Search This Blog

SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI PADA SISWA KELAS VII B SMP X MENGGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR

(KODE PTK-0027) : SKRIPSI PTK PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI PADA SISWA KELAS VII B SMP X MENGGUNAKAN MEDIA CERITA BERGAMBAR (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain: melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan mutu manajemen sekolah. serta peningkatan kualitas tenaga pengajar. Upaya tersebut diharapkan membawa dampak positif terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan, seperti: mengaplikasikan berbagai teori belajar di bidang pengajaran; kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien; kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif; dan kemampuan menciptakan suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam proses belajar-mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, guru memegang tugas dan tanggung jawab merencanakan serta melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru harus dapat memberikan rangsangan untuk menimbulkan proses berpikir siswa. Guru harus mampu menyediakan fasilitas agar terjadi interaksi antara siswa dan siswa, serta antara siswa dan konsep-konsep yang dipelajarinya sehingga proses berpikir terbina.
Upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia, telah ditanamkan sejak jenjang pendidikan terbawah. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dapat diketahui dari standar kompetensi yang meliputi, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan (menyimak).
Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Secara umum tujuan pembelajaran keterampilan menulis, yaitu siswa mampu mengkomunikasikan ide atau gagasan/pendapat secara tertulis ataupun sebagai kegiatan mengekspresikan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, ide, imaji, aspirasi dan lain-lain (Yant Mujiyanto, dkk., 2000:70). Sejalan dengan tujuan tersebut, peran budaya menulis semakin menempati kedudukan yang sentral di dalam kehidupan modern. Tanpa budaya menulis, arus komunikasi dan informasi akan terputus sehingga manusia akan terkungkung dalam keterbelakangan dan kebodohan. Hal itu disebabkan terputusnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kesulitan siswa melakukan aktivitas menulis di sekolah maupun kekurangtepatan guru memilih strategi pembelajaran menulis menjadi faktor penyebab ketidakberhasilan sekolah menjadikan menulis sebagai suatu budaya/tradisi baik bagi siswa ataupun guru tersebut. Merupakan hal sangat mungkin apabila pelajaran menulis menjadi kegiatan yang membosankan bagi siswa. Indikasi hal ini terlihat juga di SMP X. Nilai rata-rata pelajaran menulis siswa kelas VII B menduduki peringkat terbawah dari kelima aspek penilaian berbahasa dan bersastra Indonesia. Standar nilai kelulusan mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tersebut adalah 60. Nilai tersebut dapat dijelaskan pada Tabel 1 berikut.

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Data di atas diperoleh peneliti dari nilai rapor tengah semester genap siswa kelas VII B SMP X. Berdasarkan wawancara antara peneliti dan guru, didapat gambaran mengenai kesulitan kegiatan menulis siswa, yaitu salah satunya kosakata yang dimiliki siswa terbatas mengingat mereka masih menduduki tingkat pertama pendididikan menengah pertama. Berdasarkan hasil survei pratindakan, diperoleh gambaran awal kondisi pembelajaran di kelas VII B yang menunjukkan bahwa 20 atau siswa kurang antusisas mengikuti pelajaran menulis. Pada saat mengikuti pelajaran, siswa menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tidak memperhatikan pelajaran sepenuhnya.
Menurut siswa pembelajaran menulis itu tidak menyenangkan karena mereka merasa kesulitan merangkaikan kata. Di lain pihak, guru mengatakan pelajaran menulis keterampilan berbahasa adalah pelajaran yang paling tidak dikuasai siswa. Pembelajaran menulis adalah momok dalam pelajaran bahasa Indonesia bagi siswa karena mereka harus berpikir dan menuangkan pikirannya dalam bahasa tulis sekaligus. Keterbatasan kosakata siswa cukup memengaruhi minat siswa dalam mengembangkan idenya untuk dituangkan menjadi tulisan. Akibatnya mereka jadi enggan dan mengikuti pelajaran menulis.
Guru kesulitan menemukan teknik yang tepat untuk mengajarkan materi menulis narasi. Selama ini dalam mengajarkan materi menulis narasi, guru menggunakan metode ceramah dan tugas. Pada awal kegiatan belajar-mengajar, guru menerapkan pembekalan materi mengenai pengertian menulis narasi sambil memberi pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang tulisan narasi. Kemudian guru mengajarkan kepada siswa materi menulis narasi, bagaimana membedakan tulisan narasi, argumentasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasi. Selanjutnya, siswa diminta membuat tulisan narasi sesuai dengan penjelasan guru. Siswa masih mengalami kesulitan membuat tulisan narasi yang baik, terbukti hasil pekerjaan menulis narasi siswa belum maksimal. Kesulitan yang banyak dialami siswa adalah cara mengembangkan ide dan mengatur ide tersebut agar dapat ditulis secara runtut.
Ada beberapa pemasalahan berkaitan dengan sarana prasarana yang berupa belum maksimalnya pemanfaatan fasilitas pembelajaran. Guru belum memanfaatkan fasilitas yang disediakan sekolah untuk menunjang proses pembelajaran. Ketersediaan laboratorium, dan perpustakaan tidak diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar. Guru hanya terpaku pada satu suasana pembelajaran di dalam kelas. Seharusnya fasilitas yang disediakan sekolah dapat bermanfaat bila dikelola

