Search This Blog

Showing posts with label teknik scaffolding. Show all posts
Showing posts with label teknik scaffolding. Show all posts
SKRIPSI PTK UPAYA MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PLAYGROUP MELALUI PENERAPAN TEKNIK SCAFFOLDING

SKRIPSI PTK UPAYA MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PLAYGROUP MELALUI PENERAPAN TEKNIK SCAFFOLDING

(KODE : PTK-0131) : SKRIPSI PTK UPAYA MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PLAYGROUP MELALUI PENERAPAN TEKNIK SCAFFOLDING (PGTK)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa usia prasekolah adalah merupakan masa yang sangat menentukan bagi perkembangan anak selanjutnya. Di usia ini sangat penting untuk meletakan dasar-dasar kepribadian anak yang akan menjadi pembentukan kepribadian anak di masa dewasa. Oleh karena itu masa usia prasekolah disebut juga masa keemasan bagi anak (golden age) dimana perkembangan otak pada anak sangat berkembang pesat yaitu sekitar 50% pada usia 0-5 tahun, sehingga dapat menerima berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya dan sangat terbuka dalam menerima berbagai macam pembelajaran dan stimulasi yang diberikan (Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2004).
Pada tahap perkembangan usia prasekolah ini, anak mulai menguasai berbagai keterampilan fisik, bahasa, dan anak pun mulai memiliki rasa percaya diri untuk mengeksplorasi kemandiriannya (Hurlock, 1997).
Dalam pemerolehannya, anak tentu memerlukan orangtua atau orang dewasa serta lingkungan yang mendukung untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Seiring dengan berjalannya waktu serta bertambahnya usia, anak perlahan-lahan akan melepaskan ketergantungannya pada orang tua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri.
Salah satu tahapan penting dalam masa perkembangan anak adalah fase otonomi. Fase ini ditandai dengan antusiasme anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri dan munculnya hasrat untuk mandiri (Erikson dalam Hadis, 37).
Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba tetapi perlu diajarkan pada anak sejak usia dini, apabila anak tidak belajar mandiri sejak usia dini akan sangat memungkinkan anak merasa bingung bahkan tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Sartini (1992) mengungkapkan bahwa kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, hal ini berarti bahwa kemandirian terkait dengan aspek kepribadian yang lain dan harus dilatihkan pada anak-anak sedini mungkin agar tidak menghambat tugas-tugas perkembangan anak selanjutnya.
Ketika kemampuan-kemampuan yang seharusnya sudah dikuasai oleh anak pada usia tertentu pada kenyataannya anak belum mau dan belum mampu melakukan, maka dapat dikategorikan bahwa anak tersebut belum mandiri (Nakita, 2005). Sebagai contoh nyata yang sering ditemukan adalah ketika anak usia SD atau anak usia 6-9 tahun yang masih dibantu dalam kegiatan yang seharusnya dapat dilakukan sendiri seperti memakai baju, kegiatan makan, dan memakai sepatu. Kemampuan motorik anak usia 6-9 tahun ini pada umumnya sudah matang dan kemandirian anak pada usia ini seharusnya sudah berkembang lebih baik dibandingkan ketika usia anak berusia 2-4 tahun. Hal ini senada dengan apa yang diuraikan oleh Hurlock (1980 : 111) yaitu : 
Awal masa kanak-kanak dapat dianggap sebagai saat belajar untuk belajar keterampilan. Apabila anak tidak diberi kesempatan mempelajari keterampilan tertentu, dimana perkembangan kemampuannya sudah memungkinkan untuk melakukan berbagai hal, dan berkembangnya keinginan pada diri anak untuk mandiri, maka anak tidak saja akan kurang memiliki dasar keterampilan yang telah dipelajari oleh teman-teman sebayanya tetapi juga akan kurang memiliki motivasi untuk mempelajari pelbagai keterampilan pada saat diberi kesempatan.
Istichomah (2009) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kebiasaan mengompol pada anak dibawah usia 2 tahun masih dianggap wajar karena anak belum mampu mengontrol kandung kemih secara sempurna. Tetapi disamping itu kebiasaan mengompol tersebut tidak jarang masih terbawa sampai anak berusia 4-5 tahun, bahkan di Indonesia kasus anak yang masih mengompol hingga di usia 6 tahun mencapai 12%. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran orang tua dan orang dewasa dalam mengajarkan toilet training kepada anak sejak usia dini. Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Istichomah, Hidayat (Faidah, 2009) mengatakan bahwa kemandirian toilet training yang tidak diajarkan sejak dini akan membuat orang tua semakin sulit untuk mengajarkan kepada anak ketika anak bertambah usianya.
Vygotsky dalam teori pembelajaran konstruktivismenya (dalam Isabella, 2007) menyebutkan bahwa pada pendidikan anak usia dini anak memerlukan scaffolding, yaitu bantuan yang tepat waktu dan ditarik kembali tepat waktu ketika interaksi belajar sedang terjadi. Pemberian scaffolding ini dilakukan oleh orang dewasa (adult/care giver/parent/teacher) atau orang yang lebih dahulu tahu (knowledgeable person/siblings/peer) tentang suatu keterampilan yang seharusnya dicapai oleh anak usia dini.
Scaffolding itu sendiri dapat diberikan oleh guru sebagai orang yang lebih dahulu tahu atau orang dewasa dengan memberikan dukungan maupun fasilitas kepada anak dalam proses perkembangannya hingga anak dapat melakukan aktivitasnya sendiri secara mandiri. Seperti apa yang dikatakan oleh Olson & Part (Stuyf, 2002) :
"In scaffolding instruction a more knowledgeable other provides scaffolds or supports to facilitate the learner's development. The scaffolds facilitate a student's ability to build on prior knowledge and internalize new information. The activities provided in scaffolding instruction are just beyond the level of what the learner can do alone".
Kebalikan dari pemberian scaffolding adalah interferensi (gangguan atau campur tangan yang tidak dikehendaki). Sering kali orang dewasa baik guru maupun orangtua mengambil tindakan secara spontan atau langsung datang untuk membantu anak menyelesaikan tugas perkembangannya. Akibatnya, bantuan yang diberikan akan menginterferensi proses pembelajaran anak. Keinginan tersebut sesungguhnya wajar dan natural, karena selain ungkapan kasih sayang, juga merupakan ungkapan kekhawatiran orang dewasa terhadap anak (Isabella, 2007). Akan tetapi apabila interferensi terus dilakukan kemungkinan besar anak akan selalu tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, anak akan mengharapkan bantuan orang lain, begitupun dalam mengambil keputusan dan dalam memecahkan masalah (problem solving).
Isabella (2007) telah melakukan observasi pada daily plan sebuah playgroup di Surabaya dengan mengambil tema "My Vegetable" dengan sub tema "Cauliflower" hal yang diobservasi adalah kemampuan anak untuk memetik kuntum bunga kol paling sedikit 8 kuntum. Dalam 5-10 menit pertama anak mengalami kesulitan karena jari-jari tangan belum terbiasa memetik bunga kol, disini guru tidak langsung memberikan bantuan, sampai pada akhirnya anak sendiri yang meminta bantuan. Guru menerapkan scaffolding dengan memegang jari anak dan memberi kekuatan tertentu untuk memetik kuntum bunga kol bersama (scaffolding action), setelah itu guru memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba memetik sendiri dan pada waktu bersamaan guru menarik scaffolding secara bertahap. Setelah anak dapat memetik 8 kuntum bunga kol maka anak telah mencapai level of potential development. Dalam observasi tersebut juga terlihat anak yang berusaha menolong temannya untuk memetik kuntum bunga kol, membagikan keterampilan yang baru saja dikuasai yang merupakan bentuk internalisasi konsep pengetahuan baru ke dalam dirinya. Berdasarkan hasil observasi Isabella tersebut, maka scaffolding memiliki peran yang sangat penting pada setiap aspek menuju pada pencapaian perkembangan anak.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, kemandirian anak-anak yang belum berkembang secara optimal diantaranya yaitu kemandirian untuk memakai sepatu sendiri tanpa bantuan dari orangtua atau pengasuh, mencuci tangan sendiri, toilet training (membuka celana, memakai celana, membersihkan diri, dan menyiram kloset secara mandiri), membersihkan tumpahan makanan secara mandiri, serta membereskan mainan setelah selesai bermain. Guru berpendapat bahwa ketika anak memasuki playgroup maka itu menjadi tahap awal pada anak dalam mengenal lingkungan yang baru di luar lingkungan rumah dan merupakan hal pertama kali bagi anak dalam mengenal lingkungan sekolah, hal ini menjadikan setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan stimulus yang diperoleh sebelumnya di lingkungan rumah atau di lingkungan terdekat dengan anak selain lingkungan sekolah, sehingga guru memandang perlunya untuk memfasilitasi hal tersebut agar setiap anak dapat mengoptimalkan kemampuan kemandiriannya sesuai dengan perkembangan usia dan kebutuhannya.
Hal di atas senada dengan apa yang dikatakan oleh Siskandar (2003) bahwa program kegiatan di prasekolah seharusnya menanamkan dan menumbuhkan pentingnya pembinaan perilaku dan sikap yang dapat dilakukan melalui pembiasaan yang baik sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri. Oleh karena itu maka, pendidik dapat mengembangkan kemandirian anak dengan intensitas yang sering karena aktivitas tersebut pun dilakukan oleh anak pada setiap harinya, maka pendidik dapat mengajarkan secara bertahap dan berkesinambungan serta konsisten dilakukan, sehingga pendidik dapat mengevaluasi level bantuan yang diberikan kepada anak dengan mempertimbangkan tingkat kemajuan hasil belajar anak pada setiap harinya.
Melalui kegiatan pengembangan kemandirian, pendidik diharapkan dapat menerapkan scaffolding yang sesuai bagi setiap individu anak, hal ini dikarenakan setiap anak dalam setiap situasi membutuhkan scaffolding yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidik seyogyanya memiliki pemahaman dan pengetahuan mengenai tahapan dan perkembangan anak serta memiliki kemampuan untuk mengenal karakteristik setiap individu anak, sehingga dapat menerapkan scaffolding pada pelaksanaan aktivitas di sekolah untuk mencapai kemandirian anak sesuai dengan perkembangan usianya.
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dibahas, maka untuk selanjutnya perlu dilakukan penelitian mengenai proses scaffolding yang tepat dalam mengembangkan kemandirian anak. Oleh karena itu penelitian ini diberi judul "UPAYA MENGEMBANGKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PLAYGROUP MELALUI PENERAPAN TEKNIK SCAFFOLDING".

B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah, maka yang menjadi rumusan masalah secara umum adalah "bagaimana proses scaffolding pada pembelajaran untuk menumbuhkan kemandirian anak usia playgroup".
Adapun secara lebih khusus mengenai rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut : 
1. Bagaimanakah kondisi awal perkembangan kemandirian anak di Playgroup X sebelum diberikan scaffolding ?
2. Bagaimanakah proses scaffolding dalam pembelajaran untuk menumbuhkan kemandirian anak Playgroup X ?
3. Bagaimanakah kemandirian anak di Playgroup X setelah diberikan scaffolding ?
4. Kendala-kendala apa saja yang dialami oleh guru dalam menerapkan scaffolding di Playgroup X ?

C. Tujuan Penelitian
1. Memperoleh gambaran kondisi yang sebenarnya mengenai kemandirian yang dimiliki oleh anak Playgroup X sebelum diberikan scaffolding dan memperoleh gambaran mengenai perkembangan kemandirian yang seyogyanya dimiliki oleh anak Playgroup X.
2. Memperoleh gambaran mengenai bagaimana proses scaffolding dalam pembelajaran untuk menumbuhkan kemandirian anak.
3. Memperoleh gambaran mengenai perkembangan kemandirian yang dimiliki anak setelah diberikan scaffolding.
4. Mengetahui kendala-kendala yang dial ami oleh guru dalam upaya mengembangkan kemandirian anak dengan scaffolding.