarakat. Pelaksanaan pembelajaran harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bermoral tinggi.
Untuk mewujudkan capaian tersebut salah satu cara yang bisa dilakukan oleh seorang guru adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang inovatif.
Sebelum melakukan proses belajar mengajar, seorang guru menentukan metode yang akan digunakan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai. Pemilihan suatu metode harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan sifat mated yang akan menjadi objek pembelajaran. Tujuan belajar mengajar dapat dicapai secara efektif dan efisien jika seorang guru secara nalar mampu memperkirakan dengan tepat metode apa yang harus digunakan. Metode mengajar harus diperhatikan dalam proses belajar mengajar, karena suatu pelajaran bisa diterima dengan mudah oleh siswa tergantung bagaimana cara atau metode yang digunakan oleh seorang guru. Seperti dikutip oleh ismail, bahwa metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Hal ini ditambahkan oleh Umiarso, bahwa metode mengajar tersebut hams sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak ingin dicapai.
Penggunaan dari sebuah metode yang tepat untuk materi yang akan disampaikan, dapat memberi motivasi pada diri siswa pada saat menerima materi pelajaran. Siswa dengan sendirinya akan termotivasi jika materi yang akan disampaikan menarik dan guru tidak perlu lagi mendorong siswanya untuk belajar, karena mereka sendiri telah termotivasi untuk mempelajari materi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, penggunaan metode yang tepat itu sangat mempengaruhi kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Dan guru juga sangat berperan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa melalui metode-metode yang digunakan dalam penyampaian materi pelajaran.
Pada tahun pelajaran ini penulis mengajar kelas V MI X yang terdiri dari 5 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Selama tahun ini penulis merasa kurang berhasil dalam mengajar Mata Pelajaran Fiqih. Hal ini didasarkan pada rendahnya hasil belajar mata pelajaran tersebut, yaitu pada ulangan harian diperoleh nilai rata-rata kelas 58,67 padahal Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan adalah 65, dengan demikian dapat diartikan bahwa kompetensi dasar yang diajarkan secara keseluruhan belum tuntas. Dari data yang ada, 6 anak mendapat nilai di atas KKM selebihnya (15 anak) memperoleh nilai di bawah KKM.
Setelah penulis melakukan perenungan kembali terhadap proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan dan pemberian dari saran dari Kepala Madrasah serta teman sejawat maka dapat penulis identifikasi penyebab rendahnya hasil belajar tersebut. Dari beberapa penyebab rendahnya hasil belajar tersebut yang dapat penulis catat adalah peserta didik kurang memperhatikan dalam proses pembelajaran, penyampaian mated oleh guru kurang menarik, kegiatan belajar monoton yaitu ceramah dan mencatat, guru belum memanfaatkan alat peraga yang sesuai dengan materi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa semua guru mengharapkan peserta didiknya dapat memperoleh nilai hasil belajar yang lebih dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada awal tahun pelajaran. Untuk mencapai harapan tersebut diperlukan kreativitas guru dalam merancang pembelajaran yang menarik dan menantang bagi peserta didik, yaitu dengan melakukan inovasi pembelajaran.
Dari kondisi MI X dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua masalah yang dihadapi guru yaitu rendahnya hasil belajar Mata Pelajaran Fiqih dan guru belum menemukan metode yang tepat dalam mengajar.
Dengan meminta masukan dari Kepala Madrasah dan teman sejawat maka penulis hendak mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). yaitu penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran sehingga hasil belajar meningkat. Dengan pertimbangan tersebut penulis mengambil judul : "MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FIQIH MATERI TATA CARA HAJI MENGGUNAKAN METODE SIMULASI BAGI SISWA KELAS V MI X".