dan digunakan dengan baik oleh guru. Selain itu materi ajar yang digunakan belum variatif. Selama proses pembelajaran guru hanya menggunakan satu buku acuan saja. Buku tersebut berjudul "Pintar Berbahasa Indonesia" karangan J. S. Badudu. Guru belum berusaha mengembangkan peman-faatan materi ajar dari sumber lain.
Berbagai hal yang muncul tersebut terkait tentang kesulitan yang dihadapi dalam pelajaran menulis, memerlukan penerapan suatu media pembelajaran yang efektif dan dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang bermacam-macam menyebabkan guru harus selektif memilih penggunaan media pembelajaran. Media yang efektif untuk pengajaran materi tertentu belum tentu efektif untuk mengajarkan materi lainnya. Setiap materi mempunyai karakteristik dan turut menentukan pula media yang digunakan untuk menyampaikan materi tersebut. Begitu pula dalam pembelajaran menulis, guru harus bisa memilih dan menggunakan media sesuai dengan materi yang akan disampaikan sehingga nantinya mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Sudarwan Danim (1994:7) mengemukakan bahwa media dalam pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru dalam rangka memperlancar penyampaian materi pada peserta didik. Media pembelajaran mempunyai peranan penting dalam proses belajar-mengajar. Selama penerapan pembelajaran, guru dapat menciptakan suasana belajar yang menarik perhatian dengan memanfaatkan media pembelajaran yang kreatif, inovatif ,dan variatif.
Masataka (2002:2) berpendapat bahwa membuat seorang anak mengingat berbagai jenis informasi, kata-kata, dan tulisan yang sedemikian banyak, bukan merupakan cara efektif untuk mengembangkan memorinya. Kunci pengembangan memori anak-anak adalah dengan mendorong mereka menyusun sebuah kisah dan merangkai sejumlah kata-kata yang mereka miliki. Aen Trisnawati (2005:1) juga berpendapat bahwa fantasi merupakan unsur paling menarik dalam kehidupan anak-anak. Fantasi sangat mendominasi kehidupan mereka karena merupakan unsur yang mendukung kreativitas. Anak-anak bisa memandang hal-hal yang tidak mungkin menjadi hal yang mungkin dengan fantasinya.
Aen Trisnawati (2005:1) berpendapat bahwa cerita bergambar ataupun komik merupakan buku cerita yang banyak disukai anak-anak dibandingkan buku cerita lainnya. Nilai lebih komik terletak pada unsur fantasi yang menghibur dan adanya unsur visual. Unsur visual inilah yang menarik minat baca anak-anak. Karena unsur visual ini, anak-anak dapat dengan mudah mengikuti jalan cerita di samping dapat membedakan peran-peran tokoh dalam cerita tersebut. Di dalam cergam atau komik pun, latar kejadian/tempat tokoh-tokoh berperan tersaji jelas.
Secara umum, penggunaan media cergam sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa. Ari Wijayanti (2006:4) mengungkapkan manfaat penggunaan cergam sebagai media dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam: (1) menyusun cerita berdasarkan rangkaian gambar secara urut sehingga menjadi karangan narasi yang utuh, (2) memadukan kalimat menjadi karangan narasi yang padu dengan menggunakan kata sambung yang tepat, dan (3) menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar dalam karangan narasi.
Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis narasi dengan media cergam belum pernah diteliti oleh orang lain di SMP X. Selain itu, pembelajaran menulis narasi yang berlangsung di sana hanya berkisar tentang pemberian materi berdasarkan cerita nongambar yang menuntut siswa mengembangkan kreativitas menulis narasi tanpa media apapun. Atas dasar itu, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian terhadap permasalahan di atas. Mengingat berbagai nilai posiif yang terkandung dalam cergam, wajar rasanya apabila media tersebut digunakan dalam pembelajaran menulis narasi. Penelitian ini diharapakan membawa dampak positif bagi guru dan siswa dalam rangka peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis narasi di sekolah tersebut.

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah proses peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?
2. Bagaimanakah hasil peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?
3. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam pada siswa kelas VII B SMP X?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan:
a. Proses pembelajaran keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.
b. Hasil peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.
c. Kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan media cergam.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan kebahasaan, terutama dalam kegiatan menulis narasi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru:
1) menawarkan inovasi terhadap pembelajaran menulis narasi;
2) memberi solusi pada kesulitan pelaksanaan pembelajaran menulis narasi;
3) meningkatkan kualitas mata pelajaran bahasa Indonesia.
b. Bagi siswa:
1) membantu mengatasi kesulitan pembelajaran menulis narasi dengan memanfaatkan media cergam;
2) melatih siswa untuk terampil menulis narasi.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »