Search This Blog

Skripsi Analisis Kemampuan Mengapresiasi Prosa Menggunakan Metode Sosiodrama Siswa Kelas V MI-X

(Kode PEND-BSI-0004) : Skripsi Analisis Kemampuan Mengapresiasi Prosa Menggunakan Metode Sosiodrama Siswa Kelas V MI-X

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Upaya pemahaman sebuah unsur-unsur dalam sebuah bacaan tidak dapat dilepaskan dari masalah-masalah ataupun kegiatan dalam sastra. Salah satu kegiatan tersebut adalah apresiasi. Apresiasi merupakan salah satu kegiatan dalam sastra yang dapat menumbuhkan rasa keakraban pembaca dengan sebuah karya sastra. Dengan apresiasi, pembaca akan merasa menemukan atau memperoleh sesuatu yang sekaligus dapat memperkaya kehidupan batin bagi pembaca (Sarumpaet, 2002:14). Maka dari itu, minat dan apresiasi, pembaca terhadap karya sastra perlu dibangkitkan dan ditumbuhkan sejak dini, terutama bila pembaca masih berusia sekolah.
Pengajaran sastra di semua sekolah kita cukup runyam penataannya. Pengajaran selama ini, seperti terlihat dari berbagai buku ajar, masih mencampuradukkan pengajaran apresiasi sastra dan pengajaran pengetahuan tentang sastra. Pengajaran pengetahuan tentang sastra lebih banyak ditekankan, sedangkan pengajaran apresiasinya sendiri kurang dilakukan (Sumardjo, 1995:30). Bahaya betapa pelajaran bahasa Indonesia akan mengalami malapetaka jika yang diberikan lebih banyak teori dan gramatika, sudah pernah disinggung Sutan Takdir Alisjahbana sejak tahun 1930-an, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sebagian besar menggunakan buku-buku tata bahasa karya para penulis Belanda, maka materi yang diajarkan cenderung mejadi sangat linguistis. Akibatnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sama sekali tidak mengarahkan penguasaan keterampilan berbahasa, melainkan membawa siswa seolah-olah hendak menjadi seorang linguis atau ahli bahasa.
Pengajaran sastra di sekolah mencakup prosa, puisi, drama, dan lain-lain. Prosa atau cerita itu sendiri adalah bagian dari hidup. Itulah sebabnya, apa yang disimpan dalam bentuk cerita jauh lebih bermanfaat dari pada segala yang dijejalkan ke dalam otak hanya dalam bentuk fakta-fakta yang sama sekali sulit mencari hubungannya. Selain itu, para ahli juga mengatakan bahwa otak manusia sebagai alat narasi yang bergerak dalam dunia cerita. Sehingga dengan mengingat cara kerja otak, ilustrasi yang berhubungan dengan pengalaman manusia yang dirakit dalam bentuk cerita, dapat merenggut perhatian orang, apalagi anak-anak. Mereka akan menerima informasi dan keterangan bukan hanya secara kognitif, tetapi juga secara afektif (Sarumpaet, 2002:22).
Kekuatan cerita dalam kehidupan anak dapat disaksikan melalui dua perspektif. Pertama, peran cerita atau narasi sebagai bagian dari budaya dan tradisi lisan anak. Dalam hal ini budaya mempunyai kegiatan dan permainan yang dirancang dengan memanfaatkan bahasa yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Kedua, urgensi cerita yang dapat mengembangkan bahasa, pemikiran dan perasaan. Cerita selain memberikan bentuk data dan tata formasi pada pengalaman-pengalaman anak, ia juga harus diasosiasikan dengan kesenangan dan kenikmatan (Sarumpaet, 2002:23).
Kemampuan belajar siswa kelas V MI X dalam mengapresiasi prosa perlu dikembangkan lagi. Selama ini pembelajaran prosa yang dilakukan terhadap siswa hanya melalui ceramah saja. Dalam artian, siswa mengerti tantang teori saja tanpa diimbangi dengan praktek. Rasa kejenuhan pun muncul bagi siswa yang selalu dijejali dengan teori. Agar dalam mempelajari sebuah prosa menjadi menyenangkan, maka diperlukan sebuah metode yang sesuai yaitu dengan menggunakan metode sosiodrama. Metode sosiodrama adalah metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial (Ahmadi, 1995:65).
Dengan cara belajar semacam ini, siswa diberi kesempatan dalam menggambarkan atau mengekspresikan suatu sikap yang menjadi tokoh yang diperankannya (Ahmadi, 1991:80). Dengan demikian, siswa tidak lagi menempatkan dirinya semata-mata sebagai objek yang harus menjalankan tugas dari guru, tetapi mereka akan merasa terangkat sebagai subjek dalam bentuk gambaran tokoh dalam cerita yang diperankannya tersebut.
Sesuai dengan latar belakang tersebut, peneliti merasa perlu mengadakan penelitian mengenai analisis kemampuan mengapresiasi prosa menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah: Bagaimana kemampuan mengapresiasi prosa dengan menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.3 Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan senantiasa mempunyai tujuan yang jelas agar terarah dan tepat sasaran serta lebih jelas manfaatnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan kemampuan mengapresiasi prosa dengan menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Siswa
1) Memberi pengalaman nyata dan dapat menumbuhkan keakraban siswa terhadap sebuah karya sastra terutama prosa.
2) Hasil penelitian diharapkan dapat memotivasi siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, khususnya pembelajaran prosa dengan metode sosiodrama.
1.4.2 Bagi Guru
Penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam memberikan alternatif pemilihan metode dalam pengajaran bahasa Indonesia yang berhubungan dengan kemampuan siswa dalam mengapresiasi sebuah prosa berupa cerpen.
1.4.3 Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan penyempurnaan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas.
1.4.4 Bagi Pemerhati Sastra
Dapat menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra khususnya dalam memerankan sebuah drama, dan rasa peduli terhadap karya sastra Indonesia.
1.4.5 Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menjadikan pengalaman mengenai penggunaan metode sosiodrama dalam apresiasi suatu prosa yang baik dan benar.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »