Search This Blog

Skripsi Pengaruh Pembelajaran Kimia Dengan Metode Scientific Inquiry Dan Demonstrasi Dengan Memperhatikan Sikap Ilmiah Siswa Terhadap Prestasi Belajar

Skripsi Pengaruh Pembelajaran Kimia Dengan Metode Scientific Inquiry Dan Demonstrasi Dengan Memperhatikan Sikap Ilmiah Siswa Terhadap Prestasi Belajar

(Kode PENDMIPA-0012) : Skripsi Pengaruh Pembelajaran Kimia Dengan Metode Scientific Inquiry Dan Demonstrasi Dengan Memperhatikan Sikap Ilmiah Siswa Terhadap Prestasi Belajar Pada Pokok Bahasan Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit Siswa Kelas X Semester 2 SMA Negeri X


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
Ilmu kimia sebagai cabang dari ilmu pengetahuan alam dan diajarkan di SMA mempunyai tujuan pengajaran antara lain agar siswa menguasai konsep-konsep kimia serta penerapannya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam teknologi, serta mampu menerapkan sebagai konsep kimia untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi secara ilmiah (Depdiknas, 2004 : 2). Dalam proses pengajaran kimia selama ini, peranan guru lebih dominan dibanding dengan peranan siswa. Hal ini sudah tidak sesuai lagi dengan kurikulum 2004, yang menitikberakan pada ketrampilan proses. Apalagi sekarang ini sudah ada pembaharuan kurikulum lagi, dimana mulai tahun ajaran 2003/2004 sudah mulai uji coba kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dalam KBK ini, peranan guru dalam menentukan pola kegiatan belajar mengajar di kelas bukan ditentukan oleh didaktik metodik “apa yang akan dipelajari“ saja, melainkan “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak“. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interraksi aktif dengan teman, lingkungan dan narasumber lain.
Pembelajaran di sini perlu diubah dari sekedar memahami konsep dan prinsip keilmuan yaitu kandungan ilmu, siswa juga harus memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan konsep dan prinsip keilmuan yang telah dikuasai. Agar pembelajaran kimia di SMA lebih bermakna perlu diupayakan peningkatan mutu pendidikan yaitu diterapkannya m etode mengajar yang memberikan tekanan pada keterlibatan siswa dalam proses yang aktif.
Keterampilan proses akan terbina dalam diri siswa apabila dalam kegiatan belajar dan mengajar menggunakan metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembentukan konsep sendiri atau melalui pendekatan keterampilan proses, sehingga dapat meningkatkan cara berpikir siswa dan untuk meningkatkan pengetahuan.
Dalam kegiatan belajar mengajar yang berorientasikan pada keaktifan dan kemandirian siswa, maka siswa perlu mencoba sendiri, mencari jawaban sendiri dalam memecahkan masalah, bekerja sama dengan teman sekelas, menyimpulkan hasil kerja sama dan lain sebagainya. Guru hanya membantu mengarahkan siswa dan bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Dengan kata lain pengalaman belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba sendiri mencapai tujuannya.
Dalam pembelajaran kimia di SMA banyak pokok bahasan yang menuntut siswa melaksanakan eksperimen, salah satunya adalah Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit. Pembelajaran materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit berdasarkan kurikulum 2004 harus sesuai dengan karakteristik konsep kimia yang menekankan pada ketrampilan proses.Dalam kurikulum ini disebutkan bahwa standar kompetensi yang harus dicapai oleh siswa adalah ”mendeskripsikan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya”. Standar kompetensi ini dituangkan dalam kompetensi dasar, yaitu menyelidiki daya hantar listrik berbagai larutan untuk membedakanLarutan Elektrolit dan Non Elektrolit dengan melaksanakan percobaan dan menafsirkan hasilnya. Pencapaian kompetensi dasar tersebut dapat dikembangkan melalui pemilihan metode pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar bagi siswa untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Untuk itu dalam pembelajarannya perlu digunakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembentukan konsep sehingga dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar.
Metode pembelajaran yang bisa digunakan pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit antara lain metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi. Melalui kegiatan Scientific Inquiry siswa akan dimotivasi lebih banyak karena siswa terlibat langsung dalam penemuan konsep atau prinsip. Untuk membuat penemuan-penemuan konsep melalui kegiatan Scientific Inquiry siswa harus melakukan proses-proses mental misalnya mengamati, menggolong- golongkan, membuat dugaan, menjelaskan dan menarik suatu kesimpulan. Program pengembangan metode mengajar yang berorientasi pada penemuan ilmiah harus disertai pengadan sarana laboratorium yang cukup memadai agar dihasilkan prestasi belajar yang lebih baik. Metode pengajaran yang diterapkan dalam pencapaian konsep kimia harus mampu mendorong siswa secara aktif bekerja dengan metode ilmiah. Siswa melakukan sendiri kegiatan eksperimen dengan panduan guru sehingga dapat menemukan konsep materi yang dipelajari. Konsep yang didapat akan bertahan lama dan mendalam dalam ingatan siswa. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian dalam usaha peningkatan peran aktif siswa dalam penemuan suatu konsep.
Metode mengajar yang juga bisa digunakan adalah metode demonstrasi dimana biasanya guru yang melakukan percobaan dan siswanya mengamati. Tetapi dalam penelitian ini metode demonstrasi divariasikan dengan menggunakan konflik kognitif. Konflik kognitif yang dimaksud adalah guru memberikan pertanyaan yang berisi permasalahan yang berhubungan dengan materi dimana pertanyaan ini memungkinkan beberapa jawaban yang bermacam-macam dari siswa sesuai dengan pemikiran dan pengetahuan masing-masing siswa yang akan menimbulkan konflik, dan untuk membuktikan kebenaran jawaban itu dilakukan demonstrasi oleh guru sehingga siswa benar-benar tahu jawaban yang sebenarnya. Dalam metode ini siswa ikut serta aktif dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa ini ditunjukkan dengan munculnya bermacam-macam dugaan jawaban yang tentunya saling bertentangan dan siswa diajak oleh guru untuk membuktikan kebenaran jawaban melalui percobaan.
Penggunaan metode pengajaran yang menuntut siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran terutama pada materi yang berhubungan dengan praktikum akan menimbulkan suatu sikap ilmiah. Antara siswa yang satu dengan siswa yang lain mempunyai sikap ilmiah yang berbeda-beda yang akan mempengaruhi hasil belajar.
SMA Negeri X adalah SMA yang mempunyai sarana laboratorium yang cukup lengkap dan telah menggunakan KBK. Tetapi dalam kenyataannya dalam proses pembelajaran kimia belum sepenuhnya menggunakan pengajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum. Sarana laboratorium yang ada belum digunakan sebagaimana mestinya sehingga siswa kurang mampu menerapkan konsep materi yang ada. Walaupun dinilai sudah cukup berhasil namun ada beberapa kekurangan yaitu siswa kurang memperhatikan guru saat mengajar, waktu belajar habis digunakan untuk mendengar dan mencatat, sehingga situasi belajar cenderung pasif, maka siswa cepat merasa bosan dan mengantuk dan tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar.
Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi permasalahan sekarang adalah metode mengajar apa yang memberikan hasil yang lebih baik terhadap pencapaian prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit antara metode mengajar Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dengan memperhatikan sikap ilmiah siswa. Untuk mengetahui metode mengajar apa yang memberikan pencapaian prestasi belajar yang lebih baik pada pembelajaran kimia pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit, maka dilakukan penelitian dengan judul :” Pengaruh Pembelajaran Kimia dengan Metode Scientific Inquiry dan Metode Demonstrasi dengan Memperhatikan Sikap Ilmiah Siswa terhadap Prestasi Belajar pada Pokok Bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit Siswa SMA Negeri X Kelas X Semester 2 Tahun Ajaran X”.

B. Identifikasi Masalah
Masalah yang timbul sehubungan dengan penggunaan metode Scientific Inquiry dan Demonstrasi pada Pokok Bahasan Larutan Elektrolt dan Non Elektrolit dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Apakah metode mengajar Scientific Inquiry dan Demonstrasi dapat digunakan dalam pembelajaran Kimia pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit ?
2. Apakah penggunaan metode mengajar Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dalam pembelajaran Kimia pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?
3. Apakah pembelajaran kimia dengan metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dapat mempengaruhi prestasi belajar dengan memperhatikan sikap ilmiah siswa pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit?
4. Apakah sikap ilmiah siswa berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dengan metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit ?
5. Adakah interaksi antara metode pengajaran (metode Scientific Inquiry dan metode demonstrasi) dengan sikap ilmiah siswa terhadap prestasi belajar pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit?

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka perlu pembatasan masalah agar penelitian dapat terarah dan terfokus antara lain :
1. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah siswa kelas X Semester Genap SMA Negeri X tahun pelajaran X.
2. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Scientific Inquiry (untuk kelas eksperimen-1) dan metode Demontrasi (untuk kelas eksperimen- 2).
3. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang dipilih dalam pembelajaran kimia pada penelitian ini adalah pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non elektrolit.
4. Penilaian
Dalam penelitian ini penilaian yang digunakan adalah penilaian kognitif dan afektif.

