Search This Blog

Skripsi Analisis Penokohan Dalam Novel Pudarnya Pesona Cleopatra Karya Habiburrahman El Shirazy Berdasarkan Teori Kepribadian Sigmund Freud - Kajian P

Skripsi Analisis Penokohan Dalam Novel Pudarnya Pesona Cleopatra Karya Habiburrahman El Shirazy Berdasarkan Teori Kepribadian Sigmund Freud - Kajian P

(Kode PEND-BSI-0007) : Skripsi Analisis Penokohan Dalam Novel Pudarnya Pesona Cleopatra Karya Habiburrahman El Shirazy Berdasarkan Teori Kepribadian Sigmund Freud - Kajian Psikologi Sastra

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang bersifat indah dan dapat menimbulkan kesan yang indah pada jiwa pembaca. Imaji adalah daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar-gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Menurut genrenya karya sastra dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: prosa (fiksi), puisi dan drama. Dari ketiga jenis genre sastra tersebut penulis hanya memfokuskan kajiannya pada prosa fiksi. Supaya pemahaman kita lebih sistematis terlebih dahulu akan diuraikan pengertian prosa (fiksi) menurut pendapat beberapa tokoh. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi, teks (naratif), atau wacana naratif (Nurgiantoro, 1995: 2). Hal ini berarti prosa (fiksi) merupakan cerita rekaan yang tidak didasarkan pada kebenaran sejarah (Abrams dalam Nurgiantoro, 1995: 2). Salah satu contoh prosa fiksi tersebut adalah novel. Novel merupakan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Prosa fiksi (novel) dibangun oleh dua unsur yaitu unsur instriksik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun prosa fiksi (novel) dari dalam seperti alur, tema, plot, amanat dan lain-lain. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun sastra dari luar seperti pendidikan, agama, ekonomi, filsafat, psikologi dan lain-lain.
Dari beberapa unsur intrinsik yang telah disebutkan, penulis hanya akan memfokuskan penelitiannya pada penokohan dalam karya sastra, khususnya pada novel. Menganalisis kepribadian tokoh berdasarkan teori psikologi tertentu telah banyak dilakukan oleh mahasiswa khususnya mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk lebih memperbanyak referensi mengenai sastra psikologis, peneliti mencoba melakukan penelitian mengenai kepribadian tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy. Novel tersebut dianalisis berdasarkan pendekatan psikologi kepribadian yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Penulis memilih novel PPC sebagai obyek kajian karena tokoh utama (Aku) dalam novel tersebut mempunyai kepribadian yang bersifat dinamis. Kedinamisan tingkah-laku tokoh utama disebabkan oleh penggunaan energi ketiga sistem kepribadian yaitu id, ego, dan super ego. Menurut Sigmund Freud, kepribadian manusia dapat dibagi menjadi tiga yaitu: struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian. Ketiga aspek kepribadian tersebut tergambar dalam tingkah-laku tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy.
Setelah peneliti melakukan pengamatan dan pengidentifikasian awal terhadap novel PPC ditemukan bahwa watak tokoh utama pada novel tersebut bersifat penuh pertimbangan. Aspek ego yang berfungsi sebagai pemberi pertimbangan dominan menguasai tokoh Aku, sehingga tingkah-laku tokoh utama (Aku) tidak bersifat impuls. Hal ini semakin memperkuat keinginan peneliti untuk menjadikan novel tersebut sebagai obyek kajian. Badrun (2005: 37) mengatakan untuk mengaplikasikan teori kepribadian dalam rangka membahas sifat tokoh cerita, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengamati dan mengidentifikasi perilaku dan watak tokoh.
Sebagai penulis muda yang berbakat Habiburrahman mampu mengantarkan karya-karyanya dengan nuansa Islami yang amat kental sehingga banyak novel-novelnya sebagai media dakwah. Novel PPC diberi sebutan sebagai novel Psikologi Islami Pembangun Jiwa, karena novel ini mampu memberikan nafas baru bagi penggemar sastra yang ingin mendapatkan ilmu agama sekaligus membangun kejiwaan. Karya-karya Habiburrahman banyak digemari penikmat sastra dari kalangan remaja maupun orang tua. Selain itu Habiburrahman sering mendapat penghargaan seperti dari Pena Award sebagai karya terpuji, The Most Favorit Book 2005, peraih penghargaa fiksi dewasa terbaik IBF Award 2006.
Sampai saat ini teori yang paling banyak digunakan dan diacu dalam pendekatan psikologis adalah determinismisme psikologi Sigmund Freud (1856-1939). Meskipun pada awalnya pendekatan psikologis dianggap agak sulit berkembang, tetapi dengan makin diminatinya pendekatan multidisiplin di satu pihak, pemahaman baru terhadap teori-teori psikologi sastra di pihak lain, maka pendekatan psikologis diharapkan dapat menghasilkan model-model penelitian yang lebih beragam. Menurut Miller dalam Ratna (2004: 62-63) pada dasarnya penelitian Freud memberikan tempat yang sentral terhadap sastra, bukan sampingan seperti diduga orang.
Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti salah satu karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra. Novel ini lebih menonjolkan struktur kepribadian tokoh utama yaitu bahwa watak tokoh utama pada ovel tersebut bersifat penuh pertimbangan. Aspek ego yang berfungsi sebagai pemberi pertimbangan dominan menguasai tokoh Aku, sehingga tingkah laku tokoh Aku tidak bersifat impuls. Hal ini semakin memperkuat keinginan peneliti untuk menjadikan novel tersebut sebagai objek kajian.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dibahas dalam penelitian ini mengenai kepribadian tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy.
Supaya lebih memudahkan peneliti dalam menganalisis kepribadian tokoh, dapat dirumuskan sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana struktur kepribadian yang berkaitan dengan id tokoh utama pada novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy?
2. Bagaimanakah struktur kepribadian yang berkaitan dengan ego tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy?
3. Bagaimana struktur kepribadian yang berkaitan dengan super ego tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan struktur kepribadian yang berkaitan dengan id, tokoh utama pada novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy.
2. Mendeskripsikan ego tokoh utama pada novel yang menjadi sasaran.
3. Mendeskripsikan super ego tokoh utama pada novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun fanfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
1. Dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang struktur kepribadian manusia khususnya struktur kepribadian tokoh utama dalam novel PPC karya Habiburrahman El Shirazy.
2. Diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dalam usaha memahami karya sastra, khususnya sastra psikologis, dan
3. Diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi peneliti sastra selanjutnya, khususnya penelitian yang menggunakan pendekatan psikologi.
Skripsi Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Surat Pendengar Dalam Acara Curahan Hati Dan Lagu Di Radio Komunitas X

Skripsi Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Surat Pendengar Dalam Acara Curahan Hati Dan Lagu Di Radio Komunitas X

(Kode PEND-BSI-0006) : Skripsi Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Surat Pendengar Dalam Acara Curahan Hati Dan Lagu Di Radio Komunitas X

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat yang merupakan lambang bunyi suara yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1997:1). Dengan menggunakan bahasa, orang dapat mengemukakan buah pikiran atau isi hatinya, baik secara lisan maupun tertulis. Bahasa lisan digunakan apabila mereka yang berbicara tidak berhadapan langsung, tetapi dengan media lambang grafis, yang dalam salah satunya adalah dalam bentuk surat.
Yang dimaksud dengan surat adalah sehelai kertas atau lebih yang memuat suatu bahan komunikasi yang akan disampaikan seseorang kepada orang lain, baik atas nama pribadi maupun kedudukannya dalam organisasi atau kantor (Panji, 1997:1). Bahasa komunikasi ini dapat berubah lewat suatu pemberitahuan, pernyataan, permintaan, laporan atau buah pikiran lain atau isi hati yang ingin disampaikan kepada orang lain.
Macam surat dapat dilihat dari berbagai tinjauan, salah satunya menurut wujudnya. Surat dapat diklasifikasikan menjadi: 1) Kartu Pos (Post Card), 2) Warkat Pos, 3) Surat Bersampul, 4) Memorandum, dan 5) Nota (Panji, 1997:7).
Yang termasuk golongan kartu pos adalah segala macam surat yang dibuat dari kertas kartun berukuran 15 cm X 10 cm (Panji, 1997:7). Kartu pos digunakan untuk mengirim berita yang isinya singkat dan tidak mengapa bila dibaca orang lain. Ada dua macam kartu pos, yaitu: 1) Kartu Pos yang dikeluarkan oleh PN POSTEL yang disebut kartu pos resmi, dan 2) Kartu pos yang tidak tidak resmi yang dikeluarkan oleh kantor atau perusahaan (contoh: surat pendengar dalam suatu acara di sebuah radio).
Surat pendengar merupakan kartu pos resmi yang bertujuan untuk menyampaikan pesan atau isi hati kepada orang lain melalui seorang penyiar pada sebuah stasiun radio yang bisa didengar oleh orang banyak. Penyampaian isi hati melalui surat pendengar ini bermacam-macam tujuannya, ada yang menyampaikan pesan, pemberitahuan, hanya memberi salam pada pendengar yang lain. Semua bisa disampaikan melalui surat pendengar. Bahasa yang digunakan pun sangat beragam, mulai dari bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, bahkan banyak yang menggunakan bahasa campuran.
Penggunaan gaya bahasa surat pendengar bervariasi sementara karakteristik pendengar juga sangat bervariasi, maka memungkinkan terjadinya ada sebagian pendengar yang kurang memahami isi atau makna yang dibacakan pembawa acara. Menurut Aminuddin (1987:72) dijelaskan bahwa gaya bahasa adalah cara mengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Di Radio Komunitas Mustika FM, pendengarnya mulai anak-anak sampai bapak-bapak, dan rata-rata di lingkungan pedesaan. Tentu saja penggunaan bahasa mereka dalam surat pembaca sangat beragam. Acara-acara yang disuguhkan di Radio Komunitas Mustika FM juga bermacam-macam. Pagi hari acara dibuka dengan Musik Free, siang hari diisi Pop Indonesia, Sore hari adalah Indiana Jonz, dan di malam hari setiap Jumat diisi dengan acara curahan hati dan lagu.
Dalam acara curahan hati dan lagu, tiap seminggu sekali tidak kurang dari 10 surat pendengar yang masuk pada acara tersebut. Surat-surat pendengar tersebut bermacam-macam maksud dan tujuannya. Penggunaan bahasanya pun bermacam-macam. Campuran bahasa Indonesia dengan bahasa lain banyak dijumpai pada acara tersebut. Gaya bahasa yang digunakan juga sangat beragam. Bagi mereka, yang penting suratnya bisa terbaca oleh penyiar dan didengar oleh pendengar yang lain.
Dari uraian di atas, peneliti terdorong untuk menganalisis gaya bahasa yang dipergunakan para pendengar dalam mengungkapkan isi hatinya. Gaya bahasa yang akan diteliti adalah gaya bahasa yang sering dipergunakan pada surat pendengar pada acara Curahan Hati dan lagu di Radio X. Oleh karenanya penulisan ini diberi judul “Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Surat Pendengar dalam Acara Curahan Hati dan Lagu di Radio X”.

1.2 Pembatasan Masalah
Melihat sangat kompleksnya pembahasan masalah di atas dan terbatasnya waktu, tenaga serta biaya, peneliti hanya membatasi penggunaan gaya bahasa yang dipergunakan pada surat pendengar dalam acara Curahan Hati dan Lagu di Radio X.

