Search This Blog

Skripsi Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren (Studi Problematika Dan Upaya Menanganinya Di Pondok Pesantren X)

Skripsi Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren (Studi Problematika Dan Upaya Menanganinya Di Pondok Pesantren X)

(Kode PEND-AIS-0007) : Skripsi Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren (Studi Problematika Dan Upaya Menanganinya Di Pondok Pesantren X)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Balakang
Obyektif pendidikan Indonesia terpotret pada dualisma pendidikan yaitu pendidikan Islam tradisional dan pendidikan modern. Pendidikan Islam tradisional diwakili pesantren yang bersifat konservatif dan hampir steril dari ilmu pengtahuan umum. Sedangkan pendidikan modern diwakili oleh lembaga pendidikan umum yang disebut sebagai warisan kolonial serta madarsahmadrasah yang dalam perkembangannya telah berafiliasi dengan system pendidikan umum.1
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh-kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM)2. Dari kedua lembaga pendidikan tersebut pesantren adalah system pendidikan yang tumbuh dan lahir dari kultur Indonesia yang bersifat Indegenous. Lembaga inilah yang dilirik kembali sebagai model dasar pengembangan konsep pendiddikan (baru) Indonesia, tetapi realitasnya lembaga ini memunculkan bebearapa sikap kekecewaan.
Pesantren terdiri dari lima elemen pokok yaitu, kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.3. Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren dan membedakan pendidikan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain. Penggalian hasanah budaya Islam melalui kitab-kitab klasik salah satu unsur yang terpenting dari keberadaan sebuah pesantren yang berperan sebagai pusat transmisi dan desiminasi ilmu ke Islaman. Maka pengajaran “kitab-kitab kuning” telah menjadi karakteristik dan merupakan ciri khas dari proses belajar mengajar di pondok pesantren4
Dari segi sikap terhadap tradisi, pesantren dibedakan kepada jenis pesantren Salafy dan Khalafy. Pesantren Salafi merupakan jenis pesantren yang tetap mempertahankan system sorogan dan weton dan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikannya, dipesantren ini pengajaran pengetahuan umum tidak diberikan, tradisi masa lalu sangat dipertahankan, pemakaian system Madrasah hanya untuk memudahklan system sorogan seperti yang dilakukan dilembaga-lembaga pengajaran bentuk lama5.
Eksistensi pesantren dengan kondisi yang ada sekarang talah malahirkan output santri dengan segala potensi akademisnya hanya bagaikan menghadirkan “koleksi busana”, tetapi orang lain tidak menyukainya, atau mereka tidak tahu kalau memang itu baik untuk digunakan. Kendati inipun lahir dari ungkapan kesenjangan intelektual dari kultur antara pesantren dan dunia luar, artinya harus diakui bahwa dunia pesantren yang menyimpan beberapa potensi tidak dapat hadir secara okomodif dan memainkan peranan yang maksimal di zaman mutakhir ini.
Pesantren Khalafy tampaknya menerima hal-hal baru yang dinilai baik disamping tetap mempertahankan tradisi lama yang baik, pesantren sejenis ini mengajarkan pelajaran umum di madrasah dengan system klasikal dan membuka sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren, tetapi pengajaran Islam klasik masih tetap dipertahankan. Bentuk pesantren ini diklasifikasikan sebagai pesantren modern
Untuk mengeahui faktor penyebab permasalahan pondok pesantren dalam menghadapi tantangan global, Nurcholish madjid7 telah mengidentifikasikan beberapa hal, antara satu dengan yang lain saling berkaitan, yaitu : lingkungan, santri, kurikulum, kepemimpinan, alumni, dan prinsip kehidupan pesantren secara umum.
Beberapa persoalan diatas memperlihatkan jurang yang menganga antara dunia pesantren disatu sisi dan alam real disisi lain, padahal pesantren adalah bagian dari dunia itu. Kesenjangan ini tidak jarang telah melahirkan dikotomi kepada pendidikan Islam. Pesantren yang bersifat ‘konservatif” lebih diidentikkan dengan lembaga pendidikan tradisional, sedangkan lembaga pendidikan yang “mewarisi” system kolonial diklaim sebagai lembaga pendidikan modern8.
Apabila pada masa orde baru pembangunan lebih diarahkan pada pemerataan pendidikan yang berimplikasi pada tidak terimbangnya peningkatan kuantitas oleh kualitas, maka globalisasi memaksa Indonesia untuk merubah orientasi pendidikannya menuju pendididkan yang berorientasikan kualitas, kompetensi, dan skill. Artinya yang terpenting kedepan bukan lagi memberantas buta huruf9, lebih dari itu membekali manusia terdidik agar dapat berpartisispasi dalam persaingan global juga harus dikedepankan. Berkenaan dengan ini, standar mutu yang berkembang di masyarakat adalah tingkat keberhasilan lulusan sebuah lembaga pendidikan dalam mengikuti kompetisi pasar global.
Pada aras ini, selain sebagai agen pemberdayaan masyarakat bermoral dan beretika, pesantern juga diharapkan mampu meningkatkan peran kelembagaannya sebagai kawah candradimuka. Generasi muda Islam dalam menimba ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebagai bekal dalam menghadapi era globalisasi.
Permasalahan dalam dunia pendidikan pesantren, tidak mungkin dapat dipecahkan hanya sekedar malalui perluasan (ekspansi) linear dari system pendidikan yang ada. Juga tidak akan dipecahkan dengan jalan penyesuaian tekhnis administratife disana-sini, bahkan tidak bisa diselesaikan pula dengan pengalihan konsep pendidikan dari tekhnologis pendidikan yang berkembang demikian pesat. Lebih dari semua itu, yang diperlukan sekarang adalah memimpin kembali konsep dan asumsi yang mendasari seluruh system pendidikan Islam baik secara makro maupun mikro.
Sejalan dengan itu, mengembalikan pesantren kepada fungsi pokoknya yang sebenarnya juga harus segera diwujudkan. Sebagaimana diketahui setidaknya terdapat tiga fungsi pokok peantren10 :
1. Transmisi ilmu pengetahuan Islam (transmission of Islamic knowledge), dimaksud tentunya tidak hanya meliputi pengetahuan agama, tetapi juga mencakup seluruh pengetahuan yang ada.
2. Pemeliharaan tradisi Islam (maintenance of Islamic tradition),
3. Pembinaan calon-calon ulama (reproduction of ulama). Untuk hal ini, Pesantren dituntut untuk melakukan terobosan sebagai berikut11 :
1. membuat kurikulum terpadu, gradual, sistematis, egaliter, dan bersifat buttom up (tidak top down).
2. Melengkapi sarana penunjang proses pembelajaran, seperti perpustakaan buku-buku klasik dan kontemporer.
3. Memberi kebebasan kepada santri yang ingin mengembangkan talenta mereka masing-masing, baik yang berkenaan dengan ilmu pemikiran, ilmu pengetahuan, teknologi, maupun kewirausahaan.
4. Menyediakan wahana aktualisasi diri ditengah-tengah masyarakat.
Berangkat dari pengalaman di atas, nampaknya KH Abd Fatah Ahmad Faqih dan Drs. H. M Tohir Abd Rahman M.M, selaku pendiri dan pengasuh pondok pesantren di Desa X Kec. X Kab. X telah menyadari sepenuhnya kelebihan dan kekurangan dualisme pendidikan tersebut, sehingga solusi yang ditawarkan dalam memodernisasikan pendidikannya di Pondok Pesantren X adalah memadukan dari kedua system pendidikan ini dengan mengambil perangkat system yang positif dari keduanya.
Lembaga pendidikan seperti ini yang dapat memadukan yang Liberal yakni tradisi belajar klasik dengan gaya modern yang diwujudkan secara baik dalam system pengajaran maupun mata pelajarannya. System pendidikan pada Pondok Pesantren X, dijadikan sebagai model dalam memodernisasi pendidikan yang digagas oleh KH Abd Fatah Ahmad Faqih dan Drs. H. M Tohir Abd Rahman M.M. Di pondok pesantren ini telah di selenggarakan beberapa kelembagaan ya itu :
1. Taman Kanak-kanak X (TKNK)
2. Madrasah Ibtidaiyah X (MINK)
3. Madrasah Tsanawiyah X (MTsNK)
4. Madrasah Aliyah X (MANK)
Kelembagaan pendidikan yang di selenggarakan tersebut berada di bawah naungan besar lembaga Pondok Pesantren X yang di dirikan di Desa X Kec. X Kab. X
Dari sisi yang lain, peran pesantren menemukan momentumnya terutama dalam menjawab tantangan zaman atau proses modernisasi yang terus berlangsung12. Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren X tentunya menemukan beberapa momentum dalam menjawab tuntutan global dengan berbagai macam problematika yang hadapi untuk memodernisasi pondok pesantren tersebut baik yang bersifat intern maupun ekstren.
Adapun dari beberapa problematika yang diidentifikasikan dalam menghadapi tuntutan global, pondok pesantren ini menjumpai berbagai problema, hal ini dapat dilihat dari beberapa segi sebagai berikut :
a. Kultur atau tradisi pulau Madura pada umumnya, hal ini mempangaruhi pada implementasi-stimulasi system pondok pesantren X.
b. Sarana dan prasarana, yakni dalam menampung santri atau siswa pada khususnya atau dalam menfasilitasi program pondok pesantren pada umumnya.
c. Metode pembelajaran yang berbentuk sorogan dan weton, yang dalam hal ini siswa atau santri masih terpengaruh pada budaya atau tradisi lama tanpa bisa mengkorabolasikan dengan masa sekarang yakni bebas menentukan pilihan sendiri.
d. Tradisi masyarakat yang bersifat agamis dan system kerajaan, tanpa kesadaran pendidikan yang diperlukan oleh bangsa dan negara Indonesia pada khusunya dan dunia umumnya.
e. Sulitnya memperoleh koleksi buku-buku umum sebab pondok pesantren ini terletak di pedesaan.
f. Perbedaan kebijakan pemimpin dalam mengarahkan pondok pesant ren, dan lain sebagainya.
Deskripsi di atas telah menginspirasi peneliti dalam menemukan, mengetahui, dan menganalisis problematika yang dihadapi lembaga pendidikan pondok pesantren ini dalam menghadapi tantangan global dunia pendidikan untuk dijadikan sebuah penelitian dengan judul skripsi : “MODERNISASI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN” (Studi Problematika Dan Upaya Menanganinya Di Pondok Pesantren X).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah bentuk problematika dalam memodernisasi pendidikan pondok pesantren di Pondok Pesantren X?
2. Bagaimanakah upaya dalam menangani Problematika yang di hadapi dalam memodernisasi pendidikan Pondok Pesantren di pondok pesantren X?

C. Pembatasan Masalah
Di pandang obyek penelitian bersifat global maka peneliti akan membatasi penelitian ini pada beberapa item atau beberapa permasalahan saja. Adapun yang akan menjadi obyek bagi peneliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Intern
a. Tradisi pesantren pada umumnya, eksis sebagai lembaga yang identik dengan pengajaran kitab klasik (kitab-kitab kuning), etika atau tradisional pesantren, bahkan pada pemerkosaan kekuasaan.
b. Sistem kependidikan pondok pesantren, yang dalam hal ini peneliti fokuskan kepada materi atau kurikulum (kurikulum yang terpadu, gradual, sistematis, egaliter) pendidikan yang berlangsung diajarkan, metodologi pembelajaran, sarana dan prasarana di pondok pesantren X
2. Ektern
a. Situasi dan kondisi keberadaan ponpes tersebut, pastinya di desa X kec, X kab, X.
b. Sistem kependidikan nasional, yakni dalam menghadapi kebijakan pemerintah atau persaingan pasar era globalisasi.

D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui adakah problematika dalam memodernisasi pendidikan pondok pesantren di pondok pesantren X
2. Untuk mengetahui apakah problematika dalam memodernisasi pendidikan pondok pesantren di pondok pesantren X
3. Untuk mengetahui bagaimanakah upaya menangani Problematika yang dihadapi dalam memodernisasi pendidikan pondok pesantren di pondok pesantren X.

E. Manfaat Penelitian
1. Sebagai sumbangsih kepada sebuah lembaga khususnya dilingkungan pondok pesantren untuk lebih memperhatikan secara intensif tentang pendidikan siswa.
2. Menelaah kembali problema yang dihadapi di pondok pesantren untuk dijadikan evaluasi oleh lembaga itu.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi Departemen Pendidikan Nasional untuk senantiasa menempatkan pondok pesantren pada tempat yang layak.
4. Sebagai study perbandingan dalam mengaplikasikan materi yang diasumsi dibangku kuliah dengan realita pendidikan di lapangan.

F. Definisi Operasional
Definisi operasional itu dimaksud untuk memperjelas dan mempertegas kata-kata atau istilah-istilah kunci yang berkaitan dengan judul penelitian supaya tidak terjadi kekeliruan dalam menafsirkan makna. Maka istilah-istilah yang dioperasionalkan adalah :
1. Modernisasi
Modernisasi berasal dari kata modern yang berarti sikap dan cara serta cara bertindak yang sesuai dengan tuntutan zaman13. Jadi memodernisasi adalah gerakan yang betujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional, menyesuaikannya dengan aliran-aliran modern dalam filsafat sejarah dan ilmu pengetahuan14
Jelasnya pondok pesantren X yang digagas oleh KH Abd Fatah Ahmad Faqih dan Drs. H. M Tohir Abd Rahman M.M, yang dalam hal ini tentunya peneliti lebih mengarah kepada system kependidikan yang distimulasi oleh pendidik dan pengasuh atau pembina.
2. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh-kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) menurut Dr. Marimba pendidikan adalah bimbingan dan pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama15
3. Pondok Pesantren
Pondok Pesantren merupakan suatu tempat yang dihuni oleh para santri yang terdiri dari lima elemen pokok yaitu, kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Pondok pesantren di bedakan dengan pondok pesantren Salaf dan pondok pesantren Khalaf.
Pondok pesantren salaf adalah pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikannya. Di pesantren ini pengajaran pengetahuan umum tidak diberikan, tradisi masa lalu sangat dipertahankan, pemakaian sistem madrasah hanya untuk memudahkan system sorogan seperti yang dilakukan dilembaga-lembaga pengajaran bentuk lama16.
Pondok pesantren modern adalah pesantern yang menerima hal-hal baru yang dinilai baik disamping tetap mempertahankan tradisi lama yang baik, pesantren sejenis ini mengajarkan pelajaran umum dimadrasah dengan system klasikal dan membuka sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren, tetapi pengajaran Islam klasik masih tetap dipertahankan. Bentuk pesantren ini diklasifikasikan sebagai pesantren modern17.
4. Problematika
Problematika berasal dari kata problem yakni situasi yang tidak pasti, meragukan, sukar dipahami jadi problematika adalah masalah yang memerlukan pemecahan18.
Hal dimaksud peneliti disini adalah masalah-masalah yang dihadapi Pondok Pesantren X dalam memodernisasi ponpes tersebut.
5. Upaya
Upaya adalah cara untuk mencapai maksud, mencari jawaban keluar19. yakni cara dalam mengatasi permasalahan atau fenomena yang dihadapi.
6. X
X adalah salah satu nama lembaga atau yayasan pendidikan berstatus pondok pesantren di desa X kec. X Kab. X.

G. Alasan Memilih Judul
Sebagaimana pondok pesantren telah diasumsikan sebagai lembaga yang ektrim terhadap budaya modern bahkan menyesatkan bagi golongan modernisme yang telah mengikuti perkembangan budaya barat, di sebuah pesantren juga diasumsikan sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengikuti tradisi atau budaya Islam ala masa kuno. Akan tetapi persepsi tersebut berbeda dengan realitas kelembagaan di pondok pesantren X, lembaga tersebut mempunyai profesi untuk memiliki mutu kelulusan siswa sebagai kaderisasi yang berkualitas, berkompetensi, dan memiliki skill yang sesuai dengan tuntutan zaman. Lembaga ini telah menjadi pengaruh besar dalam persaingan kelembagaan yakni kependidikan khususnya di kec. X Kab. X dan diseluruh lembaga di Indonesia pada umumnya.

H. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menurut kirk dan puiller, penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sosial yang fundamental pada pengamatan manusia pada kawasannya sendiri dan hubungan dengan orang lain dalam bahasanya maupun dalam peristilahannya20
Penelitian kualitatif akan menghasilkan data deskriptif yaitu berupa kata-kata tertulis atau lisan dari prilaku yang diamati terutama terkait dengan bagaimana proses modernisasi pendidikan yang di kembangkan oleh lembaga pendidikan pondok pesantren X.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi atau obyek dalam penelitian ini berada di sebuah yayasan pendidikan pondok pesantren X yang terdapat di pulau kecil Indonesia yaitu pulau Madura, berlokasi di pedesaan yang bisa dilalui dengan berkendaraan umum, desa X kec. X Kab. X.
3. Jenis Data
Jenis Data adalah subyek dari mana data akan diperoleh, dalam hal ini akan peneliti bedakan menjadi dua kelompok.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya dalam hal ini data kata dan tindakan peneliti peroleh dengan cara melakukan pengamatan dan wawancara terhadap pihak-pihak terkait yakni pendiri ponpes dan pengasuh ponpes beserta bagan yang terkait dengan penelitian ini.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data penunjang dari data primer yang berasal dari buku bacaan meliputi buku-buku, perpustakaan, arsip sarta dokumen-dokumen lainnya yang behubungan dengan penilitian ini21.
Adapun data sekunder itu ada dua :
1. Sumber Intern
Sumber Intern adalah data yang tersedia di Pondok Pesantren Nuruk Karomah X Meliputi program kerja ponpes.
2. Sumber Ekstern
Sumber ekstern adalah data yang diperoleh dari dari luar seperti buku-buku perpustakaan dan lain sebagainya
4. Sumber Data
a. Responden
Yaitu orang yang memberikan tanggapan secara langsung atau memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang di berikan peneliti melalui wawancara. Responden tersebut adalah kepala atau pengasuh yayasan Pondok Pesantren X.
b. Informan
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi ditempat penelitian. Informasi wajib secara suka rela menjadi anggota penelitian walaupun hanya bersifat informan, dan ia sebagai anggota dengan kebaikannya dan kesukarelaannya ia dapat memberikan pandangan dari segi orang dalam penilaian, sikap, bangunan, proses, dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat.
Dalam penelitian informan ini peneliti perlu memulai dari informan tertentu atau dari situasi sosial tertentu untuk diwawancarai, dimana dari informan supaya dapat bergilir menggelundung laksana bola. Informan pertama itulah hasilnya perlu dinyatakan dalam usulan atau rancangan penelitian kualitatif, proses bergilir bergelinding dalam pengambilan informan lebih lanjut tentunya akan berhenti bila mencapai titik tertentu22. Dalam hal ini peneliti mengambil pengasuh Pondok Pesantren X sebagai informan awal kemudian pembina Pondok Pesantren X dan bidang tertentu yang terkait dengan bentuk penelitian ini.
5. Tahapan-Tahapan Penelitian
a. Tahapan Invention
Tahapan ini adalah tahap pra lapangan, menurut Lexy Moeleong (1995 : 88) menyebutnya dengan tahap orientasi, tahapan ini digunakan untuk mendapatkan deskripsi secara global dari obyek penelitian yang pada akhirnya akan menghasilkan rancangan penelitian. Dalam tahapan ini terdapat enam tahapan yang di identifikasikan oleh peneliti, yaitu :
1. Menyusun perencanaan penelitian
2. Memilih lapangan penelitian
3. Mengurus perizinan penelitian
4. Menjajaki atau menilai keadaan tempat penelitian
5. Memilih dan memanfaatkan informan
6. Menyusun kelengkapan penelitian
b. Tahapan Discovery
Tahapan ini adalah dalam tahapan eksplorasi secara terfokus sesuai dengan pokok permasalahan yang dipilih sebagai fokus penelitian, tahapan ini merupakan pekerjaan dilapangan dimana peneliti memasuki lapangan dengan melakukan interview, pengamatan, dan pengumpulan data serta dokumentasi. Setelah memperoleh data kemudian peneliti mencatat dengan cermat dan menganalisis data yang diperoleh dari lapangan secara intensif setelah memaksimalkan penelitiannya.
c. Tahapan Explanation
Pada tahapan ini peneliti menelaah kembali seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan, dan pengumpulan data serta dokumentasi. Setelah itu peneliti mengorganisir kembali hasil yang telah ditelaah untuk dianalisis dengan mendiskripsikan data-data untuk mencari kesimpulan hasil penelitian.
6. Subyek Penelitian
Adalah sumber untuk memperoleh informasi, baik dari orang maupun dari sesuatu23 dalam penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah problematika pendidikan yang dihadapi pondok pesantren dalam memordenisasi yayasan, di yayasan Pondok Pesantren X.
7. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki24. Adapun metode pengamatan yang peneliti gunakan dalam hal ini adalah observasi nonparticipant yaitu peneliti tidak langsung terlibat dalam situasi yang sedang diamati.
b. Wawancara/Interview
Wawancara/Interview adalah alat mengumpulkan data untuk memperoleh informsi langsung dari sumbernya25. Dalam tekhnik ini peneliti menggunakna metodologi.
1. Wawancara/interview terpimpin Wawancara/interview terpimpin adalah wawancara yang menggunakan pertanyaan yang diajukan menurut daftar pertanyaan yang telah disusun secara rapi oleh peneliti26.
2. Wawancara/interview tidak terpimpin
Wawancara/interview tidak terpimpin adalah wawancara yang bentuk pertanyaannya bebas (pertanyaan langsuang tanpa daftar yang telah disusun sebelumnya.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku27
8. Analisis Data
Analisis Data menurut patron adalah *** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

I. Sistematika Pembahasan
BAB I : Pendahuluan
Bahasan peneliti dalam bab ini adalah latar belakang masalah, rumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, dan metode penelitian.
BAB II : Landasan Teori
Landasan teori ini mencakupi modernisasi pendidikan, proses penyusunan pendidikan modern, posisi pondok pesantren dalam dunia pendidikan dan budaya, dan lain sebagainya.
BAB III : Laporan Hasil Penelitian
Dengan kajian literature penelitian ini nantinya akan dilaporkan dengan stimulasi-sistematis dengan gambaran umum obyek penelitian, perkembangan pondok pesantren,
BAB IV : Penyajian data, fenomonologi dan problema kependidikan, upaya menangani problematika, dan analisis data.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Akhir dari penelitian ini nantinya akan diketahui hasilnya setelah peneliti menyimpulkan hasil dari penelitiannya, serta akan memberikan saran atau kritik terhadap delegasi yang bersangkutan baik secara intern maupun ektren.
Skripsi Menjadikan Anak Unggul Dalam Prestasi Pendidikan Agama Islam (Kajian Penerapan Konsep Metode Integrated Di SD IT Lab. School X)

Skripsi Menjadikan Anak Unggul Dalam Prestasi Pendidikan Agama Islam (Kajian Penerapan Konsep Metode Integrated Di SD IT Lab. School X)

(Kode PEND-AIS-0006) : Skripsi Menjadikan Anak Unggul Dalam Prestasi Pendidikan Agama Islam (Kajian Penerapan Konsep Metode Integrated Di SD IT Lab. School X)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Membahas tentang metode memang tidak ada habisnya. Hal ini menunjukkan akan adanya bentuk kepedulian terhadap anak didik agar bisa lebih mudah dalam menerima materi pelajaran. Seiring dengan meningkatnya kualitas SDM yang ditandai oleh adanya globalisasi dan persaingan ketat, maka sektor pendidikan merupakan hal yang paling fundamental dalam mengatasi masalah. Sehingga sudah sewajarnya pembangunan sektor pendidikan mendapatkan prioritas dalam membangun dan menghasilkan SDM yang mampu mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini pendidikan sangat mempunyai tanggung jawab besar untuk mencerdaskan masyarakat bangsa ini. Sebagaimana yang telah termaktub dalam Undang-undang bahwasanya pendidikan nasio nal bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengertian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan kebangsaan. 1
Jelas sudah bahwasanya pendidikan mempunyai peran penting dan tanggung jawab besar untuk menyiapkan generasi penerus, membawa tongkat estafet kepemimpinan bangsa ke depan. Maju mundurnya, tergantung bagaimana proses dan pembentukan kaderisasi itu untuk memangkas berbagai problem yang melanda bangsa ini
Oleh karenanya, kenapa pendidikan mempunyai peranan yang amat menentukan. Dalam hal ini pendidikan adala h sarana untuk pencerdasan dan menumbuhkembangkan segala potensi peserta didik. Dalam sebuah proses yang akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang terampil dalam kehidupan sehari-hari, tidak gagap ketika terjun ke masyarakat.2 Dan untuk memungkinkan hal tersebut, semua ini sangat berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang ada, oleh karena itu pengembangan kepribadian dan menambah pengetahuan serta meningkatkan keterampilan sangat penting, karena pada dasarnya titik berat pembangunan terletak pada peningkatan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Penguasaan pengetahuan yang aplikatif memang mutlak dan perlu. Terutama dalam ranah pendidikan ini.
Masalah pendidikan juga telah tersurat bahwa “tujuan pendidikan Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.”3 Dan telah diperkuat juga bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”4
Dalam dua tata aturan di atas tergurat jelas bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya berorientasi untuk meraih kerja yang layak dengan gaji yang mencukupi. Lebih dari itu, pendidikan memikul beban tanggung jawab membentuk watak cerdas serta menumbuhkembangkan segala potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bermartabat.
Pendidikan sebagaimana dipahami dari paradigma Islam, diartikan sebagai bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam.5 Dalam pembentukan kepribadian seseorang akan terbentuk dengan melalui proses yang panjang dan bertahap. Sehubungan dengan hal tersebut, Ahmad D. Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa proses kepribadian itu terbagi dalam tiga tahap yaitu :
Pertama, Pembiasaan, tahap pembiasaan ini merupakan cara yang baik bagi pembentukan pribadi muslim. Kedua, Pembentukan pengertian, sikap, minat. Pada tahap ini dimaksud agar dimengerti dan memahami tentang faedah-faedah dari agama yang mereka kerjakan dan akibatnya jika meninggalkan, sehingga perbuatan keagamaan itu mereka lakukan dengan penuh kesadaran. Ketiga, Tahap pembentukan kerohanian yang luhur. Tahap ini diistilahkan dengan pembentukan diri sendiri maksudnya segala apa yang didapat, dilihat dan didengar, dia sendiri yang patut memilih dan menentukan mana yang harus diambil dan yang harus ditinggalkan, semua atas tanggung jawabnya sendiri. 6
Guna terciptanya kelancaran implementasi pendidikan yang baik, maka yang akan menjadi sorotan langsung adalah sejauh mana guru melakukan perbaikan kualitas dirinya, seperti : kompetensi pedagogik, professional, kepribadian dan sosial. Dengan begitu, kelak siswa-siswi nantinya tidak sematamata mahir dalam masalah teori saja, tetapi juga dalam mereka bisa dikatakan berhasil dalam penguasaan praktik.
Artinya, lembaga pendidikan yang ada harus bisa mencetak manusiamanusia yang berprestasi dan unggul serta bermartabat. Ketika siswa dapat meraih prestasi atau suatu keberhasilan, hal itu karena terlebih dahulu telah didesain oleh guru-guru yang berkompeten. Dengan menggunakan pendekatanpendekatan metode yang efektif dan efisien yang memudahkan peserta didik dalam memahami bahan ajar yang akan disampaikan. Sehingga dengan adanya pendekatan-pendekatan metode tersebut maka akan menjadikan suasana pembelajaran yang dulunya kaku, akhirnya menjadi menyenangkan. Dulu sasarannya hanya kognitif, kini menjadi kognitif-emosional-sosial. Dulu hanya berdasarkan tingkah laku, kini menjadi keterbukaan pada hasil penemuan siswa.
Di dalam pokok pembahasan setelah ini adalah berkenaan dengan metode Integrated, yang menerapkan bagaimana peserta didik dapat dengan mudah memahami mata pelajaran yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Hal ini sangat erat berkaitan dengan usaha pencapaian pada target yang diinginkan oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka membantu mencerdaskan anak bangsa. Jadi cara ataupun model pembelajaran yang seperti ini adalah bagaimana guru mengusahakan dengan cara menggunakan metodemetode penggabungan antar bidang studi, namun tidak melepaskan penetapan skala prioritas kurik uler, menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Sehingga murid mampu dengan mudah menyerap mata pelajaran yang menjadi bahan ajar dari guru. Sedangkan guru bias dengan menemukan potensi skill yang dimiliki oleh peserta didik.
Pada umumnya, jika diamati proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, akan terlihat jelas bahwa metode kuno atau konvensional yang telah digunakan selama ini adalah metode yang tidak menghargai harkat peserta didik sebagai manusia seutuhnya.7 Apa maksudnya? Telah diketahui bahwa sebagai makhluk yang bernama manusia yang terdiri dari tubuh fisik, manusia terdiri dari badan dan batin. Batin sendiri terdiri dari empat komponen yaitu pikiran, ingatan, perasaan dan kesadaran. Maka dari itu. Agar proses pembelajaran bisa berhasil dan optimal serta maksimal, maka harus mengakomodasi kedua aspek ini, yaitu badan dan batin.
Dalam proses pembelajaran yang menggunakan metode integrated ini adalah suatu bagian terkecil dari metode pembelajaran terpadu, yang berusaha untuk mempertemukan serta mengakomodasikan kedua aspek yang telah tersebut di atas, yaitu badan dan batin. Sepintas dari hasil pengamatan dari lapangan, metode ini terkesan sangat efektif karena pada dasarnya metode ini adalah suatu upaya untuk mengoptimalkan potensi melalui keaktifan peserta didik. Akan tetapi hal itu ternyata tidak cukup dengan itu saja. Perpaduan antar bidang studi dan berdasarkan pengalaman dari peserta didik yang menjadi inti dari ciri khusus metode ini sangat membantu peserta didik dalam menemukan makna pendidikan utuh. Dan mereka tampak belajar dengan cara belajar yang benar, sesuai dengan kepribadian dan keunikan mereka masing-masing. Hal ini terjadi karena ternyata mereka bias belajar dengan perasaan senang dan penuh semangat yang disertai rasa keingintahuan yang kuat. Sehingga hasil dari proses pembelajaran yang seperti itu sangat berdampak pada psikologis mereka yang terkesan tidak ada keterpaksaan. Itu artinya, karena murid ditempatkan sebagai pusat dari proses pembelajaran, sebagai subyek pendidikan, tidak seperti yang terjadi selama ini, anak didik ditempatkan dalam posisi yang tidak pas, yaitu sebagai obyek pendidikan.
Metode ini adalah satu jalinan yang sangat efisien yang meliputi diri anak didik, guru, proses pembelajaran dan lingkungan pembelajaran. Berangkat dari sini, pendidik harus bisa membawa peserta didik untuk bisa berkembang sesuai dengan potensi mereka seutuhnya. Karena adanya seorang guru dan anak didik di dalam kelas, tidak berarti proses pendidikan dapat berlangsung secara otomatis.
Maksudnya, bila ada proses pengajaran, tidak berarti pasti diikuti dengan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan, di samping pendidik menjadi pemantau dan pengarah dalam proses pembelajaran, pendidik juga harus bisa memadukan 3 hal, yaitu kurikulum (materi yang akan diajarkan), proses (bagaimana materi diajarkan), produk (hasil dari proses pembelajaran).8 Agar waktu yang ada tidak terbuang sia-sia, Karena terdapatnya pendidik yang tidak dapat memadukan antara kurikuler dan proses pembelajaran, sehingga akan berakibat pada produk atau hasil dari pembelajaran yang tidak optimal dan tidak sesuai dengan target.
Ketika berbicara produk, maka fokus bahasannya tidak akan terlepas prestasi yang telah digapai oleh peserta didik. Sekiranya prestasi boleh diidentikkan dengan “sukses”, maka prestasi ataupun sukses sejatinya bermakna dan bernuansa sangat relative.9 Dalam kedua perspektif tersebut, ukuran seseorang berprestasi atau sukses berangkat dari nilai ”keunggulan kompetitif ”, biasanya keadaan ini berkaitan dengan faktor skill, keterampilan, atau kemampuan seseorang, sesederhana apa pun kemampuan itu. Dengan berbekal skill tersebut lalu berkaryalah dia, prosesi berkarya dan akhirnya menghasilkan suatu karya, itulah prestasi. Apalagi dalam prosesi berkarya itu sendiri terkandung nilai-nilai luhur, seperti niat untuk mendapatkan atau menghasilkan sesuatu, tekad untuk mewujudkannya, lalu tekun, sabar, dan telaten dalam mewujudkannya, hingga lahirlah sebuah karya. Walhasil, hal tersebut sangat bisa untuk diberikan penilaian “sukses” dan dinyatakan telah berprestasi. Untuk mencapai suatu keberhasilan, maka diperlukan inovasi-inovasi baru berupa pengembangan suatu metode dalam proses belajar mengajar yang mengacu pada bentuk akan keberhasilan suatu prestasi. Pada dasarnya pengembangan menunjukkan pada suatu kegiatan yang menghasilkan suatu alat atau cara yang baru. 10
Berkaitan dengan hal tersebut berbagai pihak yang menganalisa dan melihat perlunya diterapkan metode baru yaitu metode hasil pengembangan yang salah satunya adalah pengembangan berlandaskan organisasi yang bersifat integrative. Oleh karenanya SD X memakai salah satu strategi, yaitu strategi belajar yang menitikberatkan keterpaduan ya ng dirancang dalam pembelajaran.
Beberapa pengembangan dalam banyak metode yang ada diantaranya adalah menggunakan metode Integrated yaitu mengintegrasikan, memasukkan, memadukan atau melebur materi-materi pelajaran yang satu dengan materi pelajaran yang lain. Berkenaan dengan hal ini lembaga SD X dalam penerapan metode integrated ini tidak melalui mata pelajaran yang terpisah-pisah. Namun harus dijalin suatu keutuhan yang meniadakan batas-batas tertentu dari masing-masing bahan pelajaran. Dalam ruang lingkup metode Integrated yang mensyaratkan kebulatan bahan pelajaran ini diharapkan juga dapat membentuk kepribadian anak didik dan juga semua aspek yang dapat pendukung. Karena pada dasarnya seseorang itu tidak cukup dinilai dari tingkat IQ saja, melainkan EQ dan SQ yang juga berperan di dalamnya, oleh karena itu dalam proses belajarnya siswa harus dirangsang untuk mengoptimalkan semua kecerdasan yang dimiliki. Sehingga nantinya diharapkan siswa lebih terampil atau mempunyai kecakapan hidup (life skill). Terampil yang dimaksud meliputi pemecahan problem secara kreatif, berfikir kritis, keterampilan kepemimpinan, perspektif global, keyakinan untuk memainkan peran penuh dan menentukan masa depan masyarakat dan kemajuan merencanakan hidup di tengah era perubahan yang luar biasa pesat.11
Dengan metode Integrated yang diterapkan oleh SD X ini yaitu karena melihat bahwa metode ini sangat efektif untuk menemukan tingkat potensi dan keterampilan dalam mendidik peserta didik. Dalam metode ini terdapat pengintegrasian mata pelajaran dalam konteks yang lebih luas dan lebih mudah dipahami, maka perlu diterapkan strategi yang efektif, dan belajar dengan cara yang menyenangkan (joyful learning) dan disenangi oleh siswa, sebagai salah satu alternatif yang bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar. Belajar yang menyenangkan bukan hanya diartikan proses dengan membebaskan anak untuk bertindak semaunya, tetapi merupakan sebuah usaha yang mampu menyajikan suasana yang lebih menyenangkan sekaligus memberi rasa kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Caranya bisa dengan penataan kelas yang indah, lingkungan yang nyaman dan sebagainya. SD X adalah salah satu sekolah yang termasuk dan merupakan sebuah masyarakat kecil (mini society) dan sebagai wahana pengembangan peserta didik, yang berusaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis (democratize instructions) agar terjadi proses belajar yang menyenangkan. Berusaha Menciptakan kesempatan untuk membawa kegembiraan dalam kegiatan mengajar dan belajar yang akan lebih menyenangkan, karena kegembiraan siswa siap belajar dengan lebih mudah dan bahkan dapat mengubah sikap negatif.12
Aset yang paling berharga dari belajar yang harus dimiliki adalah sikap positif.13 Dalam lingkungan sekolah kreativitas seorang guru sangat menentukan dalam proses belajar mengajar ketika guru mampu memerankan dirinya dan menjadikan siswanya sebagai partner dalam belajar, maka yang tercipta dalam kelas adalah rasa keakraban dan kenyamanan dengan kondisi seperti itu maka sikap-sikap positif siswa akan semakin nampak.

