gudang makalah, skripsi dan tesis
HARAP DIBACA DULU !

Kami tidak bisa membuatkan skripsi/tesis/makalah, kami hanya sekedar menyediakan contoh-contoh file skripsi/tesis jadi sebagai bahan referensi dari skripsi/tesis yang sedang anda susun.

Cara pemesanan file-file referensi :
  • Tuliskan jenisnya (skripsi/tesis), jurusan, fokus penelitian dan alamat email anda, lalu kirimkan SMS ke : 0878-5103-3593 (bukan voice line, SMS only). Contoh : skripsi, akuntansi, penerapan activity based costing, xxxxxx@gmail.com.
  • Setelah pesan anda kami terima, kami akan mengirimkan lewat SMS judul-judul yang sesuai dengan request untuk anda pilih, sekaligus menginstruksikan untuk membayar ganti biaya pengetikan ke rekening kami di Bank MANDIRI No. Rek: 141-00-0649103-9 a/n: Santi Rahayu (bisa lewat transfer antar ATM, Internet Banking, SMS Banking atau Setor langsung dari Bank).
  • Jika anda telah selesai mentransfer, lakukan konfirmasi dengan mengirim SMS ke nomor 0878-5103-3593(bukan voice line, SMS only).
  • Apabila langkah-langkah diatas telah anda lakukan, kami akan segera mengirim TUGAS AKHIR, SKRIPSI atau TESIS sesuai dengan request anda (lengkap dari cover s/d daftar pustaka, bisa dalam format WORD atau PDF) melalui attachment (lampiran) ke alamat email yang anda berikan (maksimal 1 jam dari saat pengecekan transfer), sehingga anda tinggal mengeditnya.
Mohon maaf, dengan segala hormat kami tidak melayani :
• Komplain setelah lewat 2 hari dari tanggal pengiriman
• Pertanyaan-pertanyaan semacam : "Kalau saya telah mentransfer dananya, apa jaminan filenya akan dikirim?" (Dalam transaksi di dunia maya, kepercayaan adalah mutlak diperlukan). Jaminan kami adalah reputasi blog ini. Disamping itu, mungkin yang juga perlu ditanyakan adalah : "Kalau filenya telah dikirim, apa jaminan dana akan ditransfer?"
Sebagai catatan : kami tidak akan membocorkan identitas pemesan (nomor telepon, alamat email, dll.) karena itu staff kami tidak akan pernah menanyakan data pribadi anda seperti : nama, alamat, kampus tempat anda menuntut ilmu, dll. Kerahasiaan klien adalah yang terpenting bagi kami.

Terima kasih atas perhatiannya.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATERI RANGKA MANUSIA

(KODE : PTK-0171) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATERI RANGKA MANUSIA (IPA KELAS IV)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional RI Nomor 20 Tahun 2003 bertujuan bahwa semua peserta didik diharapkan menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menciptakan generasi bangsa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandir, menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab. Pada saat ini telah diselesaikan dua standar dan siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan (SKL). Standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah telah disahkan menteri dengan peraturan menteri pendidikan nasional No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006. Disamping itu, pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan nasional juga telah mengeluarkan peraturan No. 24 Tahun 2006 tanggal 02 Juni 2006 tentang pelaksanaan permen No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan permen No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah (E. Mulyasa, 2007 : 11).
Mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan : 1) menanamkan pengetahuan dan konsep-konsep IPA yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari; 2) menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap IPA dan Teknologi; 3) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan; 4) ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam; mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan saling mempengaruhi IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, 5) menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan (Depdiknas, 2004 : 6).
Pembelajaran dengan menghubungkan lingkungan belajar yang guru ciptakan, maka membantu siswa dalam melangkah ke tahap perkembangan kognitif selanjutnya. Oleh karena siswa sekolah dasar akan belajar lebih efektif bila mempergunakan benda-benda konkrit, diberi kesempatan untuk memikirkan apa yang mereka kerjakan dan berbagi pengalaman dengan teman-temannya (Srini M. Iskandar, 2001 : 31).
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Hal ini mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dalam penerapan kehidupan mereka sehari-hari. Tujuh komponen utama pendekatan kontekstual adalah : konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, penilaian sebenarnya (Trianto, 2007 : 103).
Peran guru yang terpenting adalah meningkatkan keinginan siswa atau motivasi untuk belajar. Memahami siswa agar nantinya mampu menyediakan pengalaman-pengalaman pembelajaran menarik, bernilai, secara intrinsik memotivasi, menantang, dan berguna bagi mereka (Kellough, 2000) dalam (David A. Jacobsen et.al, 2009 : 11).
Untuk mencapai pembelajaran ideal guru dituntut untuk mengaktualisasikan kompetensinya sehingga siswa termotivasi dalam pembelajaran. Motivasi belajar siswa rendah, strategi apapun digunakan guru dalam pembelajaran tidak akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Sebagai general trait motivasi belajar diasumsikan sebagai suatu kecenderungan siswa yang relatif stabil dalam kegiatan pembelajaran; sedangkan sebagai suatu situation-spesifik state, motivasi belajar diasumsikan sebagai suatu kecenderungan yang tidak stabil dalam kegiatan pembelajaran, dalam arti motivasi belajar siswa bisa meningkat dan bisa menurun (Keller : 1987) dalam (Wena Made, 2009 : 34)
Kenyataan yang ada di SDN X guru mengajar dengan menggunakan ceramah sehingga siswa kurang termotivasi dalam kegiatan pembelajaran IPA. Terbukti hanya 31,57 % siswa yang memperoleh hasil belajar di atas KKM dan 62,43% memperoleh hasil belajar di bawah KKM, diketahui bahwa KKM di SDN X pada pelajaran IPA yaitu 60.
Hasil penelitian Wahyuningsih Puji Lestari (2005) dilakukan di SD Negeri Proyonanggan 15 Batang menyimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan siswa, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian Diah Nugraheni (2007) dilakukan di SD Negeri 01 Kedungmundu Semarang menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri melalui media dalam pembelajaran IPA. Pendekatan kontekstual memiliki keunggulan yaitu mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa, melibatkan siswa dalam kehidupan realistik sehingga dapat menciptakan pembelajaran bermakna yang mendorong motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan perbaikan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul "PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATERI RANGKA MANUSIA SISWA KELAS IV SDN X".

B. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka disusun perumusan masalah sebagai berikut : 
a. Apakah pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ?
b. Apakah pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas guru dalam memotivasi belajar siswa ?
c. Apakah pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?
2. Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah dilaksanakan dengan penelitian tindakan kelas, dengan tahapan beberapa siklus, setiap siklusnya dari beberapa tahapan yaitu : 
a. Perencanaan
1) Menyusun RPP
2) Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran
3) Menyiapkan LKS
4) Menyiapkan lembar observasi
5) Menyiapkan lembar evaluasi
b. Pelaksanaan
1) Guru membagi siswa dalam kelompok
2) Penjelasan singkat materi pelajaran
3) Siswa berdiskusi kelompok
4) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi
5) Pembahasan LKS
6) Guru dan siswa membuat kesimpulan tentang materi
7) Guru memberikan evaluasi
c. Observasi
1) Pengamatan motivasi belajar siswa
2) Pengamatan aktivitas guru dalam memotivasi belajar siswa
d. refleksi
1) Mengevaluasi hasil observasi
2) Menganalisis hasil pembelajaran e. Revisi
Dilakukan sebagai perbaikan berdasarkan permasalahan dan kekurangan yang muncul sehingga perlu diadakan perbaikan pada siklus berikutnya.

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan motivasi belajar IPA siswa kelas IV dengan pendekatan kontekstual.
2. Tujuan Khusus
a) Meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual kelas IV SDN X.
b) Meningkatkan aktivitas guru dalam memotivasi belajar siswa SDN X pada pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual
c) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual kelas IV SDN X.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai berikut : 
1. Bagi Siswa : 
a) Dapat meningkatkan pengetahuan siswa dan motivasi belajar IPA pada materi rangka manusia.
b) Dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam pembelajaran IPA pada materi rangka manusia.
2. Bagi guru : 
a) Sebagai referensi bagi guru dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
b) Menambah informasi bagi guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
c) Guru menjadi aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.
d) Guru termotivasi untuk meningkatkan ketrampilan memilih strategi pembelajaran bervariasi sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
3. Bagi Sekolah : 
a) Dapat meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembelajaran inovatif.
b) Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA UNTUK MENEMUKAN GAGASAN UTAMA DALAM ARTIKEL DENGAN METODE CIRC DAN TEKNIK PERMAINAN MEDIA TEMPEL

(KODE : PTK-0170) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA UNTUK MENEMUKAN GAGASAN UTAMA DALAM ARTIKEL DENGAN METODE CIRC DAN TEKNIK PERMAINAN MEDIA TEMPEL (BHS INDO KELAS IX)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keterampilan berbahasa meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain. Semua keterampilan berbahasa sangat penting, tak terkecuali keterampilan membaca. Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia. Membaca adalah salah satu fungsi penting dalam hidup bahkan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, khususnya bahasa Indonesia pembelajaran membaca telah mendapatkan tempat yang cukup, namun pemahaman dan minat baca siswa sangat minim diperhatikan. Guru kesulitan menumbuhkan minat baca siswa, apalagi jika bacaan terlalu banyak dan membosankan. Hal ini juga terjadi di SMPN X Kabupaten X pada siswa kelas IX. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan penulis, diperoleh informasi dari pihak guru bahwa hampir keseluruhan siswa di Kabupaten X mengalami kesulitan membaca khususnya dalam menentukan gagasan utama dalam artikel ataupun tajuk. Hal tersebut disampaikan guru mata pelajaran bahasa Indonesia berdasarkan pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang rutin dilaksanakan semua guru bahasa Indonesia se-Kabupaten X.
Selain itu, minat belajar siswa yang kurang mengakibatkan hasil belajar yang dicapai masih rendah. Pembelajaran yang dilakukan guru bersifat drill dan monoton. Contohnya, siswa diperintahkan membaca artikel dan menuliskan gagasan tiap paragraf di papan tulis dan selalu begitu. Media yang digunakan pun hanya berkutat dengan artikel dari koran, belum ada inovasi baru dari guru.
Dari tuturan tiga orang peserta didik kelas IX yang diwawancarai, pembelajaran membaca untuk menemukan gagasan utama dari artikel diajarkan dengan cara guru menjelaskan tentang gagasan utama kemudian siswa diperintahkan secara individu membaca artikel dan menemukan gagasan utama, jika belum bisa menemukan gagasan utama guru menyuruh mengulanginya hingga menemukan gagasan utama dari artikel.
Berdasarkan informasi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel yang dilakukan di SMPN X Kabupaten X pada siswa kelas IX, sudah cukup mendapatkan perhatian dari guru mata pelajaran. Namun dalam kenyataannya minat baca siswa sangat minim dan pembelajaran yang disampaikan guru monoton, sehingga siswa kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pembelajaran membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel pada siswa kelas IX SMPN X Kabupaten X masih rendah. Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan siswa dituntut untuk mencapai indikator dalam pembelajaran membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel.
Indikator yang pertama adalah siswa mampu menemukan gagasan pokok dari artikel. Indikator kedua, siswa mampu mengembangkan gagasan pokok dengan kalimat sendiri. Indikator ketiga, siswa mampu menyebutkan kalimat utama dalam paragraf, dan indikator keempat adalah siswa mampu menyebutkan kalimat penjelas dalam paragraf.
Indikator pertama yang harus dicapai siswa dalam kompetensi dasar menemukan gagasan dalam artikel, yaitu siswa mampu menemukan gagasan utama dalam artikel. Berdasarkan wawancara pada guru mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IX SMPN X, lebih kurang 20,58 % siswa mampu menemukan gagasan utama dalam artikel. Jadi dapat diketahui indikator pertama belum dapat tercapai secara maksimal.
Indikator yang kedua, yaitu siswa mampu menuliskan kembali isi artikel. Pada indikator kedua ini siswa cukup mampu mengembangkan gagasan utama dengan kalimat sendiri, namun karena gagasan utama yang mereka temukan kurang sesuai maka hasil pencapaian indikator kedua ini juga kurang tepat. Sebagian siswa sudah terbiasa untuk mencurahkan gagasan, yang perlu ditingkatkan adalah kepaduan gagasan yang mereka tulis.
Indikator pertama, dan kedua sesuai dengan kebutuhan pencapaian kompetensi. Namun indikator ketiga dan keempat seharusnya tidak diperlukan karena secara otomatis apabila siswa telah mampu menemukan gagasan utama, maka kalimat utama dan kalimat penjelas dalam artikel telah diketahui siswa. Hal tersebut tidak fokus pada kompetensi menemukan gagasan dalam artikel. Kegiatan pembelajaran seharusnya lebih ditekankan pada bagaimana siswa dapat dengan mudah memahami bacaan artikel dan menemukan gagasan dalam artikel tersebut.
Dengan kondisi seperti itu dapat diketahui bahwa pembelajaran yang monoton dan bersifat drill dalam kegiatan membaca sangat berpengaruh pada minat baca siswa dan hasil pemahaman siswa yang kurang maksimal. Indikator juga berpengaruh pada kemampuan siswa yang dipaksa untuk mencapai indikator-indikator yang ditetapkan, tetapi indikator tersebut kurang sesuai dan terkesan berlebihan. Padahal dalam kenyataannya membaca merupakan kegiatan yang dapat mendukung semua ilmu pengetahuan, karena dari membaca siswa dapat mengetahui pengetahuan yang lebih luas.
Meskipun dengan kesadaran seperti itu, tetap saja dalam pembelajaran membaca masih kurang maksimal karena beberapa faktor. Pertama, pembelajaran membaca khususnya membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel diajarkan dengan cara yang membosankan. Kedua, pembelajaran membaca khususnya membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel kurang mendapat minat dari siswa karena bacaan yang terlalu banyak dan tidak menarik. Ketiga, faktor guru yang kurang memberikan selingan berupa kegiatan kelompok atau sekedar permainan kecil agar siswa tidak bosan dan lebih tertarik untuk membaca.
Keempat, guru juga kurang memanfaatkan media pembelajaran, dan hanya menggunakan bahan ajar utama yakni artikel dari surat kabar Keadaan tersebut menyebabkan keterampilan membaca khususnya membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel siswa kelas IX masih rendah. 
Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar (Sudjana 2009 : 1). Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah ini peneliti menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan teknik permainan media tempel sehingga keterampilan membaca khususnya membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel siswa kelas IX dapat meningkat.
Metode CIRC adalah metode yang mengelompokkan siswa secara heterogen agar siswa mampu saling membantu satu dengan yang lain. CIRC terdiri atas tiga unsur penting, yaitu kegiatan-kegiatan dasar terkait, pengajaran langsung, pengajaran memahami bacaan, dan seni berbahasa dan menulis terpadu (Slavin 2008 : 204). Dengan menggunakan metode ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan menemukan gagasan utama dari artikel dengan mengkaitkan kemampuan dasar dan pengalaman yang telah dimiliki. Pengajaran langsung dalam memahami bacaan juga membantu siswa untuk berpikir kritis menemukan gagasan dalam artikel secara langsung. Selain itu, seni berbahasa dan menulis terpadu dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan membaca dan menulis. 
Ketika kegiatan membaca berlangsung siswa diharapkan bukan hanya sekedar membaca dan menemukan gagasan utama, tetapi juga mampu menuliskan kembali secara singkat artikel tersebut. Metode ini sangat bermanfaat bagi siswa, siswa bukan hanya diajarkan untuk mampu membaca dan menemukan gagasan utama, tetapi juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berbahasa lain yakni menulis. Dengan demikian, diharapkan akan mempermudah siswa mencapai kompetensi dasar menemukan gagasan utama dalam artikel.
Aspek lain yang mendukung pembelajaran ini adalah penggunaan media pembelajaran khususnya media tempel. Dengan menggunakan media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar peserta didik dan akan memberikan selingan permainan bagi peserta didik agar bersemangat belajar yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar. Media ini sangat bermanfaat untuk memberikan motivasi belajar bagi siswa. Keberhasilan dalam belajar banyak bergantung pada usaha guru membangkitkan motivasi siswa (Hamalik 2009 : 161). Motivasi yang diciptakan guru adalah motivasi untuk menjadi yang terbaik dengan tetap menjunjung nilai sportifitas ketika pembelajaran menggunakan media tempel. Selain itu, pengembangan aspek psikologi juga diperhatikan dalam pembelajaran ini. Pengembangan aspek psikologi ini meliputi kerjasama dan saling mengerti antar siswa.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA UNTUK MENEMUKAN GAGASAN UTAMA DALAM ARTIKEL MENGGUNAKAN METODE CIRC DAN TEKNIK PERMAINAN MEDIA TEMPEL PADA SISWA KELAS IX SMPN X”.

B. Identifikasi Masalah
Uraian di atas menegaskan bahwa keterampilan membaca sangat penting dalam kehidupan khususnya dalam pembelajaran bahasa. Keterampilan membaca dapat dikatakan sebagai dasar dari semua proses belajar. Karena dari membacalah seseorang dapat memperoleh informasi.
Namun, pada kenyataan pembelajaran membaca, minat baca siswa kurang diperhatikan. Pembelajaran masih menggunakan metode yang kurang variatif dan membosankan, sehingga mengakibatkan peserta didik enggan, malas, bosan, jenuh, dan tidak termotivasi dalam membaca. Akibatnya peserta didik kesulitan dalam menemukan informasi yang menjadi gagasan utama dari bacaan yang dibaca.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengidentifikasi masalah-masalah yang menjadi penghambat keberhasilan pembelajaran membaca yaitu : (1) guru menggunakan metode pembelajaran yang kurang variatif yakni dengan metode drill yang hanya menuntut siswa untuk membaca dan selalu membaca. Dengan metode yang monoton demikian dapat menimbulkan kejenuhan pada peserta didik yang mengakibatkan mereka tidak bersemangat mengikuti pembelajaran membaca. Guru tidak memperhatikan hal tersebut, sehingga menjadi kebiasaan yang buruk dalam pembelajaran. (2) Masih rendahnya minat baca peserta didik dalam pembelajaran membaca. Mereka tidak terbiasa membaca dalam jumlah kalimat atau paragraf yang banyak dan cepat, sehingga menimbulkan kemalasan yang luar biasa ketika dihadapkan dengan bacaan yang kompleks. Dengan rendahnya minat baca peserta didik pada pembelajaran membaca maka mereka akan merasa enggan dalam membaca dan hasil yang mereka peroleh pun tidak maksimal. (3) Guru kurang memperhatikan kejenuhan dan keinginan siswa untuk memperoleh pembelajaran yang lebih variatif. Guru kurang memanfaatkan media pembelajaran yang dapat memotivasi siswa agar lebih bersemangat mengikuti pembelajaran membaca.

