Search This Blog

Showing posts with label forum KKG. Show all posts
Showing posts with label forum KKG. Show all posts
TESIS UPAYA PEMBINAAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN JASMANI MELALUI KELOMPOK KERJA GURU (KKG)

TESIS UPAYA PEMBINAAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN JASMANI MELALUI KELOMPOK KERJA GURU (KKG)

(KODE : PASCSARJ-0299) : TESIS UPAYA PEMBINAAN KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN JASMANI MELALUI KELOMPOK KERJA GURU (KKG) (PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN OLAHRAGA)



BAB II 
KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini dipaparkan landasan teoritis yang merupakan kerangka konseptual teori, menyangkut konsep-konsep yang berkaitan dengan kegiatan kompetensi guru pendidikan jasmani. 

A. Manajemen Pendidikan Jasmani

1. Pengertian Manajemen

Apakah sebenarnya manajemen itu? Kata manajemen berasal dari bahasa inggris, management yang dikembangkan dari kata to manage, yang artinya mengatur/mengelola. Kata manage itu sendiri berasal dari Italia Maneggio yang diadopsi dari bahasa latin managiare, yang berasal dari kata manus yang artinya tangan. Konsep manajemen tidaklah mudah untuk didefinisikan (Endang Hermawan, 2010 : 230). Apabila kita membuat suatu pembatasan atau definisi tentang manajemen dapatlah dikemukakan sebagai tersebut. "bekerja dengan orang-orang untuk mencapai tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing) pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling).
Istilah administrasi dan manajemen yang saling berganti digunakan, meskipun tidak begitu mengganggu dalam pemahaman tentang makna dan substansinya, namun memerlukan penelusuran tentang hakikat konsepnya. Demikian juga cakupan isi dan esensinya. Kecenderungan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa istilah manajemen lebih sering digunakan dengan konotasi makna yang lebih spesifik. Sebagai satu sub disiplin yang baru tumbuh, seperti dalam perkembangannya yang cukup pesat di Eropa, manajemen olahraga (sport management) menunjukkan peranan penting dalam pengelolaan kegiatan Penjas dan olahraga (Husdarta, 2009 : 35).
Bentuk kegiatan yang jika dilaksanakan secara terlembaga, yang melibatkan sejumlah personal dan memanfaatkan sumber daya, maka unsur manajemen memegang peranan penting. Kata kunci di sini adalah manajemen dibutuhkan karena kita selalu berhadapan dengan tantangan berupa kelangkaan sumber daya. Tidak ada sumber daya yang berlebihan, lebih-lebih untuk kondisi Penjas dan olahraga di Indonesia.
Fungsi utama manajemen di sini adalah untuk mengoptimalkan efisiensi, sekaligus efektivitas pembinaan. Kedua istilah ini terkait langsung dengan sasaran dan tujuan pembinaan. Sangat besar peluang bahwa pembinaan itu berlangsung dalam keadaan efisiensi yang amat rendah; jika bukan sebagai pemborosan. Fungsi manajemen juga terkait dengan kesehatan organisasi. Organisasi yang sehat, tercermin dari kultur dan produktivitasnya. Organisasi memiliki budaya yang menjadi pondasi perilaku, dan budaya itu berakar, antara pada sistem nilai yang berlaku.
Dalam konteks penyelenggaraan Penjas di sekolah atau lembaga lainnya yang relatif dikembangkan dalam skala kecil, masalah manajemennya memang seperti tidak begitu kompleks. Makin besar organisasi, makin kompleks kelangsungan fungsi manajemennya. Konsep intinya adalah : 
a. Manajemen berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas program
b. Istilah manajemen dan administrasi diartikan sama, namun lebih disukai untuk menggunakan istilah manajemen.
c. Manajemen merupakan sebuah proses yang melibatkan aspek perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan, dan evaluasi.

2. Proses Manajemen

Dari sudut pandang yang berbeda kita dapat merumuskan definisi administrasi/manajemen yang berbeda dengan rumusan di atas. Manajemen itu, tidak lain adalah proses kelangsungan fungsi yang meliputi : perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan (leading), dan evaluasi.
a. Perencanaan
Perencanaan adalah penentuan lebih dulu tujuan yang ingin dicapai dan
alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Perencanaan itu mencakup apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukan, dan siapa yang akan melakukannya. Karena selalu ada gap antara apa yang telah dicapai dan apa yang dituju, maka evaluasi dibutuhkan.
Perencanaan itu selalu berawal dengan perumusan tujuan. Apa yang kita inginkan dari hasil pembinaan Penjas dan olahraga? Tujuan itu dapat mencakup liputan yang luas, seperti aspek ekonomi, layanan, dan dimensi sosial organisasi. Dalam konteks Penjas misalnya, tentu tujuan program mengacu pada tujuan sekolah yang selaras dengan tujuan pendidikan. Namun demikian, tentu ada pula tujuan yang bersifat kelembagaan seperti untuk meningkatkan citra suatu sekolah di masyarakat.
Perencanaan dalam penelitian ini mencakup perencanaan pembinaan kompetensi guru Penjas yang dilakukan oleh (1) KKG, (2) kepala sekolah, (3) pengawas, dan (4) UPTD.
Pengembangan dari perencanaan tersebut, yang dilakukan oleh UPTD, kepala sekolah dan pengawas yaitu melalui supervisi, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dan penataran (in service training).
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah menciptakan hubungan antara aktivitas yang akan dikerjakan; personal yang akan melakukannya dan faktor fisik yang dibutuhkan. Untuk mengkoordinasi sumber-sumber yang tersedia, administrator mendesain sebuah struktur formal dari tugas dan kewenangan yang akan mendorong tercapainya tujuan dengan efisien dan efektif. Tujuan utama dari pengorganisasian itu adalah membagi tugas/pekerjaan yang akan dilaksanakan, menentukan kelompok kerja, menata jenjang kesenangan, dan menyeimbangkan otoritas dan tanggung jawab.
Organisasi itu sendiri adalah sebuah pengertian abstrak yang mencerminkan himpunan sejumlah orang yang bersepakat untuk bekerja sama dan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan. Tujuan itu, dicapai melalui gabungan kompetensi dan keahlian, gabungan dari pola hubungan berdasarkan kewenangan dan tanggung jawab. Kesemuanya ditata dalam satu jaringan, "siapa melaksanakan untuk tujuan apa" Administrator berfungsi untuk mengendalikan kesemuanya itu untuk, mencapai tujuan dengan menggunakan sumber yang tersedia sehemat mungkin.
Organisasi itu, ibarat sebuah organisme atau tanaman. Mula-mula tumbuh dari kecambah yang kemudian bertambah besar dan berkembang, hingga mencapai puncak kematangan. Pada masa itu ia berbuah, organisasi itu produktif, yang mampu menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Nanti pada suatu masa ada saatnya terjadi kemunduran. Seperti pohon, terjadi pelapukan. Organisasi itu sudah payah, sakit-sakitan dan tidak produktif lagi.
Banyak organisasi olahraga yang merana perkembangannya, lambat mencapai kematangan, bahkan ada yang tidak tumbuh, setelah terbentuk kepengurusan, karena beberapa sebab seperti tidak ada program, kepemimpinan yang lemah, partisipasi anggota yang longgar, di antaranya karena tidak ada komitmen untuk melaksanakan tugas.
c. Kepemimpinan
Fungsi manajemen itu, pada intinya adalah kepemimpinan. Dalam kepemimpinan terkandung beberapa aspek penting yaitu membuat keputusan, mengarahkan, membangkitkan motivasi. Jiwanya adalah memberikan arahan, tuntunan dan pengendalian terhadap perilaku personal anggota organisasi.
Pengalaman menunjukkan, kepemimpinan yang dimaksud, menjadi kunci bagi pencapaian keberhasilan; kepemimpinan yang lemah karena berbagai sebab seperti rendah kompetensi dalam bidang yang ditangani, lemah dalam keterampilan sosial dan komunikasi, semuanya tidak akan membawa kemajuan bagi organisasinya. Banyak program macet karena kepemimpinan yang lemah. Atmosfir pengajaran menjadi tidak sehat dan kondusif karena kepemimpinan yang tidak sesuai.
d. Evaluasi
Dalam kegiatan apapun akan selalu ada penyimpangan dan kesenjangan antara apa yang direncanakan dan hasil yang diperoleh. Gap itu perlu ditelaah dan dicari penyebabnya. Proses penentuan sebab dan faktor yang menimbulkan kesenjangan antara rencana dan hasil, termasuk proses pelaksanaan, disebut evaluasi dalam konteks pengelolaan suatu program. Penyebab terjadinya kesenjangan itu bisa karena faktor personal yang kurang cakap, lemah motivasi, atau memiliki sikap negatif terhadap suatu objek. Semua kelemahan itu merupakan hambatan yang di antaranya dapat terjadi pada penyelenggaraan pembaharuan. Keputusan inovatif itu memang berawal pada tingkat pemimpin organisasi.

TESIS MANFAAT SHARING PENGALAMAN MENGAJAR DALAM FORUM KKG BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN SERTA PENGUASAAN KONSEP GURU

TESIS MANFAAT SHARING PENGALAMAN MENGAJAR DALAM FORUM KKG BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN SERTA PENGUASAAN KONSEP GURU

(KODE : PASCSARJ-0175) : TESIS MANFAAT SHARING PENGALAMAN MENGAJAR DALAM FORUM KKG BAGI PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN SERTA PENGUASAAN KONSEP GURU (PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN DASAR)


BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu reformasi bidang pendidikan adalah meningkatkan mutu pengajar atau pendidik agar menghasilkan output yang bermutu dan mampu bersaing dengan negara-negara maju. Dalam rangka meningkatkan kompetensi mengajar guru SD agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang semakin pesat, maka perlu dilakukan peningkatan kompetensi guru. Peningkatan kompetensi dimaksudkan untuk memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan mengajar. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, baik yang diupayakan oleh guru-guru sendiri maupun yang diupayakan oleh pimpinannya (kepala sekolah dan pengawas).
Proses belajar-mengajar yang berkualitas adalah guru yang memiliki kompetensi mengajar yang memadai dalam hal merencanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar, serta menilai hasil belajar siswa. guru sebagai pengajar berperan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu guru dituntut untuk menguasai seperangkat pengetahuan dan keterampilan mengajar.
Guru merupakan komponen penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan, tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Berdasarkan Standar Nasional Kependidikan, guru harus memiliki empat kompetensi dasar yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. Namun, kompetensi-kompetensi yang dimiliki guru saat ini masih terbatas, sehingga diperlukan suatu upaya untuk mengoptimalkan kompetensi-kompetensi tersebut. guru dapat dinilai profesional ketika dia melakukan pengembangan wawasan dan ilmu, mampu menelaah secara kritis, serta kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi.
Para pengamat pendidikan menilai bahwa kualitas kemampuan profesionalisme guru SD belum memadai. Karena itu perlu terus ditingkatkan. Berbagai studi tentang kualitas guru, menyimpulkan bahwa kemampuan profesionalisme guru menguasai bahan pelajaran memberikan efek yang positif terhadap prestasi belajar. Menurut Saud (2009 : 54) penelitian dalam bidang pendidikan kependidikan di Indonesia menunjukkan bahwa 26,17% dari hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penguasaan guru dalam hal materi pelajaran. Berkaitan hal itu Purwanto (Kotten, 2005 : 77) mengemukakan kekurangmampuan guru SD menguasai bidang studi antara lain disebabkan oleh standar kualitas kelulusan guru yang menurun, sikap dan cara mengajar guru yang tidak berubah-ubah selama bertahun-tahun mengajar. Banyak guru yang tidak pernah berupaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sehingga sulit menyesuaikan did dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Menurut Widodo (2007 : 17) kenyataan banyak ditemukan di banyak sekolah guru belum mampu melaksanakan salah satu keterampilan dasar mengajar yaitu membuka dan menutup pelajaran, karena hakikat dari membuka pelajaran adalah kemampuan guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Sedangkan menutup pelajaran adalah kegiatan yang bersifat memberikan umpan balik bagi siswa segera setelah pembelajaran usai serta memberikan penguatan maupun revisi terhadap segala sesuatu yang menjadi pengalaman belajar saat itu. Membuka dan menutup pelajaran merupakan salah satu dari beberapa keterampilan pembelajaran yang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvensional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centre) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centre), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan.
Keadaan kualitas pendidikan seperti ini, menimbulkan keluhan dan kritikan dari berbagai kalangan masyarakat yang dialamatkan kepada guru. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa guru merupakan komponen yang layak mendapat perhatian, karena baik ditinjau dari posisi yang ditempati dalam struktur organisasi pendidikan maupun dilihat dari tugas yang diemban, guru merupakan pelaksana operasional terdepan yang menentukan dan mewarnai proses belajar-mengajar. Guru merupakan pusat dari produktivitas sekolah. Guru merupakan kunci bagi seluruh upaya pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan. Guru merupakan satu-satunya komponen yang dapat merubah komponen-komponen lainnya menjadi bervariasi (Arikunto, 1990).
Upaya meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yakni pendekatan internal dengan memanfaatkan guru yang lebih berpengalaman sebagai pelatih, pendekatan eksternal dengan mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan ataupun studi lanjut, dan dengan pendekatan kemitraan melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan sekolah. Karakteristik program kemitraan adalah dikembangkannya prinsip kolaborasi yang memberikan keuntungan pihak-pihak yang terlibat. Prinsip kolaborasi juga dapat dilakukan antar sesama guru dalam suatu sekolah juga dapat menjadi ajang yang efektif untuk meningkatkan mutu guru.
Melalui sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG, antara guru-guru dalam sekolah, bertujuan agar para guru bergabung dalam satu kelompok saling tukar menukar pikiran dan pengalaman mengajar, saling membantu sesama guru, mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pengelolaan kegiatan belajar-mengajar (Satori, 1989 : 317). Jadi KKG merupakan suatu wadah tempat berhimpunnya guru-guru untuk membahas berbagai hal yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Melalui forum KKG ini juga bisa diselenggarakan belajar bersama dalam pengajaran, dalam hal ini bukan hanya guru yang melaksanakan pembelajaran saja yang dapat memetik manfaat, namun terlebih lagi rekan sejawat yang hadir pada saat pembelajaran. Dengan mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan seorang guru, pengamat didorong untuk merefleksikan pembelajaran yang dilaksanakannya dan serta memikirkan bagaimana meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu forum KKG ini sesungguhnya merupakan forum belajar bersama untuk saling belajar dari pengalaman mengajar guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Berpijak dari adanya kesadaran dan keinginan untuk meningkatkan SDM maka peranan guru khususnya di SD perlu diperkuat dan didukung oleh tersedianya tenaga kependidikan yang berkualitas yaitu guru yang sehingga dapat melaksanakan tugasnya, baik dalam merencanakan, melaksanakan, maupun mengevaluasi kegiatan belajar mengajar, serta terus berupaya mengembangkan diri sesuai kebutuhan perkembangan zaman.
Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, melalui sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif. Hal ini sesuai pendapat Oliva (1984) bahwa upaya pengembangan tingkat pengetahuan dan keterampilan mengajar dapat dilakukan melalui in-service training.
Dari kenyataan diatas maka diperlukan sebuah alternatif untuk peningkatan kemampuan kompetensi mengajar guru dalam peningkatan kompetensi selain dalam bentuk pelatihan, salah satunya adalah dengan forum KKG sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran menuju ke arah yang jauh lebih efektif, juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru (Mulyasa, 2007).
Refleksi guru terhadap rekaman pembelajarannya dapat menemukan kelebihan dan kekurangannya sehingga memungkinkan ada perubahan cara mengajar guru setelah melakukan refleksi atas pembelajaran mereka yang direkam melalui video (Widodo, 2007 : 19). Tentunya semakin banyak refleksi itu dilakukan diharapkan akan mampu lebih memperbaiki profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran. Ini berarti metode ini dapat menjadi alternatif bagi peningkatan mutu pendidikan.
Pendidikan IPA seyogianya diarahkan untuk mengembangkan individu-individu yang melek sains (scientific literacy) yang meliputi pengetahuan tentang usaha ilmiah dan aspek-aspek fundamental tentang konsep, prinsip serta keterampilan ilmiah untuk memecahkan masalah sehari-hari dan dalam pengambilan keputusan (Amin, 1997). Dalam hal ini Buchori (2007 : 184) menyatakan bahwa menciptakan masyarakat yang menguasai teknologi inovatif baik dibidang produksi maupun konsumsi, hanya dapat diwujudkan apabila kepada mereka diberikan dasar kemampuan IPA yang mencukupi meliputi kemampuan : kognitif, keterampilan, sikap, atau nilai-nilai. Berkaitan dengan hal tersebut Abruscato (1982 : 19) menyatakan bahwa tujuan khusus pendidikan Sains harus mencakup tiga domain yang meliputi : kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ada beberapa pihak yang beranggapan bahwa pembelajaran IPA harus lebih ditekankan dalam mengembangkan potensi manusia, karena IPA dianggap mampu melatih orang berpikir secara logis dan sistematis. Pada hakikatnya pembelajaran Sains harus ditekankan pada tiga hal yaitu produk, proses, dan sikap.

B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang menunjukkan bahwa guru sebagai pendidik harus berusaha meningkatkan terus kompetensinya, baik melalui pelatihan maupun melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) di Sekolah Dasar. Pembinaan kompetensi guru adalah usaha memberikan bantuan kepada guru agar bertambah luas pengetahuannya, meningkatkan keterampilan mengajarnya serta menumbuhkan sikap profesional sehingga guru menjadi lebih ahli dalam mengelola proses belajar mengajar untuk membelajarkan anak didik (Depdikbud, 1994).
Kompetensi untuk guru SD yang mengajarkan IPA menurut Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru mencakup : 1) Mampu melakukan observasi gejala alam baik secara langsung maupun tidak langsung. 2) Memanfaatkan konsep-konsep dan hukum-hukum ilmu pengetahuan alam dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. 3) Memahami struktur ilmu pengetahuan alam, termasuk hubungan fungsional antar konsep, yang berhubungan dengan mata pelajaran IPA.
Pernyataan diatas mempunyai arti bahwa tugas guru SD tidaklah mudah, apalagi peranan SD sebagai jenjang pendidikan formal yang pertama dan merupakan peletak dasar usaha pendidikan yaitu pembentukan sumber daya manusia. Perlu disadari pula bahwa seorang guru terikat oleh ruang, tempat dan waktu. Oleh karena itu perlu diusahakan suatu pembinaan secara berkala, simultan dan komprehensif melalui gugus sekolah agar setiap pribadi guru tumbuh subur rasa pengabdian dan tanggung jawab, karena profesi guru adalah jabatan kunci dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Disamping itu harus tetap komitmen terhadap upaya pengembangan kualitas profesinya.
Fokus penelitian ini adalah mencoba menggali tentang manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG bagi peningkatan membuka dan menutup pelajaran serta penguasaan konsep guru dalam mata pelajaran IPA SD pada materi energi dan perubahannya.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan fokus masalah yang telah dipaparkan, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut : "Sejauhmanakah manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG dapat meningkatkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran serta penguasaan konsep guru pada mata pelajaran IPA SD ?".
Untuk lebih rincinya masalah yang akan diteliti dijabarkan ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut : 
1. Apakah manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG dapat meningkatkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran ?
2. Apakah manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG dapat meningkatkan guru terhadap penguasaan konsep ?

D. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sampai sejauhmanakah manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG bagi peningkatan membuka dan menutup pelajaran serta penguasaan konsep guru pada mata pelajaran IPA SD. Dalam meningkatkan kompetensi guru agar dapat menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih berkualitas. Sedangkan tujuan khusus yang lebih operasional, penulis merumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut : 
1. Untuk mengetahui manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG bagi peningkatan kemampuan membuka dan menutup pelajaran.
2. Untuk mengetahui manfaat sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG bagi peningkatan guru terhadap penguasaan konsep.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar IPA di SD. Manfaat yang akan dipetik dari penelitian ini adalah dapat dijadikan pedoman upaya peningkatan keterampilan membuka dan menutup pelajaran serta penguasaan konsep guru pada materi energi dan perubahannya melalui sharing pengalaman mengajar dalam forum KKG, dengan peningkatan kompetensi guru dalam hal keterampilan membuka dan menutup pelajaran serta penguasaan konsep yang nantinya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.