Search This Blog

SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THE POWER OF TWO UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(KODE : PTK-0141) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THE POWER OF TWO UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (MATEMATIKA KELAS III)



BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah atau yang dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan langkah konkret dalam rangka mewujudkan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing -masing satuan pendidikan (Muslich, 2007 : 4)
Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan, kurikulum merupakan acuan dalam menyelenggarakan pendidikan dan sebagai tolok ukur dalam pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tersebut meliputi tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan siswa. Dengan demikian, diharapkan pendidikan yang diselenggarakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta kondisi masing-masing daerah.
Matematika merupakan ilmu pasti yang semuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika menjadi salah satu bidang studi yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Tujuan mata pelajaran matematika adalah membantu peserta didik untuk membekali dan meningkatkan kemampuan berpikir logis, sistematis, analitis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama (Chamisijatin, 2008 : 6.18)
Adapun tujuan utama pembelajaran matematika adalah meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Ruang lingkup dalam pembelajaran matematika mencakup bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data. Pengukuran adalah salah satu konsep matematika yang mempunyai peranan penting dan erat kaitannya dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan dan menyelesaikan suatu masalah (Depdiknas, 2006).
Proses pembelajaran merupakan komponen pendidikan. Kegiatan tersebut melibatkan peserta didik dan guru. Pada proses pembelajaran terdapat interaksi antara guru dan siswa sebagai peserta didik. Guru mempunyai peran penting saat berlangsungnya pembelajaran. Tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tidak menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran melainkan sebagai subyek pembelajaran, sehingga siswa tidak pasif dan dapat mengembangkan pengetahuan sesuai dengan bidang studi yang dipelajari. Oleh karena itu, guru harus memahami materi yang akan disampaikan kepada siswa serta dapat memilih model pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan suatu materi.
Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar konsep. Konsep-konsep pada matematika menjadi kesatuan yang bulat dan berkesinambungan, dari konsep sederhana menuju konsep yang lebih sukar, dari hal yang konkret menuju semi konkret kemudian ke semi abstrak dan berakhir pada abstrak. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus dapat menyampaikan konsep tersebut kepada siswa dan bagaimana siswa dapat memahaminya. Pengajaran pada matematika dilakukan dengan memperhatikan urutan konsep dimulai dari yang konkret ke abstrak.
Namun sampai saat ini di sekolah-sekolah dasar, matematika masih menjadi masalah bagi siswa dan menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Hanif (2009) menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan dalam proses pembelajaran. Siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran matematika, sehingga hasil belajar matematika siswa cenderung tidak maksimal.
Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan bahwa pelaksanaan pembelajaran matematika kelas III SDN X masih belum maksimal. Rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap pembelajaran matematika yang selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa matematika adalah alat yang siap pakai. Pada pembelajaran kelas III guru melakukan pembelajaran secara terpisah, belum menggunakan pembelajaran tematik yaitu mengaitkan mata pelajaran lain dengan menggabungkan pada suatu jaringan tema. Selanjutnya, guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis. Siswa cenderung pasif dan kurang tertarik dalam proses pembelajaran matematika. Adakalanya siswa menjawab soal dengan benar namun mereka tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu digunakan. Keadaan demikian terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya.
Selain itu penyebab lain rendahnya hasil belajar matematika siswa yaitu disebabkan karena selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional atau dapat dikatakan ketinggalan jaman jika diterapkan pada proses pembelajaran di sekolah saat ini. Guru menyampaikan pembelajaran dengan membacakan atau membawakan bahan yang disiapkan sedangkan siswa mendengarkan, mencatat dengan teliti dan mencoba menyelesaikan soal sesuai contoh dari guru. Dalam pembelajaran guru masih kurang dalam mengkondisikan kelas. Selain itu media yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga proses pembelajaran kurang menarik perhatian siswa.
Hal itu didukung data dari hasil belajar matematika pada siswa kelas III SDN X. Pada pembelajaran matematika, hasil belajar siswa kelas III kurang maksimal atau masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 60, sehingga pembelajaran masih belum optimal. Hal itu didukung data hasil belajar yaitu, dari 38 sebanyak 25 siswa atau sebesar 65,78% tidak mencapai ketuntasan hasil belajar, sedangkan sebanyak 13 siswa atau sebesar 34,22% sudah mencapai ketuntasan hasil belajar. Data hasil belajar ditunjukkan dengan nilai terendah 10 dan nilai tertinggi 100 dengan rerata kelas 41,57. Dengan melihat hal tersebut, perlu sekali untuk meningkatkan proses pembelajaran agar siswa sekolah dasar tersebut mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar serta guru dapat meningkatkan aktivitas dalam mengajar sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, maka dilaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Di sisi lain kenyataan saat ini menunjukkan bahwa siswa mempunyai cara belajar yang variasi. Kebiasaan tersebut perlu diperhatikan oleh guru supaya dapat membantu siswa belajar maksimal. Berdasarkan diskusi peneliti dengan guru kelas III, untuk memecahkan masalah tersebut tim kolaborasi menetapkan alternatif tindakan yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru serta hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Maka peneliti menggunakan salah satu model pembelajaran kooperatif tipe the power of two, dimana dalam pembelajaran tersebut siswa dituntut untuk saling bekerja sama antar teman sehingga memudahkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.
Model pembelajaran kooperatif tipe the power of two ini terdiri dari dua orang sehingga kerjasama dan komunikasi lebih terjalin dengan baik menurut Mafatih (dalam Ramadhan, 2009) menambahkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two termasuk bagian dari belajar kooperatif adalah belajar dalam kelompok kecil dengan menumbuhkan kerjasama secara maksimal melalui kegiatan pembelajaran teman sendiri dengan anggota dua orang di dalamnya untuk mencapai kompetensi dasar. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two ini antara lain siswa tidak terlalu bergantung kepada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan dan kemampuan berfikir siswa, meningkatkan partisipasi dan berkesempatan memberi kontribusi masing-masing anggota kelompok sehingga interaksi lebih mudah.
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, dimana siswa lebih aktif, kreatif, dan termotivasi dalam proses pembelajaran. Selain itu bagi guru juga dapat meningkatkan aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan cara mengajar lebih bervariasi lagi serta hasil belajar siswa dapat meningkat.
Dari ulasan latar belakang tersebut diatas maka peneliti akan mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THE POWER OF TWO UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA SISWA KELAS III SDN X”.

B. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah cara meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada siswa kelas III SDN X ?
Adapun rumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut : 
a. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III SDN X dalam pembelajaran matematika ?
b. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two dapat meningkatkan aktivitas guru dalam proses pembelajaran ?
c. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN X dalam pembelajaran matematika ?
2. Pemecahan Masalah
Untuk memecahkan masalah di atas dapat diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two. Model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two adalah kegiatan dilakukan untuk meningkatkan belajar kolaboratif dan mendorong munculnya keuntungan yang dilakukan oleh dua orang.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe The Power Of Two sebagai berikut : 
a. Guru memberikan satu atau lebih pertanyaan kepada peserta didik yang membutuhkan renungan dalam menentukan jawaban.
b. Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan secara individual.
c. Setelah semua siswa menjawab dengan lengkap semua pertanyaan, siswa diminta untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban satu sama lain dan membahasnya. Pasangan kelompok ditentukan menurut daftar urutan absen atau bisa juga diacak
d. Guru meminta pasangan untuk berdiskusi membuat jawaban baru untuk setiap pertanyaan, sekaligus memperbaiki jawaban individual mereka.
e. Guru meminta siswa untuk mendiskusikan hasil diskusi atau jawaban baru. Dalam proses pembelajaran, siswa berdiskusi secara klasikal untuk membahas permasalahan yang belum jelas atau yang kurang dimengerti. Semua pasangan membandingkan jawaban dari masing-masing pasangan ke pasangan yang lain.
f. Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan materi pembelajaran. 

C. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah : 
- Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika pada siswa kelas III SDN X.
Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah : 
1. Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two.
2. Meningkatkan aktivitas guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two.
3. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada banyak pihak. Adapun manfaat yang ingin dicapai yaitu : 
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan pembelajaran matematika supaya kualitas pembelajaran matematika dapat meningkat.
2. Manfaat praktis
a. Bagi siswa
Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two siswa dapat menerima pengalaman belajar yang bervariasi sehingga dapat meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran matematika, serta siswa lebih termotivasi dan berminat pada proses pembelajaran.
b. Bagi guru
Mengembangkan kreativitas dalam usaha pembenahan proses pembelajaran serta memberikan wawasan tentang model dan strategi pembelajaran sesuai materi yang diberikan sehingga guru dapat menciptakan suasana belajar yang bervariasi.
c. Bagi sekolah
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two dapat meningkatkan mutu pendidikan suatu sekolah serta dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan bervariasi.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »