Search This Blog

SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN MANUSIA

(KODE : PTK-0165) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN MANUSIA (BIOLOGI KELAS VIII)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peserta didik SMP X sangat beragam mulai dari perbedaan tingkat sosial, ekonomi, maupun kemampuan. Mereka memiliki aspirasi, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan peserta didik lainnya. Khususnya kelas VIII memiliki heterogenitas kemampuan yang menonjol.
Hasil observasi peneliti saat proses belajar mengajar di kelas VIII, menunjukkan bahwa heterogenitas kemampuan peserta didik terlihat jelas. Hal ini terbukti saat pembelajaran berlangsung hanya beberapa siswa saja yang aktif dan siswa yang tercatat aktif tersebut adalah siswa yang sama, peneliti mendapatkan data awal tentang hasil belajar siswa saat UHT dengan rentang nilai yang terlampau jauh yaitu antara 94-28. Selain hal tersebut pembentukan kelompok heterogen yang sering dilakukan guru justru membuat perbedaan mereka semakin menonjol sehingga hasil belajar siswa rendah karena saat dilakukan evaluasi nilai rata-rata hanya mencapai 6,2. Hasil belajar untuk Mata Pelajaran Biologi dari sebagian besar peserta didik masih menunjukkan tingkat rata-rata di bawah Ketentuan Kelulusan Minimal (KKM), yaitu 6,5. Untuk itu diperlukan pembelajaran yang cocok dengan paradigma di atas yaitu pembelajaran individual.
Pembelajaran individual memiliki beberapa keunggulan. Dengan dilaksanakannya pembelajaran individual maka akan tercipta suatu ketuntasan belajar yang baik. Karena dalam hal ini, siswa yang dalam kategori berkemampuan rendah, akan dapat mencapai ketuntasan, mengikuti siswa yang berkemampuan sedang dan tinggi yang secara praktis memang lebih cepat menyerap pelajaran dibanding siswa berkemampuan rendah.
Melalui pendekatan individual memungkinkan seorang guru untuk dapat memperhatikan siswa secara individual. Sehingga guru akan mengetahui secara persis potensi, kemampuan dan aspirasi siswa. Karena dalam pendekatan pembelajaran individual ini, guru melakukan pembelajaran atau bimbingan secara "face to face" dengan siswa. Seorang guru menangani beberapa orang siswa saja. Seorang guru harus memperhatikan siswa secara orang per orang. Tentu saja hal ini membutuhkan rasio Guru dan siswa yang ideal. Dengan kata lain, jumlah guru setiap mata pelajaran, harus memadai untuk mengawal sejumlah siswa yang ada. Hal ini pada sistem klasikal, dimana seorang guru mengajar untuk 30 sampai 40 siswa. Pada dasarnya pembelajaran adalah suatu bentuk interaksi sosial. Interaksi antara guru dengan siswa guna mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana telah ditetapkan. Oleh karena merupakan interaksi, maka harus terjadi komunikasi dua arah. Harus terjadi hubungan yang bersifat timbal balik. Agar terjadi komunikasi timbal balik, maka seorang guru harus memperhatikan keunikan masing-masing siswa. Seorang guru harus memperhatikan heterogenitas peserta didik agar dicapai hasil yang optimal (Slameto : 1995). 
Lebih lanjut, Slameto mengemukakan, ada 2 cara untuk membantu siswa agar belajar sesuai dengan keadaan individual tiap siswa, yaitu : a). Siswa dikelompokkan sesuai dengan tujuan yang mau dicapai dan berdasar sifat-sifat tersebut. Cara ini banyak dilakukan dalam kegiatan di bidang musik dan atletik. b). Materi, perlengkapan, ruang diatur secara fleksibel untuk memungkinkan belajar secara independen agar siswa dapat belajar sesuai dengan tempo dan caranya sendiri.
Namun, Pembelajaran individual juga memiliki beberapa kendala. Kendala yang dihadapi adalah rasio guru siswa yang terlampau tinggi. Jumlah guru yang tak sebanding dengan jumlah siswa merupakan kendala utama pelaksanaan pembelajaran individual.
Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah-sekolah formal masih lebih memilih pembelajaran model klasikal, pembentukan kelompok masih bersifat heterogen, serta perhatian terhadap siswa yang berkemampuan rendah masih sangat kurang. Di sisi lain Julyan dan Ducworth dalam Prayitno (2004) menyatakan bahwa guru perlu memperhatikan secara sungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data yang ditemukan sambil menaruh perhatian khusus pada keraguan, kesulitan, dan kebingungan setiap siswa, memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas, dan memberikan penghargaan terhadap setiap siswa. Ketidaktahuan siswa bukanlah hal yang jelek dalam belajar melainkan merupakan langkah awal untuk mulai belajar.
Atas dasar semua itu, maka diperlukan model pembelajaran yang merupakan alternatif solusi atas permasalahan ini. Yakni model pembelajaran Klasikal yang menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran individual, yang tidak lain adalah Pembelajaran Semi Individual. Dengan pembelajaran semi individual ini akan dapat mengatasi keberagaman kemampuan siswa yang tinggi, dengan cara mengajarkan fakta dan konsep secara klasikal, kemudian mengaplikasikan prinsip dan skill secara kelompok menggunakan media Lembar Kerja, dan membagi kelas dalam tiga kelompok : kelompok pandai, sedang dan kurang. Dengan demikian heterogenitas peserta didik bisa diaktualisasikan lebih optimal.
Berdasarkan pemikiran di atas dilakukan penelitian tentang pembelajaran semi individual yang penulis angkat dalam skripsi berjudul "PENERAPAN PEMBELAJARAN SEMI INDIVIDUAL UNTUK MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PADA KELAS VIII DI SMP X".

B. Rumusan Masalah
Apakah pembelajaran semi individual dapat diterapkan pada siswa kelas VIII dalam materi Sistem pencernaan makanan pada manusia ?

C. Tujuan Penelitian
Untuk menguji apakah pembelajaran semi individual dapat diterapkan pada siswa kelas VIII dalam materi Sistem Pencernaan Pada Manusia.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah.
1. Bagi guru
Dapat memperkaya variasi penyampaian pengetahuan pada materi sistem pencernaan makanan manusia dalam kehidupan.
2. Bagi peserta didik
a. Dapat meningkatkan aktivitas siswa selama pembelajaran menggunakan pendekatan yang diberikan oleh guru.
b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi sekolah dalam sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran secara menyeluruh, sehingga kualitas pembelajaran akan lebih meningkat.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »