Search This Blog

SKRIPSI PTK PENGENALAN KONSEP BENTUK GEOMETRI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK MENCARI PASANGAN

(KODE : PTK-0127) : SKRIPSI PTK PENGENALAN KONSEP BENTUK GEOMETRI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK MENCARI PASANGAN (PGTK)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak usia dini merupakan anak yang berada pada rentang usia antara 0-8 tahun atau disebut usia keemasan {Golden Age), yaitu masa ini merupakan masa kritis bagi anak yang apabila kebutuhan tumbuh kembangnya tidak dipenuhi dengan baik niscaya akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahap selanjutnya berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan anak harus mendapatkan stimulus yang baik agar dapat berkembang secara optimal karena setiap aspek perkembangan saling berhubungan dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Salah satu aspek perkembangan yang perlu mendapatkan stimulus dengan baik adalah aspek perkembangan kognitif anak (Musliddin 2007 : 29).
Menurut Cavanagh (Muslihuddin & Agustin, 2008 : 11) kognitif merupakan bagian intelegensi yang merujuk pada penerimaan, penafsiran, pemikiran, pengingatan, pengkhayalan, pengambilan keputusan, dan penalaran dengan kemampuan kognitif inilah individu mampu memberikan respon terhadap kejadian yang terjadi secara internal dan eksternal. Sejalan pendapat Witherington (Sujino, dkk 2004 : 1.12) mengemukakan bahwa "kognitif adalah pikiran, kognitif (kecerdasan pikiran) melalui pikiran dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi untuk memecahkan masalah". Sedangkan perkembangan kognitif (perkembangan mental, adalah perkembangan pikiran.
Pikiran adalah bagian dari proses berpikir dari otak. Pikiran untuk mengenali, mengetahui dan memahami. Salah satu pembelajaran yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan aspek kognitif adalah pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran matematika terdapat materi tentang pengenalan bentuk geometri. Pengenalan bentuk geometri merupakan salah satu standar isi pembelajaran matematika yang direkomendasikan oleh National Council of Teacher of Mathematics (NCTM). Lebih lanjut disebutkan bahwa pembelajaran untuk anak prasekolah pada standar geometri bertujuan agar anak dapat menganalisa karakteristik dan sifat-sifat bentuk geometri dua atau tiga dimensi dan mengembangkan argumentasi matematika mengenai hubungan-hubungan geometri (Sriningsih, 2008 : 56).
Menurut Solehuddin (2000 : 46) Anak mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, rasa ingin tahu yang antusias yang kuat terhadap segala sesuatu merupakan ciri yang menonjol pada anak TK, ia akan banyak memperhatikan, membicarakan, atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Maka dengan demikian anak TK akan diberikan pengenalan konsep bentuk geometri melalui kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak atau belajar dengan pengalaman anak misalnya pada saat anak mengenal bentuk lingkaran, persegi panjang, segi empat, segitiga, jajar genjang, belah ketupat, trapesium. Namun, pengenalan geometri masih merupakan kesulitan yang dihadapi bagi anak TK. Sedangkan menurut Ruseffendi (Nirmala 2009 : 58) upaya pengajian pembelajaran geometri dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu caranya dengan menggunakan media pembelajaran yang beranekaragam. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran menjelaskan konsep bentuk geometri pada anak dapat mengembangkan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan, agar pemahaman anak tentang konsep bentuk geometri akan semakin meningkat.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru sebagai suatu upaya meningkatkan pengenalan anak TK tentang konsep bentuk geometri, yakni melalui model pembelajaran kooperatif yang mana menurut Soleh (Karti dan Yuliariatiningsih, 2009 : 17) merupakan suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif ini memiliki beragam teknik, yang mana satu diantaranya yang dapat digunakan dalam rangka upaya meningkatkan pengenalan anak TK mengenai konsep bentuk geometri adalah pembelajaran kooperatif dengan teknik mencari pasangan.
Pentingnya pembelajaran geometri dikaitkan dengan teknik mencari pasangan yang dikembangkan dalam pembelajaran kooperatif dapat memacu semangat siswa untuk saling membantu untuk mengenalkan halnya dengan pengenalan konsep bentuk geometri, pada pembelajaran pengenalan konsep bentuk geometri anak mengenal beberapa bentuk seperti : lingkaran, bujur sangkar, segitiga, bujur sangkar panjang, belah ketupat, segi lima, jajar genjang. Pengenalan geometri tersebut dirasakan sangat penting karena, merupakan pengenalan bentuk-bentuk yang dirancang untuk mencari pasangan sambil mempelajari suatu konsep geometri.
Menurut Yudha & Rudianto (2005 : 69) Model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan adalah suatu pembelajaran kelompok yang beranggotakan empat orang yang heterogen. Konsep pembelajaran diberikan kepada setiap kelompok dalam bentuk kartu pasangan berupa gambar yang menunjukan bentuk geometri lingkaran, segitiga, segi empat, persegi panjang, jajar genjang, dan belah ketupat. Setiap kelompok harus mampu memasangkan kartu tersebut dengan benar sesuai dengan pasangan kartunya.