B. Rumusan Masalah
Penelitian yang berobjek masalah-masalah persekolahan, bertujuan untuk meningkatkan efektifitas program belajar mengajar agar tercapai prestasi belajar secara maksimal. 14
Dengan demikian maka penulis merumuskan beberapa permasalahan yang akan diangkat serta dikaji dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimanakah konsep metode Integrated diterapkan di SD X?
2. Adakah faktor penghambat dan pendukung dalam penerapan konsep metode Integrated ?
3. Bagaimanakah upaya mengoptimalkan penerapan konsep metode Integrated terhadap prestasi agama Islam di SD X?

C. Tujuan Penelitian
Terdapat beberapa tujuan dalam rangka pencapaian dalam penelitian ini. Peneliti
1. Mengetahui bagaimanakah konsep metode Integrated diterapkan di SD X
2. Mengetahui adakah faktor penghambat dan pendukung dalam penerapan metode Integrated
3. Mengetahui bagaimanakah upaya mengoptimalkan penerapan konsep metode Integrated terhadap prestasi agama Islam di SD X

D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi Institut Agama Islam Negeri X berguna sebagai bahan koleksi perpustakaan serta referensi ilmiah pada kajian keilmuan untuk pengembangan kegiatan pembelajaran.
2. Bagi penulis berguna sebagai sarana dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan berbagai pengalaman.
3. Bagi lembaga pendidikan SD X sebagai bahan masukan tentang urgensi metode Integrated dalam proses belajar mengajar serta penghayatan nilai-nilai agama Islam bagi anak didik SD X.

E. Definisi Operasional
1. Penerapan : Pelaksanaan; implementasi.15
2. Metode Integrated :
• Metode : cara yang teratur dan sistematis untuk pelaksanaan sesuatu; cara kerja.16
• Metode Integrated : Bagian terkecil dari pendekatan model pembelajaran terpadu dengan tipe Integrated (keterpaduan), yaitu tipe pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang, menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991 : 76).17
Metode ini merupakan suatu bentuk upaya yang diterapkan untuk menemukan potensi skill yang dimiliki oleh murid.
3. Unggul : Mental tangguh dan berpikir kreatif. 18 sementara unggul di sini adalah terdapat suatu tujuan dari pada pendidikan, bahwa ternyata murid tidak hanya cukup dengan cerdas dan pandai saja. Tetapi bagaimana murid mempunyai mental yang tangguh dan mampu berpikir kreatif dan inovatif.
4. Prestasi Pendidikan Agama Islam :
• Prestasi : Idiom prestasi boleh diidentikkan dengan “sukses”, maka prestasi atau sukses sejatinya bermakna dan bernuansa sangat relatif.19 Terdapat juga pengertian yaitu hasil yang telah dicapai.20
• Pendidikan : Pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Potensi di sini adalah potensi fisik, emosi, sosial, sikap, moral, pengetahuan dan keterampilan. 21
• Pendidikan Islam adalah Rangkaian proses sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentransfer nilai-nilai kepada siswa, mengembangkan potensi yang ada pada siswa. Sehingga mampu melaksanakan tugasnya di muka bumi sebaik-baiknya sesuai dengan nilainilai Ilahiyah yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist pada semua dimensi kehidupannnya.22
• Agama Islam : Pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya, sehingga terbentuk pola motivasi.23 Sesuai dengan dasar pedoman ummat Islam yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist.
Dalam menentukan proses berpikir, merasa dan berbuat dan proses terbentuknya kata hati. 24
• Prestasi Pendidikan Agama Islam : Prestasi agama Islam di sini berupa pengembangan skill baik di bidang ilmu agama dan juga ilmu umum yang juga berupa skill. Bentuk pengembangan skill di sini tidak memisahkan antara agama dan ilmu yang telah ada. Karena agama Islam di sini berperan sebagai kontrol dari setiap perkembangan ilmu yang ada.
5. SD X : Adalah sekolah yang mempunyai visi dan misi untuk meluluskan siswa yang berakidah salimah, berakhlakul karimah dan berprestasi akademik tinggi yang mempunyai kemampuan dalam melakukan perubahan lingkungannya menuju kehidupan Islami berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan menjadi lembaga dakwah berbasis pendidikan serta sekolah Islam percontohan. Sekolah ini adalah sebagai tempat penelitian pada skripsi ini. Dan yang akan menjadi objek lapangan serta bahan acuan untuk mendapatkan kebenaran objektif pada beberapa metode yang telah digunakan oleh sekolah tersebut. Lokasi ini tepatnya di X.
Jadi berdasarkan definisi yang telah ada di atas, sangat perlu penulis tegaskan bahwa dalam penelitian ini adalah proses untuk mempelajari dan meneliti serta mengetahui bentuk metode integrated untuk menjadikan anak unggul dalam prestasi agama Islam ketika diterapkan di lapangan. Sehingga prestasi agama di sini dapat menjadi bekal bagi peserta didik dan sebagai kontrol dalam kehidupan dan juga perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat. Dengan menggunakan metode ini akan mempermudah guru dalam penyampaian materi untuk mencapai target pendidikan. Adapun batasan prestasi Pendidikan Agama Islam dalam skripsi ini, penulis memfokuskan pada segi kognitifnya atau segi pengetahuan. Mengingat kompleksnya permasalahan jika semua aspek disertakan dalam penelitian ini.

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam pendekatan ini yang dipakai oleh penulis adalah termasuk pendekatan deskriptif kualitatif. Yaitu terdapatnya sebuah upaya pengumpulan data sebanyak-banyaknya mengenai faktor-faktor yang merupakan pendukung terhadap kualitas belajar mengajar, kemudian menganalisa faktor-faktor tersebut untuk dicari peranannya terhadap prestasi agama. Faktor-faktor yang sekiranya dapat dijadikan fokus perhatian bagi terbentuknya kualitas belajar mengajar yang baik diantaranya : guru, alat-alat pelajaran, kurikulum, metode mengajar dan siswa sendiri.
Pendekatan diantaranya yang termasuk bagian dari pendekatan deskriptif berupa survei yang merupakan cara untuk mengumpulkan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu (atau jangka waktu) yang bersamaan untuk mendapatkan sejumlah data lapangan.
Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, tape recorder, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.26 Dalam hal ini peneliti akan terus mencari kelengkapan data yang mungkin dalam bentuk aslinya dan menelaah satu demi satu pada tiap bagian. Pada tiap keadaan di lapangan, peneliti akan senantiasa memanfaatkan kesempatan dalam penggalian data tersebut, sehingga dengan demikian peneliti dapat mengambil kesimpulan dan memandang bahwa sesuatu yang telah terjadi memang demikian keadaannya.
Penelitian ini pada hakekatnya merupakan wahana untuk menemukan kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran. Kumpulan dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan pada cara berpikir dan penelitian.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam suatu proses penelitian sangat penting keberadaannya. Karena dengan adanya penelitilah yang akan mencari datadata konkret seperti data yang akan didapat dari buku-buku sebagai referensi, dan setelah itu peneliti akan mencoba mengkomparasikan atau bahkan memadukan serta membuktikan dengan aplikasi lapangan yang telah ditemukan. Apakah proses penerapan yang ditemukan di lapangan oleh peneliti sudah sesuai dengan teori yang ada. Sejauh mana teori tersebut mampu diterapkan dan kendala apa yang dapat menjadi penghambat dalam penerapan teori tersebut. Itulah sebabnya kenapa keberadaan peneliti menempati posisi yang sangat penting dalam suatu penelitian. Karena peneliti itulah yang akan menguak keterkaitan antara teori dan praktik di lapangan.
3. Lokasi Penelitian
Peneliti akan mengadakan penelitian SD X. Peneliti merasa adanya ketertarikan untuk melakukan penelitian di laboratorium karena di sana terdapat pengkolaborasian antar pelajaran dengan berbagai contoh yang dapat diambil dari berbagai banyak pelajaran. Maksudnya adalah di masa sekarang yang biasa diteliti di laboratorium bukan lagi monopoli satu ilmu saja, tetapi banyak bidang, termasuk penelitian bahasa dan juga bidang keagamaan yang dikolaborasikan dengan banyak mata pelajaran lain. Sesuatu yang biasa terjadi, proses pembelajaran yang terjadi di kelas akan sangat berbeda ketika siswa belajar di laboratorium. Oleh karenanya penelitian di sekolah sebenarnya lebih menarik jika kondisi pembelajarannya berada di laboratorium, dengan kondisi yang berbeda dari pada di kelas dan juga berdampak pada psikologis siswa.
4. Sumber Data
1. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
Dalam kajian ini tidak terlepas dari adanya jenis data yang akan dikumpulkan sebagai bahan kajian. Berangkat dari permasalahan skripsi ini maka jenis data yang relevan sebagai bahan kajian dalam skripsi ini adalah :
1) Data kualitatif yaitu data yang dapat diukur secara tidak langsung atau data yang tidak berbentuk angka-angka. Yang termasuk data kualitatif di sini seperti keadaan guru, karyawan, siswa, serta sarana dan prasarana.
2) Data kuantitatif data yang hanya dapat diukur secara langsung atau lebih tepatnya dapat dihitung. Yang termasuk data kuantitatif dalam data ini seperti : jumlah guru, karyawan, siswa, serta sarana dan prasarana.
b. Sumber Data Empiris
Yang dimaksud dengan sumber data pada penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. Adapun yang menjadi sumber data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Sumber Data Primer
Sumber data primer yaitu meliputi informasi yang langsung diperoleh dari pihak yang berkaitan erat dengan perilaku responden. Dalam hal ini yang menjadi sumber data adalah : Kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa.
2) Sumber Data Sekunder
Sedangkan untuk sumber data sekunder yaitu sumber informasi yang diperoleh dari pihak yang tidak langsung berkaitan dengan efektifitas dari penerapan metode Integrated. Data ini digali dari sekitar lokasi penerapan metode tersebut seperti : dokumentasi, buku panduan dan referensi yang mengacu pada bahan pendukung dalam pokok penelitian.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian kualitatif ini selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti. Peneliti sendiri di sini akan menggunakan menyusun instrumen, diantaranya adalah observasi, interview dan dokumentasi. Pada poin yang ini merupakan pekerjaan yang penting di dalam langkah penelitian. Pada menyusun instrument pengumpulan data harus ditangani secara serius agar diperoleh hasil yang sesuai dengan kegunaannya yaitu mengumpulkan variabel yang tepat.
Untuk mendapatkan data-data tersebut, penulis menggunakan beberapa teknik yaitu :
a. Observasi
Observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata, berupa pengamatan, menggunakan seluruh alat indera.27 Jadi observasi ini dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang diteliti.28 Observasi ini dilakukan untuk mendapatkan kevalidan data yang ada di lapangan. Seperti keberadaan geografis lokasi penelitian, kondisi PBM (Proses belajar mengajar) seperti lokasi pelaksanaan, sarana dan prasarana, metode yang digunakan, interaksi guru dan siswa dan juga manajemen sekolah, dan masih banyak lagi. Untuk proses ini yaitu suatu pengamatan langsung yang dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
b. Interview
Proses Tanya jawab dalam penelitian langsung secara lisan antara dua orang atau lebih, dengan cara bertatap muka, mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau berbagai macam keterangan. Interview biasanya juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara.29 Interview atau wawancara adalah teknik pengumpulan data agar memperoleh informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.30 Biasanya interview ini dilakukan untuk mendapatkan kelengkapan data yang diperoleh dari hasil observasi. Karena dengan observasi saja ternyata tidak cukup, dengan diadakannya interview, maka peneliti bisa lebih banyak tahu dari sumber langsung yang memang digelutinya dan berada di lingkungan tersebut.
c. Dokumentasi
Guba dan Lincoln mendefinisikan dokumen adalah segala macam bahan yang tertulis.31 Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam metode dokumentasi ini peneliti, menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah-majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.32 Pengertian lebih luas, dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja, tetapi dapat berupa prasasti dan simbol-simbol. Untuk dokumen yang akan diambil dalam dokumen ini biasanya tentang : Struktur organisasi, jumlah dan nama-nama pengurus, jumlah dan nama siswa, arsip pelaksanaan kegiatan yang meliputi : silabus, materi, agenda dan evaluasi kegiatan, dan dokumentasi berupa foto-foto. Dengan adanya dokumentasi ini akan menjadi bukti tersurat bukan lagi tersirat, yang menambah bukti keilmiahan pada suatu penelitian.
6. Analisis Data
Analisis data ini adalah sebuah proses lanjutan dari proses pengumpulan data yang merupakan proses upaya penataan secara sistematis dalam mencatat hasil dari pengumpulan data, seperti hasil observasi, interview dan lainnya. Semua ini dilakukan dalam rangka untuk memudahkan peneliti memahami tentang tema yang diangkat dan yang akan menjadi bahan temuan bagi orang lain.
Data yang telah didapat dari lapangan, kemudian dianalisis secara reflektif. Guba dan Lincoln (1985) mengatakan bahwa kebenaran itu hanya diperoleh dari lapangan, yaitu merefleksikan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan tersebut.33 Dalam pengumpulan data ini harus juga didukung dalam analisis deduktif dan analisis induktif. Berfikir reflektif ini adalah berfikir dalam proses mondar-mandir secara sangat cepat antara induksi dan deduksi, antara abstraksi dan penjabaran. 34 Akan tetapi dalam proses penelitian ke depan, analisis data yang akan dipakai oleh peneliti adalah berupa analisis deduktif. Peneliti memilih analisis deduktif karena dipandang lebih efektif untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.
7. Tahap Penelitian
Pada kelanjutan penelitian ini terdapat beberapa tahapan yang hendak dilakukan oleh peneliti. Pertama, menentukan masalah penelitian, dalam hal ini peneliti mengadakan studi pendahuluan. Kedua, Mengumpulkan data, pada tahap ini peneliti memulai dengan menentukan sumber data, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan pencapaian prestasi dalam bidang agama Islam yang berkenaan dengan metode integrated yang telah dipakai oleh SD X untuk membantu mempermudah anak didik dalam belajar. Ketiga, tahapan ini akan diakhiri dengan penggunaan metode observasi, interview dan dokumentasi. Keempat, menganalisis data dan menyajikannya dalam sebuah kesimpulan penelitian.

G. Sistematika Pembahasan
Bab I : PENDAHULUAN
Bab I di dalamnya meliputi : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian, sistematika pembahasan.
Bab II : LANDASAN TEORI
Dalam bab ini berisikan tinjauan umum tentang Metode Integrated terhadap tinjauan Metode Integrated meliputi : Pengertian Metode Integrated, Prinsip Dasar Pembelajaran Integrated, Tujuan-tujuan Metode Integrated, Beberapa Contoh Model Integrasi, Langkahlangkah Perencanaan Pengajaran Metode Integrated, Kelebihan Dan Kelemahan Metode Integrated. Kemudian tinjauan tentang Anak Unggul Dalam Prestasi Pendidikan Agama Islam meliputi : Pengertian Anak Unggul Dalam Prestasi, Pengertian Pendidikan, Pengertian Pendidikan Agama Islam, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, Tujuan Pendidikan Agama Islam. Dan selanjutnya tinjauan tentang Penerapan Metode Integrated Untuk Menjadikan Anak Unggul Dalam Prestasi Pendidikan Agama Islam
Bab III : LAPORAN HASIL PENELITIAN : PENYAJIAN DATA DAN ANALISI DATA
Dalam hal ini meliputi gambaran obyek umum dan penyajian analisis data, pertama adalah Profil SD X yang meliputi Sejarah Singkat Berdirinya lembaga pendidikan SD X, latar belakang, Visi dan Misi SD X, tujuan, lokasi, Struktur Organisasi dan Kepengurusan, Keadaan Guru dan Karyawan, Keadaan Siswa, Keadaan Sarana dan Prasarana, Garis Besar Program SD X, Program-Program Kegiatan SD X, Kurikulum Yang Diterapkan di SD X, dan yang terkhir adalah analisis yang meliputi Sistem Pendidikan, Sistem FullDay, Strategi Pelaksana an Pengajaran SD X, Proses Pencapaian Quality Assurance (QA), Langkah-langkah perencanaan pengajaran terpadu dengan Memakai metode integrated, Pembuatan silabus,Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Dokumentasi hasil ujian kelas 4 semester 1 2007-2008, 12 Jaminan Kualitas Yang Ditawarkan Oleh SD X,Jadwal Pelajaran yang mana semua kegiatan sekecil apapun masuk dalam jadwal.
Bab IV : PENUTUP DAN SARAN
Skripsi Implementasi Model Pembelajaran Guru Ramah Anak Pada Pendidikan Agama Islam Di SD X

Skripsi Implementasi Model Pembelajaran Guru Ramah Anak Pada Pendidikan Agama Islam Di SD X