1.3 Rumusan Masalah
Masalah adalah kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya (das sollen) dengan kenyataan yang ada (das sain) (Sucipto, 2006:7). Oleh karena itu, dalam penulisan skripsi ini masalah yang hendak dibahas adalah sebagai berikut:
Bagaimana analisis penggunaan gaya bahasa pada surat pendengar dalam acara Curahan Hati dan Lagu di Radio X?

1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa pada surat pendengar dalam acara Curahan Hati dan Lagu di Radio X.

1.5 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada ilmu bahasa terutama dalam analisis penggunaan gaya bahasa.
2. Manfaat Praktis
- Bagi penyiar radio dapat menggunakan berbagai macam gaya bahasa
- Bagi pendengar bisa memahami berbagai macam gaya bahasa.
Penelitian ini juga diharapkan agar para pembaca dapat mengetahui analisis penggunaan gaya bahasa pada surat pendengar dalam acara Curahan Hati dan lagu di Radio X.

1.6 Penjelasan Judul
Judul penelitian ini adalah “Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Surat Pendengar dalam Acara Curahan Hati dan Lagu di Radio X”. Penjelasan judul yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Analisis adalah penyelidikan atau penguraian atas suatu penemuan (Windi, 2006:39).
2. Penggunaan gaya bahasa adalah merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan efek tertentu. Ada beberapa jenis gaya bahasa, yaitu gaya bahasa individu, gaya bahasa golongan sastrawan, aliran tertentu dan gaya bahasa periode. Karena itu penelitian gaya bahasa dapat dilakukan dalam bidang-bidang tersebut, sesuai dengan keperluan. Pengertian gaya bahasa meliputi gaya pada semua aspek bahasa: bunyi, kata dan kalimat. Oleh karena itu penelitian gaya bahasa meliputi gaya kalimat, gaya kata dan gaya bunyi bahasa.
3. Gaya bahasa adalah sebagai cara pengungkapan pikiran melalui bahasa yang khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa).
4. Surat pendengar adalah sehelai kertas yang memuat bahan komunikasi yang disampaikan oleh pendengar radio kepada seorang penyiar untuk dibacakan dan disampaikan kepada pendengar yang lain (Panji, 1997:1).
5. Acara Curahan Hati dan Lagu adalah salah satu acara yang dikemas stasiun Radio X dengan iringan sajian lagu-lagu pop Kenangan.
6. Radio X merupakan stasiun radio swasta yang berada di kawasan XX dengan frekwensi 9,5 M.Hz. Radio Komunitas adalah stasiun radio yang hanya dipakai sekelompok komunitas yang ada di sekitar sebagai media hiburan dan informasi.
Skripsi Analisis Konteks Wacana Dalam Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika

Skripsi Analisis Konteks Wacana Dalam Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika

(Kode PEND-BSI-0005) : Skripsi Analisis Konteks Wacana Dalam Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa pada hakekatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urutan bunyi-bunyi secara empiris, melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Dengan demikian bahasa merupakan suatu simbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana dalam menuangkan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari kebenaran dalam kehidupannya (Kaelan, 2002 : 7-8). Bahasa juga memiliki tataran yang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana, istilah wacana mempunyai acuan yang lebih luas dari sekedar bacaan, wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar dan digunakan dalam komunikasi. Wacana digunakan sebagai dasar pemahaman suatu teks sangat diperlukan oleh setiap orang berbahasa dalam berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Wacana harus dipertimbangkan dari segi isi dan unsur-unsur pendukungnya sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam kegiatan berkomunikasi. Secara berurutan, rangkaian bunyi membentuk kata, rangkaian kata membentuk frase, dan rangkaian frase membentuk kalimat. Akhirnya rangkaian kalimat membentuk wacana (Rani dkk, 2006:3).
Konteks merupakan acuan umum semua hal menyertai sebuah wacana. Istilah konteks tidak hanya terdapat dalam sebuah wacana tetapi juga terjadi dalam kegiatan atau peristiwa tutur. Seorang penganalisis sebuah wacana harus mempertimbangkan konteks tempat terdapatnya bagian wacana agar lebih mudah dalam memahami isi sebuah wacana. Ada teks dan teks lain yang menyertainya, teks menyertai teks itu adalah konteks (Halliday dan Hasan, 1992:6).
Konteks memegang peranan penting dalam wacana karena konteks dapat mambantu pembaca untuk lebih mudah dalam memahami isi wacana. Konteks dapat mengandung sebuah pesan atau informasi yang terkandung dalam sebuah wacana.
Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, dan unsur-unsur dalam konteks itu berhubungan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa. Sehingga unsur-unsur dalam konteks itu mempunyai peranan penting dalam proses atau kegiatan komunikasi. Unsur-unsur dalam konteks dapat memberi tanda keterangan bagi eksistensi dalam hubungannya dengan pembicara yang memperkenalkan pada suatu percakapan (Djajasudarma,1994:29&37).
Analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Purwo,1993:21). Dengan analisis wacana, kita jadi lebih mengetahui tentang unsur-unsur suatu wacana sehingga kita lebih mudah dalam memahami isi suatu wacana. Data yang dipakai dalam analisis wacana harus mencerminkan hal-hal khusus yang menarik bagi penganalisis. Data yang dipelajari pada analisis wacana merupakan penggalan (bagian) wacana dalam penganalisis wacana selalu memutuskan permulaan dan akhir dari bagian dari wacana tersebut.
Novel merupakan modifikasi dunia modern yang paling logis dan merupakan kelanjutan dari dunia epik. Eksistensi suatu novel disebabkan oleh perhatian manusia dimana saja, sepanjang masa yang tercurah pada manusia (laki-laki dan perempuan) serta gambaran yang kompleks tentang hasrat dan tingkah laku manusia, passion and action. Kebebasan suatu karakter didalam novel mencerminkan kebebasan pandangan pengarang, tanpa dibuat-buat. Sebuah novel akan menjadi lebih logis sepanjang batas yang melengkapi kebenaran puitik karena suatu kenyataan dan kelogisan menunjukkan tingkat konsentrasi pengarangnya. Di dalam sebuah novel terdapat suatu fase di mana antara dialog dan karakter-karakter tertentu mengalami konfrontasi dan dikonfrontasikan pengarangnya (Atmaja, 1986:44-60). Novel dan cerpen sebagai karya fiksi yang mempunyai perbedaan terletak pada segi panjang cerita. Cerita pada novel lebih panjang daripada cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas menyajikan sesuatu secara lebih rinci, lebih detail dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks, mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel tersebut (Nurgiyantoro, 1994:4-10).
Peneliti tertarik untuk mengkaji novel karena novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas dan lebih kompleks isi dan permasalahannya dan lebih rinci. Menurut Fielding dalam Atmaja(1986:44) novel merupakan modifikasi dunia modern yang paling logis dan novel relevan untuk situasi kini.
Peneliti memilih novel yang berjudul Dadaisme dengan alasan novel ini merupakan karya pertama Dewi Sartika dan novel ini menjadi pemenang pertama dalam sayembara novel tahun 2003. Alasan lain yang membuat peneliti tertarik adalah tentang isi cerita yang menarik untuk dibaca dan dipahami konteks wacananya.
Dewi Sartika adalah penulis muda berbakat yang menulis novel Dadaisme ketika masih menuntut ilmu di perguruan tinggi. Hasil karya yang cemerlang dan memenangkan sayembara novel membuat peneliti tertarik untuk mengkaji novelnya.
Peneliti mengambil judul ”Analisis Konteks Wacana dalam Novel Dadaisme” karena setelah peneliti membaca novel Dadaisme peneliti tertarik untuk mendiskusikan dan mengkaji konteks wacana dalam novel Dadaisme.
Konteks memegang peranan penting dalam suatu wacana karena konteks itu dapat memberikan sebuah informasi atau pesan.

1.2 Ruang Lingkup
Bahasa memiliki tataran yaang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan wacana.Wacana adalah satuan bahasa yang paling besar dan digunakan dalam komunikasi (Djajasudarma,1994:2). Konteks adalah bagian dari wacana yang dibentuk oleh berbagai unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, kode, dan situasi. Analisis wacana adalah cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar dari kalimat (Purwo,1993:21).

1.3 Batasan Masalah
Konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur seperti penutur, pendengar, topik, kode, saluran (channel), latar, pesan, dan peristiwa. Latar dapat berupa tempat, waktu, gerak tubuh, dan roman muka.Pesan mempunyai sifat informatif, persuasif, dan koersif. Sedangkan peristiwa mempunyai faktor yang menandai terjadinya peristiwa yaitu setting, participan, end, act key, instrumen, norma, dan genre. Dalam penelitian ini Peneliti hanya akan meneliti latar (setting), pesan (massage), dan peristiwa (event) yang ada dalam cerita novel Dadaisme karena dari semua unsur konteks, ketiga unsur ini adalah yang paling penting dan paling mendominasi dalam novel Dadaisme.

1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut :
a) Bagaimana latar (setting) dalam novel Dadaisme ?
b) Bagaimana pesan (massage) dalam novel Dadaisme?
c) Bagaimana peristiwa (event) dalam novel Dadaisme?

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan latar (setting), pesan (massage), dan peristiwa (event) dalam novel Dadaisme.

1.6 Manfaat Penelitian
Semua kegiatan pasti akan mempunyai manfaat, begitu juga dalam penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut :
1.6.1 Pembaca
Manfaat bagi pembaca adalah untuk memberikan ilmu tambahan dan wawasan tentang konteks wacana dalam novel Dadaisme.
1.6.2 Pengarang
Manfaat bagi pengarang yaitu dapat menjadi novel Dadaisme lebih populer dan menjadi novel best seller.
1.6.3 Peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk memberi pemahaman tentang konteks wacana dalam novel Dadaisme dengan baik dan benar. Selain itu, memberi pengalaman bagi peneliti yang dapat digunakan dalam pemahaman sebuah wacana.