JUDUL PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) 8

JUDUL PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) 8

contoh judul ptk


  • (KODE : PTK-0593) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) BERBASIS IMTAQ PADA KONSEP EKOSISTEM (BIOLOGI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0594) : SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE KUMON PADA POKOK BAHASAN GERAK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR (FISIKA KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0595) : SKRIPSI PTK PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PROBLEM POSING MEMANFAATKAN TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENYELESAIKAN MASALAH SPLDV (MATEMATIKA KELAS X)
  • (KODE : PTK-0596) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MEMAHAMI SOAL (MATEMATIKA KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0597) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA TEMATIK DENGAN METODE KOMUNIKATIF (BAHASA ARAB KELAS X)
  • (KODE : PTK-0598) : SKRIPSI PTK DEVELOPING STUDENTS READING ABILITY BY USING STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TECHNIQUE (BAHASA INGGRIS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0599) : SKRIPSI PTK EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN MATRIKS (KELAS XII)
  • (KODE : PTK-0600) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR BIOLOGI MELALUI METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN MEDIA BUKU SAKU BIOLOGI (BSB) (BIOLOGI KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0601) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR (MELOMPAT) ANAK MELALUI PERMAINAN LOMPAT TALI KELOMPOK B (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0602) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FIQIH MELALUI KOMBINASI METODE EVERYONE IS A TEACHER HERE DENGAN TEAM QUIZ (PAI KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0603) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DAN HASIL BELAJAR (SEJARAH KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0604) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBING?PROMPTING SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0605) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MORAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA KELOMPOK A TK (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0606) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS RESENSI BUKU MELALUI METODE PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBANDINGKAN (BAHASA INDONESIA KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0607) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA DAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA (KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0608) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR (MATEMATIKA KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0609) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW (SEJARAH KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0610) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT DALAM UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA (KEWIRAUSAHAAN SMK KELAS XII)
  • (KODE : PTK-0611) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS SEJARAH DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KARTU DOMINO (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0612) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONSEP BILANGAN MELALUI PERMAINAN KALENG INDAH PADA KELOMPOK B TK (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0613) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0614) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) BERBANTUAN LKS PADA KOMPETENSI DASAR TEOREMA PHYTAGORAS UNTUK PEMECAHAN MASALAH?(PEND MATEMATIKA KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0615) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR MELALUI PENERAPAN METODE STAD (PKN KELAS X)
  • (KODE : PTK-0616) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE COLLEGE BALL (KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0617) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS DRAMA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL KOMPONEN KONSTRUKTIVISME, INKUIRI, DAN PEMODELAN (BAHASA INDONESIA KELAS IX)
  • (KODE : PTK-0618) : SKRIPSI PTK PENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS SURAT PRIBADI DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA E?MAIL PADA (BAHASA INDONESIA KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0619) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN PARAFRASE IKLAN BARIS MENJADI WACANA EKSPLANASI LISAN MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT DENGAN MEDIA IKLAN BARIS?(PEND BAHASA INDONESIA KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0620) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0621) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI MELALUI PERPADUAN METODE CERAMAH DAN METODE TWO STAY TWO STRAY (EKONOMI KELAS X SMK)
  • (KODE : PTK-0622) : SKRIPSI PTK PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DENGAN PRINTED MATERIAL COMIC STRIPS SEBAGAI MEDIA MENINGKATKAN KOSAKATA SISWA SMP (BAHASA INGGRIS KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0623) : SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE BERCERITA BERBANTUAN MEDIA BUKU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK TK (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0624) : SKRIPSI PTK PEMBELAJARAN PASSING DATAR SEPAKBOLA MENGGUNAKAN MODIFIKASI PERMAINAN 4 LAWAN 4 (PENJAS KELAS V)
  • (KODE : PTK-0625) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KETRAMPILAN PENGAMALAN IBADAH SHALAT DENGAN STRATEGI DEMONSTRASI MAPEL FIQIH (PAI KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0626) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN SPEAKING BAHASA INGGRIS MELALUI METODE ROLE PLAYING (BAHASA INGGRIS KELAS V)
  • (KODE : PTK-0627) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN SOSIALISASI MELALUI BERMAIN ESTAFET PADA ANAK KELOMPOK B PAUD (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0628) : SKRIPSI PTK EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOMPETENSI DASAR ARITMATIKA SOSIAL (MATEMATIKA KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0629) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA INDAH PUISI MENGGUNAKAN MODEL DRALADATER BERBANTUAN MEDIA AUDIOVISUAL (BAHASA INDONESIA KELAS X)
  • (KODE : PTK-0630) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ASERTIF MELALUI LAYANAN BIMBINGAN PRIBADI?SOSIAL MENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA (BIMBINGAN KONSELING KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0631) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN PENERAPAN KOMBINASI METODE CERAMAH DAN INDEX CARD MATCH DALAM PEMBELAJARAN FIQIH (PAI KELAS III)
  • (KODE : PTK-0632) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PAIKEM UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK BANGUN DATAR (MATEMATIKA KELAS V)
  • (KODE : PTK-0633) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKN MELALUI PENERAPAN METODE DISKUSI (PKN KELAS VI)
  • (KODE : PTK-0634) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI MENGIDENTIFIKASI RAGAM LAGU DAERAH (PGSD SENI MUSIK KELAS V)
  • (KODE : PTK-0635) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI TAAT DAN SABAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION?(PAI KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0636) : SKRIPSI PTK PENERAPAN TEKNIK KOREKSI TEMAN SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN PADA SISWA KELAS X-L
  • (KODE : PTK-0637) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0638) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA KOMPETENSI DASAR LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN JASA (AKUNTANSI SMK KELAS X)
  • (KODE : PTK-0639) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL MUHADATSAH YAUMIYYAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAHIRAN BERBICARA (BAHASA ARAB KELAS X)
  • (KODE : PTK-0640) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE PERMAINAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR (PKN KELAS II)
  • (KODE : PTK-0641) : SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE BERMAIN DENGAN MEDIA PLAYDOUGH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP BILANGAN DAN LAMBANG BILANGAN (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0642) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (BAHASA INDONESIA KELAS V)
  • (KODE : PTK-0643) : SKRIPSI PTK IMPROVING READING COMPREHENSION THROUGH KWL STRATEGY (BAHASA INGGRIS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0644) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP CIRCULAR FLOW DIAGRAM MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING BERBANTUAN MEDIA MONOPOLI (EKONOMI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0645) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN METODE BRAINSTORMING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR (PKN KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0646) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK MELALUI PERMAINAN MENJEPIT KARTU KATA PADA KELOMPOK B TK (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0647) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA KONSEP JARINGAN TUMBUHAN (BIOLOGI KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0648) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERKIRIM SALAM DAN SOAL (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0649) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERBANTUAN FILM POKOK BAHASAN PANTANG MENYERAH DAN ULET (KEWIRAUSAHAAN KELAS X SMK)
  • (KODE : PTK-0650) : SKRIPSI PTK IMPROVING STUDENTS MOTIVATION IN LEARNING SPEAKING BY USING CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (BAHASA INGGRIS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0651) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR SISWA (PKN KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0652) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING (SFAE) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR (FISIKA KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0653) : SKRIPSI PTK PENERAPAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (SEJARAH KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0654) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR (EKONOMI AKUNTANSI SMK KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0655) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA MAPEL ELEKTRONIKA DASAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PEND ELEKTRO KELAS X)
  • (KODE : PTK-0656) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KOMPETENSI PENGUKURAN KOMPONEN ELEKTRONIKA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI (PEND ELEKTRO KELAS X)
  • (KODE : PTK-0657) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN PERAN AKTIF SISWA DALAM LAYANAN INFORMASI DENGAN PENGEMBANGAN PERTANYAAN TAKSONOMI BLOOM (BIMBINGAN KONSELING KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0658) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN PIDATO PERSUASI DENGAN MEDIA BARANG PRODUK (BAHASA INDONESIA KELAS XII)
  • (KODE : PTK-0659) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR IPS MELALUI PENDEKATAN PROBLEM SOLVING DENGAN MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) (IPS KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0660) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAM QUIZ UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA (BAHASA ARAB KELAS X)
  • (KODE : PTK-0661) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR VOKAL DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA IRINGAN MIDI (SENI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0662) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN KEAKTIFAN DALAM PEMBELAJARAN LARI CEPAT MELALUI BERMAIN (PENJAS KELAS V)
  • (KODE : PTK-0663) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN METODE JIGSAW (MATEMATIKA KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0664) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PUISI MELALUI METODE MODELING (BAHASA INDONESIA KELAS II)
  • (KODE : PTK-0665) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN PEMBELAJARAN PERMAINAN MEDIA JALAN ANAK TANGGA DAN DINGKLIK OGLAK?AGLIK (PENJAS KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0666) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN TEMA PEDULI TERHADAP MAKHLUK HIDUP MELALUI MODEL THINK PAIR SHARE KELAS IV?(PGSD K?13)
  • (KODE : PTK-0667) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MAPEL ALAT UKUR ELEKTRONIKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PAKEM (PEND ELEKTRO KELAS X)
  • (KODE : PTK-0668) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL EVERYONE IS A TEACHER HERE UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (IPS KELAS V)
  • (KODE : PTK-0669) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK MELALUI PERMAINAN BILANGAN “KERETA ANGKA” KELOMPOK B TK (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0670) : SKRIPSI PTK PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN FISH BOWL DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0671) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR (SEJARAH KELAS X)
  • (KODE : PTK-0672) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL SNOWBALL THROWING BERBANTUAN MEDIA POWER POINT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (IPS KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0673) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN TEMA INDAHNYA NEGERIKU MUATAN MAPEL PKN MELALUI MODEL PBL DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL KELAS IV?(PGSD K?13)
  • (KODE : PTK-0674) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PENDEKATAN BERBASIS GENRE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PANTUN (BAHASA INDONESIA KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0675) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI DAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA MENGGUNAKAN METODE PERMAINAN DENGAN TEKNIK BERMAIN PERAN (BAHASA INDONESIA KELAS X)
  • (KODE : PTK-0676) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FIQIH MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GRAFIS PADA SISWA KELAS VIII-L
  • (KODE : PTK-0677) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS MELALUI MODEL ARIAS BERBANTUAN MEDIA AUDIO VISUAL (IPS KELAS II)
  • (KODE : PTK-0678) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KONSENTRASI ANAK MELALUI VARIASI MENU (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0679) : SKRIPSI PTK UPAYA MENGAKTIFKAN SISWA DAN MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN DISKUSI PANEL (PKN KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0680) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIALISASI ANAK MELALUI METODE BERCAKAP?CAKAP PADA KELOMPOK B (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0681) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAY (CRH) PADA PEMBELAJARAN IMLA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI SISWA (BAHASA ARAB KELAS X)
  • (KODE : PTK-0682) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN TEMA CITA?CITAKU MUATAN IPA MODEL PBL BERBANTUAN AUDIO VISUAL KELAS IV?(PGSD K?13)
  • (KODE : PTK-0683) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF MELALUI PERMAINAN KLASIFIKASI BERDASARKAN WARNA BENTUK DAN UKURAN DI TK?(PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0684) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA PEMBELAJARAN MAPEL AQIDAH AKHLAK (PAI KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0685) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (SEJARAH KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0686) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA MELALUI PICTURE AND PICTURE DENGAN GAMBAR SERI (BAHASA INDONESIA KELAS III)
  • (KODE : PTK-0687) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PBL DENGAN MEDIA KOMIK UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPS TEMA ORGAN TUBUH MANUSIA DAN HEWAN KELAS V?(PGSD K?13)
  • (KODE : PTK-0688) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PANTUN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT,SATISFACTION) DENGAN MEDIA KARTU PANTUN (BAHASA INDONESIA KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0689) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODUL TRIGONOMETRI (MATEMATIKA KELAS X)
  • (KODE : PTK-0690) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING (IPA KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0691) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR MATERI PERHITUNGAN KURS VALUTA ASING MELALUI PERPADUAN METODE CERAMAH BERVARIASI DAN MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN PERAN (EKONOMI KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0692) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN TEKNIK PETA PIKIRAN IMAJINATIF (BAHASA INDONESIA KELAS V)
  • (KODE : PTK-0693) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODIFIKASI PERMAINAN BOLA KASTI DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES (PENJAS KELAS V)
  • (KODE : PTK-0694) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KOMPETENSI TEKNIK LISTRIK PAKET KEAHLIAN ELEKTRONIKA INDUSTRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY (PEND ELEKTRO KELAS X)
  • (KODE : PTK-0695) : SKRIPSI PTK IMPLEMENTASI METODE EVERYONE IS TEACHER HERE BERBANTUAN MEDIA KLIPING DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (PKN KELAS V)
  • (KODE : PTK-0696) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW (MATEMATIKA KELAS X SMK)
  • (KODE : PTK-0697) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK MELALUI METODE BERCERITA DI KELOMPOK B (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0698) : SKRIPSI PTK IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA (SMK EKONOMI AKUNTANSI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0699) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KOMPETENSI MENGANALISIS ASPEK?ASPEK PENGELOLAAN USAHA DENGAN METODE INQUIRY (KEWIRAUSAHAAN KELAS XI)
  • (KODE : PTK-0700) : SKRIPSI PTK UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT BERBANTUAN MEDIA VIDEO (IPS KELAS IV)
  • (KODE : PTK-0701) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN MELALUI METODE KANCING GEMERINCING (KEWIRAUSAHAAN KELAS X)
  • (KODE : PTK-0702) : SKRIPSI PTK IMPLEMENTASI MODEL JIGSAW PADA MAPEL KEWIRAUSAHAAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA (KEWIRAUSAHAAN KELAS X)
  • (KODE : PTK-0703) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK KASAR MELALUI PERMAINAN ENGKLEK PADA ANAK KELOMPOK A (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0704) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN SIKAP GOTONG ROYONG MELALUI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PKN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW (PGSD KELAS II)
  • (KODE : PTK-0705) : SKRIPSI PTK KEEFEKTIFAN STRATEGI IMAGE STREAMING DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN?(BAHASA INDONESIA KELAS X)
  • (KODE : PTK-0706) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MENGGUNTING DENGAN BERBAGAI MEDIA (PGPAUD)
  • (KODE : PTK-0707) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK MELALUI GERAK TARI BURUNG PADA KELOMPOK A (PGPAUD)