D. Perumusan Masalah
Dengan mempertimbangkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran kimia dengan metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dapat mempengaruhi prestasi belajar dengan memperhatikan sikap ilmiah siswa pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit siswa kelas X Semester 2 SMA Negeri X ?
2. Apakah sikap ilmiah siswa berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dengan metode Scientific Inquiry dan metode demonstrasi pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit siswa kelas X Semester 2 SMA Negeri X ?
3. Adakah interaksi antara metode pengajaran (metode scientific inquiry dan metode demonstrasi) dengan sikap ilmiah siswa terhadap prestasi belajar pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit siswa kelas X Semester 2 SMA Negeri X ?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengam masalah yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan antara lain :
1. Untuk mengetahui pembelajaran kimia dengan metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dapat mempengaruhi prestasi belajar dengan memperhatikan sikap ilmiah siswa pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit siswa kelas X Semester 2 SMA Negeri X
2. Untuk mengetahui sikap ilmiah siswa berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar dengan metode Scientific Inquiry dan metode demonstrasi pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit siswa kelas X Semester 2 SMA Negeri X.
3. Untuk mengetahui adanya interaksi antara metode pengajaran (metode scientific inquiry dan metode demonstrasi) dengan sikap ilmiah siswa terhadap prestasi belajar pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit siswa kelas X Sememster 2 SMA Negeri X.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Memperkuat teori yang sudah ada dalam bidang pendidikan khususnya teori tentang pembelajaran kimia dengan metode Scientific Inquiry dan metode Demonstrasi dapat mempengaruhi prestasi belajar dengan memperhatikan sikap ilmiah siswa.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan masukan kepada pengajar bidanng sudi kimia dalam pemilihan metode pembelajaran yang diharapkan lebih memberikan efektivitas pembelajaran.
b. Sebagai sumbangan informasi tentang gambaran nyata pembelajaran kimia yang menggunakan metode Scientific Inquiry maupun yang menggunakan metode Demonstrasi pada pokok bahasan Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit.
c. Memberikan masukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar kimia.
Skripsi Pengaruh Metode Kooperatif STAD dan TAI Yang Dimodifikasi Dengan Praktikum Dengan Memperhatikan EQ (Emotional Quotient) Siswa

Skripsi Pengaruh Metode Kooperatif STAD dan TAI Yang Dimodifikasi Dengan Praktikum Dengan Memperhatikan EQ (Emotional Quotient) Siswa

(Kode PENDMIPA-0011) : Skripsi Pengaruh Metode Kooperatif (Student Team Achievement Divisions Dan Team Assisted Individualization) Yang Dimodifikasi Dengan Praktikum Dengan Memperhatikan EQ (Emotional Quotient) Siswa Terhadap Prestasi Belajar Pada Materi Pokok Penentuan ?H Reaksi SMAN X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung sangat pesat. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, setiap negara dituntut untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang mempunyai kesiapan mental dan kemampuan berpartisipasi mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat meningkatkan kualitas bangsa itu sendiri.
Pendidikan merupakan faktor utama yang menentukan kualitas suatu bangsa. Pendidikan bukanlah sesuatu yang bersifat statis melainkan sesuatu yang bersifat dinamis sehingga selalu menuntut adanya suatu perbaikan yang bersifat terus menerus. Peran pendidikan yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan terus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Berbagai upaya telah dilakukan antara lain pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas guru, penyediaan kepustakaan dan laboratorium, penataan manajemen pendidikan serta penerapan produk teknologi.
Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia adalah kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, dan kurikulum yang saat ini sedang diimplementasikan adalah kurikulum 2004 (Nurhadi, 2004 : 2).
Kurikulum 2004 disebut juga kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah sebuah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Nurhadi, 2004 : 18).
Kimia merupakan salah satu pelajaran IPA yang pada hakekatnya merupakan pengetahuan yang berdasarkan fakta, hasil pemikiran dan produk hasil penelitian yang dilakukan para ahli, sehingga untuk kemudian perkembangan kimia diarahkan pada produk ilmiah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dan akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi belajar siswa. Namun dari data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga X pada tahun X menunjukkan bahwa masih ada beberapa SMA/MA/SMK baik negeri maupun swasta yang mempunyai Nilai Ujian Akhir Sekolah rata-rata untuk mata pelajaran kimia kurang dari enam pada tahun pelajaran X.
Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Nilai Ujian Akhir Sekolah Rata-rata Mata Pelajaran Kimia Beberapa SMA/MA/SMK di X Tahun Pelajaran X

** TABEL SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN **

Rendahnya prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran kimia tahun pelajaran X, karena proses belajar mengajar hanya berpusat pada guru, sehingga siswa tidak ikut terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar tersebut.
Ketepatan dalam penggunaan metode mengajar yang dilakukan oleh guru akan dapat membangkitkan motivasi dan minat terhadap mata pelajaran yang diberikan, juga terhadap proses dan pencapaian hasil belajar siswa. Metode mengajar yang baik adalah metode yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, kondisi siswa, sarana dan prasarana yang tersedia serta tujuan pengajarannya.
Berkaitan dengan hal di atas, perlu diupayakan suatu bentuk pembelajaran yang tidak hanya mampu secara materi saja tetapi juga mempunyai kemampuan yang bersifat formal, sehingga selain diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa diharapkan juga metode pembelajaran yang diterapkan dapat membuat siswa aktif terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar semaksimal mungkin yaitu dengan cara siswa menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya, mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya.
Berkaitan dengan semakin perlunya reformasi metode pembelajaran dan mengingat pentingnya interaksi kooperatif tersebut, maka penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pendidikan menjadi sangat penting. Menurut pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif adalah menciptakan suatu situasi sedemikian hingga keberhasilan salah satu anggota kelompok diakibatkan oleh keberhasilan kelompok itu sendiri. Oleh sebab itu, untuk menciptakan tujuan dari salah satu anggota, maka salah seorang anggota tersebut harus membantu kelompoknya dengan melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil (Slavin, 1995: 5).
Metode STAD (Student Team Achievement Divisions) sebagai contoh metode pembelajaran kooperatif berdasarkan penelitian Budi Usodo (1999) terbukti efektif jika diterapkan pada materi hitungan yang memerlukan pemahaman konsep pada materi sebelumnya contohnya penentuan ?H reaksi. Materi pokok penentuan ?H reaksi berhubungan dengan hitungan sehingga kurang diminati siswa. Siswa pada umumnya kesulitan dalam memahami jenis-jenis ?H reaksi dan penentuan reaksi yang terjadi.
Metode kooperatif lain yang digunakan peneliti adalah TAI (Team Assisted Individualization). Metode TAI merupakan metode pembelajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam suatu kelompok. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Metode pembelajaran TAI akan memotivasi siswa saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetensi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif. Menurut penelitian dari Indah Wijayanti (2006) metode pembelajaran TAI dapat diterapkan pada materi hitungan dan materi yang adanya suatu kegiatan praktikum. Materi penentuan ?H reaksi bersifat hitungan sehingga metode TAI dapat diterapkan. Metode pembelajaran TAI dapat dimodifikasi dengan praktikum. Kesulitan pemahaman materi yang tidak dapat dipecahkan secara individual dapat dipecahkan bersama dengan asisten serta bimbingan guru. Kesulitan pemahaman konsep dapat dipecahkan bersama karena keberhasilan dari setiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Metode pembelajaran TAI dapat menghemat waktu presentasi guru sehingga waktu pembelajaran lebih efektif dan dittikberatkan pada keaktifan siswa.
Dalam pengajaran IPA pencapaian tujuan pendidikan kimia lebih didukung adanya kegiatan laboratorium dan kokurikuler, terutama untuk menggiatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Kiranya tidak dapat disangsikan lagi bahwa praktikum yang merupakan salah satu kegiatan laboratorium, sangat berperan dalam menunjang proses belajar mengajar IPA, dapat melatih ketrampilan berpikir ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan masalah barumengenai metode ilmiah dan sebagainya (Moh. Amin, 1988 : 89).
Kebanyakan pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan intelektual (IQ) saja, masyarakat beranggapan bahwa seorang siswa yang IQ-nya tinggi pastilah lebih berhasil daripada siswa dengan IQ rendah. Sedangkan pada kenyataannya untuk keberhasilan dalam menempuh kehidupan tidak hanya cukup dengan kecerdasan intelektual tetapi juga diperlukan kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan emosional merupakan sumber utama motivasi, informasi, dan inovasi sehingga bukan hanya penting untuk keberhasilan pembelajaran, tetapi penting pula untuk keberhasilan kehidupan seseorang (Sutratinah Tirtonegoro, 1991: 12). Setiap siswa memiliki kecerdasan emosional yang berbeda-beda yang berperan penting dalam keberhasilan belajar dan menentukan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator proses belajar yang dicapai siswa.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis terdorong untuk mengadakan suatu penelitian yang akan membandingkan metode kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum yang ditinjau dari EQ siswa terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok penentuan ?H reaksi.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Masih relatif rendahnya perolehan nilai ujian akhir sekolah atau prestasi belajar siswa pada pelajaran kimia di SMA Negeri X.
2. Perbedaan penggunaan metode pembelajaran kemungkinan akan berpengaruh pada perbedaan prestasi belajar.
3. Ketepatan dalam pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. EQ kemungkinan berpengaruh pada pencapaian hasil belajar siswa.
5. Perbedaan tingkat EQ mungkin menyebabkan perbedaan prestasi belajar siswa.
6. Adanya perbedaan tingkat EQ pada siswa dengan metode STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum kemungkinan dapat mempengaruhi prestasi belajar kimia.

C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini hanya dibatasi pada:
1. Penelitian metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum.
2. Materi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada materi pokok penentuan ?H reaksi.
3. Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Ilmu Alam semester 1 SMA Negeri X Tahun Pelajaran X.
4. Prestasi belajar siswa yang memiliki EQ tinggi dan rendah pada materi penentuan ?H reaksi.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat perbedaan pengaruh antara metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi ?
2. Apakah terdapat perbedaan pengaruh antara siswa yang memiliki EQ tinggi dan siswa yang memiliki EQ rendah pada metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi ?
3. Apakah terdapat interaksi pengaruh antara metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum serta tinggi rendahnya EQ siswa terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi ?

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Perbedaan antara metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi.
2. Perbedaan antara siswa yang memiliki EQ tinggi dengan siswa yang memiliki EQ rendah pada metode pembelajaran kooperatif STAD dan TAI yang dimodifikasi dengan praktikum terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi.
3. Interaksi antara tinggi rendahnya EQ siswa yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif STAD dan tinggi rendahnya EQ siswa yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif TAI yang dimodifikasi dengan praktikum terhadap prestasi belajar kimia materi pokok penentuan ?H reaksi.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan:
1. Manfaat Praktis:
a. Masukan kepada guru maupun tenaga kependidikan lainnya agar lebih mencermati dalam menentukan model pembelajaran sehingga mencapai tujuan dengan baik.
b. Memberikan masukan dalam pemilihan strategi pembelajaran yang diharapkan lebih memberikan efektivitas pembelajaran (terutama dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi).
2. Manfaat Teoritis:
Untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam mendukung teori-teori yang telah ada berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Skripsi Pengamanan Pesan Rahasia Menggunakan Algoritma Kriptografi Elgamal Atas Grup Pergandaan Zp

Skripsi Pengamanan Pesan Rahasia Menggunakan Algoritma Kriptografi Elgamal Atas Grup Pergandaan Zp

(Kode PENDMIPA-0008) : Skripsi Pengamanan Pesan Rahasia Menggunakan Algoritma Kriptografi Elgamal Atas Grup Pergandaan Zp

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dewasa ini telah berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal berkomunikasi. Dengan adanya internet, komunikasi jarak jauh dapat dilakukan dengan cepat dan murah. Namun di sisi lain, ternyata internet tidak terlalu aman karena merupakan media komunikasi umum yang dapat digunakan oleh siapapun sehingga sangat rawan terhadap penyadapan informasi oleh pihak-pihak yang tidak berhak mengetahui informasi tersebut. Oleh karena penggunaan internet yang sangat luas seperti pada bisnis, perdagangan, bank, industri dan pemerintahan yang umumnya mengandung informasi yang bersifat rahasia maka keamanan informasi menjadi faktor utama yang harus dipenuhi. Berbagai hal telah dilakukan untuk mendapatkan jaminan keamanan informasi rahasia ini. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menyandikan isi informasi menjadi suatu kode-kode yang tidak dimengerti sehingga apabila disadap maka akan kesulitan untuk mengetahui isi informasi yang sebenarnya.
Metode penyandian yang pertama kali dibuat masih menggunakan metode algoritma rahasia. Metode ini menumpukan keamanannya pada kerahasian algoritma yang digunakan. Namun metode ini tidak efisien saat digunakan untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Oleh karena itu seseorang harus membuat algoritma baru apabila akan bertukar informasi rahasia dengan orang lain.
Karena penggunaannya yang tidak efisien maka algoritma rahasia mulai ditinggalkan dan dikenalkan suatu metode baru yang disebut dengan algoritma kunci. Metode ini tidak menumpukan keamanan pada algoritmanya, tetapi pada kerahasian kunci yang digunakan pada proses penyandian. Algoritmanya dapat diketahui, digunakan dan dipelajari oleh siapapun. Metode algoritma kunci mempunyai tingkat efisiensi dan keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan algoritma rahasia. Sampai sekarang algoritma kunci masih digunakan secara luas di internet dan terus dikembangkan untuk mendapatkan keamanan yang lebih baik.
Algoritma ElGamal merupakan salah satu dari algoritma kunci. Algoritma ini dikembangkan pertama kali oleh Taher ElGamal pada tahun 1985. Sampai saat ini, algoritma ElGamal masih dipercaya sebagai metode penyandian, seperti aplikasi PGP dan GnuPG yang dapat digunakan untuk pengamanan e-mail dan tanda tangan digital. Pada tahun 1994 pemerintah Amerika Serikat mengadopsi Digital Signature Standard, sebuah mekanisme penyandian yang berdasar pada algoritma ElGamal.

1.2. Perumusan Masalah
Masalah yang dibahas pada skripsi ini adalah konsep-konsep matematis yang melandasi pembentukan algoritma ElGamal, proses penyandian serta implementasi algoritma ElGamal dalam bentuk sebuah program komputer yang sederhana.

1.3. Batasan Masalah
Pada skripsi ini, pembahasan algoritma ElGamal meliputi konsep matematis yang melandasinya dan proses penyandiannya. Serta mengenai pembuatan sebuah program komputer yang digunakan untuk menyandikan suatu pesan. Program ini merupakan implementasi algoritma ElGamal dan dibuat menggunakan bahasa Pascal. Pada skripsi ini tidak membahas mengenai sulitnya dan cara-cara untuk memecahkan mekanisme penyandian.

1.4. Maksud dan Tujuan
Selain untuk memenuhi syarat kelulusan program Strata-1 (S1) program studi Matematika Universitas Gadjah Mada, penyusunan skripsi ini bertujuan untuk mempelajari konsep matematis yang melandasi pembentukan algoritma ElGamal dan penggunaannya. Sedangkan pembuatan program komputer hanya ditujukan sebagai contoh semata agar mempermudah pemahaman.

1.5. Tinjauan Pustaka Algoritma ElGamal banyak dibahas pada buku-buku kriptografi, tetapi masih sedikit yang membahas secara mendetail tentang konsep-konsep matematisnya. Stinson (1995) telah menjelaskan secara umum tentang algoritma ElGamal beserta sistem pendukungnya. Buchmann (2000) secara khusus menitikberatkan pada pemahaman konsep dasar matematis dari algoritma ElGamal, seperti teori bilangan bulat, persamaan kongruen, dan struktur aljabar abstrak yang meliputi grup, homomorfisma dan gelanggang. Pembahasan aljabar abstrak yang lebih terperinci diberikan oleh Fraleigh (2000), namun tidak ada pembahasan yang mengaitkan secara langsung dengan algoritma ElGamal. Sedangkan implementasi algoritma ElGamal diberikan oleh Menezes, Oorschot dan Vanstone (1996), termasuk penjelasan beberapa algoritma yang dapat digunakan untuk membuat program komputer.

1.6. Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam pembuatan skripsi ini adalah dengan terlebih dahulu melakukan studi literatur mengenai algoritma ElGamal pada beberapa buku, paper, maupun situs internet yang berhubungan dengan algoritma ElGamal. Kemudian penulis mengambil beberapa materi yang menjelaskan mengenai algoritma ElGamal dan membahasnya. Langkah terakhir adalah melakukan perancangan dan menerapkan algoritma tersebut menggunakan bahasa Pascal untuk membuat sebuah program komputer yang digunakan untuk menyandikan pesan.

1.7. Sistematika Penulisan
Dalam skripsi ini pembahasan materi disusun menjadi tujuh bab. Materi tersebut disusun dengan sistematika berikut ini.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang, perumusan masalah, batasan masalah, maksud dan tujuan penulisan skripsi, tinjauan pustaka, metode penulisan, serta sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini dibahas mengenai tiga landasan teori yang harus dipahami sebelum membahas bagian inti dari skripsi ini, yaitu mengenai kriptografi, bilangan bulat dan struktur aljabar. Pada bagian kriptografi akan diberikan definisi kriptogafi, algoritma kriptografi dan sistem kriptografi. Pada bagian bilangan bulat akan dibahas mengenai beberapa sifat bilangan bulat seperti divisibility, algoritma pembagian pada bilangan bulat, representasi bilangan bulat, pembagi persekutuan terbesar, algoritma Euclide, serta faktorisasi ke bilangan prima. Sedangkan pada pembahasan mengenai struktur aljabar akan dibahas mengenai grup, grup siklik, partisi dan relasi ekuivalensi, homomorfisma, grup fakor, gelanggang, dan lapangan.
BAB III PERSAMAAN KONGRUEN DAN HIMPUNAN BILANGAN BULAT MODULO
Pada bab ini dibahas mengenai konsep-konsep dasar matematika yang secara khusus mendasari pembentukan algoritma ElGamal yang meliputi persamaan kongruen, himpunan bilangan bulat modulo, gelanggang bilangan bulat modulo, grup pergandaan bilangan bulat modulo, Euler j -function, teorema Fermat, metode fast exponentiation, grup unit atas lapangan berhingga dan elemen primitif.
BAB IV TES KEPRIMAAN
Pada bab ini dibahas mengenai dua tes keprimaan (primality test), yaitu tes Fermat dan tes Miller-Rabbin. Tes keprimaan merupakan suatu algoritma yang digunakan untuk mengecek apakah suatu bilangan bulat positif ganjil merupakan bilangan prima atau bukan.

BAB V MASALAH LOGARITMA DISKRET DAN ALGORITMA ELGAMAL
Pada bab ini dibahas dua hal yang menyangkut algoritma ElGamal, yaitu masalah logaritma diskret yang mendasari pembentukan algoritma ElGamal dan proses penyandian menggunakan algoritma ElGamal. Pada penjelasan mengenai proses penyandian dijelaskan tiga hal yaitu proses pembentukan kunci, proses enkripsi dan proses dekripsi. Serta diberikan contoh kasus penggunaannya.
BAB VI IMPLEMENTASI DAN UJI COBA
Bab ini membahas mengenai langkah- langkah pembuatan program komputer yang digunakan untuk menyandikan suatu pesan menggunakan algoritma ElGamal. Serta pembahasan hasil uji coba program tersebut.
BAB VII PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran-saran yang dapat diambil berdasarkan materi-materi yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya.
Skripsi Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Student Team Achievement Division (STAD) Disertai LKS Untuk Penguatan Konsep Materi Pokok Ekosistem

Skripsi Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Student Team Achievement Division (STAD) Disertai LKS Untuk Penguatan Konsep Materi Pokok Ekosistem

(Kode PENDMIPA-0007) : Skripsi Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Student Team Achievement Division (STAD) Disertai LKS Untuk Penguatan Konsep Materi Pokok Ekosistem

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pemahaman siswa merupakan hal yang sangat penting bagi tenaga pengajar di dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat menciptakan situasi dan kondisi yang tepat di dalam proses belajar mengajar serta memberi pengaruh yang optimal bagi siswa untuk mencapai hasil belajar yang baik. Pencapaian hasil belajar yang baik dapat dilakukan dengan cara peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Banyak kendala yang dihadapi siswa di dalam kegiatan belajar mengajar, antara lain kurangnya sarana dan prasarana belajar di sekolah, padatnya beban belajar, kurangnya perhatian keluarga terhadap pendidikan anak, dan adanya tantangan dari lingkungan yang tidak kondusif dan sebagainya. Berbagai kendala tersebut secara keseluruhan menimbulkan kesulitan bagi siswa, selain itu proses transfer ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh guru selama ini masih bersifat konvensional, kegiatan yang dilakukan siswa di dalam Proses belajar mengajar adalah mendengar dan mencatat apa yang diceramahkan guru.
Selama ini dalam proses belajar mengajar di SMA Negeri X khususnya untuk materi pokok ekosistem hanya menggunakan metode konvensional (metode ceramah) akibatnya tingkat pemahaman dan penguasaan konsep siswa tidak optimal. Untuk materi pokok ekosistem sebenarnya dapat dijelasakan secara laboratoris atau dengan praktikum agar siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar.
Berpijak dari data empirik tes kemampuan awal siswa memperlihatkan bahwa nilai rata-ratanya adalah 56,66. sedangkan nilai batas tuntas yang harus dicapai siswa di SMA Negeri X adalah 60. Hal ini karena di SMA Negeri X belum ada variasi pembelajaran dalam penyampaian materi pokok ekosistem selain dengan pembelajaran konvensional, sehingga siswa mengalami kejenuhan dalam pembelajaran yang mengakibatkan hasil belajar siswa dalam pemahaman konsep ekosistem belum optimal.
Untuk itu perlu adanya pembaharuan dalam menggunakan pendekatan, model dan metode mengajar agar prestasi belajar siswa dapat meningkat. Adapun salah satu alternatif model pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi 2004 adalah model pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang berpusat pada keaktifan siswa. Dalam pembelajaran ini terdapat proses kebersamaan, dimana proses kebersamaan ini merupakan salah satu metode pengembangan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengamatan proses belajar mengajar dikelas serta diskusi dengan guru, dapat diidentifikasi beberapa faktor penyebab permasalahan yang telah di uraikan diatas. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Guru-guru SMA Negeri X dalam pembelajaran masih berorientasi untuk menghabiskan materi pelajaran yang sangat padat pada kurikulum dari pada pelaksanaan pembelajaran yang bermakna, akibatnya konsep yang dimiliki siswa terhadap materi pelajaran lemah.
2. Metode yang diterapkan masih bersifat konvensional.
3. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru kurang memperhatikan proses tetapi lebih terfokus pada hasil.
4. Interaksi edukatif antara guru dan siswa kurang optimal.
5. Buku ajar yang dimiliki siswa tidak cukup membantu pemahaman materi.
6. Belum nampak adanya inovasi pembelajaran.
Dengan inovasi pembelajaran kooperatif diharapkan siswa tidak merasa jenuh dengan proses pembelajaran, sebab kejenuhan dapat menjadi penghalang selama proses penyerapan informasi dalam kegiatan belajar mengajar.
Dari hasil diskusi dengan guru SMA Negeri X, permasalahan tersebut diatas ternyata hampir semuanya dirasakan oleh guru, masih banyak guru yang mengeluh tentang metode dalam menyampaikan pokok bahasan bersifat abstrak yang sering terjadi miskonsepsi. Maka dampak yang didapatkan dari siswa adalah pemahaman konsep biologi masih rendah dan perlu dicari strategi pembelajaran yang inovatif.
Dalam penelitian yang dilakukan ini model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kooperatif metode Student Team Achievement Divisions (STAD). Saat sekarang ini telah banyak pendekatan dan metode yang ditawarkan agar pembelajaran lebih bermakna. Salah satu alternatif yang bisa diterapkan adalah pembelajaran metode STAD untuk penguatan konsep materi pokok ekosistem.
Pembelajaran kooperatif metode STAD dicirikan oleh adanya suatu struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa bekerja sama di dalam kelompok dalam situasi pembelajaran kooperatif seperti membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dan mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas. Dalam penggunaan metode STAD ini sebelum dilaksanakan kegiatan belajar secara berkelompok guru menekankan konsep-konsep apa yang akan dipelajari dan rangkuman materi yang diberikan pada siswa, selanjutnya guru menyajikan materi pelajaran dengan pengajaran secara langsung. Kegiatan selanjutnya adalah, guru memberikan tugas kelas yang diberikan kepada setiap siswa. Setelah itu dilaksanakan kegiatan kelompok, dimana dalam setiap anggota kelompok mengerjakan lembar kegiatan secara mandiri yang telah disiapkan dan saling mencocokkan jawabannya dengan teman sekelompok. Jika ada seorang siswa yang belum memahami materi maka teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan.
Bertolak dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka perlu dilakukan penelitian sebagai berikut: “PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DISERTAI LKS UNTUK PENGUATAN KONSEP MATERI POKOK EKOSISTEM”.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat diidentifikasi masalah yang ada sebagai berikut:
1. Banyak guru yang kurang memperhatikan keadaan siswa dalam hal kebutuhan, minat, pengalaman, kepandaian sehingga dalam proses belajar mengajar, belum semua guru berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa.
2. Siswa memiliki konsepsi awal yang berbeda-beda mengenai materi pokok ekosistem, sehingga perlu diseragamkan.
3. Masih banyak siswa yang kurang aktif selama mengikuti proses belajar mengajar IPA Biologi, sedangkan siswa hanya mengorganisasikan sendiri apa yang diperoleh tanpa mengkomunikasikan dengan siswa lain.
4. Pendekatan belajar mengajar yang digunakan belum tepat dan belum berdasarkan kebutuhan dari kelas bersangkutan, tetapi lebih karena tuntutan dari pokok bahasannya.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka perlukan diadakan pembatasan masalah agar penelitian lebih efektif dan efisien, maka peneliti membatasi pada masalah berikut:
1. Subyek Penelitian
Subyek penelitian dibatasi pada siswa kelas X.F Semester II SMA Negeri X tahun pelajaran X.
2. Obyek Penelitian
a. Penguatan konsep materi pokok ekosistem dibatasi pada aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotorik pada sub pokok bahasan organisasi kehidupan, komponen penyusun ekosistem, interaksi antar komponen ekosistem, suksesi, dan tipe-tipe ekosistem.
b. Peningkatan kualitas proses pembelajaran dibatasi pada peran serta siswa dikelas, angket performance guru dalam pembelajaran dan peranan siswa dalam belajar kelompok.

D. Perumusan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah pendekatan pembelajaran kooperatif metode STAD disertai LKS dapat meningkatkan penguatan konsep materi pokok ekosistem.
2. Apakah dengan pembelajaran kooperatif metode STAD disertai LKS dapat meningkat kualitas proses pembelajaran biologi materi pokok ekosistem.

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengetahui:
1. Penguatan konsep ekosistem melalui pembelajaran kooperatif metode STAD disertai LKS.
2. Peningkatan kualitas proses pembelajaran biologi materi pokok ekosistem dengan penerapan pembelajaran kooperatif metode STAD disertai LKS.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan:
1. Suatu pendekatan pembelajaran alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya, khususnya dalam mengajarkan pokok bahasan ekosistem.
2. Suatu model penggunaan media presentasi yang memotivasi siswa lebih berprestasi melalui sistem kerja kelompok untuk menguatkan konsep pembelajaran materi pokok ekosistem.
3. Teridentifikasinya kesalahan konsep biologi, maupun kesulitan yang dialami siswa dan Guru SMA dalam pembelajaran biologi.
4. Bahan referensi bagi semua pihak yang bermaksud melakukan penelitian lebih lanjut.
Skripsi Local Search Genetic Algorithm Dalam Menyelesaikan Job Shop Scheduling Problem

Skripsi Local Search Genetic Algorithm Dalam Menyelesaikan Job Shop Scheduling Problem

(Kode PENDMIPA-0006) : Skripsi Local Search Genetic Algorithm Dalam Menyelesaikan Job Shop Scheduling Problem

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Penjadwalan merupakan suatu proses pengaturan sumber daya untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan melibatkan pekerjaan, sumber daya, dan waktu. Pekerjaan diproses pada setiap sumber daya dengan urutan tertentu selama waktu tertentu. Tujuan dari masalah penjadwalan antara lain: meminimumkan waktu penyelesaian semua tugas (makespan), meminimumkan keterlambatan pengerjaan, meminimumkan waktu tunggu pada mesin, meminimumkan biaya, dan lain-lain.
Masalah penjadwalan merupakan salah satu aspek penting pada lingkungan industri. Misalkan suatu percetakan akan memproduksi brosur, koran, dan majalah dengan menggunakan 3 sumber daya, yaitu mesin cetak, mesin potong, dan mesin jilid. Misal brosur hanya melalui mesin cetak, sementara koran setelah dicetak perlu dipotong, sedangkan majalah setelah dicetak, dijilid, lalu dipotong. Pada beberapa masalah penjadwalan, pekerjaan memiliki batas waktu, sehingga mempengaruhi prioritas pemrosesan. Salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah percetakan tersebut, dapat dimulai dengan menempatkan majalah pada mesin cetak, karena majalah memiliki urutan proses yang terpanjang. Setelah majalah dicetak, proses untuk majalah dilanjutkan dengan menempatkan majalah pada mesin jilid, sementara akan ditentukan apakah brosur atau koran yang akan ditempatkan pada mesin cetak. Penempatan brosur pada mesin cetak akan lebih baik dari pada koran, karena jika koran yang ditempatkan terlebih dahulu pada mesin cetak, maka kemungkinan koran dan majalah akan tiba di mesin potong pada waktu yang bersamaan. Setelah brosur dicetak maka pemrosesan brosur selesai, dan koran dapat ditempatkan pada mesin cetak, sementara majalah ditempatkan pada mesin potong. Proses dari majalah selesai setelah pemotongan, dan sebagai proses terakhir, koran ditempatkan pada mesin potong. Masalah percetakan tersebut hanya menggunakan tiga sumber daya untuk menyelesaikan tiga pekerjaan, jika suatu masalah dengan pekerjaan dan sumber daya yang lebih banyak, maka pemrosesan akan menjadi lebih kompleks.
Job shop scheduling problem merupakan salah satu masalah penjadwalan yang memiliki kendala urutan pemrosesan tugas, dan setiap tugas harus melalui setiap mesin tepat satu kali. Terdapat dua jenis metode yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah job shop scheduling problem. Metode eksak, seperti pemrograman linier dan pemrograman non-linier, dapat digunakan untuk ukuran job shop scheduling problem yang kecil. Sedangkan untuk ukuran masalah yang besar, digunakan suatu pendekatan secara aproksimasi, seperti local search, simulated annealing, genetic algorithm, tabu search, dan ant colony optimization. Hal ini disebabkan karena untuk ukuran masalah yang besar, kompleksitasnya akan semakin besar.
Pada skripsi ini, pendekatan yang digunakan adalah algoritma genetik, dengan menerapkan teknik local search. Algoritma genetik ditemukan oleh John Holland pada tahun 1960. Algoritma ini menerapkan suatu proses evolusi biologi. Banyak percobaan dalam menyelesaikan job shop scheduling problem dengan menggunakan metode algoritma genetik, tetapi masih terdapat beberapa percobaan yang menghasilkan solusi yang tidak layak. Pada metode dalam skripsi ini, ketidaklayakan dari solusi dapat dihindari dengan menggunakan suatu skema yang menjaga urutan pemrosesan tugas. Kualitas dari solusi akan diuji dengan menggunakan beberapa masalah uji yang biasa dipakai untuk menyelesaikan job shop scheduling problem.
Terdapat tiga operator dasar yang digunakan pada algoritma genetik, yaitu reproduksi, crossover, dan mutasi. Reproduksi digunakan untuk menyeleksi solusi-solusi yang akan diproses, crossover digunakan untuk memperoleh solusi-solusi melalui proses perkawinan, dan mutasi digunakan untuk mengubah kualitas dari suatu solusi. Pada skripsi ini, akan digunakan suatu operator crossover yang sederhana dan efisien, yang memastikan bahwa setiap solusi baru yang dihasilkan akan selalu layak. Pada tahap mutasi, akan digunakan suatu operator yang mengarah pada suatu proses pencarian local search, dengan harapan akan meningkatkan kualitas dari solusi.

1.2 Perumusan Masalah
Apakah job shop scheduling problem dapat diselesaikan dengan menggunakan algoritma genetik, dan apakah pemilihan antara menggunakan mutasi sederhana dengan local search mutator akan mempengaruhi kinerja dari algoritma.

1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melihat kemampuan dari local search genetic algorithm dalam menyelesaikan job shop scheduling problem dengan menggunakan suatu masalah uji yang biasa dipakai untuk menguji kinerja dari suatu program untuk menyelesaikan job shop scheduling problem. Selain itu, akan dilihat juga perbandingan kinerja dari local search genetic algorithm antara hanya menggunakan crossover, menggunakan crossover dan mutasi sederhana, dan dengan menggunakan crossover dan local search mutator.

1.4 Pembatasan Masalah
Job shop scheduling problem yang akan dibahas adalah job shop scheduling problem dengan tujuan meminimumkan makespan. Sedangkan untuk pengujian, masalah uji yang digunakan dibatasi hanya untuk 3 masalah.

1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang, tujuan dari skripsi, batasan masalah, dan sistematika penulisan; Bab II membahas definisi dan teori dasar dari masalah penjadwalan, job shop scheduling problem, algoritma genetik, dan local search; Bab III membahas tentang local search genetic algorithm dalam menyelesaikan job shop scheduling problem; Bab IV membahas implementasi algoritma dan beberapa hasil eksperimen; dan terakhir Bab V membahas kesimpulan yang berdasarkan pada hasil eksperimen.
Skripsi Hubungan Hasil Belajar Pada Materi Virus Dengan Sikap Terhadap Kesehatan Siswa Kelas 1 SMU Negeri X

Skripsi Hubungan Hasil Belajar Pada Materi Virus Dengan Sikap Terhadap Kesehatan Siswa Kelas 1 SMU Negeri X

(Kode PENDMIPA-0005) : Skripsi Hubungan Hasil Belajar Pada Materi Virus Dengan Sikap Terhadap Kesehatan Siswa Kelas 1 SMU Negeri X

ABSTRAK

XXXX. Hubungan Hasil Belajar Pada Materi Virus dengan Sikap Terhadap Kesehatan Siswa Kelas 1 SMU Negeri X Semester I Tahun Pelajaran X. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan XXXX.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hasil belajar pada materi virus (X) dengan sikap terhadap kesehatan siswa (Y) kelas 1 SMU X Kabupaten X, Semester I Tahun Pelajaran X.
Penelitian dilakukan pada Semester I Tahun Pelajaran X. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, yang berupa studi korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 1 sebanyak 7 kelas. Sampel diambil dengan cara Cluster Random Sampling sebanyak 1 kelas yang terdiri dari 40 orang siswa. Untuk mengukur hasil belajar digunakan soal pilihan ganda adapun pengukuran sikap digunakan angket sikap dengan skala Likert. Teknik analisis data mempergunakan analisis regresi dan korelasi.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan analisis regresi, diperoleh Y = 140,42 + 4,64 X dengan pemeriksaan linieritas regresinya Ftc ? Fdaftar maka regresi tidak linier. Sehingga dilanjutkan dengan koefisien korelasi Rank Spearman (rs).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara variabel X dan variabel Y dengan koefisien korelasi Rank Spearman (rs) = 0,99. Setelah membandingkan harga ? = 0,05 dan ? = 0,001 memenuhi kriteria hipotesis, yaitu ? ? ?. Dengan demikian hasil belajar pada materi virus memberikan sumbangan pada terbentuknya sikap terhadap kesehatan siswa.
Skripsi Hubungan Antara Minat Dan Perhatian Dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Pada SDN X

Skripsi Hubungan Antara Minat Dan Perhatian Dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Pada SDN X

(Kode PENDMIPA-0004) : Skripsi Hubungan Antara Minat Dan Perhatian Dengan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran IPA Pada SDN X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disadari atau tidak, menurunnya kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Walaupun seorang guru sudah berbuat yang terbaik menurut prosedur yang ada tanpa dukungan dari berbagai pihak, niscaya tujuan pendidikan tidak akan tercapai dengan baik. Di sinilah kita perlu memadukan antara faktor lingkungan dengan faktor alami berupa potensi yang dimiliki anak itu sendiri.
Faktor potensi anak yang tak kalah pentingnya adalah minat belajar anak-anak yang kurang memiliki minat dalam belajar, maka akan menunjang suatu sikap dan prilaku yang membias dari anak normal lainnya. Misalnya saja anak sering membolos, tidak antusias dalam belajar, sering membuat kegundahan dalam kelas, pessimis, agresif dan sering memberontak. Hal semacam ini akan teraplikasikan pada pencapaian tujuan pembelajaran yang menurun atau prestasinya menurun.
Olehnya itu, penulis berinisiatif untuk mengkaji lebih mendalam melalui kegiatan penelitian ini yang erat kaitannya dengan masalah minat dan perhatian belajar anak, dalam mempelajari mata pelajaran IPA-Biologi yang akan berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap prestasi yang dicapainya.

B. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, maka penulis membatasi diri untuk mengkaji variabel-variabel yang ada dalam bentuk rumusan masalah yang menjadi fokus perhatian dan penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang penulis maksudkan adalah:
1. Bagaimanakah tingkat minat dan perhatian belajar siswa, khususnya mata pelajaran IPA-Biologi pada SDN X.
2. Bagaimanakah tingkat prestasi belajar siswa, khususnya mata pelajaran IPA-Biologi pada pada SDN X.
3. Bagaimanakah hubungan antara minat dan perhatian dengan prestasi belajar siswa, khususnya mata pelajaran IPA-Biologi SDN X.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa mata pelajaran IPA-Biologi pada SDN X.
2. Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa mata pelajaran IPA-Biologi pada SDN X.
3. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara minat dan perhatian belajar dengan prestasi belajar IPA-Biologi siswa SDN X.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang akan diperoleh melalui penelitian ini antara lain:
1. Dengan mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa menjadi sumber informasi bagi seorang guru untuk lebih menumbuh-kembangkan minat belajar siswanya.
2. Dengan mengetahui tingkat minat dan perhatian belajar siswa menjadi sumber iklim yang kondusif agar anak secara leluasa dapat mengembangkan minat dan bakat yang dimilikinya.
3. Diharapkan semua dapat lembaga yang terkait dalam bidang pendidikan agar dapat memperbaiki sistem yang ada supaya anak dapat mencapai tingkat perkembangan yang optimal.
4. Sebagai salah satu bahan referensi bacaan yang dapat dijadikan sumber informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengembangkan ilmu pengertahuan dan teknologi pada umumnya dan penelitian pada khususnya.

E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah dan pengkajian terhadap literatur yang relevan, maka ditarik suatu hipotesis, dimana hal ini dimaksudkan sebagai pengarah, pedoman dan tuntunan dalam pelaksanan pengumpulan maupun pengolahan data penelitian, baik data di lapangan maupun data melalui literatur. Adapun hipotesis yang dimaksud adalah: “Terdapat hubungan yang signifikan antara minat dan perhatian dengan prestasi belajar IPA-Biologi siswa SDN X”.
Skripsi Efektivitas Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pengajaran IPA Terhadap Prestasi Belajar Siswa SD X

Skripsi Efektivitas Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pengajaran IPA Terhadap Prestasi Belajar Siswa SD X

(Kode PENDMIPA-0003) : Skripsi Efektivitas Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pengajaran IPA Terhadap Prestasi Belajar Siswa SD X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masalah pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks, karena terkait dengan masalah kuantitas, masalah kualitas, masalah relevansi dan masalah efektivitas. Masalah kuantitas timbulsebagai akibat hubungan antara pertumbuhan sistem pendidikan dan pertumbuhan penduduk.
Masalah kualitas adalah masalah bagaimana meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Masalah kualitas pendidikan merupakan masalah yang cukup serius di dalam rangka kelangsungan hidup brbangsa dan bernegara, dakam konteks hubungan bangsa dengan beradapan dunia. Penanganan masalah aspek kualitas berhubungan erat dengan penanganan aspek kuantitas, oleh karenannya perlu ada keseimbangan antara keduanya.
Masalah relevansi timbul dari hubungan antara sistem pendidikan dan pembangunan nasional, dan harapan masyarakat tentang peningkatan output pendidikan. Masalah efektivitas merupakan masalah kemampuan pelaksanaan pendidikan. Sedangkan masalah efisiensi pada hakekatnya juga merupakan masalah pengelolaan pendidikan.
Sehubungan dengan aspek permasalahan aspek di atas pemerintah telah banyak melakukan serangkaian kegiatan secara terus menerus melalui tahapan pembangunan di bidang pendidikan. Kesemunya diarahkan pada pencapaian peningkatan mutu pendidikan atau menyangkut aspek kualitas pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, maka pembangunan pendidikan sekarang harus mengalami perubahan. Misalnya penyampaian pelajaran tidaklah cukup dengan mengutarakan secara tulisan saja. Ini berarti bahwa sistem intruksional menghendaki para pengajar berusaha menjadikan keterlibatan mental maupun fisik siswa dalam proses pengajaran. Sehingga pengajaran yang efektif dan berhasil guna dapat tercapai untuk menunjang pencapaian tujuan. Hal ini menuntut pihak pengajar sedapat mungkin mencari pola organisasi pengajaran yang tepat sebagai alternatif yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan. Salah satu acuannya adalah analisis materi atau strukturisasi konsep.
Untuk mewujudkan harapan tersebut di atas, perlu dilakukan pembaharuan pendidikan yang dituangkan dalam berbagai program pembaharuan pendidikan. Misalnya perubahan kurikulum, pemberdayaan guru-guru bidang studi melalui penataran, pengadaan buku-buku paket serta pemilihan metode dan pendekatan pengajaran yang tepat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu “Apakah penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam pengajaran IPA berpengaruh atau efektif terhadap prestasi belajar siswa Sekolah Dasar X khususnya mata pelajaran IPA ”.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan penelitian yakni untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam pengajaran IPA berpengaruh atau efektif terhadap prestasi belajar siswa Sekolah Dasar X khususnya mata pelajaran IPA.
2. Manfaat Penelitian
Secara umum diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi peserta didik, pendidik, lembaga pendidikan dalam meningktakan kualitas pendidikan. Secara khusus penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang bagaimana pengaruh pendekatan keterampilan proses dalam pengajaran IPA yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan melakukan pengajaran IPA di Sekolah Dasar.

D. Variabel dan Definisi Operasional.
Agar dapat dipahami arah dan tujuan penelitian ini, dipandang perlu memberikan gambaran tentang variabel penelitian yang sekaligus sebagai batasan operasional.
1. Pendekatan Keterampilan proses
Yang dimaksudkan di sini adalah pendekatan dalam melakukan keinginan pengajaran IPA yang menekankan pada keterampilan mengamati, mengumpulkan data, menemukan persamaan dan perbedaan materi yang dikaji. Pada gilirannya diharapkan siswa dalam belajarnya menggunakan pengetahuan atau perolehnya.
2. Prestasi Belajar IPA
Prestasi belajar yang dimaksud di sini adalah hasil perolehan siswa setelah dilakukan testing terhadap materi yang telah diajarkan dengan pendekatan keterampilan proses.

E. Hipotesis Penelitian
Untuk memberikan arah terhadap kesimpulan yang hendak dicapai, maka perlu dirumuskan hipotesis, sebagai berikut : Penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam pengajaran IPA berpengaruh secara efektif terhadap prestasi belajar siswa Sekolah Dasar X, khususnya mata pelajaran IPA.
Skripsi Efektivitas Pembelajaran Kimia Menggunakan Metode Kooperatif TAI (Teams Assisted Individualization) Dilengkapi Modul Ditinjau Dari Pencapaian

Skripsi Efektivitas Pembelajaran Kimia Menggunakan Metode Kooperatif TAI (Teams Assisted Individualization) Dilengkapi Modul Ditinjau Dari Pencapaian

(Kode PENDMIPA-0002) : Skripsi Efektivitas Pembelajaran Kimia Menggunakan Metode Kooperatif TAI (Teams Assisted Individualization) Dilengkapi Modul Ditinjau Dari Pencapaian Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Stoikiometri Kelas XI IPA Semester Genap SMA X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam proses pembangunan bangsa. Harus disadari bahwa proses pendidikan selalu diarahkan untuk menyediakan atau membentuk tenaga terdidik yang profesional bagi kepentingan bangsa Indonesia. Pendidikan yang berkualitas merupakan hal yang penting yang merupakan dasar kualitas manusia Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan-perbaikan baik sarana maupun prasarana pendidikan.
Pendidikan bukanlah sesuatu yang statis melainkan sesuatu yang dinamis sehingga menuntut adanya suatu perbaikan terus-menerus. Perbaikan yang dilakukan diantaranya kurikulum, metode mengajar, buku pelajaran dan sebagainya. Perbaikan dan pembaharuan yang dilakukan bertujuan untuk dapat mengembangkan suatu potensi yang ada pada diri anak didik semaksimal mungkin sehingga dapat menghasilkan manusia yang cerdas, mandiri, dan dapat bersaing di tingkat internasional.
Dalam kaitan dengan hal tersebut, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu membenahi kurikulum sekolah dengan mengembangkan “Kurikulum Berbasis Kompetensi” (KBK). Perbedaan utama antara kurikulum ’94 dengan KBK terletak pada pengembangan, penataan materi dan metode pembelajaran. Dalam hal metode pembelajaran, Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai hasil pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Siswa tidak saja harus mengetahui fakta, konsep atau prinsip, tetapi juga terampil untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam menghadapi masalah kehidupan dan teknologi.
Mata pelajaran Kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam yang mempelajari tentang sifat, struktur materi, komposisi, perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi secara umum yang diperoleh melalui hasil-hasil eksperimen dan penalaran. Secara umum pengajaran kimia bertujuan untuk mengembangkan sumberdaya manusia yang memiliki ketrampilan intelektual dan psikomotor dalam bidang kimia yang dilandasi oleh sikap ilmiah sehingga mampu mengikuti perkembangan iptek (Depdiknas, 2003: 2).
Metode yang masih banyak dikembangkan dan dianut oleh para guru SMA adalah metode ceramah. Tetapi metode ini kurang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi karena disini guru hanya memberi penjelasan kepada siswa tanpa memperhatikan tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang diberikan, sehingga tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien, salah satunya diperlukan suatu metode mengajar yang tepat. Ketepatan dalam menggunakan metode mengajar yang dilakukan oleh guru akan dapat membangkitkan motivasi dan minat siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan, juga terhadap proses dan hasil belajar siswa. Siswa akan mudah menerima materi yang diberikan oleh guru apabila metode mengajar yang digunakan tepat dan sesuai dengan tujuan pengajarannya. Metode mengajar yang baik adalah metode yang disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan, kondisi siswa, sarana yang tersedia, serta tujuan pengajarannya. Suatu metode mengajar mempunyai spesifikasi tersendiri, artinya suatu metode yang cocok untuk suatu materi belum tentu cocok jika diterapkan pada materi yang lainnya.
Penerapan metode mengajar yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran. Penerapan metode mengajar yang bervariasi ini berupaya untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar sekaligus sebagai salah satu indikator dalam peningkatan kualitas pendidikan. Metode mengajar yang baik hendaknya disesuaikan dengan karakteristik pokok bahasan materi yang akan disampaikan. Materi yang berkaitan dengan hafalan tentu saja memerlukan metode pengajaran yang berbeda dengan materi hitungan.
Menurut Slavin (1995: 101) kesulitan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan hitungan tidak dapat dipecahkan dengan menerapkan metode konvensional tetapi dapat dibantu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif (gotong royong). Penerapan pembelajaran kooperatif menurut penelitian yang selama ini dilakukan terbukti efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada proses belajar dalam kelompok dan bukan mengerjakan sesuatu dalam kelompok (Slavin, 1995: 5).
Proses belajar dalam kelompok akan membantu siswa menemukan dan membangun sendiri pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang tidak dapat ditemukan pada metode konvensional. Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community) (Nurhadi, 2004: 112).
Salah satu metode kooperatif yang dikenal yaitu metode TAI (Teams Assisted Individualization). Metode pembelajaran TAI mengelompokkan siswa ke dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang mempunyai pengetahuan lebih dibandingkan anggotanya. Kesulitan pemahaman materi yang dialami oleh siswa dapat dipecahkan bersama dengan ketua kelompok serta dengan bimbingan guru. Kesulitan pemahaman konsep-konsep awal yang berkaitan dengan materi stoikiometri dapat dipecahkan bersama karena keberhasilan dari tiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Untuk itu pengajaran TAI menitikberatkan pada keaktifan siswa dan memerlukan kemampuan interaksi sosial yang baik antara semua komponen pengajaran.
Untuk menunjang pengajaran TAI diperlukan media yang dapat membantu siswa dalam belajar. Modul merupakan salah satu jenis media cetak yang memuat unit pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa sendiri. Pendekatan dalam pengajaran modul adalah menggunakan pengalaman belajar siswa melalui berbagai macam penginderaan, melalui pengalaman dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar itu.
Materi stoikiometri berisi hukum-hukum dasar kimia, konsep-konsep, dan rumus-rumus dengan berbagai hubungan serta reaksi-reaksi kimia, sehingga perlu banyak latihan dalam mempelajarinya. Dalam mempelajari stoikiometri sering ditemukan siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal hitungan kimia, hal ini dapat dikarenakan strategi guru yang kurang tepat dalam pembelajarannya. Guru seringkali hanya memberikan materi dengan sedikit contoh dan latihan soal, sehingga siswa seringkali merasa kesulitan dalam menggunakan konsep yang harus ia gunakan untuk menyelesaikan soal yang pada akhirnya ia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal stoikiometri. Pada kegiatan tersebut guru akan menganggap siswa benar-benar dapat menerima dan mampu mengerjakan soal dengan baik. Dalam mengatasi masalah-masalah tersebut di atas dapat dilakukan dengan mengambil alternatif usaha mengurutkan konsep-konsep dalam memecahkan soal-soal hitungan kimia, sehingga akan mempermudah siswa pada proses pembelajaran terutama pada pengerjaan soal stoikiometri larutan.
Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan penelitian guna membantu siswa dalam menguasai konsep-konsep dan hitungan kimia. Adapun judul dalam penelitian ini adalah “EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN METODE KOOPERATIF TAI (TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION) DILENGKAPI MODUL DITINJAU DARI PENCAPAIAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK STOIKIOMETRI KELAS XI IPA SEMESTER GENAP SMA NEGERI X TAHUN PELAJARAN X”.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan, terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan proses belajar termasuk penggunaan metode:
1. Apakah metode kooperatif TAI dilengkapi modul dapat digunakan untuk menyampaikan pokok bahasan stoikiometri?
2. Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul dalam proses belajar mengajar pada materi pokok stoikiometri dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
3. Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa?

C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan pasti, maka perlu diberikan batasan masalah. Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka pembatasan masalah dititikberatkan pada:
1. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri X Tahun Pelajaran X.
2. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskusi untuk kelas kontrol dan metode kooperatif TAI dilengkapi modul untuk kelas eksperimen.
3. Materi Pokok
Materi yang diberikan dibatasi pada materi pokok stoikiometri. Adapun pemahaman siswa akan materi stoikiometri dilihat dari nilai siswa hasil selisih pretest dan postest (gain skor) siswa.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar dibatasi pada aspek kognitif dan aspek afektif.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Apakah penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri X tahun pelajaran X”.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul terhadap pencapaian hasil belajar siswa pada materi pokok stoikiometri kelas XI IPA SMA Negeri X tahun pelajaran X.

F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk:
1. Memberikan informasi kepada guru mengenai alternatif lain penggunaan metode dan media pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif TAI dilengkapi modul.
2. Memberikan gambaran kepada guru tentang penggunaan metode kooperatif TAI dilengkapi modul dalam memilih metode pembelajaran yang tepat.
3. Memberikan sumbangan bagi guru untuk bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran kimia di dalam kelas.
Skripsi Efektivitas Metode Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) Yang Didukung Diagram V (Ve) Dan TAI Didukung Peta Konsep

Skripsi Efektivitas Metode Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) Yang Didukung Diagram V (Ve) Dan TAI Didukung Peta Konsep

(Kode PENDMIPA-0001) : Skripsi Efektivitas Metode Pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) Yang Didukung Diagram V (Ve) Dan TAI Didukung Peta Konsep Pada Materi Pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia Dengan Memperhatikan Keingintahuan Siswa Kelas X Semester Genap SMA X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan dalam bidang pendidikan mendapat perhatian yang besar dari pemerintah. Hal ini wajar karena untuk mencapai salah satu tujuan Nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada perkembangan pendidikan karena pendidikanlah yang mampu mempersiapkan warga negaranya agar siap menjadi agen pembangunan didalam masyarakat dan Negara. Hal ini terlihat dengan banyaknya dibangun sarana dan prasarana sekolah yang mendukung.
Dalam draf Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikatakan : “Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sains, sudah semestinya mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian. Peranan guru dalam menentukan pola kegiatan belajar mengajar di kelas bukan ditentukan oleh didaktik metodik “apa yang akan dipelajari” saja, melainkan juga pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lain.” (Balitbang Kurikulum, 2001 : 11).
Sebelum diberlakukan kurikulum 2004, pembelajaran yang dianut oleh guru didasarkan atas asumsi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran siswa. Oleh karena itu, para guru memfokuskan diri pada upaya penuangan pengetahuan ke dalam kepala siswa tanpa memperhatikan bahwa mereka saat memasuki kelas mempunyai bekal kemampuan dan kesiapan yang tidak sama.
Metode pembelajaran yang dijalankan adalah pembelajaran satu arah dimana siswa hanya sebagai obyek pendidikan, mereka ke sekolah hanya melaksanakan prinsip 3D, Datang, Duduk, Diam sehingga keaktifan siswa sangat kurang saat proses belajar mengajar berlangsung. Kurikulum 2004 disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah sebuah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar perfomansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh siswa, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Nurhadi, 2004 : 18).
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa kurikulum 2004 ini menekankan pada pencapaian kompetensi siswa bukan tuntasnya materi, sehingga mau tidak mau siswa dituntut aktif selama proses belajar pembelajaran karena siswa sebagai pusat pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu metode pengajaran yang diharapkan dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu pengetahuan untuk siswa secara efektif. Penerapan metode-metode mengajar yang bervariasi akan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran. Pada dasarnya, penerapan metode mengajar yang bervariasi berupaya untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar dan sekaligus sebagai salah satu indikator peningkatan kualitas pendidikan. Namun perlu diketahui bahwa tingkat keberhasilan siswa dalam menangkap pelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari luar maupun faktor dari dalam siswa itu sendiri. Metode pengajaran yang baik hendaknya disesuaikan dengan karakteristik materi pokok yang akan disampaikan.
Kimia merupakan salah satu pelajaran IPA yang pada hakekatnya merupakan pengetahuan yang berdasarkan fakta, hasil pemikiran dan produk hasil penelitian yang dilakukan para ahli, sehingga untuk kemudian perkembangan ilmu kimia dirahkan pada produk ilmiah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dan akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi belajar siswa. Namun dari data yang diperoleh dari DIKPORA X menunjukkan bahwa prestasi hasil belajar kimia masih rendah.

** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN **

Dari Tabel 1. terlihat bahwa nilai rata-rata ujian akhir di SMA X adalah 6,47 untuk tahun ajaran X. Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswa di SMA X belum sepenuhnya memahami materi kimia dengan baik. Dalam hal ini khususnya materi Hukum-hukum Dasar Kimia, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahaminya. Hal ini mengacu pada batas tuntas di SMA X pada materi tersebut adalah 6,50, dimana sebagian besar siswa masih berada di bawah batas tuntas tersebut. Rendahnya prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran kimia ini, dimungkinkan karena proses belajar mengajar yang hanya terpusat pada guru, sehingga siswa tidak ikut terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar tersebut.
Berkaitan dengan hal di atas, perlu diupayakan suatu bentuk pembelajaran yang tidak hanya mampu secara materi saja, tetapi juga mempunyai kemampuan khusus, sehingga selain diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa diharapkan juga model pembelajaran yang diterapkan dapat membuat siswa aktif terlibat dalam proses kegiatan belajar semaksimal mungkin
Berkaitan dengan semakin perlunya reformasi model pembelajaran dan mengingat pentingnya interaksi kooperatif tersebut, maka pembelajaran strategi pembelajaran kooperatif dalam pendidikan menjadi sangat penting. Pembelajaran kooperatif mempunyai syarat-syarat untuk mencapai hasil yang maksimal, yaitu : adanya perbedaan etnik/ras, bersifat heterogen, adanya rasa tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok.
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan dari salah satu anggota, maka salah seorang anggota tersebut harus membantu kelompoknya dengan melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil (Slavin, 1995 : 5). Maka perlu adanya pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa aktif dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain : diskusi, presentasi, debat pendapat dan sebagainya sehingga KBM yang berlangsung aktif dan siswa tidak cepat mengalami kebosanan.
Pembelajaran kooperatif adalah aktivitas belajar kelompok yang diatur sehingga kebergantungan pembelajaran pada struktur sosial pertukaran informasi antar anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan pembelajaran lainnya (Carolyn Kessler, 1992 : 8). Adapun beberapa metode pembelajaran kooperatif, antara lain : STAD (Student Taems Achievement Division), TGT (Teams Games Tournament), CIRC (Cooperatif Intregated Reading and Composition), Jigsaw dan TAI (Teams Assisted Individualization).
Salah satu metode kooperatif adalah TAI (Team Assisted Individualization) yang digunakan peneliti adalah metode TAI (Team Assisted Individualization). Metode TAI merupakan metode pengajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam suatu kelompok. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Pada pengajaran TAI akan memotivasi siswa saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetensi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif.
Metode pengajaran TAI (Team Assisted Individualization) dapat diterapkan untuk materi hitungan dan materi yang adanya suatu kegiatan praktikum. Materi Hukum-Hukum Dasar Kimia bersifat hitungan sehingga untuk metode TAI ini dapat diterapkan. Metode TAI sendiri dapat didukung dengan Diagram V dan Peta Konsep, dengan berdasar atas materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia tersebut. Kesulitan pemahaman materi yang tidak dapat dipecahkan secara individual dapat dipecahkan bersama dengan ketua kelompok serta bimbingan guru. Kesulitan pemahaman konsep-konsep awal yang berkaitan dengan materi dapat dipecahkan secara bersamasama karena keberhasilan dari tiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Pengajaran TAI dapat menghemat waktu presentasi guru sehingga waktu pembelajaran lebih efektif dan dititkberatkan pada keaktifan siswa.
Dalam pengajaran IPA pencapaian tujuan pendidikan kimia lebih didukung adanya kegiatan laboratorium dan kokurikuler, terutama untuk menggiatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar (Saroso Purwadi, 1980 : 14). Kiranya tidak dapat disangsikan lagi bahwa praktikum yang merupakan salah satu kegiatan laboratorium, sangat berperan dalam menunjang proses belajar mengajar IPA, dapat melatih ketrampilan berpikir ilmiah, dapat menanamkan dan mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan masalah baru mengenai metode ilmiah dan sebagainya (Moh. Amin, 1988 : 89). Diagram V merupakan sebuah alat untuk membangun struktur ilmu pengetahuan. Diagram V menghubungkan antara perkembangan ilmu pengetahuan atau penemuan dari prosedur aktivitas di laboratorium dengan konsep dan ide-ide teori yang mengarah pada pertanyaan. Diagram V membantu praktikan “melihat” hubungan antara struktur ilmu pengetahuan yang dikembangkan selama di laboratorium dan konsep ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari proses penyelidikan.
Diagram V memberikan gambaran yang benar untuk menampilkan dan memilih kejadian, objek, konsep tertentu yang relevan dalam memahami konsep tertentu dengan memberikan fokus pada hubungan yang ada. Diagram V memperkecil kemungkinan kesalahan dalam mengambil catatan yang salah atau gagal sebab dengan diagram V ini praktikan selalu diajak untuk “melihat” antara sisi konsep dan sisi metode dalam mendapatkan pemahaman kerjanya.
Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi-proposisi merupakan dua atau lebih konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit. Dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu peta konsep hanya terdiri dari dua konsep yang dihubungkan oleh satu kata penghubung untuk membentuk suatu proposisi. Sejumlah konsep yang sama dapat tersusun dengan hierarki itu. Setiap peta konsep memperlihatkan kaitan-kaitan konsep yang bermakna bagi orang yang menyusunnya.
Setiap orang merasa ingin tahu dari waktu ke waktu, khususnya bila dihadapkan pada sesuatu situasi baru atau hal-hal yang menarik. Pengalaman istimewa yang dimiliki seseorang pada keadaan seperti itu dapat dipandanag sebagai suatu keadan ingin tahu. Tetapi beberapa individu lebih aktif mencari pengalamanpengalaman yang baru daripada yang lain. Para eksplorer (orang yang suka berpetualang) sebagai contoh para ilmuwan, tampak termotivasi oleh suatu kepribadian tertentu yang tampak seperti pada para peneliti dipandang sebagai suatu pembawaan yang kuat untuk ingin tahu yang analog dengan konsep keadaan dan sifat kebimbangan.
Selanjutnya dalam draft yang sama mengenai rambu-rambu pengajaran bidang studi kimia dirumuskan : “Dalam melakukan kegiatan penyelidikan / percobaan atau “kerja ilmiah” selalu dikembangkan sikap dan nilai, seperti rasa ingin tahu, tekun, terbuka, jujur, bekerjasama, dan menghargai pendapat orang lain. Disamping itu dalam melakukan kegiatan tersebut sebaiknya siswa diarahkan untuk membuat laporan dan mempresentasikannya”. (Balitbang Kurikulum, 2001 : 11).
Berdasar hal di atas, maka siswa perlu mengembangkan rasa keingintahuannya terhadap sesuatu. Keingintahuan merupakan keinginan untuk mengetahui secara alami, bila pada diri siswa telah ada keinginan ini, maka siswa akan memiliki motivasi dalam belajar. Keingintahuan sendiri menuntut agar siswa dapat menemukan fakta dan membangun konsep diri, sehingga akan menggeneralisasikan teori untuk menerangkan satu peristiwa.
Dari latar belakang yang telah di kemukakan di atas, maka pada penelitian ini akan dicoba untuk dikembangkan metode pembelajaran kimia secara kooperatif. Terdapat beberapa metode pembelajaran kooperatif. Pada penelitian ini akan dicoba untuk mengembangkan metode pembelajaran kooperatif tipe TAI yang didukung Diagram V dan Peta Konsep dengan memperhatikan Keingintahuan siswa pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia.

B. Identifikasi Masalah
Dari berbagai uraian di atas yang menjadi latar belakang masalah, dapat dimunculkan berbagai pertanyaan yang mungkin timbul sebagai masalah, antara lain :
1. Apakah siswa sudah mengenal Diagram V dan Peta Konsep?
2. Adakah kemungkinan penggunaan metode TAI yang didukung peta konsep dalam menyampaikan materi Hukum-Hukum Dasar Kimia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ?
3. Adakah kemungkinan penggunaan metode TAI yang didukung Diagram V dalam menyampaikan materi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ?
4. Adakah perbedaan proses belajar antara siswa yang diajar dengan metode TAI melalui penggunaan peta konsep dan Diagram V untuk materi pokok Hukum- Hukum Dasar Kimia ?
5. Bagaimanakah rasa keingintahuan yang dimiliki para siswa berbeda satu sama lain terhadap suatu materi pelajaran?
6. Apakah faktor keingintahuan siswa terhadap materi kimia dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa?
7. Apakah ada pengaruh antara keingintahuan siswa dengan metode pembelajaran TAI didukung Diagram V dan Peta Konsep terhadap prestasi belajar siswa?
8. Apakah ada pengaruh antara keingintahuan siswa dengan metode pembelajaran TAI didukung Diagram V terhadap prestasi belajar siswa?

C. Pembatasan Masalah
Mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti, dan tidak memungkinkan setiap masalah yang ada untuk diteliti, maka penelitian ini hanya dibatasi:
1. Dalam penelitian ini, model pembelajaran dibatasi pada TAI yang didukung Diagram V dan Peta Konsep sebagai 2 kelompok eksperimen.
2. Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada materi pelajaran kimia kelas X semester genap pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia.
3. Penilaian yang digunakan adalah aspek kognitif dan aspek afektif.
4. Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA X.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identififkasi masalah dan pembatasan masalah tersebut maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diberi model pembelajaran TAI didukung Diagram V dengan TAI didukung Peta Konsep pada materi pokok Hukum-HukumDasar Kimia kelas X semester genap SMA X tahun ajaran X?
2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar bagi siswa yang mempunyai keingintahuan tinggi dengan yang rendah pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia kelas X semester genap SMA X tahun ajaran X?
3. Adakah interaksi antara model pembelajaran TAI didukung Diagram V dan TAI didukung Peta Konsep dengan keingintahuan siswa terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia kelas X semester genap SMA X tahun ajaran X?

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa yang diberi model pembelajaran TAI didukung Diagram V dengan TAI didukung Peta Konsep pada materi pokok Hukum -Hukum Dasar Kimia kelas X semester genap SMA X tahun ajaran X.
2. Mengetahui perbedaan prestasi belajar bagi siswa yang mempunyai keingintahuan tinggi dengan yang rendah pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia tahun ajaran X.
3. Mengetahui interaksi antara model pembelajaran TAI didukung Diagram V dan TAI didukung Peta Konsep dengan keingintahuan terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok Hukum-Hukum Dasar Kimia kelas X semester genap tahun ajaran X.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :
1. Memberi masukan kepada tenaga pengajar khususnya tenaga pengajar SMA X dalam mengembangkan suatu metode pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan aktif siswa pada kegiatan belajar mengajar dengan guru berfungsi sebagai fasilitator, yang membantu agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran secara efektif sehingga dapat mencapai kompetensi secara optimal.
2. Memberi masukan kepada tenaga pengajar khususya pengajar di SMA X dalam menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada keterlibatan secara aktif siswa dalam proses belajar mengajar sesuai yang diharapkan pada kurikulum 2004.
3. Bahan acuan bagi para praktisi pendidikan untuk penelitian metode pembelajaran kooperatif lebih lanjut.