C. Pembatasan Masalah
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah peningkatan keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama, peneliti berupaya mengatasi segala hambatan yang dialami oleh peserta didik dalam pembelajaran membaca. Peneliti membatasi permasalahan karena peneliti memfokuskan pada peningkatan keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama yang terdapat dalam beberapa artikel yang memiliki topik yang berbeda. Untuk mengatasi masalah tersebut peneliti menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) yang mengajarkan kerjasama dalam belajar. Peneliti juga menggunakan teknik permainan media tempel yang dapat memberi variasi pembelajaran dan mengembangkan kreativitas siswa.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah diatas, dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut : 
1) Bagaimanakah proses pembelajaran menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel yang berorientasi pada peningkatan kompetensi membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel pada siswa kelas IX SMPN X ?
2) Bagaimanakah peningkatan keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel pada siswa kelas IX SMPN X ?
3) Bagaimanakah perubahan perilaku belajar siswa kelas IX SMPN X setelah dilakukan pembelajaran keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel ?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 
1) Mendeskripsikan proses pembelajaran menggunakan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel yang berorientasi pada peningkatan kompetensi membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel pada siswa kelas IX SMPN X.
2) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel pada siswa kelas IX SMPN X.
3) Mendeskripsikan perubahan perilaku belajar siswa kelas IX SMP X setelah dilakukan pembelajaran keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan teknik permainan media tempel.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini ada dua yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memberikan manfaat bagi pengembangan materi pembelajaran bahasa pada umumnya dan khususnya pembelajaran keterampilan membaca untuk menemukan gagasan utama dari artikel dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dengan teknik permainan media tempel.
Selain manfaat teoretis, manfaat lain yang juga diharapkan adalah manfaat praktis. Penelitian ini bermanfaat bagi guru dan peserta didik. Bagi guru, penelitian ini dapat meningkatkan proses belajar mengajar keterampilan membaca. Selain itu guru dapat memanfaatkan penggunaan metode-metode dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih variatif dan terkini. Bagi peserta didik dapat mempermudah pembelajaran membaca sehingga siswa senang, termotivasi, dan bersemangat pada pembelajaran membaca khususnya membaca untuk menemukan gagasan utama dalam artikel.

SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TONGKAT ESTAFET BERBASIS JIGSAW PADA KOMPETENSI DASAR RANGKAIAN HAMBATAN LISTRIK

(KODE : PTK-0169) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TONGKAT ESTAFET BERBASIS JIGSAW PADA KOMPETENSI DASAR RANGKAIAN HAMBATAN LISTRIK (FISIKA KELAS IX)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran (Djamarah, 2006 : 1).
Salah satu cara belajar mengajar yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu. Dalam belajar mengajar pada hakekatnya merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru. Pendekatan dalam belajar mengajar pada dasarnya adalah melakukan proses belajar mengajar yang menekankan pentingnya belajar melalui proses untuk memperoleh pemahaman. Pendekatan ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya belajar yang diinginkan.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Interaksi dalam proses belajar mengajar mempunyai arti yang luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa tetapi interaksi edukatif. Dalam hal ini guru tidak hanya menyampaikan pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada siswa yang sedang belajar. Proses belajar mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dengan guru yang mengajar, antara kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.
Kurikulum yang digunakan di SMPN X adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada mata pelajaran Fisika kelas IX semester 1 terdapat materi rangkaian hambatan listrik. Materi ini dipilih karena berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di SMPN X menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam materi rangkaian hambatan listrik masih kurang. Hal ini disebabkan karena siswa belum mampu mengkaitkan materi rangkaian hambatan listrik yang dipelajari dengan pengalaman yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil studi pendahuluan diketahui ulangan harian di kelas IX khususnya pokok bahasan rangkaian hambatan listrik, masih ada siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal pokok bahasan konsep rangkaian hambatan listrik yang ditunjukkan dengan 40 siswa, yang tidak tuntas adalah sebanyak 13 orang. Dan ini berarti hanya 27 siswa yang nilainya tuntas. Standar Ketuntasan Minimal mata pelajaran Fisika di SMPN X adalah 71 artinya siswa dianggap tuntas bila sudah mendapat nilai minimal 71. Sedangkan standar ketuntasan secara klasikal adalah 85 artinya suatu materi dianggap tuntas jika 85% siswa sudah mencapai SKM.
Pembelajaran materi pokok bahasan rangkaian hambatan listrik di SMPN X biasanya menggunakan pembelajaran ceramah walaupun kadang-kadang guru juga melakukan kegiatan kelompok untuk menyampaikan materi tersebut. Akan tetapi cara kerja berkelompok seperti ini menyebabkan siswa yang berkemampuan kurang, memperoleh hasil belajar yang tetap rendah dan adanya kesenjangan yang jauh antara hasil belajar siswa yang pandai dengan hasil belajar siswa yang kurang pandai, walaupun nilai tugas kelompok cenderung baik dan merata. Hal ini mungkin disebabkan karena dalam pengerjaan tugas tersebut didominasi oleh siswa yang pandai, sedangkan siswa yang kemampuannya rendah kurang berperan dalam penyelesaian tugas tersebut.
Dari prestasi ini, ada dugaan pengajaran Fisika selama ini kurang tepat dalam penggunaan metode pengajaran. Kemungkinan yang lain adalah konsep-konsep dasar yang diajarkan di kelas IX kurang dipahami siswa, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal Fisika khususnya soal-soal pokok bahasan pada rangkaian hambatan listrik masih kurang. Hal ini akan berakibat pada ketuntasan nilai belajar Fisika siswa belum tercapai, sehingga mempengaruhi tingkat kelulusan siswa.
Di sini guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Keberhasilan suatu pelajaran biasanya diukur dari keberhasilan pelaksanaan kegiatan guru dan siswa. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa tercapai secara optimal (Nasution, 2008 : 55).
Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar, karena siswa lah subjek utama dalam belajar.
Secara umum pembelajaran yang ada saat ini guru cenderung mempunyai peranan yang sangat dominan, sehingga para siswa sangat bergantung kepada guru, akibatnya siswa mengalami krisis inisiatif, kreativitas dan cenderung bersikap pasif. Bahkan kegiatan pembelajaran siswa berjalan di luar pengawasan guru, karena guru yang hanya sendirian/seorang harus melayani sejumlah siswa, sehingga guru tidak dimungkinkan dapat mengawasi dan membantu siswa yang lambat dalam menerima pelajaran secara individual.
Menyadari keadaan yang demikian, maka penerapan suatu sistem pengajaran yang dipandang mampu memberi harapan dan memperbaiki situasi belajar siswa perlu segera diterapkan. Sistem pengajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar, mengaktifkan dan mengarahkan siswa untuk dapat memecahkan masalah sendiri sesuai dengan taraf kemampuan dan kecepatannya memahami materi yang dipelajari. Kemudian bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar mendapat bimbingan dari guru secara efektif.
Sistem pengajaran yang dipandang mampu memberi harapan dan memperbaiki situasi belajar di sini adalah sistem pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Suprijono, 2009 : 89). Dengan ditambah metode pembelajaran tongkat estafet, diharapkan mendorong peserta didik dapat lebih berani mengemukakan pendapatnya (Suprijono, 2009 : 109). Prinsip utama dalam sistem ini adalah suatu model pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Atas dasar ini diharapkan belajar siswa melalui pembelajaran dengan media tongkat estafet berbasis kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari uraian di atas, tentang peningkatan efisiensi dan efektifitas pendidikan di sekolah dalam hal penggunaan waktu, fasilitas, dan tenaga secara tepat, penulis terdorong untuk mengadakan penelitian dengan judul "PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN TONGKAT ESTAFET BERBASIS JIGSAW PADA KOMPETENSI DASAR RANGKAIAN HAMBATAN LISTRIK SISWA KELAS IX SMPN X".

B. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah : 
Apakah pembelajaran dengan menggunakan media tongkat estafet berbasis kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar rangkaian hambatan listrik siswa kelas IX SMPN X ?

C. Pemecahan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada maka diperoleh cara pemecahan masalahnya, yaitu melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui penggunaan model pembelajaran tongkat estafet berbasis kooperatif tipe Jigsaw. Masing-masing tahap dalam PTK ini terdapat perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dengan menerapkan media tongkat estafet berbasis kooperatif tipe jigsaw pada pembelajaran Fisika, diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat. Adapun untuk mendukung pelaksanaan PTK dan penggunaan media tersebut diperlukan langkah-langkah : 
1. Guru menjelaskan uraian singkat materi rangkaian hambatan listrik pada siswa.
2. Guru memberikan informasi tentang media tongkat estafet dengan memutarkan lagu.
3. Guru membagi siswa dalam bentuk kelompok.
4. Guru menugasi tiap kelompok untuk mendiskusikan teks sesuai dengan lembar kegiatan siswa yang telah disusun.
5. Siswa mendiskusikan soal tersebut yang diberikan melalui LKS.
6. Guru melakukan bimbingan secara individu atau kelompok selama proses kegiatan berlangsung.
7. Guru menugasi masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaan lembar kerja siswa di depan kelas.
8. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan terhadap hasil pekerjaan yang sedang dipresentasikan.
9. Guru mengevaluasi hasil pekerjaan yang dipresentasikan di depan kelas.
10. Di akhir pembahasan materi diadakan tes siklus.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar rangkaian hambatan listrik melalui pembelajaran dengan menggunakan media tongkat estafet berbasis kooperatif tipe jigsaw siswa kelas IX SMPN X.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memberi manfaat bagi siswa, guru maupun bidang pendidikan, sebagai berikut : 
1. Siswa
Siswa dapat mengembangkan pemikirannya untuk memecahkan masalah dalam belajar, khususnya pada pelajaran Fisika. Siswa pun lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran Fisika.
2. Guru
Memberikan gambaran kepada guru dalam hal memvariasikan metode pembelajaran, seperti menggunakan media tongkat estafet berbasis kooperatif tipe jigsaw.
3. Lembaga Pendidikan
Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan, khususnya kualitas belajar Fisika dan dunia pendidikan pada umumnya.

SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI

(KODE : PTK-0168) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI (IPS KELAS V)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Ketika kita mendengar kata motivasi yang muncul dalam angan-angan kita adalah pada suatu keadaan seseorang yang mempunyai semangat tinggi, rajin, mampu bekerja keras yang akhirnya mengantarkan kita pada pencapaian yang memuaskan atau bahkan pencapaian prestasi. Dalam proses belajar motivasi sangatlah diperlukan sebab seseorang yang tidak memiliki motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Belajar dan motivasi selalu mendapat perhatian khusus bagi pendidik dan peserta didik, karena memberi motivasi kepada peserta didik merupakan hal yang perlu dan penting dalam proses pembelajaran. Di sekolah, setiap anak memiliki sejumlah motivasi atau dorongan-dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan, baik kebutuhan biologis maupun kebutuhan psikologis. Disamping itu anak juga memiliki sikap-sikap, minat-minat, penghargaan dan tujuan-tujuan tertentu. Oleh sebab itu tugas guru adalah menimbulkan motivasi yang akan mendorong anak untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan belajarnya.
Pembangunan di masa sekarang dan masa mendatang sangat dipengaruhi oleh sektor pendidikan, sebab dengan bantuan pendidikan setiap individu berharap bisa maju berkembang dan di kemudian hari bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas. Lewat pendidikan orang mengharapkan supaya semua bakat, kemampuan dan kemungkinan yang dimiliki bisa dikembangkan secara maksimal agar orang bisa mandiri dalam proses membangun pribadinya. Sedang negara bisa maju bila semua warga negaranya berpendidikan, serta memperoleh kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Oleh karena itu tingkat pendidikan menjadi salah satu indikator untuk mengukur kemajuan dan derajat kemakmuran Negara serta mengukur besarnya peranan setiap warga Negara dalam kegiatan-kegiatan membangun. 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat di sediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut dengan sesuai perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. 
Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa, baik berupa alat, orang maupun bahan ajar, selain itu media pembelajaran merupakan salah satu cara untuk memotivasi dan berkomunikasi dengan siswa agar lebih efektif. Oleh karena itu media pembelajaran saat proses belajar mengajar sangat diperlukan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama di bidang informasi dan telekomunikasi. Dengan munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi kita dapat mengetahui kejadian atau peristiwa di suatu negara atau daerah pada saat kejadian itu berlangsung. Melalui kemajuan tersebut para guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media komunikasi bukan saja mempermudah dan mengefektifkan proses pembelajaran akan tetapi juga bisa membuat proses pembelajaran lebih menarik. Tidak dapat dipungkiri, munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi yang telah banyak membantu proses pendidikan. Ini terbukti sekarang ini dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menggunakan media seperti komputer, tape recorder, dll.
Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas lembaga pendidikan berusaha meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran. Usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain mengembangkan media pembelajaran, menerapkan media pembelajaran serta memilih dan menetapkan jenis media pembelajaran yang akan digunakan. Pengembangan dan penerapan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan motivasi belajar terhadap siswa sehingga berdampak pula pada prestasi belajarnya.
Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lembaga pendidikan harus mampu menerapkan media pendidikan yang sudah ada. Media pendidikan yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekarang ini belum di daya gunakan secara optimal, melihat kenyataan yang ada di lapangan guru jarang sekali menggunakan media pendidikan dalam proses belajar mengajar di kelas, guru lebih sering menggunakan metode ceramah. sehingga proses belajar anak hanya sekedar merekam informasi dan murid mendengar, memperhatikan serta mencatat tanpa ada variasi yang lain, yang akhirnya membiasakan diri tidak kreatif dalam mengemukakan ide-ide dan pemecahan masalah yang efektif akan di bawa anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses belajar mengajar di kelas yang hanya menggunakan metode ceramah dan guru sebagai satu-satunya sumber belajar tanpa adanya media, maka komunikasi antara guru dan siswa tidak akan berjalan secara lancar. Hal ini terkait dengan permasalahan dalam proses belajar mengajar. Permasalahan yang di hadapi suasana kelas ramai, penjelasan guru membosankan, materi cenderung bersifat umum dan kadang-kadang penyampaian guru terlalu cepat, hal ini siswa juga kurang konsentrasi bahkan menjadi malas mengikuti mata pelajaran di sekolah.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tidak semua materi khususnya peristiwa proklamasi bisa diceritakan atau diterangkan saja. Melainkan harus diperlihatkan secara nyata agar materi (ilmu) yang didapat peserta didik tersebut akan selalu diingat dan dipahami. Dengan menggunakan media video cassette, anak-anak juga dapat termotivasi belajarnya. Anak akan dapat cepat memahami dan mengerti tentang materi yang diajarkan dengan menggunakan media tersebut. Anak juga akan senang dengan pengalaman-pengalaman yang telah dilihatnya melalui media video cassette. Oleh karena itulah dasar adanya penggunaan media video cassette pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ini diharapkan agar siswa dapat melihat, dan memahami objek yang dipelajari, sehingga kesenjangan yang ada dapat teratasi.
Berdasarkan paparan di atas di lihat dari pentingnya dalam hal pendidikan maka peneliti mengambil judul "PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR TENTANG PERISTIWA PROKLAMASI PADA SISWA KELAS V MATA PELAJARAN IPS DI SD X". Dengan media tersebut diharapkan agar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran sekaligus dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar dengan baik dan benar. Serta pembelajaran yang sebelumnya membosankan bagi siswa dan terkesan biasa-biasa saja kini dapat beralih peran menjadi pembelajaran yang lebih menyenangkan dan sangat mengena pada siswa, karena siswa dihadapkan pada situasi yang berbeda dari sebelumnya sehingga dari pengalaman tersebut siswa bisa menemukan pengetahuan baru.

B. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat di rumuskan rumusan masalah PTK sebagai berikut : 
1. Bagaimanakah perencanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?
2. Bagaimanakah pelaksanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?
3. Bagaimanakah penilaian penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi dengan menggunakan media audio visual pada siswa kelas V di SD X. Dari tujuan umum di atas bisa di temukan tujuan khusus sebagai berikut : 
1. Untuk mendeskripsikan perencanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
2. Untuk mendeskripsikan melaksanakan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
3. Untuk mendeskripsikan penilaian penggunaan media audio visual untuk meningkatkan motivasi belajar tentang peristiwa proklamasi pada siswa kelas V mata pelajaran IPS di SD X.
Setelah penulis melakukan penelitian dan mengetahui hasilnya, maka yang di harapkan dari penulis semoga dari hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi di dunia pendidikan pada umumnya dan SD X pada khususnya, dan guru sebagai peneliti di dorong untuk berani mencoba menerapkan media dalam proses belajar mengajar serta menilai apakah media itu efektif atau tidak dalam meningkatkan motivasi belajar para siswa.
Secara khusus dapat memberikan manfaat bagi : 
1. Bagi peneliti
Dengan dilaksanakan PTK maka guru sebagai peneliti sedikit demi sedikit mengetahui strategi, media maupun metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi dasar pembelajaran.
2. Bagi Guru
Sebagai modal dalam mendesain kegiatan belajar mengajar dalam memberikan latihan secara langsung kepada siswa untuk dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi pada siswa.
3. Bagi siswa
Dengan dilaksanakan PTK akan sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan adanya tindakan yang baru dari guru akan memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, mampu berfikir kreatif sehingga siswa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
4. Bagi sekolah
Hasil PTK sangat bermanfaat dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran.

D. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 
BAB I : Pada bab ini menerangkan tentang pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, rumusan masalah, manfaat penelitian, definisi operasional, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian pustaka dibahas pada bab ini. Yaitu membahas tentang Pembelajaran IPS, Pengertian peristiwa proklamasi media pembelajaran yang meliputi pengertian media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, kriteria pemilihan media, manfaat media dalam pembelajaran, prinsip-prinsip penggunaan media dan motivasi belajar yang meliputi, pengertian motivasi, macam-macam motivasi unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi, fungsi dan nilai motivasi dan bentuk-bentuk motivasi, penerapan media audio visual dalam meningkatkan motivasi belajar.
BAB III : Metodologi penelitian : membahas pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan temuan dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV : Pembahasan hasil penelitian, memaparkan deskripsi lokasi penelitian yang meliputi sejarah SD X, sarana dan prasarana, visi dan misi madrasah, deskripsi kelas V, siklus penelitian yang siklus I, dan siklus II, Temuan penelitian.
BAB V : Pembahasan hasil penelitian
BAB VI : Kesimpulan dan saran, berisi tentang kesimpulan hasil penelitian beserta saran-saran sebagai bahan pertimbangan.

SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MACROMEDIA FLASH DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA

(KODE : PTK-0167) : SKRIPSI PTK PENGGUNAAN MACROMEDIA FLASH DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA (IPA KELAS IV)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan aktivitas yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Pendidikan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari istilah belajar karena pada dasarnya belajar merupakan bagian dari pendidikan. Selain itu proses belajar merupakan suatu kegiatan yang pokok atau utama dalam dunia pendidikan. Manusia tidak akan pernah berhenti belajar karena setiap langkah manusia dalam hidupnya akan dihadapkan pada permasalahan yang membutuhkan pemecahan dan menuntut manusia untuk belajar menghadapinya. Belajar merupakan suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak bisa menjadi bisa sehingga proses belajar akan mengarah pada tujuan dari belajar itu sendiri. Usaha- usaha untuk mendidik dan mengajar dilakukan sejak manusia lahir dengan mengenalkan berbagai hal yang paling sederhana melalui stimulus lingkungan, misalnya bunyi, warna, rasa, bentuk dan sebagainya.
Guru adalah orang yang penting statusnya di dalam kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang paling penting yaitu mengatur dan mengemudikan bahtera kehidupan kelas. Bagaimana suasana kelas berlangsung merupakan hasil kerja dari guru. Suasana dapat hidup, siswa belajar tekun tapi tidak merasa terkekang atau sebagainya, suasana muram, siswa belajar kurang bersemangat dan diliputi suasana takut. Itu semuanya sebagai akibat dari hasil pemikiran dan upaya guru. Walaupun konsep pendidikan hari ini khususnya di Indonesia memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran bersama siswa namun penularan jiwa pendidik oleh guru terhadap siswa tidak boleh ditinggalkan.
Masalah pendidikan dan pembelajaran merupakan masalah yang perlu diperhatikan, dimana banyak faktor yang mempengaruhinya salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah guru. Guru merupakan komponen pembelajaran yang memegang peranan penting dan utama karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia telah diatur dalam undang-undang RI no : 20 tahun 2003 pada bab ke II, pasal 3 yang berbunyi : "pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab". Secara garis besar pendidikan adalah upaya membentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan yang diinginkan dalam kebiasaan dan sifatnya.
Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap. Sebagaimana diketahui bahwa dalam metodologi pembelajaran, ada dua aspek yang paling penting, yakni metode mengajar dan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar. Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yang pada gilirannya diharapkan mampu mempertinggi hasil belajar siswa.
Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik seperti yang di alami oleh siswa selama ini, yaitu menggunakan konsep yang abstrak dengan metode ceramah. Menurut Grinder dalam Silberum dari tiap 30 siswa, 22 diantara rata-rata dapat belajar efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang kombinasi antara visual auditory dan kinestetik. Dalam pembelajaran Tony stock well menyebutkan bahwa “to learn anything fast and affectively you have to see it, hear it, and feel it”. Yang artinya untuk dapat belajar dengan tepat dan efektif kamu harus melihat, mendengar dan merasakannya.
Ilmu pengetahuan alam (IPA) mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kalangan manusia dan berperan dalam proses pendidikan dan perkembangan teknologi, kenyataannya Ilmu pengetahuan alam (IPA) tidak diminati dan kurang diperhatikan apalagi kurangnya pendidik yang kurang menerapkan konsep IPA. Terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan yang mempersulit pihak sekolah dan siswa. Masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi/kurikulum, guru, media pembelajaran, fasilitas dan komunikasi antara guru dengan siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA, beliau menyatakan : 
"Metode yang sering saya gunakan yakni metode ceramah, di isi dengan diskusi kadang penguasaan dan tanya jawab. Saya jarang banget pakai media apa lagi dengan media/aplikasi komputer yang bisa menampilkan sesuatu yang bergerak, suara dan yang abstrak menjadi nyata. Saya yang lebih aktif menerangkan jadi siswa kebanyakan cuma mendengarkan penjelasan saya, ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah mereka juga masih rendah, kemampuan mereka masih kurang dalam melakukan percobaan, belum semua siswa dapat menunjukkan kemampuan dalam perbuatan dan mereka di dalam kelas masih rame sendiri, malas untuk belajar".
Dari pernyataan tersebut diatas dapat disimpulkan, pembelajaran di MI X khususnya kelas IV kurang berpusat pada siswa, ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah oleh siswa masih rendah, kemampuan dan ketrampilan siswa melakukan percobaan masih rendah, belum semua siswa dapat menunjukkan kemampuan mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan dan karakter siswa kelas IV MI X yang rata-rata adalah siswa yang aktif namun dalam artian negatif, perlu disalurkan ke dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang aktif dan terkontrol.
Dalam hal ini siswa tidak hanya mengetahui dan memahami materi pelajaran namun juga menerapkannya ke dalam pengalaman langsung/tingkah laku. Tingkah laku siswa selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Segala upaya yang menyangkut kegiatan atau aktifitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif. Menurut Benjamin Bloom ada enam tingkatan dalam domain kognitif, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan diri pada kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar pada materi IPA. Dimana dalam penerapannya harus melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya, yakni pengetahuan dan pemahaman. Namun pada dasarnya penelitian ini tidak mengesampingkan tingkatan-tingkatan setelah tingkat aplikasi, yakni analisis, sintesis dan evaluasi. Alasannya pada siswa sekolah dasar cara berpikirnya masih dalam tahap operasi konkret. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibau, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lembaga pendidikan harus mampu menerapkan media pembelajaran yang sudah ada. Dalam proses belajar mengajar di kelas yang ada hanya media pembelajaran dan guru sebagai sumber belajar, maka komunikasi antara guru dan siswa tidak akan berjalan secara lancar. Hal ini terkait dengan permasalahan dalam proses belajar mengajar.
Media pembelajaran merupakan salah satu unsur yang amat penting dalam proses belajar mengajar yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa yang berupa alat, selain itu media pembelajaran merupakan salah satu cara untuk peningkatan kualitas hasil belajar dan berkomunikasi dengan siswa agar
lebih efektif. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran saat proses belajar mengajar sangat diperlukan.
Dalam proses belajar mengajar ini ada salah satu fungsi media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi, iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Oleh karena itu, proses belajar mengajar yang di selenggarakan di sekolah atau lembaga formal, dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan diri siswa secara terencana, baik perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap. Proses belajar mengajar di sekolah atau di lembaga formal sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Lingkungan belajar tersebut antara lain meliputi : siswa, guru, karyawan sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku paket, majalah, makalah dan sebagainya), sumber belajar lain yang mendukung dan fasilitas belajar (laboratorium, pusat sumber belajar, perpustakaan yang lengkap dan sebagainya).
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, disamping guru dituntut mampu menggunakan alat-alat yang digunakan, guru dituntut juga mampu mengembangkan media pembelajaran yang akan digunakan, karena media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar, demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Penggunaan media pembelajaran dalam tahap orientasi pembelajaran akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan, isi pelajaran pada saat itu.
Bersamaan dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan juga mendorong guru untuk mengadakan upaya pembaharuan dalam proses belajar dan memanfaatkan hasil-hasil teknologi. Guru di tuntut untuk mampu menggunakan alat-alat yang bisa memudahkannya dalam menjalankan proses belajar mengajar dan memudahkan siswa dalam belajar, baik alat bantu yang sesuai dengan perkembangan zaman seperti komputer, slide dan sebagainya. Ataupun alat bantu mengajar yang sederhana, murah dan efisien seperti gambar, grafik, video dan animasi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di samping guru di tuntut mampu menggunakan alat-alat tersebut, guru juga di tuntut untuk mampu mengembangkan media pembelajaran yang akan digunakan tetapi tersedia, karena media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pembelajaran. Sehingga seorang guru disamping menguasai keilmuan pendidikan juga harus multi fungsi termasuk mengusai tata cara pengoperasian seluruh media pembelajaran pendidikan.
Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar banyak sekali, begitu juga dalam pembelajaran IPA juga bisa menggunakan media pembelajaran untuk memudahkan guru, siswa dalam belajar. Media yang dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA, antara lain : laptop, LCD, video, gambar dan sebagainya. Media-media tersebut mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga dapat memudahkan dalam mempelajari mata pelajaran IPA yang ada di sekolah-sekolah terutama di lembaga formal. Penggunaan macromedia flash dalam pembelajaran dapat menampilkan materi IPA pokok bahasan daur hidup beragam jenis makhluk hidup kelas IV dengan lebih jelas karena disertai gambar dan animasi yang berkaitan dengan materi. 
Disini macromedia flash di maksud adalah media yang dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA, yang berupa suatu program aplikasi yang digunakan untuk mengolah gambar vektor dan animasi. Objek-objek yang dapat diolah untuk membuat animasi selain gambar vektor (yang dibuat secara langsung dari flash) adalah gambar-gambar bitmap yang diimpor serta objek suara (sound) dan objek yang berekstensi. Kemampuan flash dalam mengolah dalam berbagai jenis objek kemudahan dalam proses pembuatan animasi, serta kecilnya ukuran file animasi. Media tersebut mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga dapat memudahkan dalam mempelajari mata pelajaran IPA yang ada di sekolah-sekolah terutama di lembaga formal. Selain itu penggunaan macro media flash dalam pembelajaran dapat meringankan biaya pendidikan. Adapun kekurangan media pembelajaran ini adalah hanya bisa di jalankan melalui media komputer maupun laptop dan tidak adanya efek suara berupa narasi. Selain itu media ini hanya bisa digunakan di sekolah yang memiliki fasilitas seperangkat keras komputer (hardware) ataupun lab komputer.
Sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu Esti Dewi Septiana, bahwasanya hasil analisis data uji coba perseorangan dapat diketahui tingkat validitas media pembelajaran yang dikembangkan sebesar menurut ahli materi, ahli media, uji kelompok kecil dan uji kelompok besar didapatkan rata-rata persentase 89,20%. Angka ini pada tabel kriteria kelayakan memenuhi kriteria valid dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat digunakan dalam pembelajaran. Sedangkan tinjauan terdahulu yang pernah dilakukan oleh Novita Restuti, sesungguhnya hasil penelitiannya menunjukkan rata-rata nilai kelas eksperimen adalah 77,31 sedangkan kelas kontrol adalah 65,38. Hal ini menunjukkan kelas yang di ajar dengan menggunakan macromedia flash profesional 8 mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada kelas yang diajar dengan tidak menggunakan media pembelajaran macromedia flash profesional 8.
Melihat kondisi pengelolaan kelas di dunia pendidikan sejak dulu sampai sekarang memang masalah yang tidak pernah absen dari agenda kegiatan guru. Semua itu tidak lain guna kepentingan belajar anak didik. Media merupakan salah satu alat yang sangat penting digunakan oleh seorang guru dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa, karena dengan adanya media yang cocok yang digunakan oleh guru siswa diharapkan raj in belajar dan tidak merasa bosan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, mengingat mata pelajaran IPA adalah merupakan ilmu yang mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kalangan manusia dan berperan dalam proses pendidikan dan perkembangan teknologi. Namun kenyataan yang ada di Madrasah Ibtidaiah X dari hasil pengamatan peneliti, siswa kelas IV masih rendah hasil belajarnya terutama pada mata pelajaran IPA karena guru pendidikan IPA sangat jarang sekali menggunakan media yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa. Selain itu terkadang siswa selalu menganggap sulit pelajaran IPA sehingga mereka malas untuk belajar sehingga hasil belajarnya rendah karena siswa dapat belajar dengan tepat dan efektif itu harus melihat, mendengar dan merasakannya, siswa dalam mengorganisasikan materi yang telah di ketahui juga masih rendah, dan masih banyak siswa yang kurang bisa mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Hal inilah yang membuat hasil belajar siswa masih rendah dan malas untuk belajar pada mata pelajaran IPA.
Dengan adanya deskripsi tersebut, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas ke dalam pembelajaran IPA pada Madrasah Ibtidaiah (MI) X dengan media macromedia flash, dan ditekankan pada materi daur hidup beragam jenis makhluk hidup. Dengan harapan penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan kognitif pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya materi daur hidup beragam jenis makhluk hidup. Peneliti mencoba meneliti lebih lanjut dalam penelitian tindakan kelas dengan judul "PENGGUNAAN MACROMEDIA FLASH DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS IV MI X".

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : 
1. Bagaimana perencanaan penggunaan macro media flash dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X ?
2. Bagaimana pelaksanaan penggunaan macro media flash dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X ?
3. Bagaimana penilaian penggunaan macro media flash dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X ?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk : 
1. Mengetahui perencanaan penggunaan macro media flash dalam
pembelajaran IPA untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X.
2. Mengetahui pelaksanaan penggunaan macro media flash dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X.
3. Mengetahui penilaian penggunaan macro media flash dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas IV MI X.

D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat : 
1. Bagi siswa
- Membantu siswa yang bermasalah atau mengalami kesulitan pelajaran.
- Memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar.
- Mengembangkan daya nalar serta berpikir lebih kreatif, sehingga siswa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran.
2. Bagi guru
Sebagai masukan dalam merancang kegiatan belajar mengajar serta dalam memberikan bimbingan kepada siswa untuk dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam meraih prestasi belajar siswa, serta memperhatikan media-media yang akan diterapkan dalam pembelajaran
3. Bagi Sekolah
- Sebagai bahan masukan bagi para pendidik tentang perlunya media pembelajaran IPA dalam meningkatkan kemampuan kognitif siswa khususnya di kelas IV MI X.
- Adanya inovasi pembelajaran.
- Tercapainya pengembangan kurikulum tingkat sekolah.
- Peningkatan profesionalisme guru.
4. Bagi peneliti
Sebagai pengalaman yang berharga dan menambah wawasan dan khasanah keilmuan pada khususnya, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dengan wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun secara praktis. 

SKRIPSI PTK PENERAPAN PROBLEM SOLVING DENGAN GAME POHON PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI EKOSISTEM

(KODE : PTK-0166) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PROBLEM SOLVING DENGAN GAME POHON PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI EKOSISTEM (BIOLOGI KELAS VII)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA Biologi mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta lingkungannya.
Penerapan pendidikan IPA Biologi di sekolah menengah bertujuan agar siswa paham dan menguasai konsep alam. Pembelajaran ini juga bertujuan agar siswa dapat menggunakan metode ilmiah untuk menyelesaikan persoalan alam tersebut. Pendidikan IPA Biologi itu sendiri memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas yang mempunyai pemikiran kritis dan ilmiah. Berpikir kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut.
Berdasarkan wawancara dengan guru IPA Biologi kelas VII SMPN X, terdapat 5 rombongan belajar (kelas) yaitu kelas VII A, VII B, VII C, VII D, dan VII E. Di antara kelima kelas tersebut, terdapat satu kelas yang memiliki hasil belajar dan aktivitas siswa paling rendah pada mata pelajaran IPA biologi yaitu kelas VII C. Hal ini dibuktikan dengan daftar nilai siswa kelas VII di semester I. Kelas VII C memiliki rata-rata 71,93.
Permasalahan yang ditemui di kelas VII C antara lain kelas selalu pasif. Pasif yang dimaksud adalah aktivitas siswa untuk belajar sangat rendah dan sangat sulit untuk menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru, sehingga kelas terlihat didominasi oleh guru. Siswa cenderung belum berani bertanya serta memberikan pendapat. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Sebagian siswa belum dapat mencapai Nilai Ketuntasan Minimal yaitu > 72. Jumlah siswa yang tidak tuntas secara berturut-turut pada ulangan bab I (Gejala Abiotik dan biotik), bab II (Keanekaragaman makhluk hidup) dan bab III (Organisasi kehidupan) adalah 19,35%, 32,25% dan 48,38 %. Masih banyaknya siswa yang belum tuntas menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar belum berhasil secara klasikal.
Berdasarkan kenyataan yang ada maka guru IPA bersama penulis mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk memperbaiki pembelajaran yang di kelas VII C tersebut. Penelitian Tindakan Kelas dipilih karena penelitian ini dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada di kelas penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kolaboratif antara guru dan mahasiswa. Menurut (Subiyantoro 2009), Penelitian Tindakan Kelas tidak harus sendirian dilakukan oleh guru tetapi juga dapat berkolaborasi. Melalui cara ini, guru akan banyak menerima masukan tentang prosedur PTK dan bagi seorang mahasiswa akan memperoleh manfaat masukan yang berharga dari guru yang benar-benar berkecimpung di dunia pendidikan.
Pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat dan keadaan siswa yang pasif saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mengakibatkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Keadaan siswa yang pasif tersebut merupakan suatu masalah yang perlu dipecahkan sehingga guru perlu merubah model pembelajaran yang sudah dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan seperti yang tergambar dalam pohon alternatif.
Model pembelajaran yang diterapkan harus dapat mengubah perilaku siswa menjadi lebih aktif. Model pembelajaran tersebut harus mengandung pendekatan keterampilan proses siswa. Hal ini karena ciri khas dari pembelajaran IPA adalah keterampilan proses. Melalui keterampilan proses, siswa akan melakukan kegiatan seperti mengamati, memprediksi, menginterpretasi dan mengambil kesimpulan terhadap masalah yang ada. Oleh karena itu, model pembelajaran yang tepat dalam mendukung keterampilan proses adalah model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving). Model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran kontekstual yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan pemecahan masalah. Adanya permasalahan (problem) yang diberikan akan mengajak siswa menemukan solusi yang tepat (solving) dengan berdiskusi dengan kelompoknya.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Setiawan (2008) menunjukkan bahwa problem solving mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran problem solving, siswa mampu memahami masalah, mengidentifikasi masalah, merencanakan bagaimana caranya terbaik mengerjakan masalah, menggunakan rencana itu untuk mencoba memecahkan masalah, dan memeriksa jika masalah sudah dipecahkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Afcariono (2008) menunjukkan bahwa problem solving mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa seperti kemampuan bertanya dan menjawab permasalahan yang akan mereka pecahkan.
Selain itu, guru bersama penulis menggabungkan game pohon pengetahuan di akhir pembelajaran. Game ini dipilih sebagai media pembelajaran karena salah satu prinsip dari pembelajaran IPA Biologi adalah joyful learning. Game Pohon Pengetahuan akan membantu siswa untuk mengendapkan materi dengan bantuan gambar pohon. Setiap ranting dari pohon akan mengandung materi yang harus dikuasai siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas alternatif untuk mengatasi permasalahan hasil belajar tersebut yaitu menggunakan model pembelajaran problem solving dengan game pohon pengetahuan. Penggabungan model pembelajaran dengan media game ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dan semangat dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan pohon masalah dan pohon alternatif maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah apakah penerapan problem solving dengan game Pohon Pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi Ekosistem di Kelas VII C SMPN X ?