SKRIPSI PGSD PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS GURU SDN

(KODE : PENDPGSD-0043) : SKRIPSI PGSD PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS GURU SDN

contoh skripsi pgsd

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Tanpa pendidikan maka manusia sulit untuk menjalani kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan harus terus mengalami peningkatan kualitas agar mampu menghadapi tantangan sesuai tuntutan perkembangan kehidupan lokal, nasional, dan global.
Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dapat ditempuh melalui berbagai upaya, yaitu melalui pembenahan isi kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, penyediaan sarana belajar, dan peningkatan kompetensi guru. Akan tetapi, dari sekian banyak upaya tersebut, peningkatan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidik tetap menduduki posisi yang sangat strategis (Masnur Muslich, 2011 : 4). Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan John Hattie (Marselus R. Payong, 2011 : 2) yang menyatakan bahwa prestasi belajar siswa ditentukan oleh sekitar 49% dari faktor karakteristik siswa sendiri dan 30% berasal dari faktor guru. Oleh karena itu, mutu pendidikan berkaitan erat dengan kualitas pendidik.
Guru berkualitas adalah guru yang memenuhi kualifikasi akademik sekurang-kurangnya S1/D4 dan memiliki kompetensi. Hal ini sesuai dengan syarat pendidik yang tercantum dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005. Kompetensi yang harus dimiliki pendidik meliputi : 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi profesional, 3) kompetensi kepribadian, dan 4) kompetensi sosial.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, keprofesionalan guru harus dikembangkan. Kompetensi yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kompetensi profesional. Oleh karena itu, adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni akan diiringi perkembangan kompetensi profesional.
Berdasarkan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, kompetensi profesional dijabarkan ke dalam lima kompetensi inti, yakni : 1) menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, 2) menguasai standar kompetensi, kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang pengembangan yang diampu, 3) mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, 4) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri, dan 5) mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. Salah satu kompetensi inti dari kompetensi profesional yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
Berdasarkan Permeneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pengembangan keprofesian secara berkelanjutan meliputi : 1) pengembangan diri, 2) publikasi ilmiah, dan 3) karya inovatif. Salah satu kegiatan publikasi ilmiah adalah publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal. Oleh karena itu, secara tidak langsung guru diwajibkan untuk melaksanakan penelitian. Salah satu bentuk penelitian yang paling sederhana dan biasa dilakukan oleh guru adalah penelitian tindakan kelas atau yang sering disebut dengan PTK. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan penelitian yang paling dekat dengan guru karena penelitian tindakan kelas dilakukan dengan maksud untuk memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan di kelas.
Guru perlu melaksanakan penelitian tindakan kelas. Hal ini didasari alasan apabila guru melaksanakan penelitian tindakan kelas maka : 1) akan terjadi peningkatan kompetensi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran yang menjadi tugas utamanya, 2) akan terjadi peningkatan sikap profesional guru, 3) akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kinerja belajar dan kompetensi siswa, 4) akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, 5) akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar lainnya, 6) akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa, 7) akan terjadi perbaikan dan/atau pengembangan pribadi siswa di sekolah, dan 8) akan terjadi perbaikan dan/atau peningkatan kualitas penerapan kurikulum (Masnur Muslich, 2011 : 11).
Berdasarkan berita yang dikabarkan dalam Kedaulatan Rakyat, 4 Maret 2009, di Yogyakarta, terdapat kasus guru memalsukan Penetapan Angka Kredit (PAK) untuk dapat naik jabatan. Pemalsuan PAK mengindikasikan bahwa sebagian guru di Yogyakarta memilih cara yang instan untuk dapat naik jabatan dan enggan melaksanakan penelitian sebagai salah satu syarat memperoleh angka kredit. Indikasi keengganan melaksanakan penelitian juga terjadi pada guru-guru di SD Negeri X.
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri X, tidak semua guru SD Negeri X melaksanakan penelitian, khususnya penelitian tindakan kelas. Hal ini mengindikasikan keengganan untuk melaksanakan penelitian juga dialami oleh guru di SD Negeri X. Jumlah guru di SD Negeri X sebanyak 10 orang, dari 10 orang guru tersebut hanya empat orang guru yang melaksanakan penelitian tindakan kelas. Jadi, persentase guru SD Negeri X yang melaksanakan penelitian tindakan kelas hanya sebesar 40%.
Semua guru SD Negeri X sebenarnya diwajibkan untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas karena SD Negeri X telah menyelenggarakan Program Penelitian Tindakan Kelas. Tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan SD Negeri X. Selain bertujuan meningkatkan mutu pendidikan, program penelitian tindakan kelas ini juga dimaksudkan untuk menaikkan jabatan guru-guru di SD Negeri X agar keprofesionalannya meningkat.
Program penelitian tindakan kelas di SD Negeri X telah berjalan selama 2 tahun. Jumlah guru yang melaksanakan penelitian tindakan kelas ditargetkan 100%, tetapi kenyataan di lapangan jumlah guru yang melaksanakan penelitian tindakan kelas hanya 40%. Output yang dihasilkan hanya sebanyak tujuh buah. Dari ke tujuh buah output tersebut, yang lulus uji Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) hanya satu buah. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan guru SD Negeri X dalam membuat karya ilmiah hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas masih kurang baik.
Output penelitian tindakan kelas yang dihasilkan oleh guru di SD Negeri X masih kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena tidak semua guru di SD tersebut melakukan penelitian. Padahal dalam proses belajar mengajar di kelas pasti ada permasalahan yang menghambat keterlaksanaannya. Sebagian besar guru di SD Negeri X tidak berupaya melaksanakan penelitian untuk mencari penyebab dan solusi dari permasalahan tersebut. Melaksanakan penelitian merupakan salah satu indikator pengembangan kompetensi profesional guru, tetapi tidak semua guru SD Negeri X melaksanakan penelitian sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kompetensi profesional guru SD Negeri X belum berkembang dengan baik.
Berdasarkan hasil pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Program penelitian tindakan kelas yang diselenggarakan di SD Negeri X belum terlaksana dengan semestinya. Oleh karena itu, perlu kajian tentang bagaimana pelaksanaan penelitian tindakan kelas guru SD Negeri X.

JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) 7

JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) 7


  • (KODE : PTK-0577) : SKRIPSI PTK ENHANCING STUDENTS PARTICIPATION AND COMPREHENSION IN READING COURSE USING JIGSAW STRATEGY (BAHASA INGGRIS KELAS IX)
  • (KODE : PTK-0578) : SKRIPSI PTK KEEFEKTIFAN STRATEGI THINK-TALK-WRITE DENGAN MEDIA TEKA-TEKI SILANG UNTUK PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR (BIOLOGI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0579) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY AND SOCIETY POKOK BAHASAN FUNGI (BIOLOGI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0580) : SKRIPSI PTK PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA ARAB (BAHASA ARAB KELAS V)
  • (KODE : PTK-0581) : SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE IMLA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA (BAHASA ARAB KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0582) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIPE NHT BERBASIS MASALAH DENGAN BANTUAN LKS MATERI BARISAN DAN DERET BILANGAN (MATEMATIKA KELAS IX)
  • (KODE : PTK-0583) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODIFIKASI ALAT BANTU PEMBELAJARAN BOKORTASKO TERHADAP HASIL BELAJAR BULUTANGKIS (PENJAS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0584) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI STANDAR KOMPETENSI PENCEMARAN LINGKUNGAN (BIOLOGI KELAS X)
  • (KODE : PTK-0585) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK MELALUI PERMAINAN BILANGAN KERETA ANGKA KELOMPOK B TK (PAUD)
  • (KODE : PTK-0586) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR ANAK MELALUI BENTUK DASAR GEOMETRI PADA ANAK KELOMPOK B DI TK (PAUD)
  • (KODE : PTK-0587) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETRAMPILAN MEMBACA PUISI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN VIDEO PEMBELAJARAN (BAHASA INDONESIA KELAS V)
  • (KODE : PTK-0588) : SKRIPSI PTK THE USE OF ANIMATION MOVIE FOR DEVELOPING STUDENTS WRITING SKILL OF NARRATIVE TEXTS (BAHASA INGGRIS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0589) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PETA PIKIRAN (MIND MAPPING) (BAHASA INDONESIA KELAS V)
  • (KODE : PTK-0590) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG (PENJAS KELAS VIII)
  • (KODE : PTK-0591) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAPEL FIQIH BAB SHOLAT MELALUI METODE DEMONSTRASI (PAI KELAS VII)
  • (KODE : PTK-0592) : SKRIPSI PTK USAHA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN STRUKTUR DAN FUNGSI SEL DENGAN STRATEGI TONGKAT ESTAFET BERBASIS INKUIRI TERPIMPIN (BIOLOGI KELAS XII)


SKRIPSI PTK USAHA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN STRUKTUR DAN FUNGSI SEL DENGAN STRATEGI TONGKAT ESTAFET BERBASIS INKUIRI TERPIMPIN

SKRIPSI PTK USAHA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN STRUKTUR DAN FUNGSI SEL DENGAN STRATEGI TONGKAT ESTAFET BERBASIS INKUIRI TERPIMPIN

(KODE : PTK-0592) : SKRIPSI PTK USAHA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI POKOK BAHASAN STRUKTUR DAN FUNGSI SEL DENGAN STRATEGI TONGKAT ESTAFET BERBASIS INKUIRI TERPIMPIN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dari hasil wawancara dengan guru biologi kelas XI SMA X, nilai biologi rata-rata 69,37 dengan jumlah siswa 30, nilai dibawah rata-rata ada 17 anak sedangkan diatas rata-rata ada 13 anak. Kendala siswa dalam belajar adalah banyak istilah latin yang sering digunakan dalam belajar biologi, biasanya guru hanya memberi motivasi terhadap murid saja. Untuk itu penulis tertarik meneliti tentang usaha meningkatkan hasil belajar siswa melalui strategi tongkat estafet berbasis inkuiri terpimpin pada pembelajaran Biologi kelas XI semester ganjil SMA X.
Untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, guru dituntut mencari dan menemukan suatu cara yang dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Artinya, guru diharapkan dapat menerapkan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan semangat belajar siswa. Standar Ketuntasan Minimal mata pelajaran Biologi di SMA X adalah 65 artinya siswa dianggap tuntas bila sudah mendapat nilai minimal 65 Sedangkan Standar Ketuntasan secara klasikal adalah 85 artinya suatu materi dianggap tuntas jika 85% siswa sudah mencapai SKM.

B. Identifikasi Masalah
Masalah rendahnya prestasi belajar siswa dapat berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut.
1. Strategi, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan efektif
2. Minat belajar siswa yang rendah
3. Kurangnya motivasi belajar siswa
4. Tingkat kecerdasan siswa
5. Kompetensi guru
6. Media pembelajaran yang kurang memadai

C. Perumusan Masalah
Rumusan permasalahan dalam penelitian ini apakah pembelajaran dengan menggunakan strategi tongkat estafet berbasis inkuiri terpimpin dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA X.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pembelajaran melalui strategi tongkat estafet berbasis inkuiri terpimpin dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi bagi guru dan sekolah penelitian dalam rangka membantu keberhasilan peserta didik khususnya pokok bahasan struktur dan fungsi sel.
1. Bagi Siswa
Dapat memotivasi siswa untuk beraktivitas positif dalam kegiatan belajar dengan memanfaatkan kemampuan sehingga lebih memahami materi yang dipelajari. Serta untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam kualitas dan pengajaran di sekolah.
2. Bagi Guru Biologi
Membantu guru dalam melaksanakan kurikulum dan kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
2. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif peningkatan kualitas belajar biologi dan dunia pendidikan pada umumnya.

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAPEL FIQIH BAB SHOLAT MELALUI METODE DEMONSTRASI

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAPEL FIQIH BAB SHOLAT MELALUI METODE DEMONSTRASI

(KODE : PTK-0591) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAPEL FIQIH BAB SHOLAT MELALUI METODE DEMONSTRASI


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berisikan interaksi antara peserta didik dengan para pendidik dengan berbagi sumber. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dalam lingkungannya. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses pendidikan yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik itu merupakan syarat utama berlangsungnya proses belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan guru dengan peserta didik tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya menyampaikan pesan berupa mata pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri peserta didik yang sedang belajar.
Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah harus melalui pembelajaran. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Eksistensi guru tetap penting karena peran guru tidak seluruhnya digantikan dengan teknologi.
Tujuan untuk pengembangan potensi peserta didik dapat dilakukan melalui proses pendidikan yang umumnya disebut sekolah merupakan lembaga yang menjalan proses pengajaran kepada para siswanya.
Sedangkan tujuan pendidikan agama islam yaitu untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam pembelajaran pendidikan agama islam banyak yang menganggap hanya pelajaran yang membosankan dan tidak termasuk pelajaran dan tidak termasuk pelajaran yang menentukan saat ujian akhir sekolah sehingga membuat peserta didik mengabaikan pelajaran tersebut. Hal ini bila dibiarkan berlarut-larut tentunya akan sangat membahayakan generasi penerus bangsa.
Dengan adanya masalah ini maka sebagai seorang guru harus dapat memilih metode dan model pembelajaran yang baru supaya suasana di dalam proses pembelajaran dapat lebih menyenangkan dan materi yang disampaikan pun dapat dicapai sesuai yang diinginkan. Banyak sekali model-model pembelajaran, namun guru harus pandai memilih model pembelajaran yang cocok dengan materi tersebut dan supaya tidak membosankan serta dapat meningkatkan belajar dan hasil belajar peserta didik. Selain itu guru harus menyampaikan manfaat dari materi sholat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada materi salat sangat cocok digunakan model pembelajaran demonstrasi. Diterapkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), maka menuntut peserta didik untuk saling berkompetensi baik itu secara berkelompok maupun secara individu yang itu semua ada dalam pembelajaran demonstrasi. Namun alasan yang paling mendasar dengan diterapkannya model pembelajaran demonstrasi dapat diharapkan hasil belajar dari peserta didik MTs. Negeri X dapat ditingkatkan. Setiap mata pelajaran khususnya fiqih memiliki Standar Ketuntasan Minimal (SKM) untuk setiap aspek penilaian.
Dari uraian di atas dapat mendorong peneliti untuk meneliti dengan judul "UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH BAB SALAT MELALUI METODE DEMONSTRASI DI MTS X".
SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG

(KODE : PTK-0590) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Jasmani (Penjas) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan organik, neuromuscular, intelektual dan emosional secara menyeluruh. Sebagai bagian integral dari pendidikan pada umumnya, Pendidikan Jasmani memberikan kontribusi besar bagi pencapaian tujuan-tujuan pendidikan pada umumnya. Penjas memegang peranan penting dalam mengembangkan nilai-nilai humanitas yang diorientasikan pada peningkatan kualitas manusia seutuhnya. Penjas ditingkatkan di sekolah dengan tujuan untuk membantu siswa dalam meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan melalui pengenalan dan penanaman sikap positif, serta kemampuan gerak dasar dan berbagai pendekatan jasmani bagi siswa. Oleh karena itu Penjas dan kesehatan merupakan mata pelajaran wajib dilaksanakan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Ini terbukti bahwa pendidikan jasmani diberikan pada tiap-tiap sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah sampai Perguruan Tinggi.
Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani di Indonesia hingga dewasa ini adalah belum efektifnya pengajaran Penjas di sekolah-sekolah. Pengajaran pendidikan jasmani yang efektif dalam kenyataan lebih dari sekadar mengembangkan ketrampilan olahraga. Pengajaran tersebut pada hakikatnya merupakan proses sistematis yang diarahkan pada pengembangan pribadi anak seutuhnya.
Kegiatan belajar mengajar dalam pelajaran pendidikan jasmani berbeda pelaksanaannya dari pembelajaran mata pelajaran lain. Pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui aktivitas jasmani. Dengan berpartisipasi dalam aktivitas fisik, siswa dapat menguasai ketrampilan dan pengetahuan, mengembangkan apresiasi estetis, mengembangkan ketrampilan generik serta nilai dan sikap yang positif, dan memperbaiki kondisi fisik tubuh untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani. Pada dasarnya program pendidikan jasmani memiliki kepentingan yang relatif sama dengan program pendidikan lainnya dalam hal ranah pembelajarannya, yaitu sama-sama mengembangkan tiga ranah utama yaitu psikomotor, afektif dan kognitif. Namun, ada kekhasan dari program pendidikan jasmani yang tidak dimiliki program pendidikan lainnya, yaitu dalam hal mengembangkan wilayah psikomotor, yang biasanya dicapai dengan tujuan mengembangkan kebugaran jasmani anak dan pencapaian ketrampilan geraknya.
Kondisi belum efektifnya kegiatan pembelajaran tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya ialah kurangnya variasi pengembangan model pembelajaran dalam memberikan materi pelajaran sehingga membuat siswa cepat bosan saat mengikuti pelajaran olahraga karena materi yang terlalu monoton dan tidak menjadikan pelajaran olahraga menjadi bagian pelajaran yang digemari dan dinanti-nantikan.
Fenomena itulah yang terjadi di SMP Negeri X. Hasil observasi dan wawancara peneliti dengan salah satu guru olahraga di SMP X mengatakan pada saat pembelajaran penjasorkes materi lompat jauh gaya hang style anak cenderung malas mengikuti pelajaran berbeda saat materi pelajaran sepak bola atau bola basket anak cenderung bersemangat. Pada saat pembelajaran lompat jauh gaya hang style masih banyak siswa yang duduk saat pembelajaran. Selain itu juga dijelaskan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk mata pelajaran penjas kelas VIII di SMP X adalah 75, sehingga semua materi pelajaran penjas harus mencapai nilai minimal 75. Tapi pada kenyataannya ternyata masih banyak siswa yang belum mencapai Ketuntasan Minimal dalam pembelajaran khususnya lompat jauh gaya hang style. Rata-rata nilai kelas menunjukkan angka 30% dari jumlah siswa, mendapat nilai dibawah 75 menjadi bukti kongkrit hasil belajar siswa masih belum mencapai KKM. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hal itu disebabkan siswa pada saat pembelajaran kurang memperhatikan penjelasan guru, pembelajaran kurang menarik, siswa asyik ngobrol sendiri, terlalu banyak menunggu giliran sehingga siswa menjadi malas dalam pembelajaran.
Dari penjelasan di atas dalam pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (penjasorkes) ditemukan beberapa masalah yang komplek pada saat proses pembelajaran lompat jauh. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut siswa terlihat kurang berminat dalam mengikuti pelajaran dan kurang termotivasi untuk mau dan bisa melakukan teknik gerakan lompat jauh yang benar. Siswa cenderung asik ngobrol dan sibuk sendiri dengan kegiatan mereka. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, rendahnya minat dan motivasi siswa untuk mata pelajaran Penjas khususnya pada materi lompat jauh gaya Hang Style di kelas VIII A SMP Negeri X Blora tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu : (1) Siswa terlihat kurang tertarik pada pelajaran Penjas. (2) Siswa cepat bosan pada saat mengikuti pelajaran Penjas. (3) Guru kurang kreatif menciptakan modifikasi alat-alat untuk pembelajaran Penjas. (4) Guru kesulitan dalam membangkitkan minat dan motivasi siswa.
Motivasi mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai maksimal yang ingin dicapai. Motivasi adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan tertentu. Motivasi merupakan konsep yang menjelaskan alasan seseorang berperilaku. Seseorang yang motivasinya besar akan meningkatkan minat, perhatian, konsentrasi penuh, ketekunan tinggi, serta berorientasi pada prestasi tanpa mengenal perasaan bosan, jenuh apalagi menyerah.
SMP N X adalah sebuah sekolah menengah pertama yang terletak di daerah perdesaan. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran lompat jauh gaya Hang Style dalam penjasorkes, kreativitas seorang guru sangat diperlukan, seorang guru harus bisa menciptakan suatu kondisi pembelajaran yang efektif misalnya dengan pembelajaran yang baru melalui media. Sehingga diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat.
Guru harus mendesain pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran sehingga mencapai hasil belajar yang maksimal. Guru sangat berperan dalam upaya meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam suatu proses pembelajaran, yaitu dengan cara memberi stimulus untuk menciptakan suatu kondisi pembelajaran yang menarik, antara lain dengan menggunakan modifikasi model pembelajaran dan alat pembelajaran dalam pelajaran penjasorkes salah satunya melalui media bola gantung dalam pembelajaran lompat jauh gaya hang style dalam pelajaran penjasorkes.
Berdasarkan uraian dan penjelasan dalam latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul "UPAYA MENINGKATKAN MINAT, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA HANG STYLE DENGAN MEDIA BOLA GANTUNG BAGI SISWA KELAS VIII".
SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PETA PIKIRAN (MIND MAPPING)

SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PETA PIKIRAN (MIND MAPPING)