1.7 Penjelasan Judul
Untuk mempermudah pemahaman terhadap konteks wacana dalam novel Dadaisme karya Dewi Sartika akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna/situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian.
2. Wacana adalah ucapan, tutur/satuan bahasa terlengkap yang realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku, atau artikel.
3. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Skripsi Analisis Kemampuan Mengapresiasi Prosa Menggunakan Metode Sosiodrama Siswa Kelas V MI-X

Skripsi Analisis Kemampuan Mengapresiasi Prosa Menggunakan Metode Sosiodrama Siswa Kelas V MI-X

(Kode PEND-BSI-0004) : Skripsi Analisis Kemampuan Mengapresiasi Prosa Menggunakan Metode Sosiodrama Siswa Kelas V MI-X

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Upaya pemahaman sebuah unsur-unsur dalam sebuah bacaan tidak dapat dilepaskan dari masalah-masalah ataupun kegiatan dalam sastra. Salah satu kegiatan tersebut adalah apresiasi. Apresiasi merupakan salah satu kegiatan dalam sastra yang dapat menumbuhkan rasa keakraban pembaca dengan sebuah karya sastra. Dengan apresiasi, pembaca akan merasa menemukan atau memperoleh sesuatu yang sekaligus dapat memperkaya kehidupan batin bagi pembaca (Sarumpaet, 2002:14). Maka dari itu, minat dan apresiasi, pembaca terhadap karya sastra perlu dibangkitkan dan ditumbuhkan sejak dini, terutama bila pembaca masih berusia sekolah.
Pengajaran sastra di semua sekolah kita cukup runyam penataannya. Pengajaran selama ini, seperti terlihat dari berbagai buku ajar, masih mencampuradukkan pengajaran apresiasi sastra dan pengajaran pengetahuan tentang sastra. Pengajaran pengetahuan tentang sastra lebih banyak ditekankan, sedangkan pengajaran apresiasinya sendiri kurang dilakukan (Sumardjo, 1995:30). Bahaya betapa pelajaran bahasa Indonesia akan mengalami malapetaka jika yang diberikan lebih banyak teori dan gramatika, sudah pernah disinggung Sutan Takdir Alisjahbana sejak tahun 1930-an, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sebagian besar menggunakan buku-buku tata bahasa karya para penulis Belanda, maka materi yang diajarkan cenderung mejadi sangat linguistis. Akibatnya pelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sama sekali tidak mengarahkan penguasaan keterampilan berbahasa, melainkan membawa siswa seolah-olah hendak menjadi seorang linguis atau ahli bahasa.
Pengajaran sastra di sekolah mencakup prosa, puisi, drama, dan lain-lain. Prosa atau cerita itu sendiri adalah bagian dari hidup. Itulah sebabnya, apa yang disimpan dalam bentuk cerita jauh lebih bermanfaat dari pada segala yang dijejalkan ke dalam otak hanya dalam bentuk fakta-fakta yang sama sekali sulit mencari hubungannya. Selain itu, para ahli juga mengatakan bahwa otak manusia sebagai alat narasi yang bergerak dalam dunia cerita. Sehingga dengan mengingat cara kerja otak, ilustrasi yang berhubungan dengan pengalaman manusia yang dirakit dalam bentuk cerita, dapat merenggut perhatian orang, apalagi anak-anak. Mereka akan menerima informasi dan keterangan bukan hanya secara kognitif, tetapi juga secara afektif (Sarumpaet, 2002:22).
Kekuatan cerita dalam kehidupan anak dapat disaksikan melalui dua perspektif. Pertama, peran cerita atau narasi sebagai bagian dari budaya dan tradisi lisan anak. Dalam hal ini budaya mempunyai kegiatan dan permainan yang dirancang dengan memanfaatkan bahasa yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Kedua, urgensi cerita yang dapat mengembangkan bahasa, pemikiran dan perasaan. Cerita selain memberikan bentuk data dan tata formasi pada pengalaman-pengalaman anak, ia juga harus diasosiasikan dengan kesenangan dan kenikmatan (Sarumpaet, 2002:23).
Kemampuan belajar siswa kelas V MI X dalam mengapresiasi prosa perlu dikembangkan lagi. Selama ini pembelajaran prosa yang dilakukan terhadap siswa hanya melalui ceramah saja. Dalam artian, siswa mengerti tantang teori saja tanpa diimbangi dengan praktek. Rasa kejenuhan pun muncul bagi siswa yang selalu dijejali dengan teori. Agar dalam mempelajari sebuah prosa menjadi menyenangkan, maka diperlukan sebuah metode yang sesuai yaitu dengan menggunakan metode sosiodrama. Metode sosiodrama adalah metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial (Ahmadi, 1995:65).
Dengan cara belajar semacam ini, siswa diberi kesempatan dalam menggambarkan atau mengekspresikan suatu sikap yang menjadi tokoh yang diperankannya (Ahmadi, 1991:80). Dengan demikian, siswa tidak lagi menempatkan dirinya semata-mata sebagai objek yang harus menjalankan tugas dari guru, tetapi mereka akan merasa terangkat sebagai subjek dalam bentuk gambaran tokoh dalam cerita yang diperankannya tersebut.
Sesuai dengan latar belakang tersebut, peneliti merasa perlu mengadakan penelitian mengenai analisis kemampuan mengapresiasi prosa menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah: Bagaimana kemampuan mengapresiasi prosa dengan menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.3 Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan senantiasa mempunyai tujuan yang jelas agar terarah dan tepat sasaran serta lebih jelas manfaatnya. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan kemampuan mengapresiasi prosa dengan menggunakan metode sosiodrama siswa kelas V MI X.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Siswa
1) Memberi pengalaman nyata dan dapat menumbuhkan keakraban siswa terhadap sebuah karya sastra terutama prosa.
2) Hasil penelitian diharapkan dapat memotivasi siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mengajar di kelas, khususnya pembelajaran prosa dengan metode sosiodrama.
1.4.2 Bagi Guru
Penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam memberikan alternatif pemilihan metode dalam pengajaran bahasa Indonesia yang berhubungan dengan kemampuan siswa dalam mengapresiasi sebuah prosa berupa cerpen.
1.4.3 Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan penyempurnaan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia. Selain itu juga untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas.
1.4.4 Bagi Pemerhati Sastra
Dapat menumbuhkembangkan daya apresiasi sastra khususnya dalam memerankan sebuah drama, dan rasa peduli terhadap karya sastra Indonesia.
1.4.5 Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menjadikan pengalaman mengenai penggunaan metode sosiodrama dalam apresiasi suatu prosa yang baik dan benar.
Skripsi Analisis Bahasa Gaul Antar Tokoh Dalam Film Remaja Indonesia Get Married - Kajian Morfologi

Skripsi Analisis Bahasa Gaul Antar Tokoh Dalam Film Remaja Indonesia Get Married - Kajian Morfologi

(Kode PEND-BSI-0003) : Skripsi Analisis Bahasa Gaul Antar Tokoh Dalam Film Remaja Indonesia Get Married - Kajian Morfologi

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang pengambilan judul yang akan digunakan oleh peneliti yang meliputi masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan judul, kajian pustaka, dan metode penelitian.

1.1 Latar Belakang
Manusia sebagai kodratnya tidak dapat hidup tanpa berhubungan dengan makhluk di sekitarnya, oleh karena itu, bahasa merupakan sarana yang paling cocok digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi. Tanpa bahasa manusia akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat. Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat untuk berkerja sama atau berkomunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, isyarat, simbol, lambang, gambar, atau kode tertentu, juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi, namun dengan menggunakan bahasa maka komunikasi akan lebih sempurna dan efektif.
J.D Parera (1993:15) berpendapat bahwa bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer dan bermakna konvensional (kesepakatan umum), yang dengannya satu kelompok masyarakat berkomunikasi antarsesama anggota masyarakat. Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memang memakai dua cara berkomunikasi, yaitu secara verbal dan nonverbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan menggunakan alat atau media bahasa (lisan dan tulis), sedangkan berkomunikasi secara nonverbal dilakukan dengan menggunakan media selain bahasa. Alat komunikasi nonverbal yang wujudnya berupa aneka simbol, isyarat, kode, dan bunyi akan bermakna setelah 'diterjemahkan' ke dalam bahasa manusia. Hal itu menunjukkan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting bagi manusia.
Chaer dan Leonie Agustina (2004:61) menyatakan bahwa :
Setiap bahasa sebenarnya mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kata, tata kalimat, dan tata makna, akan tetapi karena adanya beberapa faktor yang terdapat dalam suatu masyarakat antara lain: usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan, profesi, dan latar belakang budaya daerah, maka bahasa itu menjadi beragam.
Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan memerlukan atau menyebabkan terjadinya keragaman bahasa. Keragaman ini akan semakin bertambah, seandainya bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak, serta dalam wilayah yang sangat luas, misalnya bahasa Indonesia yang wilayah penyebarannya dari Sabang sampai Merauke.
Keberagaman bahasa akan tampak jelas dalam dialog yang digunakan oleh anggota masyarakat, misalnya dalam proses berkomunikasi yang dilakukan sehari-hari, selain itu keberagaman bahasa juga dapat dilihat pada dialog antartokoh dalam sebuah film. Film merupakan salah satu bentuk perkembangan kehidupan masyarakat pada zamannya. Dari zaman ke zaman film mengalami perkembangan baik dari segi teknologi, sarana, dan prasarana maupun dari segi tema yang diangkat. Perkembangan film memegang peranan penting dalam merekam sejumlah kejadian atau sejarah yang berupa unsur kebudayaan yang melatarbelakanginya, termasuk salah satunya adalah pemakaian bahasa yang tampak pada penggunaan dialog antartokoh.
Pada tahun 1990-an muncul isu bahwa produksi perfilman Indonesia mengalami stagnasi (keadaan terhenti; tidak aktif). Hal ini mungkin benar jika dilihat dari segi kuantitas film yang diproduksi di bioskop selama kurun waktu tersebut. Pada kenyataannya, walau tidak diputar di sebuah bioskop, film Indonesia terus berproduksi. Pemutaran film tersebut dapat dilakukan dalam bentuk proyeksi video digital baik di tempat umum atau tempat khusus serta baik yang ditiketkan atau digratiskan.
Dari sumber yang sama, Kritanto dalam Kompas (2005:15) menguraikan bahwa kesan lesu dunia perfilman di Indonesia muncul karena masyarakat tidak melihat tampilnya film-film di bioskop dan kualitas film hasil produksi selama kurun waktu tersebut. Padahal, pada tahun yang paling sulit pun sebenarnya tetap ada usaha memproduksi. Ada sekitar 13 film yang langsung beredar dalam bentuk VCD, atau langsung ditayangkan untuk umum dalam bentuk proyeksi video digital di bioskop umum, tempat khusus yang mengadakan pemutaran film dengan membayar tiket masuk, atau festival-festival di dalam negri (JiFFest) dan di luar negeri.
Saat ini perkembangan film di Indonesia terkesan dimonopoli oleh film yang bertema seputar remaja. Hal ini terlihat pada keantusiasan para remaja dalam menonton sebuah film terutama di bioskop, misalnya: antrean panjang saat membeli tiket masuk, dan semakin banyaknya jumlah bioskop dalam suatu daerah. Pada tahun 2001 Petualangan Sherina yang secara komersil begitu membuahkan hasil. Keberuntungan secara komersil juga berlanjut dalam produksi film selanjutnya Ada Apa Dengan Cinta (2002). Selanjutnya pada tahun 2007 Get Married berhasil menduduki peringkat teratas berdasarkan jumlah penonton terbanyak.
Skenario Get Married ditulis oleh Musfar Yasin, beliau adalah seorang penulis skenario yang hampir tidak dikenal. Puluhan skenario telah ditulis oleh Musfar Yasin, namun hanya beberapa karyanya yang mendapatkan penghargaan, salah satunya adalah Get Married yang menceritakan kehidupan masyarakat pengangguran kota Metropolitan (Jakarta), dan adat perjodohan yang masih berlaku. Walaupun sebagian ceritanya berasal dari lingkungan kumuh, namun film ini mampu mendobrak keantusiasan penonton, terutama remaja. Film Get Married merupakan salah satu film remaja Indonesia terfavorit. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa penghargaan yang diraih, dan tiket masuk yang selalu habis. Sebagai film terfavorit, Get Married telah merekam sejumlah unsur-unsur budaya baru yang melatarbelakanginya. Salah satu unsur budaya yang dimaksud adalah perkembangan bahasa gaul remaja Indonesia.
Sumarsana dan Partana (2002:150) menyatakan bahwa, jika ditinjau lebih lanjut, masa remaja adalah masa-masa yang paling berkesan dan menarik. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia.
Inilah salah satu alasan yang melatarbelakangi para produsen film berlomba-lomba untuk memproduksi film yang bertema seputar remaja. Pada umumnya, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Bahasa remaja tersebut kemudian dikenal sebagai bahasa gaul remaja. Remaja sebagai suatu kelompok dalam masyarakat sering menggunakan bahasa gaul ketika berkomunikasi dengan anggota kelompoknya. Bahasa gaul selain memiliki keunikan tersendiri juga bersifat kreatif, misalnya berupa singkatan atau akronim yang digunakan saat berkomunikasi melalui SMS.
Ranah bahasa Indonesia semacam ini merupakan bahasa sehari-hari penduduk Jakarta. Oleh karena itu, banyak kalangan yang menyebutnya ragam santai dialek Jakarta (Badudu dalam Indari, 2008:38). Kalangan remaja di pedesaan pun tampaknya semakin banyak yang menggunakan kosakata yang diambil dari ranah bahasa ini, akibat gencarnya siaran televisi, radio dan sebagainya, yang sebagian besar tema dan latar berkiblat ke Jakarta. Dengan kata lain, bahasa gaul sudah memberikan konstribusi dalam perkembangan bahasa Indonesia.
Bahasa gaul inilah yang kemudian ditangkap oleh penulis skenario untuk menghidupkan suasana atau atmosfer remaja dalam film remaja Indonesia, kemudian penulis skenario menuangkan dalam bentuk dialog. Dengan kata lain, film mampu menjadikan salah satu sarana untuk mensosialisasikan bahasa gaul yang kini banyak digunakan oleh remaja Indonesia baik yang berada di kota maupun di pelosok desa.
Pemakaian bahasa gaul juga mencerminkan sebuah budaya yang tampak pada dialog yang digunakan antartokoh dalam sebuah film. Bahasa ini digunakan untuk menghidupkan suasana sehingga penonton tidak merasa bosan. Dialog-dialog yang digunakan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia baku. Bahasa gaul memiliki kecenderungan memakai bahasa prokem/slang yang memiliki kesan santai dan tidak kaku. Kesan santai tersebut tercermin dalam kosakata, struktur kalimat, dan intonasi yang digunakan. Hal ini sejalan dengan pendapat Lumintaintang dalam Indari (2008:38) yang menyatakan bahwa bahasa gaul adalah dialek nonformal baik berupa slang atau prokem yang digunakan oleh kalangan remaja (khususnya perkotaan), bersifat sementara, hanya berupa variasi bahasa dan penggunaannya meliputi: kosakata, ungkapan, intonasi, pelafalan, pola, konteks, serta distribusi.
Distribusi bahasa gaul (Laman Pusat Bahasa dan Sastra,2004) sering tidak memperhatikan konteks yang tepat. Beberapa film remaja Indonesia menampilkan adegan seorang siswa SMA menggunakan bahasa gaul ketika berkomunikasi dengan guru ataupun dengan kepala sekolah. Dalam kalimat berikut (Indari, 2008:39) dapat dilihat, bagaimana bahasa gaul dibuat begitu singkat namun tetap komunikatif.
“…lagi mabok kali tu anak”
Dari contoh kalimat di atas jelas sekali bahwa susunan kalimat yang digunakan sangat berbeda dengan kaidah bahasa Indonesia baku, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa gaul sebagai tutur remaja dilihat dari segi distribusinya atau penyebarannya dapat dikatakan telah berhasil menjadi bahasa identitas remaja. Sebaliknya, bahasa remaja menjadi dampak negatif apabila dilihat dari segi ketidakmampuan remaja menempatkan bahasa dalam konteks sosialnya (Nyoman Riasa: 2002).
Morfologi merupakan suatu disiplin ilmu, sebagai cabang tata bahasa yang mengupas permasalahan-permasalahan dan pembentukannya. Menurut Ramlan (1985:46) dalam bahasa Indonesia terdapat proses morfologik yaitu proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan. Kajian Morfologi digunakan dalam penelitian ini, karena pembentukan-pembentukan kata sangat banyak ditemukan, sedangkan pada penelitian ini, membatasi pembentukan kata yang berupa afiksasi dan reduplikasi, karena untuk membentuk kata kerja transitif bahasa remaja cenderung menggunakan kedua proses tersebut. Oleh karena pertimbangan tersebut, penelitian yang berjudul Analisis Bahasa Gaul Antartokoh dalam Film Remaja Indonesia Get Married (Kajian Morfologi) menarik untuk diteliti.

1.2 Masalah Penelitian
1.2.1 Batasan Masalah
Dalam film remaja Indonesia Get Married banyak terdapat unsur yang dapat diteliti, misalnya: kehidupan sosial, penokohan, dan bahasa, seperti: bahasa Ibu, bahasa asing, bahasa isyarat, bahasa resmi, dan bahasa gaul, akan tetapi peneliti lebih memfokuskan tentang bahasa gaul yang digunakan antartokoh, agar lebih jelas dan spesifik.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana proses afiksasi bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married?
2. Bagaimana proses reduplikasi bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married?
3. Gejala bahasa apa saja yang terdapat dalam film remaja Indonesia Get Married?
4. Bagaimana penggunaan istilah bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married?
5. Bagaimana penggunaan partikel bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah.
1. Mendeskripsikan proses afiksasi bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married.
2. Mendeskripsikan proses reduplikasi bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married.
3. Mendeskripsikan gejala bahasa apa saja yang terdapat dalam film remaja Indonesia Get Married.
4. Mendeskripsikan penggunaan istilah bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married.
5. Mendeskripsikan penggunaan partikel bahasa gaul antartokoh dalam film remaja Indonesia Get Married.

1.4 Manfaat Penelitian
Secara operasional, manfaat penelitian yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian Sosiolinguistik khususnya tentang variasi bahasa, serta dapat menghasilkan deskripsi analisis bahasa gaul, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pendukung dalam pengkajian ilmu bahasa.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Menambah wawasan peneliti dalam mengembangkan ilmu bahasa, khususnya yang telah diperoleh dari bangku kuliah.
b. Bagi pihak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas X, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tolok ukur kemantapan dan pengayaan pengajaran teori linguistik.
c. Bagi guru khususnya, bisa digunakan untuk bahan pengajaran, dan bagi peneliti lain hasil ini dapat digunakan sebagai referensi awal dalam penelitian lain khusunya bidang Sosiolinguistik.

1.5 Penjelasan Judul
Penjelasan judul sangat penting dalam setiap penelitian agar tidak terjadi kesalahpahaman penafsiran terhadap istilah-istilah yang ada dalam sebuah penelitian. Adapun penjelasan judul dalam penelitian yang berjudul Analisis Bahasa Gaul Antartokoh dalam Film Remaja Indonesia Get Married (Kajian Morfologi) adalah,
1. Bahasa Gaul menurut Lumintaintang dalam Indari (2008:38) adalah dialek nonformal baik berupa slang atau prokem yang digunakan oleh kalangan remaja (khususnya perkotaan), bersifat sementara, hanya berupa variasi bahasa dan penggunaannya meliputi: kosakata, ungkapan, intonasi, pelafalan, pola, konteks, serta distribusi.
2. Film Remaja, dalam Laman Wilimedia Indonesia Ensiklopedi (2006), film remaja adalah karya seni yang menitikberatkan tema, tokoh dan suasana remaja, yang diangkat dalam sebuah film sekaligus remaja sebagai sasaran utamanya.
3. Get Married adalah sebuah film yang mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat pengangguran Jakarta, persahabatan yang terjalin sejak kecil, dan adat perjodohan yang masih berlaku, karya Musfar Yasin.
4. Kajian Morfologi, menurut Ramlan (1985:5) adalah kajian yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.
Skripsi Analisis Bahasa Dialek Kempo Di Kecamatan Sano Nggoang

Skripsi Analisis Bahasa Dialek Kempo Di Kecamatan Sano Nggoang

(Kode PEND-BSI-0002) : Skripsi Analisis Bahasa Dialek Kempo Di Kecamatan Sano Nggoang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang menyatukan berbagai bahasa yang ada di wilayah nusantara. Setiap bahasa mempunyai karateristik berbeda, namun bahasa juga mempunyai banyak ciri yang hampir mirip tapi tidak sama. Sehingga dari perbedaan itu perlu mengadakan penelitian yang mendalam supaya dapat dipahami oleh pengguna bahasa atau pun yang belajar bahasa itu sendiri. Salah satu ciri tersebut adalah bahasa akan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.” Bahasa itu bersifat dinamis, tidak terlepas dari berbagai kemungkinan yang sewaktu-waktu dapat terjadi ”, (Chaer, 1995: 117). Perubahan tersebut dapat terjadi pada tataran apa saja baik secara fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon.
Bahasa juga merupakan salah satu aspek kebudayaan yang penting, yang juga menjadi kunci terbaik untuk memahami kehidupan masyarakat dalam segala bentuknya. Adanya berbagai bentuk dalam bahasa itu sendiri sangat memungkinkan kita untuk bertanya dan bahkan untuk menganalisis serta membuat deskripsi bahasa tersebut.
Selanjutnya pokok pembicaraan yang ideal adalah hubungan dan bentuk bahasa yang bagaimana yang terjadi antara bahasa dan masyarakat pengguna bahasa itu sendiri. Jawabanya adalah adalah hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu yang sering disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat, (Chaer, 1995 : 50).
Kita banyak menemukan variasi, ragam atau dialek di tengah-tengah lingkungan masyarakat tutur, tetapi kita masih belum membedakan manakah yang menjadi pola dalam penggunaannya, sehingga dalam memenuhi pengertian tentang analisis suatu bahasa menjadi lebih terarah dan mudah dipahami.
Karena pokok bahasan ini lebih mengarah pada pengkajian analisis sintaksis, maka konsepnya pun tidak beda jauh, yang dilakukan adalah mengamati dan menginterpretasikan sebuah bahasa yang menjadi obyek dalam penelitan ini.
Fenomena yang sedang terjadi dalam masyarakat adalah belum mengerti struktur kalimat suatu bahasa, sehingga perlu suatu penelitian agar tidak terjadi salah penggunaan dalam kalimat baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk pengucapannya.
Saat ini perlu diperhatikan dalam menganalisis suatu bahasa adalah keadaan harafiah dan filosofi bahasa itu sendiri. Apabila suatu bahasa tidak dapat menunjukan kenyataan sebagai bahasa yang dapat dikomunikasikan, kita tidak dapat mengkaji, menganalisisnya suatu data yang valid.
Melihat fenomena seperti itu sehingga dialek Kempo di Kecamatan Sano Nggoang merupakan segmen penting bagi peneliti bahasa. Peneliti ketahui dalam dialek Kempo banyak bentuk kalimat yang belum diklasifikasikan, namun pendapat itu masih dalam tataran hipotesis kerja peneliti. Penelitian sintaksis dialek bahasa Kempo dilatarbelakangi keinginan untuk melakukan analisis dan penafsiran perbedaan unsur-unsur kebahasaan terlebih dalam bentuk kalimat. Penelitian ini sangat penting untuk melihat kecendrungan sebuah kalimat dalam dialek Kempo yang ditumbuh di Kecamatan Sano Nggoang apakah kearah perkembangan posetif atau sebaliknya.
Penelitian ini sangat esensial untuk dilaksanakan, mengingat bagaimanapun sulitnya bentuk-bentuk kalimat bahasa dialek Kempo di Kecamatan Sano Nggoang dengan tingkat sosial kebahasaan bertolak dari pemikiran bahwa semua bentuk kalimat dalam dialek Kempo yang ada tidak akan mempunyai peran dan fungsi yang sama dalam pemakaiannya dalam komunikasi di masyarakat.
Hak-hal yang diutarakan di atas itulah yang menjadi latar belakang subtansial untuk menganalis secara sintaksis dialek bahasa Kempo di Kecamatan Sano Nggoang, hal-hal lain yang menjadi pemicu dipilihnya masalah ini dan kemudian diangkat dalam sebuah penelitian adalah bentuk-bentuk kalimat yang menjadi dasar persoalan yang dianggap belum diklasifikasikan apakah itu kalimat perintah ataukah itu kalimat setara ataupun bentuk kalimat yang lain.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Ruang lingkup Masalah
Penelitian yang berhubungan dengan bentuk kalimat yang digunakan oleh paralingual, sangat rentan untuk bersinggungan dengan aspek sosiolinguistik, kemudian secara simultan juga menjangkau aspek historis sebuah bahasa. Aspek geografis dan sejarah sebuah bahasa juga sangat berhubungan dengan analisis sintaksis.
Secara garis besar penelitian dialek mempunyai dua bidang analis yang pertama kajian diakronis sebuah bahasa dan analisis sinkronis (deskriptif), penelitian sinkronis akan menghadapi banyak permasalahan yang harus dianalisis, antara lain: aspek fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik. Namun analisis dalam penelitian ini hanya memberikan spesifikasi pada tataran sintaksis saja. Proses sintaksis yang dianalisis, terlebih pada bentuk-bentuk kalimat saja.

1.2.2 Pembatasan Masalah
Mengingat sangat luasnya lingkup penelitian sintaksis dialek bahasa Kempo maka dalam penelitian dialek bahasa Kempo di Kecamatan Sano Nggoang ini akan dikhususkan pada aspek bentuk-bentuk kalimat. Agar mendapat kemudahan dalam analisis.

1.2.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Bagaimana sejarah dialek bahasa Kempo ?
b. Bagaimana perbedaan pemakaian unsur bahasa Kempo tersebut berhubungan dengan tingkat sosial dialek ?
c. Bagaimana bentuk kalimat jika ditinjau dari sudut makna ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang diharapkan akan tercapai dalam penelitian ini adalah :
a. Mendeskripsikan bagaimana sejarah dialek bahasa Kempo ?
b. Mendeskripsikan bagaimana perbedaan unsur bahasa Kempo tersebut berhubungan dengan tingkat sosial dialek ?
c. Mendeskripsikan bagaimana bentuk kalimat jika ditinjau dari sudut makna ?

1.4 Manfaat Penelitian
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pengetahuan dan masukan pada perkembangan ilmu kebahasaan, khususnya mengenai deskripsi bentuk-bentuk kalimat masyarakat pengguna dialek bahasa Kempo di Kecamatan Sano Nggoang.
b. Bagi lembaga pembinaan dan pengembang bahasa hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam kemantapan pembinaan dan pengembangan bahasa pada lembaga pendidikan.
Skripsi Analisis Atas Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy (Sebuah Pendekatan Strukturalisme)

Skripsi Analisis Atas Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy (Sebuah Pendekatan Strukturalisme)

(Kode PEND-BSI-0001) : Skripsi Analisis Atas Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy (Sebuah Pendekatan Strukturalisme)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya kehidupan manusia sangatlah kompleks dengan berbagai masalah-masalah kehidupan. Kehidupan yang kompleks tersebut dapat berupa permasalahan kehidupan yang mencakup hubungan antara masyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, manusia dengan Tuhannya, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagi seorang pengarang yang peka terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, dengan hasil perenungan, penghayatan serta imajinasinya, kemudian menuangkan gagasan atau idenya tersebut dalam karya sastra.
Membahas masalah karya sastra, ada beberapa persoalan yang muncul, antara lain: kurangnya kemampuan pembaca dalam memahami karya sastra yang bersifat kompleks, unik, dan tidak langsung dalam pengungkapannya. Hal inilah antara lain yang menyebabkan sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra. Hal ini sesuai dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro (1995: 31-32) yang menyatakan bahwa salah satu penyebab sulitnya pembaca dalam menafsirkan karya sastra, yaitu dikarenakan novel merupakan sebuah struktur yang komplek, unik, serta mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu usaha kritik terhadap karya sastra untuk menjelaskannya dengan disertai bukti-bukti hasil kerja analisis.
Mengenai peran sastra, George Santayana (dalam Suyitno, 1986: 4) memberikan penjelasan bahwa sastra dapat berperan sebagai penuntun hidup. Hanya saja penuntun hidup itu tersublimasi sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bersifat mendikte tentang apa yang sebaiknya tidak dilakukan. Sastra mampu membentuk watak-watak pribadi secara personal, dan akhirnya dapat pula secara sosial. Sastra mampu berfungsi sebagai penyadar manusia akan kehadirannya yang bermakna bagi kehidupan, baik di hadapan sang pencipta maupun di hadapan sesama umat.
Di dalam kehidupan, manusia tidak pernah luput dari suatu masalah/problema. Tidak jarang manusia merasa mengalami kekosongan jiwa, kekacauan berpikir, dan bahkan stres karena tidak mampu mengatasi masalah yang dialaminya. Dalam hal ini, karya sastra dapat berperan untuk membantu sebagai kartarsis/pencerahan, serta sebagai sarana pembelajaran sehingga dapat diambil manfaat dan pelajaran dalam kehidupan. Hal ini sesuai pendapat Haji Saleh dalam Atar Semi (1993: 20) mengatakan bahwa tugas pertama sastra adalah sebagai alat penting bagi pemikirpemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan bila mengalami masalah.
Selain itu, dewasa ini banyak masyarakat yang jauh dari sifat-sifat kemanusiaan, lupa terhadap kewajiban-kewajiban hidupnya, bersikap masa bodoh terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Dalam hal ini, melalui karya sastra (novel) diharapkan dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk kembali pada fitrahya pada jalan yang benar.
Mengingat bahwa karya sastra adalah karya seni yang mempersoalkan kehidupan manusia dari berbagai segi kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, dan berbagai sendi kehidupan manusia lainnya maka dalam era globalisasi ini, peranan sastra cukup berarti. Mengenai hal ini, Nani Tuloli (dalam Hasan Alwi dan Dendy Sugono (editor), 1999: 235) mengemukakan, sastra dapat berperan dalam: (1) mendorong dan menumbuhkan nilai-nilai positif manusia, seperti suka menolong, berbuat baik, beriman dan bertakwa; (2) memberi pesan kepada manusia, khususnya pemimpin, agar berbuat sesuai dengan harapan masyarakat, mencintai keadilan, kebenaran, dan kejujuran; (3) mengajak orang untuk bekerja keras demi kepentingan dirinya dan kepentingan bersama; dan (4) merangsang munculnya watak-watak pribadi yang tangguh dan kuat.
Adapun permasalahan lain, yaitu adanya pandangan bahwa suatu karya sastra tertentu adalah bernilai rendah daripada karya sastra tertentu lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadi Susanto seorang pemerhati sastra dan kandidat Doktor Twente Universiteit, Belanda (dalam Habiburrahman El Shirazy. 2005: vi), yang menyatakan adanya anggapan dari pecinta sastra sekuler bahwa novel islami adalah buku agama yang hanya berisi norma agama sebagai dakwah tanpa mengindahkan segi keestetikannya.
Apakah benar novel islami adalah buku agama yang hanya berisi norma agama sebagai dakwah tanpa mengindahkan segi keestetikannya? Novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy berhasil menepis anggapan para pencinta sastra sekuler tersebut yang menganggap novel islami kehilangan nilai sastranya. Novel Ayat Ayat Cinta merupakan sebuah novel islami sekaligus novel pembangun jiwa yang didalamnya terkandung ajaran agama yang terbungkus rapi tanpa meninggalkan segi keestetikannya. Kisah cinta yang indah dibangun jauh dari kevulgaran dan keerotisan. Nilai-nilai syariat agama yang terdalam sebagai alat dakwah terbungkus secara rapi, dengan ajaran-ajaran moral yang tidak menggurui.
Tema/bahan pokok karangannya yang bermanfaat bagi penyempurnaan manusia yaitu tema cinta dalam arti yang luas. Seperti terlihat dari judul novel yaitu Ayat Ayat Cinta (Sebuah Novel Pembangun Jiwa), maka tema novel ini tidak hanya mengandung tema cinta manusia pada manusia semata, tetapi juga cinta manusia kepada Tuhan dan Rasul-Nya yang diwujudkan dengan cara teguh menjaga keimanan berdasarkan petunjuk-Nya. Selain itu, tema cinta tersebut menyiratkan adanya pengertian cinta Tuhan kepada manusia yang diwujudkan dengan diberikannya cobaan kehidupan dan wahyu berupa petunjuk Ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah nabi.
Selain itu, dari segi bahasanya yang mengalir indah dengan perumpamaanperumpamaan dan majas hiperbola yang digunakan merupakan salah satu keestetikan karya sastra tersebut. Adanya variasi bahasa yang terdapat di dalamnya dapat memberikan gambaran kepada pembacanya tentang istilah-istilah/ungkapan kosa kata dari berbagai bahasa. Di dalamnya terdapat penggunaan campur kode dan alih kode yang memanfaatkan bahasa Indonesia, Jawa, Arab, Jerman, dan Inggris. Ungkapan-ungkapan para penyair dunia yang sangat indah berhasil pengarang padukan dalam karyanya sehingga bertambahlah nilai keindahan novelnya yaitu Ayat Ayat Cinta.
Selain itu, novel Ayat Ayat Cinta merupakan karya sastra yang sangat dalam menyentuh hakikat pengalaman jiwa segi kehidupan manusia. Di dalam novel tersebut, menyiratkan adanya lapis makna (neveau) yang lengkap, yang merupakan kriteria bernilai tidaknya suatu karya sastra, dari tingkatan makna yang terendah sampai tingkatan makna yang tertinggi.
Dari berbagai keunggulan novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy tersebut, peneliti merasa tertarik untuk mengkajinya khususnya untuk mengetahui keterjalinan antarunsur intrinsiknya, lapis makna yang tercermin di dalamnya, serta nilai-nilai edukatif yang dapat diambil dari cerita tersebut. Peneliti merasa perlu mengkaji keterjalinan antarunsur intrinsiknya karena hal ini dipandang penting untuk dilakukan sebagai langkah awal untuk memahami keutuhan makna karya sastra yang dilihat dari segi karya sastra itu sendiri. Mengenai lapis makna, peneliti merasa perlu mengkajinya karena peneliti merasa di dalamnya terdapat lapis makna yang lengkap, yang dapat menunjukkan keunggulan novel Ayat Ayat Cinta. Adapun masalah nilai-nilai edukatif, peneliti merasa perlu mengkajinya karena di dalam novel tersebut terkandung nilai-nilai ajaran yang sangat berguna bagi pembangunan watak manusia.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah keterjalinan unsur intrinsik dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy?
2. Lapis makna apa sajakah yang terdapat dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy?
3. Nilai-nilai edukatif apa sajakah yang terdapat dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy?

C. Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan masalah tersebut, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan :
1. Keterjalinan unsur intrinsik dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
2. Lapis makna yang terdapat dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
3. Nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Menambah khazanah penelitian sastra Indonesia, khususnya penelitian novel islami sehingga dapat bermanfaat bagi perkembangan karya sastra Indonesia.
b. Menjadi titik tolak untuk memahami dan mendalami karya sastra pada umumnya dan karya sastra novel Ayat Ayat Cinta khususnya.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan:
a. Dapat membantu meningkatkan daya apresiasi terhadap novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
b. Dapat menambah wawasan kepada penikmat karya sastra tentang lapis makna dan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
c. Dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah, khususnya tentang apresiasi novel.
Skripsi Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi Perselingkuhan Istri Di Desa X

Skripsi Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi Perselingkuhan Istri Di Desa X

(Kode DAKW-BPI-0003) : Skripsi Bimbingan Konseling Islam Dalam Mengatasi Perselingkuhan Istri Di Desa X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan suatu aktivitas dari suatu pasangan, maka sudah selayaknya mereka juga mempunyai tujuan tertentu. Tetapi karena perkawinan itu terdiri dari dua individu, maka adanya kemungkinan bahwa tujuan mereka itu tidak sama.
Pernikahan didasari rasa cinta dan kasih sayang dari seorang pria kepada wanita atau sebaliknya. Pernikahan mempunyai beberapa tujuan, diantaranya untuk menyalurkan hasrat seksual, keinginan untuk memiliki keturunan dan mencapai kehidupan tentram dan bahagia.
Membina keluarga yang tentram merupakan hal yang tidak mudah, dimana diharapkan dari setiap individu yang terdapat dalam anggota keluarga memiliki pengertian antara satu dengan yang lain, selalu melakukan komunikasi yang baik.
Untuk membentuk suatu keluarga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah, hendaknya mempunyai landasan beragama, hal ini sesuai dengan firman Allah dalm surat Arrum ayat 21 yang berbunyi:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Persoalan demi persoalan yang muncul setiap hari, ditambah keunikan masing-masing individu, sering menjadikan perkawinan terasa sulit dan bahkan hambar. Kalau sudah begitu, akan semakin terbuka peluang bagi timbulnya perselingkuhan di antara mereka.
Secara umum perselingkuhan atau penyelewengan adalah emosional atau fisik yang dilakukan oleh seorang suami atau istri dengan orang lain.
Seperti faktor ekonomi dalam keluarga, mesti bukan tujuan utama dalam membentuk rumah tangga, namun masalah ini tidak dapat diabaikan keberadaan dan kepentingannya, faktor ekonomi merupakan hambatan dalam keharmonisan rumah tangga.
Diantara penyebab perselingkuhan dalam rumah tangga adalah kembali pada individu masing-masing, dari faktor ekonomi (kurangnya nafkah) dan faktor seks. Namun faktor yang paling utama terletak pada masing-masing individu dalam membentuk keluarganya, sebagaian besar penyebab pernikahan atau rumah tangga menjadi berantakan, tidaklah dipenuhi oleh faktor-faktor itu semua, akan tetapi kebanyakan karena lunturnya kasih sayang yang tidak tersalurkan sebagaimana mestinya, sehingga munc ulnya apa yang dinamakan perselingkuhan, dan adapun prilaku tersebut (selingkuh) adalah perbuatan yang dilarang oleh agama sebagai mana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 32 yang berbunyi:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Peneliti ini membahas perselingkuhan istri yang terjadi disebuah keluarga di Desa X yang terjadi akibat kurangnya rasa tanggung jawab, rumah tangga ini dimulai dengan pernikahan dini, sehingga keduannya masih memiliki gejolak remaja yang penuh kegelisahan.
Tugas suami untuk memberi nafkah kepada keluarganya dijalankan dengan baik, namun hal yang seharusnya menjadi kewajiban itu mulai ditinggalkan, karena istrinya terlalu boros dalam penggunaan jerih payahnya itu. Namun sang suami tidak menasehati istrinya melainkan bermalas-malasan untuk berkerja, padahal kebutuhan keluarga semakin lama semakin tinggi, terlebih saat mereka dikaruniai seorang anak. Untuk menutupi kekurangannya itu mereka meminjam (hutang) pada teman-temannya sampai akhirnya jatuh tempo, mereka belum bisa melunasinya, menyikapi ha l itu si istri marah dan dia lebih nyaman bersama temanya dari pada suaminya sendiri, karena dia merasa temanya itu bisa memberikan apa yang dia inginkan, sekaligus bisa melunasi hutang-hutangnya.
Akhirnya sang istri memutuskan untuk selingkuh dengan laki-laki lain yang dianggapnya bisa membantunya, namun perselingkuhan tidak meringankan masalah malah memperkeruh masalah, akibatnya saat suaminya mengetahui istrinya telah berselingkuh mereka selalu bertengkar, nasib anaknya pun terluntah-luntah dan prestasi belajar anaknya menurun.
Meskipun demikian masing-masing dari mereka tidak ada yang mau disalahkan dan condong menyalahkan yang lain (saling menyalahkan). Akibat permasalahan tersebut, suami istri tidak mendapatkan kebahagiaan dalam keluarganya bahkan terancam perceraian
Melihat fenomena seperti diatas, maka keluarga tersebut membutuhkan Bimbingan Konseling Islam untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada keluarga mereka. Oleh karena itu, Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di desa X kecamatan X Kotamadya X diharapkan klien mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

B. Rumusan Masalah
Berpijak pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan diantaranya sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di Desa X, Kecamatan X Kotamadya X?
2. Bagaimana keberhasilan pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di Desa X Kecamatan X Kotamadya X?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban dari permasalahan yang dikemukakan diatas. Oleh karena itu, peneliti ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di Desa X, Kecamatan X Kotamadya X.
2. Untuk mengetahui keberhasilan dari pelaksanaan Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di Desa X Kecamatan X Kotamadya X.

D. Manfaat Penelitian
Sebagaimana mestinya suatu penelitian tentu mempunyai kegunaan. Adapun penelitian ini dapat bermanfaat antara lain:
1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan yang positif serta mampu menghasilkan paradigma baru, serta memberikan sumbangan pemikiran bagi mahasiswa.
2. Secara Praktis
Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi peneliti sebagai sumber maklumat tentang Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri, peneliti dapat mengembangkan dalam masyarakat serta dapat dijadikan bahan pertimbangan sebagai konselor dalam merealisasikan tugasnya.

E. Defenisi Konsep
Definisi konsep merupakan unsur pokok dalam penelitian dan biasanya dipakai untuk menggambarkan fenomena sosial yang dihadapi. Agar tidak terjadi kesalahpahaman serta memudahkan dalam mempelajari isi, maksud dan tujuan penelitian skripsi ini, maka perlu dijelaskan mengenai istilah-istilah yang terkandung dalam sudut penelitian ini sebagai berikut:
1. Konseling Islam
Konseling Islam menurut pendapat Tohari Musnamar dalam bukunya “Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan Dan Konseling Islami”, memberikan pengertian :
“Konseling Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan-ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat”.
Menurut Ahmad Mubarok, MA. Dalam bukunya Konseling Agama Teori dan Kasus mendefenisikan bahwa:
“Pengertian Bimbingan Konseling Islam adalah usaha pemberian bantuan kepada seorang atau kelompok orang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan batin dalam menjalankan tugas-tugas hidupnya dengan menggunakan pendekatan agama, yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran batin didalam dirinya untuk mendorong mengatasi masalah yang dihadapinya.”
2. Perselingkuhan
Para ahli mendefinisikan perselingkuhan adalah suatu tindakan diamdiam membagi cinta atau seks yang dilakukan dengan pasangan barunya atas korban pasangan lamanya (pasangan yang sah) tempat biasanya mencurahkan dan mendapatkan cinta atau seks dengan setia, termasuk meninggalkan pasangan lamanya dengan alasan tidak jujur.
Selingkuh adalah perbuatan yang tidak jujur, tidak berterus terang antara suami istri dalam membina kehidupan rumah tangga tersebut.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perselingkuhan adalah tindakan yang tidak jujur yang dilakukan pasangan suami istri dalam kehidupan rumah tangga dengan membagi cinta yang dilakukan dengan pasangan barunya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka maksud dari judul skripsi “Bimbingan Konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri di Desa X Kecamatan X Kotamadya X” adalah proses pemberian bantuan kepada istri yang selingkuh bantuan tersebut berupa pertolongan dibidang mental dan spiritual dengan tujuan menghasilkan suatu perubahan perilaku pada diri klien, agar seorang istri tersebut mampu mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri melalui dorongan dan kekuatan iman dan taqwa kepada Tuhannya.

F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini terdiri dari 5 bab pokok bahasan yang meliputi:
BAB PERTAMA : Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, defenisi konsep sistematika pembahasan.
BAB KEDUA : Kerangka Teoretik meliputi kajian pustaka yang membahas tentang bimbingan konseling islam berisi: pengertian bimbingan, pengertian konseling, pengertian BKI, unsur-unsur BKI, tujuan dan fungsi BKI, langkah-langkah BKI, perselingkuhan yang meliputi: defenisi selingkuh, faktor-faktor terjadinya perselingkuhan, ciri-ciri atau pertanda perselingkuhan, dampak perselingkuahan, perselingkuhan sebagai masalah BKI, serta BKI dalam mengatasi perselingkuhan, dan penelitian terdahulu yang relevan.
BAB KETIGA : Metode penelitian terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian subyek penelitian, jenis dan sumber data, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik pemeriksaan keabsahan data.
BAB KEEMPAT : Penyajian dan analisis data yang meliputi setting penelitian, Penyajian data, analisis data dan pembahasan. Seting penelitian terdiri deskripsi lokasi, deskripsi mengenai konselor, klien dan masalah. Penyajian data dan analisis data yang meliputi proses bimbingan konseling Islam dalam mengatasi perselingkuhan istri, dan keberhasilan pelaksanaan bimbingan konseling Islam dalam menangani perselingkuhan istri di Desa X Kecamatan X Kotamadya X. Serta pembahasan.
BAB KELIMA : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.
Skripsi Urgensi Bimbingan Konseling Islam Terhadap Perkembangan Spiritualitas Siswa Sekolah Menengah Pertama Islam X

Skripsi Urgensi Bimbingan Konseling Islam Terhadap Perkembangan Spiritualitas Siswa Sekolah Menengah Pertama Islam X

(Kode DAKW-BPI-0008) : Skripsi Urgensi Bimbingan Konseling Islam Terhadap Perkembangan Spiritualitas Siswa Sekolah Menengah Pertama Islam X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan mampu menjadikan manusia sebagai manusia yang lebih mulia. Demikian pula dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan memiliki peran yang Sangat penting dalam menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa.
Dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menghadapi era globalisasi dewasa ini, banyak ditemukan individu-individu yang materialistik, individualistik dan lain sebagainya, sehingga melahirkan prilaku yang menyimpang dari perkembangan potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada setiap manusia sejak ia lahir.
Hal tersebut dapat terjadi karena kesalahan sistem pendidikan dan bimbingan yang diberikan sebelum nya, selain godaan setan yang memang diperkenankan oleh Allah untuk menggoda manusia. Oleh karena itu, dunia pendidikan pada saat ini sering dikritik oleh masyarakat yang dikarenakan adanya sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan yang menunjukkan sikap yang kurang terpuji.
Keadaan seperti itu semakin menambah potret pendidikan semakin tidak menarik serta dapat menurunkan kepercayaan mayarakat terhadap wibawa dunia pendidikan. Padahal, pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan pribadi yang bersifat menyeluruh atau dapat diartikan sebagai usaha untuk membina kepribadian manusia sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan serta norma agama, yang dalam perkembangannya dapat berarti proses pendewasaan, sehingga dapat bertanggung jawab te rhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis.
Pada umumnya manusia yang beradab setidak-tidaknya memiliki common sense (akal sehat) tentang pendidikan, bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kehidupan dan penghidupan. Pendidikan mempunyai pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya di mana dia hidup.
Usia remaja merupakan masa transisi atau peralihan. Pada saat itu, terjadi suatu proses menuju pematangan intelektual, seni, spiritual dan jasmani guna membentuk kejelasan identitas (jati diri) saat menghadapi keraguan siapa sebenarnya dirinya, sehingga timbul gejolak emosi dan tekanan jiwa.
Menurut Muhammad Quthub, kekuatan spiritual pada diri manusia merupakan kekuatannya yang paling besar, paling agung dan paling mampu untuk berhubungan dengan hakikat wujud. Sedangkan kekuatan fisiknya hanya terbatas pada sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra. Kemampuan akal, meskipun yang paling bebas, namun masih terbatas ruang dan waktu. Kekuatan spiritual tidak diketahui batas ataupun ikatannya. Dan hanya kekuatan spiritual yang mampu berkomunikasi dengan Allah.
Dalam dunia pendidikan, adanya bimbingan dan konseling memilki arti cukup penting untuk mengembangkan kepribadian anak, termasuk pula spiritualnya. Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang terarah kepada seseorang/sekelompok orang secara terus-menerus dan sistematis oleh guru pembimbing agar individu/kelompok individu menjadi pribadi yang yang mandiri yaitu mengenal diri sendiri dan lingkungannya, menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis, dapat mengambil keputusan dan mengarahkan diri sendiri. Adapun dalam kaitannya dengan spiritualnya, individu mampu melakukan hubungan/interaksi vertikal dengan Allah atau dengan kata lain untuk mewujudkan kaitan yang terus menerus antara jiwa dengan Allah dalam setiap kesempatan, perbuatan, pemikiran ataupun perasaan. Oleh karena itu, islam memberikan perhatian khusus terhadap spiritual yang merupakan sentral bagi manusia, karena spiritual merupakan penghubung manusia dengan Allah.
Salah satu sarana yang efektif untuk meningkatkan spiritual seseorang yaitu melalui ibadah. Karena dengan ibadah dapat melahirkan hubungan yang terus menerus serta perasaan mengabdi kepada Allah. Hikmah yang paling mendasar dari perasaan tersebut adalah mengaitkan hamba kepada Tuhannya, memperkokoh hubungan dengan-Nya.
Pada prinsipnya, semua manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang fitri, suci, bersih, sehat serta atribut-atribut positif lainnya. Oleh karena itu, sebagai makhluk ciptaan Allah, maka seharusnya manusia selalu berpegang teguh pada agama Allah (Islam), oleh karena itu diperlukan suatu upaya pengembangan potensi yang searah dengan tujuan Islam yaitu dengan Bimbingan dan Konseling Islam. BKI ini merupakan proses pemberian bantuan yang terarah, kontinyu dan sistematis kepada setiap individu agar dia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah ke dalam diri, sehingga ia dapat hidup selaras dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Bila internalisasi nilainilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadist itu tercapai dan potensi telah berkembang secara optimal, maka individu tersebut dapat menciptakan hubungan yang baik dengan Allah SWT, dengan manusia dan alam semesta dan inilah yang menjadi tinjauan dari BKI.
Betapapun baiknya sistem pendidikan tanpa dijalankan BK yang baik, maka program yang baik tidak ada gunanya. Dengan kata lain BK adalah bagian yang integral dalam pendidikan, bagian yang tak terpisahkan dengan pe ndidikan. Sebab pendidikan pada umumnya selalu berintikan bimbingan. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan individu anak.
Segala aspek diri anak didik harus dikembangkan termasuk spiritualitasnya. BKI adalah upaya membantu perkembangan aspek tersebut me njadi optimal, harmonis dan wajar.
Pelaksanaan BK terutama dalam aspek keagamaan (spiritualitas) di SMPI X diadakan kurang lebih dua kali dalam sebulan. Dalam pelaksanaannya, guru BK juga bekerja sama dengan guru agama. Namun, peran yang dilakukan oleh guru agama hanya sebatas memberikan materimateri pelajaran agama yang telah tercantum dalam kurikulum sekolah serta membantu menjalankan program yang dibuat oleh guru BK yaitu mengadakan program keagamaan khusus yang dikemas dalam program Kecakapan Penerapan Ibadah, yang meliputi kecakapan dalam ibadah sholat, kecakapan membaca dan menulis serta memahami kandungan/isi Al-Qur'an, kecakapan dalam mengamalkan sunnah rasul atau kegiatan keagamaan seperti tahlil, istighotsah, dan lain sebagainya. Dengan adanya program tersebut, diharapkan para siswa mampu mengembangkan potensi keagamaan/spiritualitasnya sehingga dapat menciptakan siswa yang memiliki kepribadian dan perilaku yang baik serta kepekaan yang tinggi terhadap agama.
Dari gambaran di atas dapat diketahui bahwa sebenarnya peranan BKI itu besar sekali manfaatnya, namun eksistensinya kurang disadari oleh banyak pihak terutama siswa di sekolah.
Berangkat dari argumen diatas itulah yang mendorong penulis untuk mengangkat permasalahan tentang ”URGENSI BIMBINGAN KONSELING ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN SPIRITUALITAS SISWA SMPI X DESA X KECAMATAN X KABUPATEN X”.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi spiritualitas siswa sebelum pelaksanaan BKI di SMPI X Desa X Kecamatan X Kabupaten X?
2. Bagaimana pelaksanaan BKI terhadap perkembangan spiritualitas siswa di SMPI X desa X Kecamatan X Kabupaten X?
3. Bagaimana kondisi spiritualitas siswa setelah pelaksanaan BKI di SMPI X Desa X Kecamatan X Kabupaten X.
4. Seberapa jauh urgensi BKI terhadap perkembangan spiritualitas siswa SMPI X desa X Kecamatan X Kabupaten X?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Ingin mengetahui kondisi spiritualitas siswa sebelum pelaksanaan BKI di SMPI X Desa X Kecamatan X Kabupaten X.
2. Ingin mengetahui pelaksanaan BKI terhadap perkembangan spiritualitas siswa di SMPI X desa X Kecamatan X Kabupaten X.
3. Ingin mengetahui kondisi spiritualitas siswa setelah pelaksanaan BKI di SMPI X Desa X Kecamatan X Kabupaten X.
4. Ingin mengetahui urgensi BKI terhadap perkembangan spiritualitas siswa SMPI X desa X Kecamatan X Kabupaten X.

D. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas tentang pelaksanaan BKI terhadap perkembangan spiritualitas yang ditinjau melalui penilaian atau kegiatan ibadah sholat.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan pemikiran pada lembaga akademis IAIN Sunan Ampe l Surabaya khususnya Fakultas Dakwah jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) serta sebagai rujukan pada masyarakat dan para ilmuwan, serta mahasiswa yang berkecimpung di bidang bimbingan dan konseling islam tentang upaya mengembangkan spiritualitas siswa.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan kepada para pengemban pendidikan dapat dijadikan referensi serta input tentang urgennya eksistensi BKI bagi sebuah lembaga pendidikan sehingga penanganannya lebih professional.

F. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya kekeliruan dan kesalahan dalam memahami judul skripsi ini, maka perlu adanya pembatasan pengertian serta pembatasan terhadap judul skripsi “URGENSI BIMBINGAN KONSELING ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN SPIRITUALITAS SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA ISLAM X DESA X KECAMATAN X KABUPATEN X”.
URGENSI : Hal perlunya atau pentingnya tindakan yang cepat atau segera.
BIMBINGAN KONSELING ISLAM : Proses pemberian bantuan secara terus menerus dan sistematis terhadap individu agar bisa hidup selaras sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah, serta bisa memahami dirinya dan bisa memecahkan masalah yang dihadapainya sehingga mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
PERKEMBANGAN : Proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan.
SPIRITUALITAS : Berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin)
Dari definisi istilah-istilah tersebut, maka yang dimaksud dengan urgensi bimbingan konseling islam yaitu pentingnya eksistensi atau pelaksanaan bimbingan konseling islam. Sedangkan perkembangan spiritualitas yaitu proses perkembangan (meningkat atau menurun) keagamaan seseorang dari waktu ke waktu. Adapun perkembangan spiritualitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat perkembangan ibadah sholat, yang meliputi pemahaman tentang syarat dan rukun serta pelaksanaan sholat.

G. Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dalam sebuah penelitian, hipotesis perlu dimunculkan sebagai gambaran awal kondisi yang diteliti. Hipotesis hanyalah sebagai pijakan awal bukan kesimpulan. Langkah ini harus dilakukan supaya penelitian bisa berjalan sistematis, terarah dan mencapai apa yang menjadi tujuan. Hipotesis dapat dipandang sebagai konklusi yang sifatnya sementara atas dasar pengetahuan-pengetahuan. Mengingat hipotesis merupakan suatu pedoman dalam penelitian, maka penulis merumuskan sebagai berikut :
1. Hipotesis Alternatif (Ha)
Hipotesis alternatif dikatakan juga hipotesis kerja yang disingkat Ha. Hipotesis alternatif menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y atau adanya perbedaan diantara X dan Y. Adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut :
“Ada perbedaan yang signifikan antara spiritualitas siswa sebelum mendapatkan BKI dan sesudah mendapatkan BKI”.
2. Hipotesis Nihil (Ho)
Hipotesis nol menyatakan adanya persamaan atau tidak adanya perbedaan antara dua kelompok variabel atau lebih. Adapun rumusan hipotesisnya sebagai berikut :
”Tidak ada perbedaan yang signifikan antara spiritualitas siswa sebelum mendapatkan BKI dan sesudah mendapatkan BKI”.
Dari hasil uji hipotesis, maka akan diketahui bahwa ada tidaknya atau besar kecilnya urgensi BKI terhadap Perkembangan Spiritualitas Siswa.

H. Sistematika Pembahasan
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis membagi atas beberapa bab. Setiap bab dibagi atas beberapa sub, yang mana isinya antara yang satu dengan yang lain saling berkaitan, dengan maksud agar mudah untuk dipahami.
Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, definisi operasional, hipotesis dan sistematika pembahasan.
BAB II : KERANGKA TEORITIK
Bab ini menerangkan kajian pustaka tentang Bimbingan Konseling Islam dan spiritualitas, urgensi BKI terhadap perkembangan spiritualitas siswa, kajian teorik, serta kajian kepustakaan penelitian terdahulu.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan tentang metode penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, obyek penelitian, sampel dan teknik sampling, variabel penelitian dan indikator variabel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data .
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Bab ini menguraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian yang meliputi, sejarah berdirinya SMPI X, Letak Geografis, keadaan Guru dan karyawan serta siswa. Selain itu juga membahas tentang penyajian data, pengujian hipotesis dan analisis data yang terkait dengan hasil kuisioner dengan alat bantu prosedur dan rumus statistik, serta pembahasan hasil penelitian.
BAB V : PENUTUP
Bab ini meliputi kesimpulan dan rekomendasi serta saran.

judul skripsi lain

Layanan Pemesanan Skripsi
Skripsi Perspektif Konseling Islam Terhadap Aktualisasi Diri Seorang Waria Di Desa X Kabupaten X

Skripsi Perspektif Konseling Islam Terhadap Aktualisasi Diri Seorang Waria Di Desa X Kabupaten X

(Kode DAKW-BPI-0007) : Skripsi Perspektif Konseling Islam Terhadap Aktualisasi Diri Seorang Waria Di Desa X Kabupaten X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Seorang waria yang akrab dipanggil Mbak Erma adalah salah satu warga desa X kecamatan X Kabupaten X. Dia menjadi waria sejak usia 17 tahun dan sekarang ini dia berusia 45 tahun. Sehingga dia berperilaku sebagai seorang waria selama 28 tahun.
Latar belakang yang mendukung dia untuk menjadi seorang waria karena ekonomi, sehingga dia ikut pada grup lu druk dan campursari sebagai sinden dan berprofesi lain sebagai tatarias pengantin.
Sinden pada grup ludruk dan campursari identik dengan dandanan sesuai perempuan dan mengenakan pakaian seperti wayang serta bernyanyi (nembang basa jawa) dengan suara yang khas perempuan dan nada yang melengking, di samping itu juga diiringi dengan tarian-tarian yang mengenakan selendang (sampur) yang dalam istilah ludruk atau campursari disebut ngremo.
Karena pentas seni ludruk nggak hanya satu atau dua jam saja kadang bisa empat sampai lima jam dan dalam sehari bisa manggung sampai dua juga tiga tempat yang berbeda. Dan hal ini yang menjadi salah satu faktor yang mendorong seorang waria tersebut yaitu Mbak Erma (nama samaran) untuk tetap terlihat cantik dihadapan para penggemarnya dan bahkan di manapun dia berada setiap saat.Dari suaranya yang terdengar anggun dan memikat banyak para penggemarnya walaupun sejenisnya (laki-laki), di atas panggung saat Mbak Erma mentas banyak saweran yang diterima, setelah turun panggung masih banyak juga laki-laki yang menghampirinya dan bilang suka, walaupun para laki-laki itu sudah mengerti kalau Mbak Erma seorang laki-laki juga.
Karena paras Mbak Erma yang membuat banyak meluluhkan hati para lelaki dan akhirnya sampai melakukan hubungan yang terlarang oleh norma agama maupun susila. Karena hubungan tersebut dilakukan oleh dua orang yang berjenis kelamin sama (laki-laki) dalam bahasa ilmiah biasanya dikatakan dengan istilah Gay atau Homoseksual.
Selama 28 tahun Mbak Erma hidup dengan kabiasaan yang demikian, setelah banyak berganti-ganti pasangan akhirnya Mbak Erma positif terjangkit HIV AIDS. Ketika demikian, kehidupan Mbak Erma saat itu sangat tidak stabil baik kondisi kesehatan sudah pasti menurun drastis soalnya pada umumnya HIV AIDS adalah penyakit yang mematikan dan menurut isu masih belum bisa disembuhkan dan belum ada obatnya, di samping itu segi perekonomiannya juga tidak lagi membaik, karena Mbak Erma sudah berhenti dari manggung akibat suara yang tidak semerdu saat sehatnya dan bahkan tidak lagi bersuara bukan hanya itu dari bentuk tubuhnya juga tidak anggun lagi karena berat badannya menurun secara significant.
Dari pelajaran yang diterima dan dirasakan paling sulit oleh Mbak Erma semasa hidupnya, seolah-olah harapan dia hanyalah akhirat. Dari kebiasaan dia yang jarang sekali menjalankan perintah agama termasuk sholat yang merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh umat muslim lima waktu dalam sehari semalam, itu saja tidak pernah.
Ketika dalam kondisi sulit seperti itu, dia mencoba untuk menjalankan ibadah sholat walaupun lima waktu tidak penuh, kadang dua atau tiga waktu sholat yang dilaksanakan dalam sehari semalam. Meskipun demikian dia sudah merasa tenang, tapi juga masih ragu-ragu apakah yang dilakukan dalam sholatnya itu benar atau salah, dalam pemakaian kostum sholat, apa dia harus memakai mukenah (rukuh) atau sarung dan kopyah. Hal itu yang kian menjadi pertanyaan terhadap dirinya, dan dia pun enggan dan malu ketika harus bertanya kepada orang yang lebih mengerti. Akhirnya dia memutuskan dengan memakai sarung ketika sholat, karena dia merasa bahwa dirinya masih lakilaki dan ketika lahir kodrat yang diberikan oleh Allah SWT. kepadanya juga laki-laki.
Sedikit demi sedikit dia mencoba untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan juga ingin diakui dalam masyarakat sebagai orang yang berperilaku normal layaknya laki-laki lain. Karena itu dia mengawalinya dengan sholat dan keluar rumah juga memakai pakaian yang biasa dipakai laki-laki, dengan memakai celana juga kemeja dan kaos oblong. Dan mulai jarang keluar atau masuk rumah dengan ganti-ganti pasangan (teman kencan yang sejenis yaitu laki-laki), tapi dia masih mempertahankan satu pasangannya karena dia anggap seorang yang paling berjasa dan siaga dalam proses penyembuhan virus HIV AIDS yang mengancam nyawanya.

B. Rumusan Masalah
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi Mbak Erma untuk menjadi seorang waria desa X, kecamatan X, kabupaten X?
2. Problem apa saja yang di hadapi Mbak Erma setelah berperilaku sebagai seorang waria?
3. Bagaimana proses yang dijalankan oleh seorang waria tersebut dalam rangka aktualisasi diri?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan peneliti dalam pelaksanaan penelitian diantara lain:
1. Ingin mengetahui faktor yang menjadi stimulus Mbak Erma untuk terjun ke dunia waria .
2. Ingin mengetahui problem yang dihadapi Mbak Erma setelah berkepribadian sebagai seorang waria
3. Ingin mengetahui proses konseling Islam yang dijalani oleh Mbak Erma.

D. Manfaat Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini manfaat yang diperoleh, antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Mengkaji atau mengupas habis problem yang terjadi pada diri seorang waria dan bagaimana cara aktualisasi diri yang dilakukan oleh seorang waria dalam usaha perbaikan jatidiri dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat secara penuh atas tidakannya yang sudah tidak patologis lagi.
Pengkajian konseling Islam terhadap aktualisasi diri bagi kaum waria pada ludruk dan campursari di kecamatan X dalam usaha mengaktualisasikan potensi diri bagi kaum waria yang ada di kecamatan sekitarnya khususnya dan bagi kaum waria yang bertempat tinggal dilain daerah pada khususnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dalam rangka pembangunan aktualisasi diri bagi kaum waria dengan pendekatan konseling Islam. Dan juga informasi tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan dalam menentukan tindakan.
Begitu juga bermanfaat bagi penulis karena informasi yang diberikan oleh informan dapat mampu memberikan wacana serta wawasan dan juga dengan mudah terselesainya karya tulis untuk memenuhi prasyarat terakhir program strata satu.

E. Definisi Konsep
1. Bimbingan Konseling Islam
Bimbingan konseling Islam adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang yang sedang mengalami kesulitan lahir batin dalam menjalankan tugas-tugas hidupnya dengan menggunakan pendekatan agama, yakni dengan membangkitkan kekuatan getaran batin (Iman) di dalam dirinya untuk mendorongnya mengatasi masalah yang dihadapinya.
2. Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Istilah ini digunakan dalam berbagai teori psikologi, seperti oleh Kurt Goldstein, Abraham Maslow , dan Carl Rogers. Goldstein adalah ahli yang pertama melihat bahwa kebutuhan ini menjadi motivasi utama manusia, sementara kebutuhan lainnya hanyalah manifestasi dari kebutuhan tersebut. Namun yang membuat istilah ini lebih mengemuka adalah teori Maslow tentang hirarki kebutuhan, yang menganggapnya sebagai tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.
3. Waria
Waria (wanita pria) yang marak disebut di kalangan masyarakat dengan panggilan bencong, banci, wadham3, wandu, bences merupakan nama-nama panggilan bagi seorang wanitapria yaitu seorang laki-laki yang bergaya dan bersikap seperti layaknya seorang perempuan, tapi postur tubuh dan karakter otot masih tetap seperti pria pada umumnya.
Dengan demikian bahwasannya konseling Islam dalam menyikapi aktualisasi diri waria adalah memberikan bantuan berupa dorongan moral kepada pribadi yang bermasalah yang mempunyai niat untuk merealisasikan dirinya, atau pribadinya yang dianggap menyimpang atas dasar norma dan hukum. Agar menjadi pribadi yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat.

F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam skripsi ini dibagi menjadi lima bab dengan urutan sebagai berikut:
Bab Pertama. Pendahuluan yang berisi tentang: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep, sistematika pembahasan.
Bab Kedua. Mengenai kerangka teoritik yang berisi tentang: pertama, kajian pustaka dengan item-item terdiri atas: konseling Islam, meliputi; pengertian, tujuan dan fungsi, unsur -unsur dan langkah-langkah konseling Islam. Aktualisasi diri, waria, langkah-langkah aktualisasi diri waria, tindakan patologis waria merupakan masalah. Kedua, telaah kepustakaan. Ketiga, penelitian terdahulu yang relevan.
Bab Ketiga. Bab ini merupakan bab yang menerangkan tentang metode penelitian yang digunakan dan meliputi pendekatan penelitian, jenis penelitian, wilayah penelitian, jenis dan sumber data, tahapan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan keabsahan data.
Bab Empat. Berisi tentang: setting penelitian; deskripsi umum lokasi penelitian (kediaman seorang waria, wilayah administrasi kecamatan X, peta sebagian data kekuatan kecamatan X, batas wilayah penelitian, sejarah se kilas mengenai Ludruk Budhi Wijaya), deskripsi objek penelitian (deskripsi koselor, deskripsi klien, deskripsi masalah). Penyajian data (deskripsi data tentang faktor yang mempengaruhi Mbak Erma untuk menjadi seorang waria desa X, kecamatan X, kabupaten X, deskripsi data tentang problem yang dihadapi Mbak Erma setelah berkepribadian sebagai seorang waria, deskripsi data tentang proses konseling Islam yang dijalankan oleh Mbak Erma dalam rangka aktualisasi diri).
Analisis data (analisis data tentang faktor yang mempengaruhi kepribadian seorang waria desa X, kecamatan X, kabupaten X, analisis data tentang problem yang dihadapi seorang waria desa X, kecamatan X, kabupaten X, analisis data tentang proses aktualisasi diri seorang waria desa X, kecamatan X, kabupaten X).
Bab Lima. Penutup yang terdiri atas kesimpulan yang merupakan jawaban-jawaban dari rumusan masalah, kemudian dilajutkan dengan saran-saran yang sesuai dengan tujuan dari pembahasan skripsi ini.
Lampiran-lampiran