(Kode PEND-AIS-0005) : Skripsi Implementasi Model Pembelajaran Guru Ramah Anak Pada Pendidikan Agama Islam Di SD X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional bab I pasal I, (1) pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses bela jar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Selamanya pendidikan tetap menjadi alternatif dalam mengembangkan dan meningkatkan sumber daya manusia, utamanya untuk mempersiapkan generasi mendatang agar mampu menjawab tentang perubahan zaman melalui proses belajar mengajar yang merupakan dua konsep yang hampir tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, terutama dalam praktiknya di sekolah.
Menurut Bagne (1977) bahwa belajar merupakan sebuah proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat, atau nilai, dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Perubahan tingkah laku tersebut harus dapat bertahan selama jangka waktu tertentu. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan positif kualitatif yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subyek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, kemampuan berfikir logis dan kritis, kemampuan interaktif dan kreatifitas yang telah dicapainya. Konsep belajar demikian menempatkan manusia yang belajar tidak hanya pada proses teknis, tetapi sekaligus pada proses normatif. Hal ini amat penting agar perkembangan kepribadian dan kemampuan belajar siswa terjadi secara harmonis dan optimal.
Proses belajar bisa berlangsung secara efektif apabila semua faktor internal (dari dalam diri siswa) dan faktor eksternal (dari luar diri siswa) diperhatikan oleh guru. Seorang guru harus bisa mengetahui potensi, kecerdasan, minat, motivasi, gaya belajar, sikap, dan latar belakang sosial ekonomi dan budaya yang merupakan faktor internal siswa. Begitu juga faktor eksternal seperti tujuan, materi, strategi, pendekatan pembelajaran, metode, iklim sosial dalam kelas, sistem evaluasi dan lain-lain.
Menurut Benjamin Franklin bahwa sistem pendidikan yang ada di Indonesia sekarang menganggap siswa sebagai bejana kosong yang perlu di isi, bukan menyalakan semangat agar siswa bergairah belajar. Karena tujuannya untuk mengisi bejana, maka siswa sering dijejali dengan berbagai materi pelajaran sebanyak-banyaknya. Waktu belajar siswa di sekolah selama 6-7 jam sehari, serasa belum cukup sehingga para murid perlu diberikan pekerjaan rumah yang memerlukan waktu sampai larut malam untuk menyelesaikannya. Sistem pendidikan seperti ini membuat “api” (gairah) anak untuk belajar menjadi pudar sebelum dewasa. Apabila tidak ada semangat, kegairahan serta rasa cinta untuk belajar, maka harapan untuk membentuk menusia unggul yang cerdas akal budinya, kreatif serta mampu memberikan solusi bagi masalah kehidupan akan gagal pula.3
Dan bahkan juga sering kita jumpai anak-anak kecil berangkat ke sekolah dengan beban berat (tas besar dengan berisikan banyak alat sekolah) dengan wajah yang tidak ceria, pulang sekolah dengan wajah lesu dan tertekan karena banyaknya pekerjaan rumah yang dibebankan, padahal di usia SD yaitu usia sekolah 7-12 th adalah masa-masa keriangan dan kegembiraan. Pola belajar yang diterapkan kurang memberi kebebasan berpikir, banyak teori dan hafalan serta terfokus pada pencapaian target kurikulum. Dan karena inilah mereka kehilangan keceriaan dan dunia bermain mereka, mereka kehilangan dunia mereka yang penuh dengan suasana bermain, bernyanyi, menari, berfantasi dan melakukan sesuatu tanpa beban. Mereka juga akan kehilangan kemerdekaannya sebagai anak kecil. Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah haruslah mampu mengembangkan bakat dan kemampuan siswa secara optimal. Sehingga siswa dapat mewujudkan potensi dirinya serta dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran di sekolah.
Dalam hal ini para praktisi pendidikan khususnya pemerintah telah berusaha menghidupkan kembali aktivitas pendidikan melalui cara-cara pendidikan yang betul-betul mencerdaskan dan dapat dinikmati oleh anak didik. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan pendidikan nasional oleh DEPDIKNAS, sebagaimana telah dijelaskan dalam UU SISDIKNAS pasal 40 ayat 2 yang berbunyi, “pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, kreatif, dinamis dan dialogis.”4
Dari pasal tersebut, mengandung arti bahwa para pendidik atau seorang guru tidak boleh mendominasi pengetahuan peserta didik. Peserta didik harus diberi kebebasan dalam menggali pengetahuan. Dan guru harus lebih kreatif dalam menciptakan belajar yang menyenangkan, ramah, efektif dan efisien bagi siswa.
Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Pembelajaran seperti ini diharapkan dapat mengurangi beban peserta didik dalam proses belajar. Sebagaimana ungkapan Dr. Arif Rahman bahwa, “kasus di sekolah-sekolah yang membuat anak kehilangan semangat belajar dan pada dasarnya tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan menjadi anak pemalas atau pemarah, oleh karena itu perlu adanya suasana yang
menyenangkan, membebaskan dan demokratis.”5
Model pembelajaran yang berkembang saat ini banyak bentuknya, antara yang satu dengan yang lain mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.6 Pada dasarnya model pembelajaran yang diterapkan di sekolah bertujuan untuk memotivasi belajar siswa sehingga tercipta proses belajar mengajar yang kondusif dan menyenangkan.
Model pembelajaran merupakan pola pembelajaran uang didesain sedemikian rupa, diterapkan dan dievaluasi secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang efektif. Model pembelajaran merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Proses pendidikan bisa berjalan efektif, apabila model pembelajaran yang diterapkan di kelas mampu menumbuhkan gairah siswa untuk belajar.7
Di antara sekian model pembelajaran yang ada, di sini penulis mencoba meneliti tentang model pembelajaran ramah guru ramah anak, yang menerapkan pembelajaran yang menyenangkan, membebaskan dan demokratis.
Pembelajaran ramah guru ramah anak adalah suatu strategi pembelajaran yang lebih memperhatikan pada proses belajar dan pengembangan potensi anak, dalam hal ini seorang guru menyadari akan potens i anak didik dan perlu dikembangkan. Potensi itu bisa berkembang jika diberikan kepercayaan. Secara alamiah seorang yang dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh. 8
Konsep pembelajaran ramah guru ramah anak di sini adalah penanaman rasa cinta kepada anak didik berupa kelembutan, bukan kekerasan. Karena kekerasan bukan jalan yang terbaik untuk mendidik anak apapun alasannya. Dengan kekerasan yang diberikan oleh guru ha nya akan menyebabkan rasa takut yang mendalam bagi anak. Belajar dengan rasa takut tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. 9 Dengan hukuman yang salah dan kekerasan juga akan menimbulkan perasaan tersiksa pada diri anak, dan sekolah pun terkesan menjadi lembaga yang menakutkan dan jauh dari nilai pengasuhan. Oleh karena itu pendidikan yang tidak ramah akan menghambat proses pembelajaran anak untuk meningkatkan kualitas dirinya.
Dalam model pembelajaran ramah guru ramah anak akan terjadi proses belajar sedemikian rupa sehingga siswa merasakan senang mengikuti pelajaran, tidak ada rasa takut, cemas dan was-was, siswa menjadi lebih aktif dan kreatif serta tidak merasa rendah diri karena bersaing dengan teman siswa lain. Diterapkan pula metode pembelajaran yang variatif dan inovatif, misalnya belajar tidak harus di dalam kelas, sehingga menghasilkan proses belajar yang efektif.
Adapun dalam pengelolaan kelas, siswa dilibatkan dalam penataan bangku, dekorasi dan ilustrasi yang menggambarkan ilmu pengetahuan. Siswa dilibatkan dalam menentukan mana dinding atau dekorasi serta siswa dilibatkan dalam memajang hasil karyanya, sehingga siswa menjadi betah di dalam kelas. Sekolah, sesuai asal katanya, “escole” yang berarti tempat bermain, semestinya menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa.11 Maka dari itu dengan pembelajaran ramah guru ramah anak diharapkan sekolah mampu menjadi rumah kedua bagi siswa sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan kasih sayang. Karena dalam pembelajaran ini terdapat ikatan yang kuat antara guru dan siswa dalam suasana yang menyenangkan dan tidak ada tekanan baik fisik maupun psikologi. Sebab adanya tekanan apapun bentuknya hanya akan mengerdilkan pikiran dan mental siswa, sedangkan kebebasan dan kasih sayang apapun wujudnya akan dapat mendorong terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif.12
Model pembelajaran yang telah berkembang, dapat diterapkan pada semua mata pelajaran yang ada di sekolah dengan melalui desain pembelajaran yang disesuaikan pada materi yang bersangkutan juga dengan karakter anak. Begitu juga pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan salah satu bidang studi yang wajib diberikan kepada siswa di semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan atas. Dari keterangan di atas telah jelas betapa pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi siswa.
Pendidikan Agama Islam menurut Zarkowi Soejoeti, 13 terbagi dalam tiga pengertian. Pertama, “pendidikan Islam”, adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya di dorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya, maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan. Kedua, jenis pendidikan yang memberikan perhatian sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakan. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai bidang studi, sebagai ilmu, dan diperlakukan sebagai ilmu yang lain. Ketiga, jenis pendidikan yang mencakup dua pengertian di atas. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai sekaligus sebagai bidang studi yang ditawarkan melalui program studi yang diselenggarakan.
Pendidikan Agama Islam tidak tertuju kepada pembentukan akal saja, melainkan tertuju kepada setiap bagian jiwa sehingga setiap bagian jiwa itu menjadi mampu melaksanakan tugas sebagaimana dikehendaki oleh Allah. 14 Sedangkan tujuan khusus pendidikan Agama Islam ialah tujuan pendidikan agama pada setiap tingkatan. Untuk tingkat sekolah dasar, pendidikan agama Islam diberikan bertujuan untuk antara lain : menanamkan rasa agama terhadap siswa, menanamkan perasaan cinta kepada Allah dan rasul-Nya, memperkenalkan ajaran Islam yang bersifat global, membiasakan anak-anak berakhlak mulia, dan melatih anak-anak untuk merealisasikan ibadah yang bersifat praktis, serta membiasakan tauladan yang baik.15
Pendidikan Agama Islam di Indonesia ditempatkan pada kedudukan yang tinggi dalam sistem pendidikan nasional dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan perkembangan bangsa Indonesia. Pendidikan agama Islam mendapat prioritas utama.16
Namun terdapat pertentangan dengan praktik pendidikan agama saat ini, karena pendidikan tidak mampu memberdayakan peserta didik dalam penguasaan pengetahuan teoritis, penghayatan dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga terletak pada sistem pendidikan di antaranya mengenai model pembelajaran yang diterapkan kurang efektif dan efisien. 17
Sesuai dengan realitas yang ada sekarang, bahwa proses pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI selama ini lebih banyak menggunakan metode ceramah. Guru memberikan penjelasan dengan metode berceramah dan siswa sebagai pendengar. Metode pembelajaran ini kurang efektif dalam memberi arahan pada proses pencarian, pemahaman, penemuan dan penerapan serta menyebabkan peserta didik akan merasa bosan dan malas untuk belajar, sehingga pendidikan agama Islam kurang dapat memberi pengaruh yang berarti pada kehidupan sehari-hari.
Yang harus dipikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar implementasi PAI itu bisa seiring dan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Maka dengan hadirnya model pembelajaran ramah guru ramah anak yang didesain dengan metode yang variatif dan proses pembelajaran yang partisipatif, diharapkan mampu menciptakan anak didik yang berakhlak mulai sesuai dengan tujuan Pendidikan Agama Islam.
SD Muhammadiyah X merupakan SD Islam favorit di Jawa Timur yang berada di antara SD lain di kota Surabaya. SD Muhammadiyah X saat ini mengemban visi dan misi sebagai sekolah modern yang Islami. Sebagai sekolah yang mempunyai sikap peduli terhadap pengembangan potensi anak didik. SD Muhammadiyah X bertujuan mewujudkan sekolah unggul yang menguasai ilmu pengetahuan yang dilandasi iman dan taqwa. SD Muhammadiyah X telah menerapkan berbagai bentuk model pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga mampu memotivasi belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang diterapkan adalah model pembelajaran ramah guru ramah anak, yang bertujuan antara lain : agar anak dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan tanpa terbebani, untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa, dapat tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal, dan lain-lain. Oleh karena itu SD Muhammadiyah X mendesain model pembelajaran ramah guru ramah anak sedemikian rupa dengan penerapan metode-metode yang beragam serta pengelolaan kelas yang menyenangkan, didukung pula dengan penanaman nilai-nilai positif oleh kepala sekolah dan segenap tenaga kependidikan di sana.
Maka dari itu penulis tertarik dan merasa perlu untuk mengangkat masalah tersebut dalam skripsi dengan judul : “Implementasi Model Pembelajaran Ramah Guru Ramah Anak Pada Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diuraikan bahwa masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran ramah guru ramah anak di SD Muhammadiyah X?
2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran agama Islam di SD Muhammadiyah X?
3. Bagaimana implementasi pembelajaran ramah guru ramah anak pada pendidikan agama Islam di SD Muhammadiyah X?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan pembahasan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran ramah guru ramah anak di SD Muhammadiyah X.
2. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran agama Islam di SD Muhammadiyah X.
3. Untuk mengetahui implementasi pembelajaran ramah guru ramah anak pada pendidikan agama Islam di SD Muhammadiyah X.

D. Kegunaan Penelitian
Setelah penulis menyelesaikan kajian ilmiah mengenai implementasi model pembelajaran ramah guru ramah anak pada Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X, maka diharapkan nantinya dapat berguna bagi, antara lain :
1. Bagi penulis, sebagai calon guru, penelitian ini sebagai bekal teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan pembelajaran ramah guru ramah anak di lapangan.
2. Bagi lembaga pendidikan yang diteliti, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi
dalam implementasi pembelajaran ramah guru ramah anak pada Pendidikan Agama Islam khususnya dan pelaksanaan bidang studi lainnya.
3. Bagi para pendidik, hal ini merupakan hasil pemikiran yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk melaksanakan usaha pengajaran menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang dicita-citakan.

E. Definisi Operasional
Kerlinger (1973) menyatakan definisi operasional adalah definisi yang dapat diukur, karena dalam penelitian harus diketahui terjemahan istilah atau konsep yang jelas.18 Guna mempermudah pembahasan, penulis menegaskan istilah-istilah penting yang perlu dimengerti, sebagai berikut :
1. Judul Skripsi
Implementasi Model Pembelajaran Ramah Guru Ramah Anak Pada Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X.
2. Implementasi
Yaitu pelaksanaan. 19 Implementasi juga berasal dari kata dalam bahasa Inggris, implement yang berarti melaksanakan. Jadi implementation yang diIndonesiakan menjadi implementasi berarti pelaksanaan. 20 Jadi judul penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan model pembelajaran ramah guru ramah anak pada Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X.
3. Model pembelajaran ramah guru ramah anak
Ramah adalah manis tutur kata dan sikap, suka bergaul, serta menyenangkan dalam pergaulan. 21
Secara garis besar model pembelajaran ramah guru ramah anak adalah strategi pembelajaran yang memperhatikan pada proses pembelajaran yang menanamkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak didik serta memunculkan pendekatan motivasi bukan pemaksaan kehendak guru. 22
4. Pendidikan Agama Islam
Adalah proses transformasi dan realisasi nilai-nilai ajaran Islam/fungsi rububiyah melalui pembelajaran baik formal kepada manusia (siswa) untuk dihayati, dipedomani dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka menyiapkan dan membimbing serta mengarahkannya, agar nantinya mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan sebaikbaiknya.
5. SD Muhammadiyah X
Adalah suatu lembaga pendidikan formal yang berada di bawah naungan Muhammadiyah, yang berlokasi di Jl. X.

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian dan Tahap-tahap Penelitian
Penelitian adalah upaya dalam ilmu pengetahuan yang dijadikan untuk memperoleh faktor-faktor dan prinsip-prinsip dengan sabar dan hati-hati, serta sistematis untuk mewujudkan suatu kebenaran. 24
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif, yaitu suatu pendekatan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati.25
Adapun bentuk penelitiannya adalah deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan hanya bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau fenomena dalam situasi tertentu. Dan penelitian ini hanya ingin mengetahui yang berhubungan dengan keadaan sesuatu, selain itu penelitian termasuk dalam penelitian yang tidak perlu merumuskan hipotesis (non hypothesis) terlebih dahulu dan juga bukan untuk
mengujinya, tetapi hanya mempelajari gejala-gejala sebanyak mungkin.
b. Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian ini dibagi dalam tiga tahap, yaitu :
1. Menentukan masalah penelitian. Dalam tahap ini peneliti mengadakan studi pendahuluan.
2. Pengumpulan data. Pada tahap ini peneliti mulai dengan menentukan sumber data, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan, dari segenap individu yang berkompeten di SD Muhammadiyah X. Pada tahap ini diakhiri dengan pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi.
3. Analisis dan penyajian data, yaitu menganalisis data dan akhirnya ditarik suatu kesimpulan.
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Sumber data literer
Yaitu sumber data yang diperoleh peneliti dari buku-buku yang sesuai dengan masalah yang diteliti, termasuk dalam hal ini karya ilmiah dan buku-buku panduan yang berkaitan dengan model pembelajaran ramah guru ramah anak. Termasuk dalam hal ini adalah dokumendokumen tentang keadaan lembaga pendidikan yang bersangkutan serta catatan lain yang mendukung dalam implementasi model pembelajaran ramah guru ramah anak.
b. Sumber data lapangan
Yaitu sumber data yang diperoleh dari lapangan penelitian, yang meliputi sumber data manusia, yang terdiri dari kepala Sekolah, guru kelas, dan guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data-data yang akurat maka diperlukan beberapa metode untuk mengumpulkan data, sehingga data yang diperoleh berfungsi sebagai data yang valid dan objektif serta tidak menyimpang. Maka metode yang digunakan adalah :
a. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang nampak pada objek penelitian. 26
Dalam metode observasi ini, peneliti menggunakan teknik observasi partisipatoris atau partisipan, artinya peneliti hanya berperan sebagai pengamat saja tanpa ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam pelaksanaannya. Metode observasi ini digunakan untuk mencari data tentang pelaksanaan model pembelajaran ramah guru ramah anak di SD Muhammadiyah X.
b. Metode Interview/Wawancara
Metode wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi verbal. 27 Dalam artian bahwa metode ini berbentuk tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. 28
Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data tentang pelaksanaan atau penerapan model pembelajaran ramah guru ramah anak di SD Muhammadiyah X. Interview ini dilakukan oleh peneliti dengan kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, dan tenaga kependidikan yang dapat menunjang pelaksanaan penelitian.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah kegiatan mencari data mengenai halhal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.29 Metode dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data, jumlah keseluruhan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan di samping juga letak geografis, peta-peta, foto-foto kegiatan, data inventaris terhadap pemenuhan kebutuhan material dalam mengajar seperti alat bantu, poster, dan wujud lain yang diperlukan untuk menunjang kejelasan objek penelitian.
4. Teknik Analisa Data
Menganalisis data merupakan kegiatan inti yang terpenting dan paling menentukan dalam penelitian. Analisis data ini dilakukan dalam *** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

G. Sistematika Pembahasan
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang tata uraian penelitian ini, maka peneliti mencantumkan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan. Bab ini mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Landasan Teori. Landasan teori merupakan studi literatur atau teoritis
yang membahas tentang isi penelitian. Dalam hal ini berisi tentang tinjauan mengenai model pembelajaran ramah guru ramah anak, tinjauan tentang pembelajaran PAI, dan implementasi model pembelajaran ramah guru ramah anak pada pembelajaran PAI.
BAB III : Laporan Hasil Penelitian. Pada bab ini akan dibahas laporan hasil penelitian yang menjelaskan tentang gambaran umum objek penelitian, penyajian data, analisa data yang mencakup tentang bentuk implementasi model pembelajaran ramah guru ramah anak pada Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah X.
BAB IV : Penutup. Merupakan bab akhir dari pembahasan skripsi ini yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
Skripsi Upaya Meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) Melalui Keterampilan Bertanya Dasar Di MI X

Skripsi Upaya Meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) Melalui Keterampilan Bertanya Dasar Di MI X

(Kode PEND-AIS-0004) : Skripsi Upaya Meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) Melalui Keterampilan Bertanya Dasar Di MI X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak-anak adalah masa depan kita sendiri. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua, bila memiliki anak-anak yang cerdas dan kreatif. Dengan generasi yang cerdas dan kreatif itu berarti kita telah memberikan masa depan yang cerah bagi mereka. Untuk itu peran pendidik dalam mengembangkan sikap dan kemampuan anak didiknya harus dapat membantu dalam mengahadapi persoalan-persoalan dimasa mendatang secara kreatif. Karena kreatif yang dapat dioptimalkan mampu membekali kehidupan anak didik untuk dapat hidup layak dimasa mendatang.
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya. Hidup kreatif berarti mengembangkan talenta yang dimiliki, belajar menggunakan kemampuan diri sendiri secara optimal, menjajaki gagasan baru, tempat-tempat baru, aktivitas-aktivitas baru dalam mengembangkan kepekaan terhadap masalah lingkungan, masalah orang lain dan masalah kemanusiaan. 1
Peningkatan kinerja biasanya akan tercapai jika kreatifitas difasilitasi untuk berkembang. Kreativitas bergantung pada kemampuan untuk menggunakan keterampilan yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, mengembangkan keahlian dan bakat seseorang dalam bidang yang spesifik.
Orang-orang kreatif tidak selalu objektif (tidak melihat yang dikatakan tetapi melihat orang yang mengatakan). Namun, untuk menguji ide-ideyang manual dari orang lain dan mereka tidak membatasi pandangan terhadap dunia luar. Orang-orang yang kreatif sering pula mengesampingkan egonya dan senantiasa berkonsultasi dengan rekannya untuk menguji ide-ide mereka. Selain itu, individu-individu kreatif memiliki motivasi diri, dorongan dan kebutuhan spiritual yang kuat. Salah satu kunci untuk memahami kreativitas adalah dengan mengenali dorongan dari dalam diri dan hasrat untuk mencipta demi penciptaan itu sendirilah yang penting, dan bukan imbalan dari luar. Upaya-upaya kreatif membangkitkan motivasi diri akan kenikmatan, kepuasan, dan tantangan.
Kreatif biasanya selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dalam mengembangkan kreativitas secara kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil risiko (yang selalu diperhitungkan) dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting, dan disukai, mereka tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak takut untuk membuat kesalahan dalam mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri, keuletan, dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam melakukan tujuan mereka.3
Ciri-ciri kreativitas menurut Renzulli dkk adalah sebagai berikut :
1. Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik
3. Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4. Bebas dalam menyatakan pendapat
5. Mempunyai rasa keindahan yang dalam
6. Menonjol dalam salah satu bidang seni
7. Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang
8. Mempunyai rasa humor yang luas
9. Mempunyai daya imajinasi, dan
10. Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah. 4
Menurut Sund, bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Hasrat keingintahuan yang cukup besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan memuaskan
6. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas.
7. Menaggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak
8. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
9. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
10. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
11. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.5
Sedangkan Kecerdasan kreatif menurut Alan J. Rowe adalah mengetahui bagaimana cara kita memecahkan masalah sehari-hari. 6
Menurut Agus Efendi, Ciri-ciri kecerdasan kreatif adalah sebaga berikut :
1. Tidak menanti masalah sampai memuncak. Mereka terlebih dahulu mengenali masalah itu jauh sebelum masalah itu menjalar kemana-mana dan secepatnya memproses pemecahannya.
2. Mendefinisikan masalah dengan benar. Dengan begitu, mereka memecahkan masalah yang sangat menghambatnya. Tidak membiarkan masalah tersebut terjadi lagi dalam kehidupan mereka. Mereka juga berusaha memutuskan mana masalah yang pertama kali harus segera dipecahkan, dan mana yang bisa dipecahkan kemudian. Jadi dia mempunyai prioritas dalam pemecahan masalahnya.
3. Sungguh-sungguh merumuskan strategi pemecahan masalah. Khususnya, mereka fokus pada renacana jangka panjang daripada terburu-buru. Lalu mereka memikirkan kembali apa strategi mereka. “orang yang memiliki kecerdasan itu tidak selalu membuat keputusan yang benar, tapi mereka memonitor dan mengevaluasi keputusan-keputusan mereka dan selanjutnya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka temukan.
4. Memecahkan masalah secara behavioristik. Mereka tidak merumuskan atau memastikan masalah, mereka menginkubasikan masalah. Dalam menghadapi masalah mereka menganalisanya terlebih dahulu dengan teliti baru kemudian menggunakan strategi yang tepat dan kreatif dalam memecahkannya.
5. Mengenali rasionalitas berpikir. Pemecahan dan keputusan mereka itu intuitif atau rasional, atau dengan mengkombinasikan keduanya. Mereka jarang salah dalam hal proses pemikiran mereka sehingga mereka tidak salah dalam membuat keputusan.
Artinya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Al – Insyirah : 5)
Kedudukan guru mempunyai arti penting dalam pendidikan. Arti penting itu bertolak dari tugas dan tanggung jawab guru yang cukup berat untuk mencerdaskan anak didiknya. Kerangka berpikir yang demikian menghendaki seorang guru untuk melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya dalam interaksi edukatif. Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang mutlak harus dipunyai oleh guru dalam hal ini dengan memiliki keterampilan bertanya dasar, diharapkan guru dapat mengoptimalkan peranannya dikelas. Keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh guru salah satunya adalah keterampilan bertanya dasar.
Keterampilan bertanya dasar di dikembangkan di MI X dalam bentuk lisan, tulis dan pemecahan masalah dari hasilnya sudah memenuhi indicator, terfokus pada sebuah konsep inovatif yang diterapkan MI X. Konsep ini diawali dari sebuah kegelisahan atas sekolah dasar konvensional yang ada selama ini, khususnya terkait dengan masalah menumbuhkan kreatifitas anak. Problem yang hingga kini masih dianut oleh sekolah konvensional adalah bagaimana memposisikan anak didik agar kreatifitas mereka berkembang sesuai dengan dimensi perkembangan psikologisnya. Sebaliknya, sekolah yang kreatif memberikan hak sebebasbebasnya kepada anak untuk berkreasi dan berinovasi tanpa harus diatur terlalu ketat oleh aturan sekolah.
Keterampilan bertanya dasar, bagi seorang guru merupakan keterampilan yang sangat penting untuk dikuasai. Sebab melalui keterampilan ini guru dapat menciptakan suasana pembelajaran lebih bermakna 9. Keterampilan bertanya dasar adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kognitif tingkat tinggi10. Keterampilan bertanya dasar sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik.
Mengingat begitu pentingnya peranan bertanya dalam proses pembelajaran, maka setiap guru harus memiliki keterampilan ini, sehingga kualitas pembelajaran bisa sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Dengan demikian berbagai keahlian dan keterampilan termasuk kecerdasan kreatif harus dikembangkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa bentuk kecerdasan kreatif di MI X adalah dalam proses belajar mengajar terdapat kegiatan siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru : guru memberi pertanyaan kepada siswa lalu siswa menjawabnya, menyelesaikan masalah : siswa menyelesaikan masalah dengan cara berkelompok lalu salah satu siswa mewakili kelompoknya untuk maju didepan kelas, berprestasi di depan kelas : siapa yang maju didepan kelas dan banyak mengeluarkan pendapat berarti siswa itu berprestasi, menyimpulkan penjelasan guru : lalu siswa menyimpulkan apa yang telah guru jelaskan kepada mereka, memperagakan materi yang tersampaikan : siswa memperagakan materi yang telah sudah disampaikan oleh guru.
Model keterampilan bertanya dasar yang dilakukan di MI X adalah dengan beberapa cara antara lain secara lisan yaitu setelah guru menjelaskan materi lalu guru memberi pertanyaan dengan cara lisan, misalnya setelah bapak/ibu guru menjelaskan tentang puasa. sekarang siapa yang tau tentangarti puasa?. Hal itu berdasarkan dari pengamatan peneliti ketika melakukan observasi awal. Secara tertulis dalam bentuk pilihan ganda dengan jawaban, Betul Salah, menjodohkan Kiri Kanan, isian dan uraian misalnya
1. Tempat suci untuk beribadah dan menyembah Allah adalah …..
a. Keluar Masjid c. Gereja
b. Masjid d. Klenteng
2. Ketika masuk masjid, hendaknya dalam keadaan …..
a. Suci c. Sehat
b. Susah d. Gembira
3. (B – S) Al-Qur’an adalah wahyu Allah
4. (B – S) Ketika keluar masjid mendahulukan kaki kanan
5. (b) Shalat Tarawih dilaksanakan pada bulan …..
6. (a) Puasa artinya …..
a. Menahan diri
b. Ramadhan
7. Kitab suci orang islam?
Jawab : Al-Qur’an
8. Shalat harus menghadap?
Jawab : Kiblat
9. Sebutkan 3 puasa sunnah? Puasa Senin kamis, Rajab dan Daud
10. Sebutkan 3 shalat sunnah? Sholat Tahiyatul Masjid, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha.
Guru juga bisa memberi pertanyaan dengan cara tertulis seperti beberapa contoh tentang keterampilan bertanya dasar secara tertulis adalah soal yang ada di LKS atau guru membuat soal sendiri, ada juga bentuk keterampilan bertanya dasar melalui penyelesaian masalah secara kelompok, dimana guru juga bisa menyuruh siswanya untuk menyelesaikan masalah dengan cara berkelompok misalnya
Puasa Sunnah Sholat Sunnah
Rajab
Senin kamis
Daud
Syawal
Tahiyatul Masjid
Hari raya idul fitri
Hari raya idul adha
Jenazah
Dan guru berkeliling ke kelompok satu ke kelompok yang lain supaya tahu siapa yang banyak berfikir atau tidak berfikir dalam penyelesaian masalah yang diberikan oleh guru.
Madrasah Ibtidaiyah X merupakan madrasah yang melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar yang didalam proses pembelajaran melalui keterampilan bertanya dasar dan telah mengupayakan bentuk kecerdasan kreatif pada siswa guna mewujudkan pribadi muslim muslima yang cerdas di dunia dan di akhirat.
Creative Intelligence pada siswa perlu ditumbuhkan pada anak sejak usia dini dan salah satu yang dapat meningkatkan Creative Intelligence siswa adalah melalui keterampilan Bertanya Dasar. Merujuk pada permasalahan ini maka perlu bagi penulis untuk meneliti keberhasilan Keterampilan Bertanya Dasar dalam meningkatkan Creative Intelligence siswa di MI X.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian pada Madrasah tersebut agar dapat menemukan dan mengungkapkan berbagai upaya yang dilakukan oleh para pendidik dalam meningkatkan kecerdasan kreatif, dengan mengangkat judul skripsi : “UPAYA MENINGKATKAN CREATIVE INTELLIGENCE (KECERDASAN KREATIF) SISWA MELALUI KETERAMPILAN BERTANYA DASAR DI MI X”.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) siswa di MI X?
2. Bagaimana penerapan keterampilan bertanya dasar di MI X?
3. Bagaimana upaya meningkatkan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X?

C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui peningkatan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa di MI X.
2. Untuk mengetahui penerapan keterampilan bertanya dasar di MI X.
3. Untuk mengetahui upaya Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.

D. Keguanaan Penelitian
Setiap hasil penelitian pasti memiliki arti dan manfaat. Baik kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang dicermati maupun manfaat untuk kepentingan praktis. Hasil penelitian ini sekurang-kurangnya memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Akademis
Untuk mengembangkan konsep Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) diberbagai kalangan akademis. Sebab kecerdasan ini sangat relevan diterapkan dalam kecerdasan siswa, dalam menghadapi eksplosi pengetahuan yang terjadi.
2. Praktisi
a. Bagi Penulis
1) Dapat menerapkan secara langsung teori-teori yang penulis peroleh selama dibangku kuliah
2) Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di Fakultas Tarbiyah IAIN X.
b. Bagi Sekolah
Sebagai informasi dan pedoman dalam hal konseptual tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), dan dapat memberikan kontribusi berharga kepada MI X.

E. Definisi Operasional
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang judul skripsi ini yakni “UPAYA MENINGKATKAN CREATIVE INTELLIGENCE (KECERDASAN KREATIF) MELALUI KETERAMPILAN BERTANYA DASAR DI MI X”.
Maka perlu penulis jelaskan istilah-istilah dalam skripsi ini :
1. Upaya menungkatkan creative intelligence :
Upaya : Usaha untuk menyampaikan suatu maksud.
Meningkatkan : Menaikkan, mempertinggi, memperhebat, mengangkat.
Creative : Kemampuan yang mencapai pemecahan atau jalan keluar yang sama sekali baru, asli dan imajinatif terhadap masalah yang bersifat pemahaman, filosofis atau estetis atau yang lainnya
Intelligence : Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi secara cepat dan efektif.
Yang dimaksud dengan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif) adalah mengetahui bagaimana cara kita memecahkan masalah seharihari.
Jadi yang dimaksud dengan upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) adalah usaha untuk memperhebat kemampuan memecahkan masalah sehari-hari yang sama sekali baru terhadap situasi secara cepat dan efektif.
Indikator Creative Intelligence : Mampu menguasai pokok materi, Mampu menerapkan materi, Mampu menyelesaikan masalah.
2. Keterampilan Bertanya Dasar : mengembangkan keterampilan siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kognitif tingkat tinggi.
Indikator Keterampilan Bertanya Dasar : Mampu menguraikan pokok materi, Mampu memperagakan materi, Menyimpulkan materi
Jadi secara keseluruhan yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan ktreatif) siswa dalam usahanya untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal melalui keterampilan bertanya dasar.

F. Metode Penelitian
Dalam suatu penelitian, metodologi menjadi sangat penting bagi seorang peneliti. Ketepatan dalam menggunakan suatu metode akan dapat menghasilkan data yang tepat pula serta dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah17. Metode penelitian adalah metode ilmiah yang tersusun secara sistematis dan nantinya diharapkan dapat menyelesaikan dan menjawab suatu masalah yang dihadapi.
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati18. Data deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang terjadi. Tujuan utama menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa dari sebab-sebab tertentu. 19
Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian lapangan (Field reseach), yaitu penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris dilapangan20. Karena berdasarkan pada bidang yang diteliti termasuk penelitian sosial yang berbentuk penelitian pendidikan.
Oleh karena itu penulis terjun kelapangan atau lokasi guna memperoleh informasi valid untuk mengetahui pelaksanaan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
2. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah seluruh elemen di MI X terdiri dari :
a) Kepala sekolah MI X
b) Guru-guru MI X
3. Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain21.
Dengan meninjau hasil data yang diperoleh peneliti, maka sumber data penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
a) Manusia
Manusia merupakan sumber data lapangan yang meliputi kepala sekolah dan siswa dan semua guru di MI X.
b) Non Manusia
Yang dimaksud dumber data non manusia adalah berbagai buku literatur yang berkaitan dengan topik permasalahan peneliti.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian harus menggunakan metode yang tepat, dan juga dapat memiliki teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Karena penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat akan diperoloeh data yang valid dan obyektif pula. Dalam penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data, antara lain :
a. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian22 Metode ini digunakan pada hampir setiap penjajakan pertama sebelum disusunnya rencana atau judul penelitian. Dengan observasi diketahui langsung gambaran yang utuh tentang kondisi pengajaran yang mencakup kondisi pembelajaran yang menunjukkan kecerdasan kreatif dan kondisi pembelajaran dengan mempergunakan keterampilan bertanya dasar baik secara fisik maupun cara penyampaian materi di MI X (dengan podoman Observasi telampir).
Pembelajaran yang mempergunakan Keterampilan bertanya dasar ini bertujuan agar siswa mampu menjawab materi yang telah disampaikan oleh guru dalam menguraikan pokok materi, mampu memperagakan materi, mampu menyimpulkan materi. Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) dilakukan supaya siswa mampu menguasai materi, mampu menerapkan materi, dan mampu menyelesaikan masalah.
b. Interview
Metode interview adalah pengumpulan data dalam bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu. 23.
Informasi diperoleh dari pendidik dan kepala sekolah. Metode ini untuk memperoleh data fokus penelitian, yaitu tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
Dengan wawancara ini dapat menggali data-data yang diperlukan untuk mencari jawab dari peneliti yang akan dilakukan dan pedoman wawancara yang akan digunakan dalam peneliti tersebut.
Menerapkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) di MI X yaitu : Perubahan sikap atau tingkah laku yang cenderung positif (sesuai dengan norma agama, sosial dan falsafah pancasila), Perubahan watak atau mental.
Menerapkan Keterampilan Bertanya Dasar di MI X yaitu : guru memberikan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan, guru menilai perubahan sikap siswa sehubunngan dengan materi yang disamapaikan, guru memberikan masalah kepada siswa tentang pelajaran yang telah tersampaikan dengan pembahasan secara kelompok, siswa dapat menyimpulkan masalah yang diberikan oleh guru.
Jadi hubungan antara Creative Intelligence dengan melalui keterampilan bertanya dasar yaitu siswa mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Dengan keadaan ini guru yaitu aktif memberikan pertanyaan dan menanggapi pertanyaan, aktif mengawasi kerja kelompok siswa di kelas, memberikan penghargaan kepada siswa yang aktif dan kreatif, memberikan peringatan dan penyemangatan (siswa yang tidak aktif).
Keadaan siswa yaitu aktif mendengarkan penjelasan guru, aktif menyelesaikan masalah secara kelompok, kreatif mengajukan pertanyaan tentang masalah yang jelas atau belum jelas, aktif dalam melakukan presentasi dalam kerja kelompok.
c. Dokumentasi
Teknik Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan mempelajari data-data yang telah didokumentasikan. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti meyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.24.
Yang dalam hal ini peneliti membutuhkan dokumen latar belakang berdirinya MI X, nama guru, jabatan dan mata pelajaran yang akan diajarkan, jumlah siswa, dokumentasi dalam ruang lingkup Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) melalui keterampilan bertanya dasar.
5. Teknik Analisa Data
Data yang sudah terkumpul disusun, dianalisis dan interprestasikan kemudian dihimpun menjadi laporan tertulis dalam bentuk skripsi. Analisis data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola kategori, dan satuan uraian dasar.
Metode penelitian kualitatif, prinsip pokok yang digunakan sebagai pijakan adalah usaha untuk menemukan teori dari data. Untuk itu dalam kajian ini penulis menggunakan analisa secara induktif, yaitu penelitian terjun kelapangan, mempelajari, menganalisa, menafsirkan yang ada dilapangan 25.
Adapun tahapan-tahapan penganalisaan data yang penulis gunakan adalah *** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

G. Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang meliputi beberapa sub antara lain latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian, sistematika pembahasan.
BAB II : Tinjauan tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa, yang meliputi : pengertian Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), tipe-tipe Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), langkah-langkah mengembangkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), tolak ukur Creative Intelligence (kecerdasan kreatif)
Tinjauan tentang keterampilan bertanya dasar, yang meliputi : Pengertian keterampilan bertanya dasar, dasar-dasar dan jenis-jenis pertanyaan yang baik, hal-hal yang perlu diperhatikan keterampilan bertanya dasar, komponen-komponen keterampilan bertanya dasar, Upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar.
BAB III : Penyajian data tentang gambaran umum obyek penelitian, penyajian data tentang keterampilan bertanya dasar dan penyajian data tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif), dan penyajian data tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) melalui keterampilan bertanya dasar. Analisa data, yang meliputi analisa data tentang keterampilan bertanya dasar, analisa data tentang Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) dan analisa data tentang upaya meningkatkan Creative Intelligence (kecerdasan kreatif) siswa melalui keterampilan bertanya dasar di MI X.
BAB IV : Penutup meliputi kesimpulan dan saran.