(KODE : PTK-0589) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN PETA PIKIRAN (MIND MAPPING)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kemampuan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seseorang, terutama pelajar yang merupakan calon intelek-tual. Banyak orang terampil menulis, tetapi tidak pandai berbicara. Dalam hal ini kemampuan berbicara dalam forum resmi atau di depan umum, bukan hanya sekedar berbicara. Terkadang ada pembicara yang mengangkat topik yang menarik, tetapi membuat pendengar tidak mengerti bahkan merasa bosan meskipun dengan topik yang sebenarnya menarik untuk disimak. Ada juga orang-orang yang tidak berani berbicara di depan umum. Padahal berbicara merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa dari empat aspek lainnya. Aspek berbicara termasuk dalam pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan sejak kita masih duduk di Sekolah Dasar. Kemampuan berbicara sering diabaikan karena ada anggapan bahwa kemampuan berbicara dapat didapatkan secara alami sehingga tidak banyak guru yang mengajarkan. Imam Syafii (1993 : 34) mengungkapkan bahwa kemampuan berbicara yang baik dapat dikuasai melalui proses belajar dan berlatih secara teratur.
Seseorang dengan kemampuan berbicara tinggi tidak hanya memperlihatkan suatu penguasaan bahasa yang sesuai, tetapi juga dapat menceritakan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan laporan, menyampaikan informasi (fakta, peristiwa, gagasan, pendapat, tanggapan), dan melaksanakan berbagai tugas lainnya berkaitan dengan berbicara. Kemampuan berbicara merupakan aspek utama dan paling tampak dari kecerdasan verbal. Selain untuk berkomunikasi, kemampuan berbicara juga penting untuk mengungkapkan pikiran, keinginan, dan pendapat.
Kemampuan berbicara seseorang juga akan mempengaruhi aspek berbahasa yang lainnya misalnya, membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan kemampuan dasar dalam berkomunikasi, bahkan ketika seseorang yang berkomunikasi dengan yang tidak dilihat maupun didengarnya. Kata-kata yang didengar merupakan dasar dari buku-buku, dan bagian dari laporan, puisi, pidato, cerita dan surat. Seseorang yang memiliki kecerdasan dalam kata-kata dengan mudah dapat mengalirkan dan sumber kata-kata dalam pikiran mereka. Seseorang yang cerdas secara kata-kata pada umumnya memiliki kemampuan mendengarkan yang sempurna yang dapat memungkinkan dia dapat berkomunikasi dengan lancar, baik antarpribadi maupun kelompok. Seseorang yang memiliki kemampuan mendengarkan yang baik dapat berkomunikasi dengan ringkas dan dengan tepat menanggapi kata-kata orang lain, karena hal itu memungkinkannya untuk merumuskan tanggapan yang efektif.
Pada umumnya siswa belum memiliki kemampuan berbicara yang baik untuk situasi formal maupun nonformal. Padahal semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka akan lebih membutuhkan kemampuan berbicara. Kemampuan berbicara merupakan alat komunikasi yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kemampuan berbicara yang kurang baik, maka kegiatan pembelajaran tidak dapat berjalan dengan lancar. Menurut Pageyasa (2004) dalam penelitiannya hal tersebut juga ditemukan di siswa kelas 1 MTs Sunan Kalijogo. Siswa kelas 1 MTs Sunan Kalijogo masih sulit berbicara tanpa bantuan. Dengan kata lain, kemampuan berbicara siswa masih rendah. Bila dikaitkan dengan pembelajaran berbicara, tentu ada masalah dalam hal ini yang menyebabkan kemampuan berbicara siswa masih rendah. Praktik pembelajaran yang kurang efektif dan kurang disenangi siswa sebagai penyebabnya.
Masalah ini juga dialami oleh siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri X. Siswanya cenderung gugup jika berada di depan kelas untuk berbicara di depan teman sekelasnya. Siswa juga sering lupa dengan apa yang akan disampaikan di depan kelas. Siswa menghafal semua kata-kata yang akan disampaikan di depan kelas, tetapi setelah di depan kelas mereka dengan apa yang akan disampaikan. Siswa juga membutuhkan waktu yang lama berpikir mengenai apa yang akan disampaikan mengenai tema dan kata-kata yang akan disampaikan di depan kelas. Kesulitan yang paling sering dihadapi oleh siswa adalah siswa kesulitan mengungkapkan ide dan gagasan yang ada di pikiran mereka. Pada akhirnya mereka kehabisan waktu hanya untuk memikirkan dan menghafal apa yang ingin disampaikan, sedangkan praktiknya jauh dari apa yang telah mereka hafal. Dari 27 siswa kelas V SD Negeri X belum ada sebagian dari siswa yang mendapat nilai baik untuk materi berbicara. Mereka menghadapi kesulitan dalam berbicara pada masalah menuangkan ide. Dari 27 siswa 5 siswa mendapat nilai 70, 7 siswa mendapat nilai 65, sisanya mendapat nilai 65 ke bawah. Kondisi ini membuat peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengangka aspek berbicara. Metode yang peneliti gunakan adalah metode peta pikiran (mind mapping) atau peta konsep.
Peneliti menggunakan peta pikiran (mind mapping) atau peta konsep karena sebagian besar siswa kesulitan membuat konsep tentang apa yang akan dibicarakan ketika berada di depan kelas. Metode menghafal tidak terlalu berhasil untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Pendapat yang dikemukakan oleh Tonny dan Bary Buzan bahwa peta pikiran (mind mapping) atau peta konsep merupakan cara yang paling mudah untuk memasukkan informasi ke dalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak. Peta pikiran (mind mapping) merupakan teknik yang paling baik dalam membantu proses berpikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi otak. Dengan demikian siswa dapat lebih mudah menuangkan ide atau pendapatnya ke dalam sebuah konsep untuk kemudian mengembangkannya sebelum berbicara. Siswa akan lebih mudah menyalurkan kreativitasnya melalui bagan-bagan untuk kemudian mengingat kembali mengeluarkan apa yang sebelumnya ada di pikirannya.
Dari uraian di atas peneliti berharap bahwa dengan menggunakan peta pikiran (mind mapping) atau peta konsep akan meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri X. Siswa akan lebih mudah menuangkan ide atau gagasannya melalui peta pikiran (mind mapping). Dengan demikian siswa akan lebih mudah mengingat kembali mengenai apa yang akan disampaikan dengan melihat bagan peta pikiran (mind mapping) atau peta konsep. Peta pikiran (mind mapping) tersebut akan membantu membuka kembali ide-ide yang sebelumnya telah dirancang oleh siswa.