C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari penafsiran yang berbeda berkaitan dengan istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu adanya penegasan terhadap istilah yang ada dalam judul tulisan ini. Istilah yang perlu ditegaskan adalah
1. Problem solving
Problem solving merupakan model pembelajaran penyelesaian masalah yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Model ini meliputi tahapan merumuskan masalah, menganalisis masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, pengujian hipotesis dan merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.
Model pembelajaran Problem solving adalah suatu kegiatan yang didesain oleh guru dalam rangka memberi tantangan kepada siswa melalui penugasan atau pertanyaan. Masalah yang diberikan harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa (Sanjaya 2006).
2. Game Pohon Pengetahuan
Game Pohon Pengetahuan merupakan suatu media pembelajaran berbentuk permainan yang mengajak siswa untuk mengendapkan materi dalam sebuah gambar pohon yang terdiri dari cabang dan ranting. Setiap cabang dan ranting tersebut mengandung materi yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran. Game ini dilakukan secara berkelompok.
Menurut Jamil (2009), Games kelompok adalah permainan yang dilakukan dengan melibatkan siswa secara berkelompok yang bisa menguji baik kemampuan dan kecerdasan secara pribadi maupun sebagai kerja sama kelompok.
3. Peningkatan Aktivitas siswa
Aktivitas siswa merupakan semua kegiatan siswa yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Aktivitas siswa ini meliputi : ketepatan waktu hadir dalam KBM, perhatian siswa terhadap guru, kemampuan berpendapat, kemampuan bertanya, kemampuan mengamati/praktik, keaktifan mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS), keseriusan saat KBM, dan aktivitas kegiatan game. Peningkatan aktivitas siswa merupakan suatu bentuk kenaikan aktivitas siswa di dalam kegiatan belajar mengajar dari pembelajaran sebelumnya. Untuk penilaian aktivitas siswa disediakan rubric penilaian aktivitas siswa (lampiran 7).
Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif (Anni 2007).
4. Peningkatan Hasil belajar
Hasil Belajar merupakan hasil kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Kemampuan yang dimiliki siswa dilihat dari hasil yang dicapai melalui nilai tes pilihan ganda dan nilai Lembar Kerja Siswa (LKS). Peningkatan Hasil Belajar merupakan suatu bentuk peningkatan hasil belajar dari hasil belajar sebelumnya. Siswa mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu > 72.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perubahan perilaku dapat berupa penguasaan konsep atau perubahan perilaku yang lain tergantung pada apa yang dipelajari oleh siswa (Anni 2007). 5. Materi Ekosistem
Materi Ekosistem merupakan materi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Biologi kelas VII C dengan Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem, Kompetensi Dasar : 7.1 Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem, 7.2 Mengidentifikasikan pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem.

D. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan problem solving dengan game Pohon Pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi Ekosistem di Kelas VII C SMPN X.

E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat
1. Bagi guru
a. Mendapat pengalaman untuk mengembangkan model pembelajaran yang bervariasi dan efektif sehingga membantu siswa dalam memahami materi dan dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.
b. Dapat meningkatkan kualitas guru.
c. Dapat mempermudah guru dalam penyampaian materi.
2. Bagi siswa
a. Memberikan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan.
b. Meningkatkan pemahaman terhadap konsep materi.
c. Menumbuhkan kemandirian belajar siswa.
3. Bagi sekolah
a. Meningkatkan kualitas belajar siswa di sekolah tersebut.
b. Memberikan sumbangan untuk pengembangan pembelajaran biologi.

SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN MANUSIA

(KODE : PTK-0165) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN MANUSIA (BIOLOGI KELAS VIII)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peserta didik SMP X sangat beragam mulai dari perbedaan tingkat sosial, ekonomi, maupun kemampuan. Mereka memiliki aspirasi, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan peserta didik lainnya. Khususnya kelas VIII memiliki heterogenitas kemampuan yang menonjol.
Hasil observasi peneliti saat proses belajar mengajar di kelas VIII, menunjukkan bahwa heterogenitas kemampuan peserta didik terlihat jelas. Hal ini terbukti saat pembelajaran berlangsung hanya beberapa siswa saja yang aktif dan siswa yang tercatat aktif tersebut adalah siswa yang sama, peneliti mendapatkan data awal tentang hasil belajar siswa saat UHT dengan rentang nilai yang terlampau jauh yaitu antara 94-28. Selain hal tersebut pembentukan kelompok heterogen yang sering dilakukan guru justru membuat perbedaan mereka semakin menonjol sehingga hasil belajar siswa rendah karena saat dilakukan evaluasi nilai rata-rata hanya mencapai 6,2. Hasil belajar untuk Mata Pelajaran Biologi dari sebagian besar peserta didik masih menunjukkan tingkat rata-rata di bawah Ketentuan Kelulusan Minimal (KKM), yaitu 6,5. Untuk itu diperlukan pembelajaran yang cocok dengan paradigma di atas yaitu pembelajaran individual.
Pembelajaran individual memiliki beberapa keunggulan. Dengan dilaksanakannya pembelajaran individual maka akan tercipta suatu ketuntasan belajar yang baik. Karena dalam hal ini, siswa yang dalam kategori berkemampuan rendah, akan dapat mencapai ketuntasan, mengikuti siswa yang berkemampuan sedang dan tinggi yang secara praktis memang lebih cepat menyerap pelajaran dibanding siswa berkemampuan rendah.
Melalui pendekatan individual memungkinkan seorang guru untuk dapat memperhatikan siswa secara individual. Sehingga guru akan mengetahui secara persis potensi, kemampuan dan aspirasi siswa. Karena dalam pendekatan pembelajaran individual ini, guru melakukan pembelajaran atau bimbingan secara "face to face" dengan siswa. Seorang guru menangani beberapa orang siswa saja. Seorang guru harus memperhatikan siswa secara orang per orang. Tentu saja hal ini membutuhkan rasio Guru dan siswa yang ideal. Dengan kata lain, jumlah guru setiap mata pelajaran, harus memadai untuk mengawal sejumlah siswa yang ada. Hal ini pada sistem klasikal, dimana seorang guru mengajar untuk 30 sampai 40 siswa. Pada dasarnya pembelajaran adalah suatu bentuk interaksi sosial. Interaksi antara guru dengan siswa guna mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana telah ditetapkan. Oleh karena merupakan interaksi, maka harus terjadi komunikasi dua arah. Harus terjadi hubungan yang bersifat timbal balik. Agar terjadi komunikasi timbal balik, maka seorang guru harus memperhatikan keunikan masing-masing siswa. Seorang guru harus memperhatikan heterogenitas peserta didik agar dicapai hasil yang optimal (Slameto : 1995). 
Lebih lanjut, Slameto mengemukakan, ada 2 cara untuk membantu siswa agar belajar sesuai dengan keadaan individual tiap siswa, yaitu : a). Siswa dikelompokkan sesuai dengan tujuan yang mau dicapai dan berdasar sifat-sifat tersebut. Cara ini banyak dilakukan dalam kegiatan di bidang musik dan atletik. b). Materi, perlengkapan, ruang diatur secara fleksibel untuk memungkinkan belajar secara independen agar siswa dapat belajar sesuai dengan tempo dan caranya sendiri.
Namun, Pembelajaran individual juga memiliki beberapa kendala. Kendala yang dihadapi adalah rasio guru siswa yang terlampau tinggi. Jumlah guru yang tak sebanding dengan jumlah siswa merupakan kendala utama pelaksanaan pembelajaran individual.
Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah-sekolah formal masih lebih memilih pembelajaran model klasikal, pembentukan kelompok masih bersifat heterogen, serta perhatian terhadap siswa yang berkemampuan rendah masih sangat kurang. Di sisi lain Julyan dan Ducworth dalam Prayitno (2004) menyatakan bahwa guru perlu memperhatikan secara sungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data yang ditemukan sambil menaruh perhatian khusus pada keraguan, kesulitan, dan kebingungan setiap siswa, memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas, dan memberikan penghargaan terhadap setiap siswa. Ketidaktahuan siswa bukanlah hal yang jelek dalam belajar melainkan merupakan langkah awal untuk mulai belajar.
Atas dasar semua itu, maka diperlukan model pembelajaran yang merupakan alternatif solusi atas permasalahan ini. Yakni model pembelajaran Klasikal yang menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran individual, yang tidak lain adalah Pembelajaran Semi Individual. Dengan pembelajaran semi individual ini akan dapat mengatasi keberagaman kemampuan siswa yang tinggi, dengan cara mengajarkan fakta dan konsep secara klasikal, kemudian mengaplikasikan prinsip dan skill secara kelompok menggunakan media Lembar Kerja, dan membagi kelas dalam tiga kelompok : kelompok pandai, sedang dan kurang. Dengan demikian heterogenitas peserta didik bisa diaktualisasikan lebih optimal.
Berdasarkan pemikiran di atas dilakukan penelitian tentang pembelajaran semi individual yang penulis angkat dalam skripsi berjudul "PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PADA KELAS VIII DI SMP X".

B. Rumusan Masalah
Apakah pembelajaran semi individual dapat diterapkan pada siswa kelas VIII dalam materi Sistem pencernaan makanan pada manusia ?

C. Tujuan Penelitian
Untuk menguji apakah pembelajaran semi individual dapat diterapkan pada siswa kelas VIII dalam materi Sistem Pencernaan Pada Manusia.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah.
1. Bagi guru
Dapat memperkaya variasi penyampaian pengetahuan pada materi sistem pencernaan makanan manusia dalam kehidupan.
2. Bagi peserta didik
a. Dapat meningkatkan aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan pendekatan yang diberikan oleh guru.
b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi sekolah dalam sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran secara menyeluruh, sehingga kualitas pembelajaran akan lebih meningkat.

SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, TRANSFERRING (REACT) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR

(KODE : PTK-0164) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, TRANSFERRING (REACT) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR (EKONOMI KELAS VII)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai arti yang sangat penting dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan individu, bangsa maupun negara. Oleh karena itu pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga sesuai dengan tujuan. Keberhasilan suatu bangsa terletak pada mutu pendidikan yang dapat meningkatkan kualtias sumber daya manusianya.
Pendidikan pada dasarnya suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan-pendekatan yang kreatif tanpa harus kehilangan identitas dirinya. Sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan formal yang mempunyai aturan-aturan jelas atau lebih dikenal dengan GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) sebagai acuan proses pembelajaran dan guru sebagai fasilisator yang berperan dalam keberhasilan seorang siswa, sehingga guru harus tepat dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan.
Pada kenyataannya, guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung menggunakan strategi pembelajaran tradisional. Artinya guru mentransformasi ilmu pengetahuannya dengan menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran berpusat pada guru (Teacher Centered).
Kegiatan belajar mengajar harus berpusat pada siswa yang artinya siswa harus lebih aktif menggali informasi sendiri. Seperti halnya di SMPN X, dalam penyampaian materi guru masih cenderung menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.
Salah satu aspek penting dalam mengajar termasuk mengajar ekonomi ialah membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Berbagai cara telah dianjurkan oleh ahli pendidikan untuk mencapai hal itu. Hal ini penting karena motivasi seseorang adalah bagian internal manusia. Seseorang menetapkan alasan dan membuat keputusannya sendiri berdasarkan penglihatannya (perception) terhadap lingkungannya. Tentang bagaimana guru mempengaruhi motivasi siswa adalah dengan menciptakan situasi eksternal sehingga siswa akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam proses belajar mengajar motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas belajar. Proses belajar akan berjalan lancar apabila disertai dengan motivasi dari sekarang. Motivasi merupakan alat yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa dalam rentan waktu tertentu.
Motivasi adalah prasyarat utama dalam pembelajaran, tanpa itu hasil belajar yang dicapai tidak akan optimal, dan motivasi sendiri merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri sendiri atau ditimbulkan oleh lingkungan sekitar. Faktor-faktor psikologi dalam belajar yang menyebabkan pembelajaran akan berhasil baik, jika didukung oleh faktor-faktor psikologi dari peserta didik, Salah satu faktor psikologi itu adalah motivasi. Hampir semua guru setuju akan pentingnya motivasi dalam proses belajar mengajar, karena dapat menimbulkan kemauan, dan memberikan semangat untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Pentingnya motivasi belajar bagi siswa adalah untuk : (1) menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir, (2) menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, (3) mengarahkan kegiatan belajar sehingga anak mengubah cara belajarnya lebih tekun, (4) membesarkan semangat belajar, seperti mempertinggi semangat untuk lulus tepat waktu dengan hasil yang memuaskan; dan (5) menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja yang berkesinambungan, individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa hingga dapat berhasil. Di SMPN X siswanya belum menyadari pentingnya motivasi belajar, karena ketika belajar motivasi siswanya kurang terlihat.
Dalam proses belajar mengajar peserta didik harus diberi rangsangan melalui teknik dan cara pengajaran yang tepat agar mereka merasa senang dan tertarik terhadap pelajaran yang diajarkan. Kebanyakan di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa kurangnya motivasi belajar akan menimbulkan penurunan pada hasil belajar siswa. Kurangnya motivasi belajar dalam proses
pembelajaran ekonomi dilatarbelakangi oleh adanya beberapa faktor yaitu : (1) Proses pembelajaran masih didominasi oleh guru; (2) Kurangnya sarana dan prasarana penunjang dalam pembelajaran, (3) Konsentrasi siswa kurang terfokus pada pembelajaran, dan (4) Kurangnya kesadaran siswa dalam pembelajaran.
Hasil belajar yang baik dapat ditunjang dengan berbagai faktor, antara lain motivasi belajar dan kemampuan guru dalam penerapan metode maupun pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Proses pembelajaran ekonomi dapat dikatakan berhasil apabila guru mempunyai kemampuan dasar yang baik. Seorang guru ekonomi dituntut untuk memahami dan mengembangkan suatu metode pengajaran di dalam kelas untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Hal ini juga bertujuan agar dapat mengurangi rasa jenuh pada siswa saat proses belajar mengajar. Cara mengajar yang mempergunakan teknik atau metode yang dilakukan secara tepat akan memperbesar motivasi belajar siswa dan karena itu pula diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Salah satu alasan peneliti memilih pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) model REACT adalah karena model ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan metode pembelajaran kontekstual, hasil belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil, dimana siswa belajar mengkonstruksikan sendiri, karena diasumsikan dengan strategi dan pendekatan yang baik, maka akan memperoleh hasil yang baik pula.
Selain itu ada beberapa alasan lagi mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan yaitu : (1) Pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi yang tidak mengharuskan siswa untuk menghafal tetapi strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. (2) Melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi belajar pendekatan kontekstual, siswa diharapkan belajar melalui "mengalami" bukan "menghafal".
Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Nunin Ni'mah, Tahun 2007. Hasil penelitian dapat dikatakan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual strategi Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) mampu diterapkan dan sudah bisa dikatakan cukup berhasil. Walaupun pada siklus I masih banyak kendala namun pada siklus II kendala-kendala sudah berkurang. Hal itu ditunjukkan pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa adalah 59,06% sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar adalah 76,97%. Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari selisih nilai rata-rata siklus I dan siklus II yaitu 17,91%. Berdasarkan hasil respon siswa cukup baik dan proses belajar mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Ekonomi dengan menggunakan pembelajaran kontekstual strategi REACT bisa dimengerti dan mudah dipahami. Yang membedakan penelitian ini yaitu pada penelitian terdahulu yang diteliti adalah peningkatan prestasi belajar siswa, sedangkan penelitian yang saya lakukan adalah meneliti peningkatan motivasi belajar siswa.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Zulaikha, 2004, tentang efektifitas pembelajaran kontekstual dengan strategi REACT terhadap prestasi belajar siswa dalam pokok bahasan sistem koloid. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwasanya peningkatan prestasi belajar kimia pada kelompok eksperimen yang menggunakan strategi REACT mempunyai peningkatan rata-rata nilai sebesar 7,566 sedangkan pada kelompok kontrol yang menggunakan pendekatan konvensional peningkatannya hanya sebesar 3, jadi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan prestasi belajar kimia pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Yang membedakan penelitian ini yaitu pada penelitian terdahulu yang diteliti adalah peningkatan prestasi belajar siswa, sedangkan penelitian yang saya lakukan adalah meneliti peningkatan motivasi belajar siswa.
Oleh karena itu, maka peneliti mengangkat sebuah judul yang relevan dengan masalah tersebut yaitu : "PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, TRANSFERRING (REACT) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VII SMPN X".

B. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 
1. Bagaimanakah proses perencanaan pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X ?
2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X ?
3. Bagaimanakah hasil penilaian pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasar rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 
1. Mendeskripsikan proses perencanaan pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X
2. Mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X
3. Mendeskripsikan hasil penilaian pembelajaran kontekstual model relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT) untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMPN X

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa
- Meningkatkan motivasi siswa dalam proses pembelajaran ekonomi. Mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. 
- Membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep ekonomi karena materi dikaitkan dengan konteks keseharian siswa dan lingkungan dunia nyata siswa.
2. Bagi Peneliti dan Guru
- Mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. 
- Membantu guru dalam pemilihan model pembelajaran yang sesuai sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih menarik minat siswa.
3. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran, guna meningkatkan kualitas pembelajaran ekonomi.

E. Sistematika Pembahasan
Sistematika adalah tata urutan yang beraturan dan berkesesuaian. Sistematika ini memuat kerangka pemikiran yang akan digunakan dalam pelaporan hasil penelitian yang dilakukan. Adapun sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 
BAB I Pendahuluan
Pendahuluan menjelaskan tentang pokok-pokok pemikiran yang melatarbelakangi penulisan skripsi, yaitu terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, pembatasan masalah, definisi operasional dan sistematika pembahasan. 
BAB II Kajian Pustaka
Kajian pustaka menguraikan tentang kajian teori yang berhubungan dengan pembelajaran kontekstual dengan model Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT) yang mendasari penelitian tindakan kelas ini. 
BAB III Metode Penelitian
Metode penelitian menjelaskan tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas yang berisi pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, tahap-tahap penelitian (siklus penelitian : perencanaan, implementasi, pengamatan dan refleksi). 
BAB IV Hasil Penelitian
Hasil penelitian menjelaskan data-data yang diperoleh di lapangan (rencana pembelajaran dan hasil pembelajaran) yaitu gambaran umum SMPN X dan deskripsi data sesuai dengan rumusan masalah. 
BAB V Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan menjelaskan hasil penelitian dikaitkan dengan teori-teori yang sudah ada yang berisi tentang perencanaan dan penerapan pembelajaran kontekstual model Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring (REACT), proses dan hasil penelitian. 
BAB VI Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan dari penelitian dan saran yang akan diberikan oleh peneliti terhadap hasil penelitian.