Search This Blog

SKRIPSI PERILAKU SEKS REMAJA (STUDY KASUS KEHIDUPAN REMAJA PELAKU FREE SEKS DI SURABAYA)

SKRIPSI PERILAKU SEKS REMAJA (STUDY KASUS KEHIDUPAN REMAJA PELAKU FREE SEKS DI SURABAYA)

(KODE : PSIKOLOG-0009) : SKRIPSI PERILAKU SEKS REMAJA (STUDY KASUS KEHIDUPAN REMAJA PELAKU FREE SEKS DI SURABAYA)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Masa depan bangsa dan negara adalah terletak dipundak dan tanggung jawab remaja. Jika mereka berkembang dengan peningkatan kualitas yang semakin membaik, besar harapan kebaikan dan kebahagiaan kehidupan bangsa dapat diharapkan, namun jika terjadi sebaliknya maka keadaan bangsa jauh dari yang diharapkan, bahkan bisa menjadi kehancuran suatu bangsa.
Masyarakat yang berkembang begitu pesat baik dalam perubahan materi maupun pergeseran nilai-nilai kehidupan ternyata dampaknya bukan saja terhadap orang tua dan dewasa tetapi juga terhadap kaum remaja. Jika orang tua perhatian dan waktunya sangat tersita oleh hasrat keunggulan materi yang merupakan salah satu simbol status sosial, maka pemenuhan tanggung jawabnya terhadap anak-anak remaja menjadi terbengkalai. Keadaan inilah yang merupakan salah satu penyebab mengapa remaja kadangkala berkembang menjadi nakal dan menyusahkan orang tua (dewasa) lainnya dalam masyarakat.
Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami perubahan sosial yang sangat cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang juga mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya hidup mereka. Remaja yang dahulu terjaga secara kuat oleh sistem keluarga, adat budaya serta nilai-nilai tradisional yang ada, telah mengalami pengikisan yang disebabkan oleh pengaruh globalisasi dan modernisasi.
Perubahan-perubahan sosial yang serba cepat akibat dari proses modernisasi dan globalisasi telah mengakibatkan perubahan pola kehidupan, etika dan nilai-nilai moral khususnya hubungan perilaku seksual. Berbagai efek samping dari media elektronik seperti film, VCD dan lain-lain atau media cetak seperti buku-buku, majalah dan bacaan lainnya, amat mudah diamati dan bahkan dilihat atau dibaca oleh remaja dan anak. Berbagai obat-obatan, ganja, minuman keras, pornografi beredar demikian mudah dikalangan remaja, bahkan amat mudah pula dilihat dan diketahui oleh anak yang menginjak dewasa.
Dalam masa ini, para remaja juga mengalami beberapa perubahan salah satunya pertumbuhan fisik-biologisnya, kemasakan hormon dalam tubuhnya sangat mempengaruhi kemasakan seksual dengan timbulnya dorongan-dorongan seksual yang semakin hidup dan bergelora. Minat terhadap jenis kelamin lain mulai berkembang dalam arti khusus, sedang pengenalan terhadap diri sendiri ternyata masih sangat kurang.
Rangsangan dari berbagai perubahan dan kemajuan modernisasi serta adanya budaya permisif tidak mungkin dapat dihindari oleh remaja, akibatnya dalam diri mereka mulai timbul perasaan seksual yaitu mulai dapat merasakan atau menerima rangsangan seksual dari lawan jenisnya. Mereka mulai berfantasi tentang seks, timbul rangsangan untuk beronani dan masturbasi serta keinginan untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya, sehingga timbul gejala-gejala yang mengakibatkan pergaulan seks bebas, aborsi, hamil diluar nikah serta kasus-kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh remaja.
Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (KSKR FK Unair) setahun lalu melakukan penelitian mengenai masalah remaja. Pada praktiknya, tim peneliti merupakan gabungan dosen dari beberapa bidang ilmu yaitu Bagian Biomedik, Obstetri Ginekologi, Andrologi, Mikrobiologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat Unair, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Pusat Penelitian Kesehatan Reproduksi, Antropologi Kesehatan FISIP Unair, dan MIPA Unipa.
Mengambil sampel 1.098 remaja usia 18-21 tahun di lima perguruan tinggi di Surabaya, penelitian deskriptif ini dilakukan pada pertengahan tahun 2005-2006. Untuk hasil yang lebih akurat, penelitian ini dibedakan antara mahasiswa (533 orang) dan mahasiswi (565 orang). Sedangkan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi pada kelompok risiko rendah (selain pekerja seks komersial), termasuk perilaku seksual pra nikah. "Kami menghubungi para pimpinan lima universitas itu untuk memberi daftar nama mahasiswa yang akan kami teliti atau responden, " ujar dr Sri Musta'ina MKes, dosen Bagian Biomedik FK Unair yang bertindak selaku peneliti juga, Kamis (19/4). Kemudian, mereka diberi penjelasan tentang prosedur dan teknik penelitian. Seminar yang materinya terkait dengan penelitian juga digelar bagi calon responden. Siapa yang mau untuk ikut serta dalam penelitian harus membubuhkan tanda tangan terlebih dulu. "Seminar tersebut kami maksud untuk membuka dan menambah wawasan mereka tentang bahaya penyakit seksual menular. Sebab pengetahuan mereka mengenai hal tersebut masih rendah," imbuh Sri Musta'ina yang lebih akrab dipanggil Ina ini.
Berikutnya, definisi hubungan seksual yang mereka teliti adalah hubungan yang menimbulkan penetrasi antara dua pihak yang melakukannya. Selain aktivitas seksual lainnya seperti ciuman di pipi, bibir, atau dada, berpelukan dan petting (menggesekkan alat kelamin), oral seks, dan anal seks. Hasilnya, sangat mengejutkan. Dari seluruh responden laki-laki, 16,3 persen (87 orang dari 533) sudah pernah melakukan hubungan seks atau intercourse. Mahasiswa yang melakukan oral seks 76 orang (14,3 persen), anal seks 27 orang (5,1 persen). Sedangkan yang memilih petting untuk memuaskan nafsu seksual mereka sebanyak 117 orang (22 persen). Sementara, 37 dari 565 perempuan (6,5 persen) sudah pernah melakukan hubungan seks. Oral seks 31 orang (5,5 persen) dan anal seks 14 orang (2,5 persen). Petting juga diminati, sebanyak 55 orang (9,7 persen) melakukannya. Separo dari mereka juga sering melakukan ciuman di bibir yang memicu terjadinya hubungan seksual, laki-laki 263 orang (49,3 persen) dan perempuan 243 orang (43 persen). Cara melakukan pun bervariasi, terutama pada mahasiswa. "Seluruh mahasiswi melakukan hubungan atau aktivitas seksualnya bersama lawan jenis yang tercatat sebagai kekasihnya sendiri," terang dr Dyan Pramesti, dosen Bagian Biomedik FK Unair yang bertindak selaku peneliti yang ditemui di Ruang Dosen Biomedik FK Unair. Tetapi, kalau mahasiswa, ada yang melakukan dengan sesama jenis (enam orang) atau biseksual (enam orang) yaitu bersama lawan jenis dan sekaligus sesama jenis. Ada 11 orang yang berhubungan seksual dengan PSK, serta dengan sesama jenis (male homosexual) tujuh orang. Penelitian ini juga mengungkapkan mulai usia berapa mereka melakukan hubungan seksual. Ternyata, pada mahasiswa, 35,6 persen atau 31 dari 87 orang melakukannya ketika masih duduk di bangku SMP yaitu usia 13-15 tahun. Lebih sedikit di atasnya, 47,1 persen (41 orang) di usia 16-18 tahun. "Mereka ini rentan terkena infeksi penyakit kelamin. Sayangnya, masih ada saja mahasiswa yang tidak peduli per an penting penggunaan kondom ketika berhubungan seksual, " tegas Dyan. Melalui kuisioner yang disebarkan, ada saja mahasiswa yang tidak tahu mengenai hal ini, yaitu 81 orang (15,4 persen).
Bukan hanya free seks pranikah yang terjadi akibat pergaulan bebas remaja sekarang, kehamilan di luar nikahpun meningkat, konsukuensinya janin-janin tak berdosa banyak digugurkan. Untuk menggugurkan janin ini cukup diberi obat penggugur kandungan, di Surabaya peredaran obat penggugur kandungan ini ternyata harganya sangat murah, berikut sumber berita dari harian Surya yang mengungkap fenomena tentang ini : SURABAYA-Obat yang digunakan untuk menggugurkan kandungan oleh Dina Andini (20) yang kos di Jalan Wonokitri Indah, Surabaya ternyata dibeli dari Ahmad (28). Selama ini Ahmad Simo Gunung Surabaya dikenal sebagai penjual obat. Hal ini diungkapkan Dina di hadapan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Surabaya Selatan. Atas pengakuan ini, akhirnya polisi juga menetapkan Ahmad sebagai tersangka kedua kasus ini.
Kasat Reskrim Polres Surabaya Selatan AKP Yimmi Kurniawan mengatakan, untuk mendapatkan obat ini Dina meminta bantuan pria berinisial F, temannya. "Kepada F dia mengaku sedang hamil dan minta dicarikan orang yang bisa memberinya obat penggugur kandungan. F akhirnya mencari dan didapatlah nama Ahmad," terang Yimmi di kantornya, Selasa (3/3). Oleh F, Dina lalu dipertemukan dengan Ahmad. Sedangkan F memilih pergi saat keduanya bertransaksi. Ahmad lalu memberi lima kapsul warna merah. Harga per kapsul Rp 100.000. "Kapsul ini sebenarnya untuk memperlancar datang bulan dan tidak boleh dikonsumsi orang hamil, tapi oleh Ahmad malah diberikan kepada Dina," kata alumni terbaik Akpol 2002 ini. Lima butir kapsul ini lalu dikonsumsi Dina, sehari sekali satu kapsul. Dan di hari kelima, kapsul sudah bereaksi. Janin tujuh bulan yang dikandung Dina akhirnya gugur di kamar mandi kosnya. Kepada penyidik, Ahmad mengaku baru sekali menjual kapsul itu ke orang hamil. Namun hal ini tidak membuat polisi puas. Polisi terus menyelidiki dugaan peredaran kapsul ini untuk praktik aborsi lainnya (surya/uus).
Tidak hanya sebatas itu, remaja sekarang juga mulai menggemari Dunia Malam, hal ini disebabkan oleh pergaulan remaja yang permisif, tidak sedikit remaja Surabaya yang menghabiskan waktu malamnya hanya untuk nongkrong bersama teman-temannya, bahkan ada yang sambil dugem yang akhirnya menjerumus dalam pergaulan bebas, hal ini dapat kita ketahui dari fenomena sebagai berikut : "...bukannya ngelakuin hal bermanfaat, para penghuni malam itu malah terjerumus dalam pergaulan bebas (48,9 persen). Sebanyak 27 persen malah harus rela nilai resiko nilai akedemik jeblok dan rentan sakit (13,5 persen). "Saban keluar malam, kakak kelasku pasti dugem," jelas Rudi (nama samaran) dari SMAN 16. Akibat kebiasaannya itu, Rudi melihat kakak kelasnya mulai terbawa arus pergaulan bebas. "Ada gosip beredar kalau saban selesai dugem, dia selalu ngajak cewek untuk nginap di rumahnya," imbuhnya. Andy Nugraha Priangga juga punya teman sehobi. "Karena udah berusia 17 tahun, temanku merasa udah cukup umur untuk menelusuri dunia malam," kata Andy di UHT. Sayang, teman Andy nggak cukup bekal mental. Akibatnya, jerat negatif kehidupan malam mulai menggerogoti teman Andy. Nggak sekadar kongkow useless, tapi teman Andy tersebut mulai akrab dengan minuman keras. "Aku sih nggak tahu pasti. Tapi banyak kabar beredar kalau dia mulai hobi menegak minuman keras, " ungkapnya.
Sebuah penelitian tugas akhir (skripsi) yang dilakukan oleh seorang mahasiswi UNAIR bernama Rahmawati Agusniar Ditasani dengan judul : "POTRET PERILAKU SEKSUAL REMAJA PEREMPUAN DI PERKOTAAN (Studi Deskriptif Mengenai Pola Perilaku Seksual Remaja Perempuan di Kelurahan Kalirungkut Kecamatan Rungkut Surabaya)". Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan teknik penarikan sampel secara startified karena berdasarkan atas kategori usia (13-21 tahun) pendidikan dan status ekonomi remaja pererempuan itu sendiri.
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pola perilaku seksual yang kerap dilakukan remaja perempuan adalah perilaku seksual secara berpasangan. Pasangan dalam hal perilaku seksual adalah pacar, sebagai wujud kasih sayang. Kontrol internal remaja perempuan dalam mengatsi dorongan seksualnya tergolong minim, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hirschi. Kemudian, peran peer group terhadap perilaku seksual remaja perempuan adalah sebagai media sosialisasi dalam upaya memperkaya informasi mengenai seks. Peer Group di sini merupakan tipe normatif yang membentuk nilai pada individu, termasuk mengenai seks.
Penelitian yang hampir sama untuk tugas terakhir juga dilakukan oleh Kurniasari Dian Mentari, dengan judul : "FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL DI KALANGAN MAHASISWA : Studi Pada Mahasiswa Universitas Airlagga Surabaya". Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Airlangga yang sedang berpacaran. Besar sampelnya adalah 88 responden yang berasal dari 11 fakultas di Unair. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (35,2%) tingkat keintimannya tinggi, yaitu minimal telah melakukan meraba daerah sensitif hingga hubungan seksual. Hasil uji Goodman-kruskal tau menunjukkan bahwa ada pengaruh sikap mengenai nilai seksualitas, tingkat pengetahuan, peran keluarga dan tingkat keintiman sebelumnya terhadap tingkat keintiman saat ini. Selain itu, ada pengaruh sikap mengenai sekualitas, tingkat pengetahuan, tingkat keintiman sebelumnya dan terjadinya hubungan seksual sebelumnya terhadap terjadinya hubungan seksual saat ini.
Pada 2008, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merilis hasil survey yang menyebut bahwa 63 persen remaja usia SMP dan SMA pada 33 provinsi di Indonesia pernah melakukan hubungan seks, bahwa 21 persen di antaranya sudah melakukan aborsi. Angka ini naik dari survey yang sama pada 2006 dimana jumlahnya berkisar 45-44 persen. Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz mengatakan persentasi remaja yang pernah berhubungan seks pra nikah tersebut naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujungpandang, ditemukan sekitar 47 hingga 54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. "Perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting mengantisipasi perilaku remaja tersebut," katanya. Ada beberapa faktor yang menurut Masri telah mendorong mereka melakukan hubungan seks pra nikah, di antaranya pengaruh liberalisme dan pergaulan bebas, kemudian lingkungan dan keluarga, serta pengaruh perkembangan media massa.
DKT Indonesia juga mengadakan penelitian yang diadakan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Dengan mengambil sampel remaja berumur 15 tahun sampai 24 tahun, perbandingan pria dan wanita seimbang. 50% dari responden sexually active, 50% tidak sexually aktif. Penelitian ini dengan tujuan agar upaya merubah perilaku seksual remaja tepat sasaran. Hasil penelitian ini memiliki beberapa poin yang sangat menarik.
1. Remaja di Indonesia ingin sekali tahu banyak informasi soal sex, termasuk pencegahan penyakit seksual dll. Tapi sampai sekarang mereka belum menerima. Hanya 5% responden yang mendapat pengetahuan dari orang tahu. Mereka banyak menerima informasi dari teman dan dari blue film.
2. Mereka ingin tahu bagaimana mencegah HIV AIDS, cara menggunakan alat KB, dan bagaimana sebenarnya proses kehamilan terjadi.
Satu lagi yang menarik dari hasil penelitian diatas, 40% diantara responden mengaku pertama kali berhubungan sex di rumah. Sisanya ada yang menjawab di kos dan hotel. Bagaimana keadaan ini bisa terjadi tentu karena kurangnya pengawasan dan perhatian orang tua terhadap sang anak. Karena meski 80% dari remaja ini sadar bahwa perbuatannya tidak sesuai dengan norma atau nilai agama yang dianut dan tak setuju dengan seks pranikah, mereka tetap menjalankan itu. Ada juga hasil menarik khusus untuk remaja Surabaya. Karena di kota ini lingkungannya lebih konservatif, maka 20% dari remaja tersebut mengaku melakukan hubungan seksual pertama kali dengan PSK. Disini terlihat bahwa keingintahuan remaja yang besar soal seks tidak mendapat saluran. Hanya 4% dari orang tua yang mau menjelaskan soal seks kepada anak. Sisanya mendapat informasi dari teman atau blue film. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat blue film sama sekali tidak mengajarkan seks yang benar. Selain itu keingintahuan remaja tentang penyakit menular seksual atau proses kehamilan tidak akan bisa terjawab. AIDS relatif lebih diketahui karena media sudah banyak yang memberikan iklan layanan soal AIDS. PMS lain seperti Gonorhaea, Herpes atau penyakit seksual lainnya malah kurang dipahami.
Fenomena diatas adalah sedikit gambaran dari pergaulan remaja kita yang terjadi sekarang. Maka pendidikan seks dalam hal ini sangat diperlukan, baik formal maupun informal, untuk meredam dampak negatif budaya Barat ini. Ironisnya, pendidikan seks secara formal, hampir tidak dikenal di Indonesia, bahkan dalam institusi pendidikan sekalipun. Akibatnya, pengetahuan tentang seks di dapat dari sumber-sumber lain, baik dari teman, media cetak maupun dari internet, yang sangat mengesampingkan nilai-nilai luhur di balik hubungan seks itu sendiri.
Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi jika melihat kenyataan bahwa pergaulan remaja sekarang sangatlah bebas, dimana free seks juga sering terjadi pada remaja-remaja yang sedang menjalin masa pacaran, mereka berdalih apa yang mereka lakukan sebagai wujud kasih sayang terhadap sang pacar. Hal ini sangat membuat resah orang tua khususnya dan masyarakat pada umumnya, namun kebanyakan para orang tua dan masyarakat hanya menyalahkan pelaku seks bebas tanpa melihat latar belakang terjadinya perilaku seks bebas tersebut.
Kenyataan ini harus disikapi secara serius baik oleh institusi-institusi negara melalui kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pemfilteran budaya-budaya yang masuk dengan bebasnya ke negara kita, serta perlu adanya aturan-aturan yang mengatur media-media yang beredar di masyarakat, baik media elektronik maupun media cetak, dimana peminat media ini bukan hanya orang-orang dewasa saja tetapi anak-anak dan remaja juga sangat tertarik, karena rasa keingintahuan pada masa-masa ini sangat besar terhadap hal-hal baru.
Khususnya peran keluarga, dimana orang tua sebagai pendidik pertama membentuk sikap dan kepribadian seorang anak dalam keluarga dan sosialnya kelak, disini orang tua memiliki andil atau peran yang sangat besar untuk mengarahkan dan memberikan pendidikan baik formal maupun agama sebagai penguat kepada anak-anak mereka, agar kelak terbentuk suatu sikap dan kepribadian yang handal dalam menghadapi tantangan, serta agar anak-anak mereka dapat tumbuh berkembang secara baik memasuki beberapa fase perkembangan sesuai dengan tugas perkembangannya, khususnya fase remaja yang penuh dengan gejolak dan tantangan baik dari dalam diri remaja sendiri maupun dari luar.
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak-anak dan dewasa. Oleh karena itu, remaja sering kali dikenal dengan fase "mencari jati diri" atau fase "topan badai". Dalam masa inilah, remaja perlu adanya perhatian khusus dari orang tua, yang bisa memahami ciri-ciri dan tugas-tugas perkembangan remaja, tanpa menyalahkan remaja yang sudah terlanjur menjadi korban dari budaya permisif ini, tetapi mengarahkan mereka sesuai dengan tugas perkembangan remaja.

B. Fokus penelitian dan Rumusan Masalah
Fokus dalam penelitian ini akan mengarah pada "Bagaimana terjadinya perilaku seks bebas pada remaja", dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kehidupan subyek?
2. Bagaimanakah perilaku seks bebas pada remaja saat ini?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa atau yang berhubungan dengan perilaku seks bebas pada remaja, namun secara spesifik tujuan ini adalah :
1. Menjelaskan tentang keadaan kehidupan subyek.
2. Untuk mendeskripsikan perilaku seks bebas pada remaja sekarang.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah manfaat secara teoritis dan secara praktis.
1. Manfaat secara teoritis
Diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan, dan sumbangan teoritis terhadap pengembangan psikologi, khususnya pada psikologi remaja, psikologi keluarga dan psikologi sosial, khususnya yang menyangkut peran utama keluarga dalam memberikan pendidikan dan mengamati perkembangan remaja.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi penelitian adalah dapat mengetahui dan mengungkap apa yang menjadi latar belakang dari terjadinya perilaku seks bebas pada remaja dan dampak-dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya perilaku seks bebas pada remaja, sehingga dapat memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara konsep teoritis dalam psikologi dengan realita yang terjadi di masyarakat.
b. Bagi orang tua, semoga hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang positif. Berhubungan dengan upaya untuk memahami permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks yang sedang dihadapi oleh remaja sejalan dengan masa perkembangannya, khususnya masalah seks yang harus dikenalkan sejak dini agar remaja tidak terjerumus dengan mencari informasi tentang seks dengan cara yang salah.
c. Bagi seluruh lapisan masyarakat, diharapkan hasil dari penelitian ini dapat membuka mata dan kesadaran kita untuk bersama-sama membina dan mengarahkan serta menjaga perkembangan kepribadian para remaja, agar dapat membentuk pribadi tunas-tunas penerus bangsa yang baik dan tangguh.
d. Bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian dalam bidang yang sama, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi positif untuk penelitian yang akan datang.

E. Definisi Konsep
Definisi konsep merupakan batasan pada suatu variabel penelitian sehingga variabel tersebut dapat diamati dan diteliti. Definisi konsep penelitian ini adalah :
1. Perilaku seks adalah segala tingkah laku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual dengan lawan jenisnya. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, yang diawali dengan berpegangan tangan, saling memegang, saling merangkul, setelah itu masuk ke ciuman. Awalnya ciuman kering (dry kissing), setelah itu melangkah ke ciuman basah (wet kissing), menciumi leher dan daerah dada (necking), setelah itu saling menggesekkan alat kelamin (petting), mencoba menggesekkan penis ke bibir vagina dan seterusnya hingga intercourse penuh.
2. Perilaku seks bebas adalah segala tingkah laku yang muncul karena adanya dorongan seksual yang diarahkan untuk mendapatkan kenikmatan atau kepuasan seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis dengan bebas, berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, hidup bersama diluar nikah tanpa dilandasi norma agama dan sosial serta tindakan hubungan seks yang terang-terangan tanpa malu.
3. Masa remaja adalah periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa. Batasan usia pada penelitian ini adalah antara usia 12-23 tahun.

F. Sistematika Pembahasan
BAB I : Pendahuluan dalam Bab I ini dijelaskan pokok-pokok yang melatar belakangi penelitian. Kemudian dari latar belakang tersebut difokuskan apa yang dijadikan masalah inti sehingga dapat diketahui rumusan masalah yang ada, dari rumusan masalah kemudian ditentukan apa tujuan dan manfaat dari penelitian yang akan dilakukan. Dalam bab I ini juga dijelaskan tentang maksud definisi konsep yang masih berhubungan dengan judul dan pembahasan yang ada.
BAB II : Pada bab II ini dijelaskan tentang kerangka teoritik yang berisi kajian pustaka dan kajian teoritis, sedangkan kerangka konseptual sebagai acuan dalam pembahasan masalah.
BAB III : Metode penelitian berisi tentang pendekatan dan jenis penelitian yang diambil, penentuan lokasi penelitian yang akan dijadikan tujuan penelitian, bagaimana jenis dan sumber data di dapat, serta bagaimana tehnik-tehnik pengumpulan data, tehnik analisis data dan pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan.
BAB IV : Dalam bab ini dijelaskan penyajian data dengan mendeskripsikan bagaimana observasi penelitian serta hasil dari penelitian tersebut. Analisis data menjelaskan tentang penemuan dan menghubungkan hasil temuan tersebut dengan teori yang ada.
BAB V : Bab penutup sebagai akhir dari seluruh bab mencakup kesimpulan serta saran untuk para pembaca dan kebaikan kedepan dari skripsi yang telah ditulis.
SKRIPSI TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG KOMPLIKASI DIABETES MELITUS DI RS X

SKRIPSI TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG KOMPLIKASI DIABETES MELITUS DI RS X

(KODE : KEPRAWTN-0006) : SKRIPSI TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG KOMPLIKASI DIABETES MELITUS DI RS X




BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) dapat diartikan sebagai suatu penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi kadar gula darah yang disertai ketidaknormalan metabolisme karbohidrat, protein, lemak serta adanya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular (Inzucchi, 2004). Peningkatan kadar gula darah ini dipengaruhi oleh kerja insulin secara absolut maupun relatif (Suryono, 2004).
Prevalensi diabetes melitus di dunia mengalami peningkatan yang cukup besar. Data statistik organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2000 menunjukkan jumlah penderita diabetes di dunia sekitar 171 juta dan diprediksikan akan mencapai 366 juta jiwa tahun 2030. Di Asia tenggara terdapat 46 juta dan diperkirakan meningkat hingga 119 juta jiwa. Di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 diperkirakan menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (WHO, 2008). Indonesia merupakan urutan keenam di dunia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak setelah India, Cina, Uni Soviet, Jepang, Brazil (Rahmadilayani, 2008).
Diabetes adalah penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya dan menjadi penyebab angka kesakitan dan kematian. Diabetes menjadi penyakit yang cukup serius dan mendapat perhatian karena diabetes dapat menyebabkan komplikasi yang menyerang seluruh tubuh (Yumizone, 2008). Peningkatan jumlah penderita diabetes sebagian besar dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat. Diabetes juga memberikan pengaruh beban ekonomi yang besar untuk pengobatannya (Tandra, 2007).
Diabetes Melitus menjadi penyebab kematian keempat terbesar di dunia. Setiap tahunnya ada 3,2 juta kematian yang diakibatkan langsung oleh diabetes (Tandra, 2008). Diabetes juga sering membunuh penderitanya dengan mengikutsertakan penyakit-penyakit lainnya. Diabetes dapat menyebabkan komplikasi akut dan kronik. Komplikasi akut merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi (Nabil, 2009).
Pada periode tahun 1990-an angka kematian komplikasi akut yaitu ketoasidosis (24,9%) dan hipoglikemia (10%) (Santoso, 2004). Sedangkan komplikasi kronik dapat berupa komplikasi makrovaskular seperti penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak dan mikrovaskular seperti retinopati, nefropati dan neuropati. Dari data statistik terbaru yang diperoleh diabetes merupakan penyebab utama kebutaan bagi orang dewasa. Setiap 90 menit ada satu orang di dunia yang buta akibat komplikasi diabetes. Diabetes juga menyebabkan amputasi paling sering di luar kecelakaan. Setiap 19 menit ada satu orang di dunia yang diamputasi kakinya. Penyakit jantung dan kerusakan pembuluh darah menjadi 2-4 kali lipat lebih besar akibat diabetes, setiap 19 menit ada satu orang di dunia yang terkena stroke akibat komplikasi diabetes, dan setiap 90 menit juga ada satu orang di dunia yang harus cuci darah akibat komplikasi diabetes (Nabil, 2009).
Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh umur, obesitas, kurangnya pengetahuan, kebiasaan hidup yang kurang sehat (Rahmadilayani, 2008). Sebenarnya 95 % kesembuhan diabetes tergantung pada pasien diabetes. Senjata yang paling ampuh adalah mengenali dan memahami diabetes. Pasien yang memiliki pengetahuan tentang diabetes dan komplikasinya akan berhasil melawan diabetes (Tandra, 2008).
Pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmojo, 2003). Pengetahuan pasien diabetes melitus dapat diartikan sebagai hasil tahu dari pasien mengenai penyakitnya, memahami penyakitnya, dan memahami pencegahan, pengobatan maupun komplikasinya.
Peneliti telah melaksanakan survei awal di RS X dan mendapatkan data jumlah pasien diabetes melitus pada bulan September-Oktober sebanyak 648 orang dan beberapa telah mengalami komplikasi. Berdasarkan penjelasan di atas peneliti merasa tertarik untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien diabetes melitus tentang komplikasi akut dan kronik penyakit diabetes di RS X.

2. Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien diabetes melitus tentang komplikasi akut dan kronik penyakit diabetes di RS X.

3. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana tingkat pengetahuan pasien diabetes melitus tentang komplikasi akut dan kronik penyakit diabetes melitus di RS X.

4. Manfaat Penelitian
1. Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data dasar, sumber informasi dalam usaha peningkatan pelayanan, terutama untuk pemberian pendidikan kesehatan berupa pengetahuan tentang penyakit dan komplikasi diabetes.
2. Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan yang berharga bagi penelitian berikutnya. Terutama bagi penelitian yang menyangkut pengetahuan tentang komplikasi diabetes.
SKRIPSI ANALISA TINGKAT KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN KEPERAWATAN PRIMA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT X

SKRIPSI ANALISA TINGKAT KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN KEPERAWATAN PRIMA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT X

(KODE : KEPRAWTN-0005) : SKRIPSI ANALISA TINGKAT KEPUASAN PASIEN PADA PELAYANAN KEPERAWATAN PRIMA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT X




BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang Masalah
Eraglobalisasi merupakan suatu era baru yang akan membawa berbagai perubahan dibidang kehidupan. Salah satunya yaitu perubahan dibidang kesehatan. Terbuktinya pasar bebas akan berakibat pada tingginya kompetisi dibidang kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal ini menuntut adanya peningkatan kualitas serta profesionalisme sumber daya manusia kesehatan termasuk juga didalamnya sumber daya manusia keperawatan (Anaswarni, Keliat, Sabri, 2002). Pada masa sekarang dan yang akan dating, perawat dituntut untuk berperan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan diRumah sakit (Jane, 2001 dikutip dari Purnomo, 2004).
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga kelompok dan ataupun masyarakat (Lovely dan loobam 1973, dalam waluyo, 2008). Pelayanan keperawatan adalah salah satu ruang lingkup pelayanan yang merupakan inti dari kegiatan pelayanan dirumah sakit. Rumah sakit harus menaga mutu keperawatan agar mampu bersaing (DepKes, 1995).
Pelayanan keperawatan mempunyai posisi yang strategis dalam menentukan mutu pelayanan kesehatan dirumah sakit karena jumlah perawat adalah yang terbanyak dan yang paling banyak kontak dengan pasien. Perawat memberikan pelayanan selama 24 jam terus menerus pada pasien sehingga menjadikan satu-satunya profesi kesehatan dirumah sakit yang banyak memberikan persepsi terhadap pelayanan kesehatan pada diri pasien (Purnomo, 2004).
Menurut Soejadi (1996), pasien adalah individu terpenting dirumah sakit, sehingga konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit. Didalam suatu proses keputusan, konsumen yaitu pasien tidak akan berhenti hanya sampai proses penerimaan pelayanan. Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. Hasil dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas (Sumarwan, 2003). Kepuasan pasien akan tercapai apabila diperoleh hasil yang optimal bagi setiap ppasien dan pelayanan kesehatan memperhatikan kemampuan pasien atau keluarganya, adanya perhatian terhadap keluhan, kondisi lingkungan fisik dan tanggap atau memprioritaskan kebutuhan pasien (Kotler, 2003).
Kepuasan pasien adalah indikator pertama dari standar suatu rumah sakit dan merupakan suatu ukuran mutu pelayanan. Kepuasan pasien yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan dirumah sakit, sedangkan sikap karyawan terhadap pasien juga akan berdampak terhadap kepuasan pasien dimana kebutuhan pasien dari waktu ke waktu akan meningkat, begitu pula tuntutannya akan mutu pelayanan yang diberikan (Heriandi, 2006).
Salah satu pelayanan yang ada dirumah sakit adalah pelayanan prima, dimana pelayanan prima adalah pelayanan yang professional, cepat, bersih, ramah, dan pelayanan yang menberikan kepuasan dan kesembuhan bagi pasien (Keliat, Budi, Anna (2008). Untuk menuju pelayanan prima dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, meliputi ruangan, alat kesehatan utama, alat diagnostic dan alat penunjang diagnostic serta alat kesehatan untuk suatu tindakan medik. Disamping itu juga tidak kalah pentingnya sumber daya manusia yang memenuhi syarat, baik kualitas maupun kuantitas. Petugas yang mempunyai pengetahuan yang tinggi, keterampilan yang andal dan tingkah laku yang baik (Cokroaminoto, 2006).
Semakin tingginya tuntutan masyarakat akan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan terangkau, maka berbagai upaya telah ditempuh dan memenuhi harapan tersebut. Pelayanan prima pada dasarnya dituukan untuk memberikan kepuasan kepada pasien. Pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit harus berkualitas dan memenuhi lima dimensi mutu utama yaitu : tangibles, reliability, resvonsiveness, assurance, dan emphaty (Fahriadi, 2007).
Dari hasil penelitian Mardiah (2007) yang dilakukan dirumah sakit umum sigil untuk meneliti pelayanan yang berkualitas diperoleh hasil sebanyak 72,3% mempunyai peersepsi yang baik tentang reliability, sebanyak 79,8% mempunyai persepsi yang baik tentang responsiveness dan 62,8% memiliki persepsi yang baik terhadap tangibles.dalam hal ini kepuasan sebanyak 53,2% menyatakan cukup puas, sistribusi mutu pelayanan yang paling banyak adalah baik dengan nilai 21,3% sedangkan kepuasan pasien rawat inap yang paling banyak menyatakan cukup puas adalah 22,3% selebihnya menyatakan tidak puas. Hasil ini searah dengan kepuasan pasien.
Pada saat ini rumah sakit X enerapkan pelayanan keperawatann prima disetiap ruang rawat inap. Adapun rumah sakit ini memiliki fasilitas ruang rawat inap sebanyak 3 ruangan yaitu instalasi rawat inap terpadu A terdiri dari 7 ruangan, instalasi rawat inap terpadu B terdiri dari 6 ruangan, dan CVCU terdiri dari 2 ruangan, dengan kapasitas tempat tidur berumlah 600 buah. Data dari bagian rekam medis RS X (2009) menyebutkan pada periode Januari hingga desember 2008 jumlah pasien yang dirawat inap berjumlah 17720 orang. Dengan rata-rata hari rawat inap adalah 3-9 hari. Dengan demikian rata-rata jumlah pasien yang dirawat inap setiap bulannya adalah 1477 orang.
Pelayanan keperawatan prima di RS X diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan system pelayanannya agar tercapai kepuasan pasien. Bagian keperawatan RS X (2008) telah melakukan evaluasi mutu pelayanan keperawatan prima dengan hasil penampilan fisik baik (75,2%), penyampaian prima cukup (83,6%), penyampaian prima cukup (83,6%), kemampuan prima cukup (80%), dan disiplin cukup (84,5%).
Berdasarkan tinjauan fenomena diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana tingkat kepuasan pasien pada pelayanan keperawatan prima diruang rawat inap RS X.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang maka dapat dirumuskan permasalahan bagaimana tingkat kepuasan pasien pada pemberian pelayanan keperawatan prima diruang rawat inap RS X?

3. Tujuan Penelitian
3.1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi tingkat kepuasan pasien pada pemberian pelayanan keperawatan prima diruang rawat inap RS X.
3.2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan kemampuan perawat.
2. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan sikap perawat.
3. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan penampilan perawat.
4. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan perhatian yang diberikan perawat.
5. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan tindakan yang dilakukan perawat
6. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien pada pelaksanaan pelayanan keperawatan prima berdasarkan tanggung jawab yang diberikan perawat.

4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini akan memberikan konstribusi terhadap berbagai aspek yaitu :
4.1. RS X
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan informasi tambahan kepada perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan sebagai evaluasi untuk meningkatkan pelayanan keperawatan di RS X.
4.2. Pendidikan
Dalam aspek pendidikan, penelitian ini bermamfaat dalam memberikan informasi tambahan dan data evaluasi yang berguna bagi pendidikan keperawatan.
4.3. Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya terutama yang menyangkut perkembangan pelayanan keperawatan prima.
SKRIPSI DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM UKS PADA SD NEGERI DI KECAMATAN X

SKRIPSI DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM UKS PADA SD NEGERI DI KECAMATAN X

(KODE : KEPRAWTN-0004) : SKRIPSI DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM UKS PADA SD NEGERI DI KECAMATAN X




BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang
Dewasa ini pemerintah telah dan sedang berusaha meningkatan derajat kesehatan masyarakat, termasuk masyarakat sekolah. Betapa tidak, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan demi tercapainya tujuan pendidikan nasional sangat ditunjang oleh kesehatan peserta didik di suatu lembaga pendidikan (Komang, 2008). Untuk mendukung terciptanya peserta didik yang sehat, sekolah dapat merealisasikan dengan mengaktifkan program usaha kesehatan sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan yang optimal sehingga dapat memaksimalkan potensi dan prestasi anak untuk belajar (McKenzie, 2007). Program ini terdiri dari tiga kegiatan utama yang disebut dengan Trias Usaha Kesehatan Sekolah meliputi aspek pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, serta pembinaan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat (Effendi, 1998).
Usaha kesehatan sekolah merupakan usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah-sekolah dengan anak didik beserta komunitas lingkungan sekolah sebagai sasaran utama. Guru UKS dan peserta didik adalah merupakan anggota primernya, masyarakat sekolah atau orang tua siswa, serta perawat komunitas dalam hal ini petugas kesehatan dari puskesmas menjadi pendukung pelaksana keberhasilan program kesehatan sekolah (Effendi, 1998). Di banyak negara berkembang termasuk Indonesia masih belum ada pelayanan sekolah yang menyeluruh, karena persoalan tenaga guru yang belum terlatih dan pendanaan untuk program usaha kesehatan sekolah yang belum memadai. Sedangkan untuk program usaha kesehatan sekolah diperlukan kerja tim yang efisien dan efektif untuk memberikan hasil yang optimal (Wahyuni, 2005).
Provinsi Sumatra Utara, khususnya kota X disampaikan bahwa belum semua Sekolah Dasar menjalankan program usaha kesehatan sekolah. Hal ini disebabkan tidak tersedianya ruang khusus, dana operasional kegiatan maupun kader kesehatan atau perawat usaha kesehatan sekolah yang dapat terlibat aktif Beberapa sekolah yang sudah memiliki program usaha kesehatan sekolah umumnya merupakan sekolah-sekolah yang sudah mapan dan mandiri (Zuraidi, 2009). Kondisi yang sama juga terjadi di Kabupaten X Provinsi X, dimana kabupaten ini memiliki 176 Sekolah Dasar dan tidak semua Sekolah Dasar Negeri tersebut melaksanakan program usaha kesehatan sekolah (Dinkes X, 2009).
Dari data survey awal peneliti ada satu kecamatan yaitu Kecamatan X yang telah melaksanakan program usaha kesehatan sekolah mencapai 73 persen atau 19 Sekolah Dasar dari 26 Sekolah Dasar Negeri yang ada, dan Puskesmasnya berhasil menjadi juara pertama pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah untuk tingkat X (Data Puskesmas X, 2009). Melihat keberhasilan pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan X Kabupaten X diatas, maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui dukungan petugas kesehatan yang dapat memberikan keberhasilan pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah di Sekolah-Sekolah Dasar Negeri.

2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dukungan petugas kesehatan dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan X Kabupaten X.

3. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan bagaimana gambaran dukungan petugas kesehatan dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan X Kabupaten X.

4. Manfaat Penelitian
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk praktek keperawatan dan riset keperawatan berikutnya.
4.1 Praktek keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi bagi petugas kesehatan, khususnya perawat UKS di unit pelayanan kesehatan masyarakat tentang hal yang mendukung pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah pada Sekolah Dasar.
4.2 Riset Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan fakta yang ada tentang dukungan petugas kesehatan/perawat dalam pelaksanaan program usaha kesehatan sekolah sehingga berguna bagi penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.
SKRIPSI EFEKTIFITAS STRATEGI PLANTED QUESTIONS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN X

SKRIPSI EFEKTIFITAS STRATEGI PLANTED QUESTIONS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN X

(KODE : PEND-AIS-0069) : SKRIPSI EFEKTIFITAS STRATEGI PLANTED QUESTIONS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN X




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan pada hakikatnya merupakan kebutuhan dan tuntutan yang signifikan untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa dan Negara demi tercapainya sumber daya manusia yang berintelektualitas dan berkualitas tinggi. Intelektualitas dan kualitas tersebut sangat bergantung dari keberhasilan penyelenggaraan sistem pendidikan.
Setiap bangsa akan maju karena pendidikannya. Pendidikan yang maju merupakan jantung dan denyut nadi bangsa. Dimana pendidikan nasional mempunyai fungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu :
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
Dengan demikian, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional terutama dalam meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka pendidikan agama mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini sebagaimana pendapat Dr. Zakiah Darajat yang Mengungkapkan, bahwasanya pendidikan agama Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara, dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai, yaitu Insan kamil dengan pola takwa.
Akan tetapi kenyataan yang ada sebaliknya, meskipun siswa telah diberikan pendidikan agama Islam mereka tetap saja ada yang melakukan perbuatan tidak terpuji. Dalam surat kabar Jawa Pos disebutkan, bahwa banyak pelajar yang otaki tindak kriminalitas. Mereka melakukan kasus kejahatan mulai dari pencurian, kekerasan fisik, hingga pencabulan dan pemerkosaan.
Berdasarkan perihal demikian, pendidikan agama Islam bisa dikatakan belum dapat menjadikan siswa mencapai tujuan pendidikannya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Menanggapi hal ini, penulis sependapat dengan pendapat Muhaimin yang mengemukakan bahwa untuk dapat mencapai tahapan psikomotor siswa harus terlebih dahulu melalui tahapan kognitif dengan baik. Yang dimaksud dengan tahapan kognitif adalah pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Setelah melalui tahapan kognitif tersebut siswa dapat menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya. Tahapan afeksi ini terkait erat dengan kognitif. Ini dikarenakan penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh apabila dilandasi dengan pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran agama islam. Dan baru kemudian, setelah melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa tergerak untuk mengamalkan dan mentaati ajaran Islam (tahapan psikomotorik).
Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah perlu dilaksanakan secara efektif sehingga siswa dapat mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Strategi pembelajaran sebagai suatu rencana yang berisi rangkaian kegiatan pembelajaran yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, ini sangat penting sekali diterapkan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam agar tercapai tujuan pendidikan agama Islam yang diharapkan.
Karena ranah kognitif mempunyai peran yang penting dalam pembentukan insan kamil sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional dan merupakan tujuan pendidikn agama Islam, maka diperlukannlah strategi yang dapat membantu siswa dalam mengetahui dan memahami ajaran Islam.
Dan sehubungan dengan uraian diatas, penulis mengambil judul penelitian "EFEKTIFITAS STRATEGI PLANTED QUESTIONS TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI X"

B. Definisi Operasional
Untuk memudahkan maksud yang terkandung dalam judul skripsi ini, maka penulis akan memberikan penjelasan tentang bagian-bagian yang ada pada judul skripsi. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Efektifitas : Berasal dari kata efektif, yang berarti ada efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya).
2. Strategi : Suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang ditentukan.
3. Planted questions : Salah satu strategi pembelajaran aktif melalui pertanyaan rekayasa yang diberikan kepada peserta didik yang terpilih.
4. Prestasi Belajar : Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Sedangkan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.8 Jadi yang dinamakan dengan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai berupa perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi dengan lingkunganya.
5. Pendidikan Agama Islam : Berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Pada kurikiulum tahun 1999, ruang lingkup materi PAI dipadatkan menjadi lima unsur pokok yaitu Al Quran, keimana, akhlak, fiqih dan bimbingan ibadah,serta tarikh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.10 Adapun dalam penelitian ini, penulis lebih menfokuskan diri pada materi tarikh tepatnya pada sejarah Nabi Muhammad SAW.
6. SMP Negeri X : Sekolah Menengah Pertama yang berada di daerah X, dan di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional.

C. Rumusan Masalah
Dari judul yang telah disebutkan, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan strategi planted questions di SMP Negeri X ?
2. Bagaimana prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri X ?
3. Bagaimana efektifitas strategi planted questios terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri X ?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan antara lain :
1. Penerapan strategi planted questions di SMP Negeri X
2. Prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri X
3. Efektifitas strategi planted questios terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri X

E. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitan ini dilakukan adalah :
1. Secara teoritis, adalah sebagai upaya memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dalam pengembangan wawasan akan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Sehingga dapat membantu dalam proses pengajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dalam mebangun suatu pemahaman ajaran agama Islam yang integral secara kognitif, afektif, dan spikomotor.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pendidik sebagai suatu bahan informasi untuk upaya peningkatan dan menambah pengetahuan serta keahlian dalam melaksanakan pola pembelajaran yang efektif dan efisien.
3. Bagi penulis secara pribadi sangat berguna dalam penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi.

F. Sistematika Pembahasan
Mengenai sistem pembahasan, penulis menyusunnya sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisi latar belakang, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN TEORI
Dalam bab ini dipaparkan secara teoritis mengenai kajian tentang strategi plented questions, kajian tentang prestasi belajar pendidikan agama Islam, serta efektifitas strategi planted questions terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam.
BAB III : METODE PENELITIAN
Dalam bab ini berisi tentang identifikasi variabel, jenis penelitian, rancangan penelitian, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini berisi tentang gambaran umum SMP Negeri X, gambaran tentang pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri X, penyajian data dan analisis data.
BAB V : PENUTUP
Ini merupakan bab terakhir yang berisikan tentang kesimpulan dan saran.
SKRIPSI EFEKTIVITAS TEKNIK BERTANYA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MI X

SKRIPSI EFEKTIVITAS TEKNIK BERTANYA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MI X

(KODE : PEND-AIS-0068) : SKRIPSI EFEKTIVITAS TEKNIK BERTANYA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MI X




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan dorongan (motivasi) kepada siswa apabila penyampaiannya menggunakan strategi, metode serta teknik yang kurang tepat.
Pada konteks pembelajaran, tanya jawab merupakan salah satu metode pembelajaran yang paling umum dan sering digunakan di kelas. Moore (1986) menjelaskan bahwa bertanya (questioning) memainkan peranan sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan Socrates memandang bahwa bertanya dengan mengajar merupakan kegiatan yang integral. Dengan kata lain, dalam proses belajar mengajar guru hendaknya sering mengajukan pertanyaan kepada siswanya, baik secara individu, kelompok kecil maupun kelompok besar.
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memegang peranan penting, karena pertanyaan yang tersusun baik dan dengan teknik pelontaran yang tepat akan meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan belajar mengajar, membangkitkan minat dan rasa ingin tahu murid terhadap sesuatu masalah yang sedang dibicarakan, mengembangkan pola berfikir dan cara belajar efektif dari siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya, menurut proses berpikir murid sebab pertanyaan yang baik akan membantu murid dalam menentukan jawaban yang baik pula, memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.
Salah satu upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir mandiri dan kritis bagi peserta didik adalah dengan mengembangkan pendidikan partisipatif, yaitu pendidikan yang dalam prosesnya menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam pendidikan. Keterlibatan peserta didik dalam pendidikan tidak sebatas sebagai pendengar, pencatat, dan penampung ide-ide pendidik, tetapi lebih dari itu ia terlibat aktif dalam mengembangkan dirinya sendiri.
Pada waktu siswa menjawab pertanyaan yang diberikan guru di kelas, maka dalam interaksi tersebut sudah membuktikan adanya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Tetapi tidak jarang juga kita menemukan dalam proses pembelajaran di kelas hanya siswa tertentu saja yang berpartisipasi aktif dalam menjawab pertanyaan guru. Kemungkinan yang terjadi disebabkan kurangnya pemberian waktu pada siswa guna memikirkan jawaban, ada juga siswa merasa kurang memahami pertanyaan guru dan siswa merasa takut untuk mengutarakan jawaban.
Berdasarkan kenyataan tersebut diharapkan sebelum guru mengajukan pertanyaan kepada siswa di kelas. Guru terlebih dahulu mengetahui dan memahami keterampilan bertanya serta mampu menerapkan teknik bertanya dengan baik sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa. Kegiatan bertanya akan lebih efektif apabila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Keterampilan bertanya ini harus dikuasai oleh guru baik guru pemula maupun yang sudah profesional karena dengan mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan balik dari materi yang diajarkan serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta didik.
Yang dimaksud dengan teknik bertanya adalah sejumlah cara yang dapat digunakan oleh guru untuk mengajukan pertanyaan kepada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik dan latar belakang peserta didik. Pertanyaan yang baik memiliki kriteria-kriteria khusus seperti : jelas, informasi lengkap, terfokus pada satu masalah, berikan waktu yang cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa, berikan respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terahir tuntunlah jawaban siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.
Berdasarkan latar belakang diatas dan sejauh pengamatan penulis dalam suatu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung terlihat bahwa kurangnya partisipasi siswa dalam menanggapi atau memberi jawaban atas petanyaan-pertanyaan yang diajukan guru pada mereka. Maka dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul "EFEKTIVITAS TEKNIK BERTANYA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH DI MI X".
Dalam skripsi ini, penulis tidak melakukan eksperimen sebuah teori baru akan tetapi penulis ingin mengetahui bagaimana teknik-teknik bertanya guru MI X yang dapat meningkatkan partisipasi siswa ketika proses pembelajaran fiqih berlangsung.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas timbul beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam penulisan skripsi ini, masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana teknik bertanya guru pada pembelajaran fiqih di MI X ?
2. Bagaimana partisipasi siswa pada pembelajaran fiqih di MI X ?
3. Bagaimana efektivitas teknik bertanya dalam meningkatkan partisipasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MI X ?

C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan teknik bertanya yang digunakan guru pada pembelajaran fiqih di MI X.
2. Untuk mengetahui bagaimana partisipasi siswa pada pembelajaran fiqih di MI X.
3. Untuk mengetahui bagaimana efektivitas teknik bertanya dalam meningkatkan partisipasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MI X.

D. Batasan Masalah
Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam latar belakang di atas. Teknik bertanya sering digunakan ketika proses belajar mengajar berlangsung dan dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Karena keterbatasan waktu dalam penelitian dan agar penelitian dapat berlangsung maksimal maka, penulis hanya menfokuskan pada :
1. Teknik bertanya guru dalam proses pembelajaran fiqih,
2. Mata pelajaran fiqih dalam penelitian ini diaplikasikan pada materi khitan,
3. Penggunaan teknik bertanya pada materi khitan ditujukan pada kelas V di MI X.

E. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian memiliki tujuan dan manfaat baik bagi penulis sebagai mahasiswa maupun lembaga pendidikan. Berdasarkan tujuan penelitian yang telah disebutkan, maka manfaat dari penelitian ini meliputi :
1. Bagi penulis
Dapat menyelesaikan tugas ahir perkuliahan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan study di fakultas tarbiyah X dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang pendidikan khususnya pengetahuan tentang teknik bertanya serta keefektivitasannya dalam meningkatkan partisipasi siswa.
2. Bagi lembaga
Dapat mengetahui teknik bertanya yang efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung.
3. Bagi Siswa
Memberikan arahan bimbingan kepada siswa pada proses pembelajaran di kelas dalam merespon pertanyaan dan menguasai konsep-konsep ilmu yang diajarkan.

F. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan dalam pembahasan Skripsi ini, maka penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, definisi operasional, identifikasi variabel, hipotesis dan sistematika pembahasan.
BAB II LANDASAN TEORI. Yang memaparkan tentang : A. Tinjauan tentang teknik bertanya, yang meliputi pengertian teknik bertanya, jenis-jenis pertanyaan, tujuan bertanya, teknik dalam bertanya, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bertanya. B. Tinjauan tentang partisipasi belajar siswa yang meliputi pengertian partisipasi belajar, macam-macam partisipasi belajar, prinsip-prinsip belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. C. Tinjauan tentang mata pelajaran fiqih yang meliputi pengertian fiqih, tujuan pembelajaran fiqih, ruang lingkup fiqih, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran fiqih. D. Tinjauan tentang efektivitas teknik bertanya dalam meningkatkan partisipasi belajar siswa.
BAB III METODE PENELITIAN yang meliputi jenis dan pendekatan penelitian, rancangan penelitian, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, serta teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN. Yang menguraikan tentang A. Tinjauan tentang gambaran umum objek penelitian yang meliputi sejarah berdirinya, visi dan misi, keadaan guru dan karyawan, keadaan siswa, keadaan sarana dan prasarana, serta struktur organisasi di MI X. B. Deskripsi data meliputi : penyajian data hasil interview, hasil observasi, dan hasil angket. C. Analisis data dan pengujian hipotesis yang meliputi analisis data tentang pelaksanaan teknik bertanya pada pembelajaran fiqih, analisis data tentang partisipasi belajar siswa dan analisis data tentang efektivitas teknik bertanya dalam meningkatkan partisipasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqih di MI X.
BAB V PENUTUP. Yang menguraikan tentang A. Kesimpulan dan B. Saran.
SKRIPSI HUBUNGAN AKTIFITAS BELAJAR KELOMPOK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI X

SKRIPSI HUBUNGAN AKTIFITAS BELAJAR KELOMPOK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI X

(KODE : PEND-AIS-0067) : SKRIPSI HUBUNGAN AKTIFITAS BELAJAR KELOMPOK DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI X




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Secara kodrati manusia adalah makhluk individu dan makhluk social. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk social, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun tidak terlepas dari individu yang lain, hidup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dengan lingkungan, interaksi dengan sesamanya maupun interaksi dengan Tuhannya. Sebagaimana firman Allah :
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat : 13)
Dari ayat tersebut di atas, hendaknya manusia mampu hidup bersama-sama dengan orang lain, maka dituntut adanya suatu kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, sehingga mereka dapat mengintegrasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat.
Di dalam dunia pendidikan juga ada istilah interaksi yang dinamakan interaksi edukatif. Yaitu interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain apa yang dinamakan interaksi edukatif secara khusus adalah sebagai interaksi belajar mengajar. Belajar dapat juga diartikan sebagai : "Suatu perubahan tingkah laku karena hasil pengalaman yang diperoleh".
Dari pengertian belajar di atas, maka keaktifan siswa sebagai subyek belajar sangat menentukan. Jadi tidak benar adanya suatu anggapan bahwa siswa hanya sebagai obyek pendidikan yang hanya dapat menyimak dan mendengarkan informasi atau pengetahuan yang diberikan gurunya. Dengan demikian di dalam proses interaksi belajar mengajar guru sebagai pengajar tidak boleh mendominasi kegiatan tetapi sebagai seorang guru harus mampu menciptakan kondisi yang kondusif.
Disamping itu tugas guru adalah memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreativitasnya melalui kegiatan belajar. Sehingga dengan demikian diharapkan potensi siswa sedikit demi sedikit dapat berkembang menjadi, manusia yang aktif dan kreatif yang beriman.
Pentingnya motivasi dan bimbingan guru dalam hal belajar siswa dapat dilihat dari pendapat Prof. Dr. Oemar Mohammad al Toumy al Asy Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam, menyatakan :
Menjaga motivasi, kebutuhan, minat dan keinginannya pada proses belajar sangat penting sebab dengan menggerakkan motivasi dan berbagai aktifitas yang diminta pelajar serta metode-metode yang baik dapat menjadikan pelajar lebih giat dan lebih aktif dalam belajarnya. Dengan demikian barang siapa yang belajar berdasar pada motivasi yang kuat maka tidak akan mudah lelah dan cepat bosan. Oleh karena itu perlulah guru memelihara motivasi pelajar seperti kebutuhan, keinginan dan cara-cara pengajaran yang baik agar dapat menjamin sikap positif pelajar dan kecintaannya terhadap pelajaran.
Belajar kelompok yang dimaksudkan haruslah benar-benar mendapatkan kontrol dan pembinaan yang kontinyu dari guru-guru sebab tanpa adanya pembinaan dan kontrol dari guru, motifasi siswa untuk belajar menjadi lemah bahkan akan berakibat negatif.
Salah satu usaha untuk membangkitkan motivasi siswa yaitu memberikan suatu, yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga siswa ingin mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya guru perlu menjelaskan tujuan belajar kelompok pada setiap kontrol yang dilaksanakannya, sebab belajar kelompok yang dibentuk tanpa diikuti oleh kontrol dan pembinaan yang kontinyu dari guru, siswa akan merasa mendapatkan tambahan pekerjaan yang memberatkan dirinya, terlebih lagi bagi siswa yang belum menyadari pentingnya belajar kelompok, sebaliknya belajar yang benar-benar mendapatkan pembinaan yang kontinyu dari guru, secara psikologis akan membuat siswa mempunyai perasaan lebih aman, sebab siswa merasa mendapatkan perlindungan dari gam sehingga siswa akan terdorong untuk lebih giat lagi.
Adanya prestasi belajar yang baik dalam belajar akan merupakan dorongan yang positif bagi siswa sehingga gairah dan minat belajar akan semakin kuat, karena tanpa adanya dorongan atau situasi yang dap at membangkitkan minat belajar anak, maka jangan diharap si anak berprestasi seperti yang diharapkan.
Berkaitan dengan proses belajar mengajar, hal tersebut berarti bahwa siswa akan lebih baik dan lebih giat belajarnya, apabila usaha tersebut berhasil baik dan sebaliknya mereka tidak akan berminat belajar bila usahanya tidak berhasil dengan baik.
Prestasi belajar yang baik tidak hanya berpengaruh terhadap gairah belajar saja, akan tetapi memberikan pengalaman yang membangkitkan bermacam-macam sifat, sikap dan kesanggupan yang konstruktif, selain itu juga akan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi siswa, ia akan berfikir secara kritis dan kreatif, ia akan belajar bekerja sama dalam memecahkan masalah-masalah dan ia akan belajar mengenal kesanggupan yang ada pada dirinya sendiri.
Usaha yang dilakukan guru dalam mencapai prestasi belajar anak yang baik adalah dengan cara membentuk belajar kelompok yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan, sebab dalam sistem belajar kelompok terdapat interaksi atau hubungan yang sangat erat antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Sikap saling membantu dapat memudahkan siswa didalam manghadapi kesulitan khususnya yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Sikap saling membantu dan menolong di dalam kebaikan ini sejalan dengan ajaran Islam, sebagaimana firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al Maidah : 2)
Dengan demikan usaha dengan melalui belajar kelompok dimungkinkan dapat terbentuknya siswa yang cerdas dan berprestasi, sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah dalam urusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 3 yang berbunyi :
"Penidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab"
Bertitik tolak dari uraian tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk mengadakan penelitian yang berjudul : "Hubungan Aktiftas Belajar Kelompok dengan Prestasi Belajar Siswa MTs. Negeri X Kabupaten X"

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diungkapkan terdahulu, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Rumusan masalah umum
Adakah hubungan antara aktifitas belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X. Dan jika ada hubungan, maka sejauh mana hubungan tersebut
2. Rumusan Masalah Khusus
a. Ingin mendiskripsikan hubungan antara tanggung jawab terhadap kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X . Dan jika ada hubungan, sejauh manaah hubungan tersebut.
b. Ingin mendiskripsikan hubungan antara keterlibatan dalam kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X. Dan jika ada hubungan, maka sejauh manakah hubugan tersebut.
c. Ingin mendeskripsikan hubungan antara kedisiplinan dalam kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X . Dan jika ada hubungan, maka sejauh manakah hubugan tersebut.

C. Tujuan Penelitian
Penerapan tujuan yang jelas, sudah barang tentu akan mempermudah paencapaian dalam rangka memperoleh hasil yang optimal.
Tujuan diartikan sebagai target yang hendak dicapai di dalam suatu penelitian, yang nantinya dapat berfungsi sebagai bukti kebenaran dari teori yang diungkapkannya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Drs. S. Margono, yang menyatakan : "Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mengenai masalah-masalah pendidikan".
Dari pengertian di atas, maka dalam penelitian ini mempunya tujuan sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Untuk mendiskripsikan adakah hubungan antara aktifitas belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X Tahun Pelajaran 2008/2009. Dan jika ada hubungan, maka sejauh mana hubungan tersebut.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendiskripsikan hubungan antara tanggung jawab terhadap kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X . Dan jika ada hubungan, sejauh manaKah hubungan tersebut.
b. Untuk mendiskripsikan hubungan antara keterlibatan dalam kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X . Dan jika ada hubungan, maka sejauh manakah hubugan tersebut.
c. Ingin mendeskripsikan hubungan antara kedisiplinan dalam kegiatan belajar kelompok dengan prestasi belajar siswa MTs. Negeri X Kabupaten X . Dan jika ada hubungan, maka sejauh manakah hubugan tersebut.

D. Sistematika Pembahasan
Bab I Pendahuluan
Dalam pembahasan ini, dibahas secara berurutan yaitu : Latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, tujuan pembahasan.
Bab II Tinjauan Teoritis dan Hipotesis.
Dibahas secara berurutan sebagai berikut : Fungsi Teori dan hipotesa dalam penelitian yang terdiri dari dua sub pembahasan yaitu fungsi hipotesa, selanjutnya dibahas tinjauan teoritis tentang aktivitas belajar kelompok yang terdiri dari tiga sub pembahasan yaitu pengertian aktifitas belajar kelompok, tujuan dan keguanaan belajar kelompok. Kemudian dibahas tentang tinjauan teoritis tentang pretasi belajar yang terdiri dari dua sub pembahasan yaitu pengertian prestasi belajar, faktor-faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar, selanjutnya dibahas tinjauan teoritis tentang hubungan aktifitas belajar kelompok dengan prestasi belajar dan yang terakhir adalah hipotesis.
Bab III Metode Penelitian
Dalam bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi rancangan penelitian, pengumpulan data dan analisis data.
Bab IV Laporan Penelitian.
Dalam bab ini akan dipaparkan tentang data yang dapat diperoleh selama penelitian, yang meliputi : latar belakang obyek, penyajian data, kemudian setelah data terkumpul, maka diadakan analisa data untuk menguji kebenaran hipotesa yang diajukan. Kemudian diakhiri dengan diskusi dan interpretasi.
Bab V Penutup
Pada bab ini akan disajikan tentang kesimpulan sebagai hasil dari penelitian secara keseluruhan, saran-saran yang dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan akan diakhiri dengan penutup.