Hasil penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan telah menghasilkan temuan-temuan yang positif dalam proses belajar mengajar yaitu adanya peningkatan pengenalan materi tentang konsep bentuk geometri. Sebagaimana hasil penelitian Mulryan (1992) dalam penelitiannya bahwa pembelajaran kooperatif memberikan dampak yang baik, pada mata pelajaran matematika, yakni siswa lebih aktif dilihat dari keterlibatan dan keikutsertaannya di kelompok kecil dibandingkan belajar dalam kelas secara utuh, (Rosliyanti, Lena, 2008 : 45). Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan Nirmala (2009) di TK Angkasa I, bahwa hasil penelitian tersebut menunjukan pemahaman konsep bentuk geometri anak TK tersebut dapat meningkatkan aspek perkembangan kognitif anak sebanyak 73%, dimana hasil penelitian ini juga menunjukan hampir semua anak memahami bentuk geometri melalui media realita. Berdasarkan penelitian tersebut terlihat bahwa pemahaman konsep bentuk geometri pada anak taman kanak-kanak dapat ditingkatkan melalui media pembelajaran yang salah satunya adalah media realita. Dengan demikian secara tidak langsung anak TK dapat mengenal, mengetahui, dan mengaplikasikan dalam kehidupan anak sehari-hari. Mengacu pada hal tersebut penelitian ini difokuskan pada pengenalan konsep bentuk geometri melalui model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan.
Berdasarkan observasi di TK X model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan khususnya dalam pengenalan konsep bentuk geometri proses pembelajaran dilihat dari media yang digunakan dalam proses pembelajaran kognitif di TK ini menggunakan media yang masih terbatas dan kurang menarik sehingga anak sulit untuk memahaminya, selain itu guru juga hanya menggunakan metode ceramah yang membuat anak bosan dan tidak tertarik dalam mempelajari bentuk geometri, kemampuan anak dalam pengenalan konsep bentuk geometri masih kurang, seperti anak merasa kesulitan mengingat dan mengenal bentuk geometri, (mengenal dan membedakan lingkaran, segitiga, persegi panjang, belah ketupat, jajar genjang, belah ketupat, trapesium). Berdasarkan kondisi tersebut, maka proses pembelajaran bentuk geometri yang sudah sering dilakukan di TK ini kurang dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai konsep bentuk geometri. Oleh karena itu, pembelajaran mengenai konsep bentuk geometri harus lebih menarik dan menyenangkan sehingga anak tidak merasa bosan.
Untuk mengetahui sejauh mana anak TK X mampu mengenal materi pembelajaran tentang konsep bentuk geometri dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan, yang diterapkan dalam proses pembelajaran, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul : “PENINGKATAN PENGENALAN KONSEP BENTUK GEOMETRI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK MENCARI PASANGAN”.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan, bahwa permasalahan yang paling utama muncul yaitu rendahnya kemampuan dalam mengenal anak mengenalkan konsep bentuk geometri maka dari itu penulis akan mencoba memecahkan masalah tersebut melalui model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan. Agar permasalahan lebih fokus, maka penulis mencoba mengidentifikasi rumusan masalah sebagai berikut : 
1. Bagaimana kondisi awal pembelajaran bentuk geometri di TK X ?
2. Bagaimana kondisi awal kemampuan anak TK X dalam mengenal bentuk geometri ?
3. Bagaimana pelaksanaan model kooperatif dalam pembelajaran bentuk geometri di TK X ?
4. Bagaimana peningkatan pengenalan bentuk geometri melalui model kooperatif teknik mencari pasangan ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengenalan anak terhadap konsep bentuk geometri dan meningkatkan pemahaman guru dalam mengadaptasi keragaman model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan untuk mengajarkan konsep geometri di TK X. 
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran bentuk geometri di TK X.
b. Untuk mengetahui kondisi awal kemampuan anak TK X dalam mengenal bentuk geometri.
c. Untuk mengetahui pelaksanaan model kooperatif dalam pembelajaran bentuk geometri di TK X
d. Untuk mengetahui peningkatan pengenalan bentuk geometri melalui model kooperatif teknik mencari pasangan

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Memperoleh gambaran tentang pengenalan konsep bentuk geometri anak
Taman Kanak-kanak di TK X.
b. Memperoleh gambaran tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif, teknik mencari pasangan untuk meningkatkan pengenalan konsep bentuk geometri di TK X.
2. Bagi Guru
a. Mengembangkan model pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa dapat mengenal konsep bentuk geometri dengan baik.
b. Meningkatkan minat untuk melakukan penelitian dalam upaya pengembangan profesionalisme guru.
3. Bagi Lembaga Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lembaga penyelenggaraan pendidikan pada umumnya dan TK X pada khususnya.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut bagi peneliti selanjutnya mengenai hal yang sama secara lebih mendalam.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »