Search This Blog

Skripsi Efektifitas Strategi Belajar PQ4R Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Bidang Study Fiqih Kelas V Di MI Negeri X

Skripsi Efektifitas Strategi Belajar PQ4R Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Bidang Study Fiqih Kelas V Di MI Negeri X

(Kode PEND-AIS-0003) : Skripsi Efektifitas Strategi Belajar PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Bidang Study Fiqih Kelas V Di MI Negeri X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada zaman modern sekarang ini, masalah pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting. Abad mendatang merupakan suatu tantangan bagi generasi yang akan datang. Terutama bagi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional dan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain.
Berkaitan dengan masalah pendidikan telah disebutkan tujuan nasional dalam undang-undang republik Indonesia No.20 tahun 2003 Bab II pasal 3, yang berbunyi sebagai berikut :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang Maha Esa. Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta tanggung jawab.”
Di dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan seorang pendidik yang berkualitas sehingga dalam pola pembelajaran yang diajarkan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Di dalam ajaran agama Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan termasuk didalamnya seorang guru. Karena guru adalah seorang pengajar dan juga pendidik yang selalu mencurahkan pengetahuan yang dimilikinya kepada anak didiknya agar anak didiknya nanti juga memiliki pengetahuan, sehingga dapat mengamalkan dalam kehidupan masyarakat. Dan juga seorang guru telah diakui sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan Allah akan mengangkat dan meninggikan mereka dengan beberapa derajat. Sebagaimana firman Allah pada surat al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi :
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al – Mujadalah : 11)
Maka dari itu, seorang pendidik mempunyai tugas yang sangat besar dan berat dalam menjalankan profesinya. Sebab, keberadaan seorang pendidik sangat besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan yang dirasakan oleh anak didik.
Dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan seorang pendidik yang mampu berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi generasi yang kita harapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa. Untuk itu, guru tidak hanya cukup menyampaikan materi pelajaran semata, akan tetapi guru juga harus pandai menciptakan suasana belajar ya ng baik, serta juga mempertimbangkan pemakaian metode dan strategi dalam mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan sesuai pula dengan keadaan anak didik.
Keberadaan guru dan siswa merupakan 2 faktor yang sangat penting dimana diantara keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan mengajar guru, karena dalam proses pembelajaran guru tetap mempunyai suatu peran yang penting dalam memberikan suatu ilmu kepada anak didiknya. Salah satu masalah yang dihadapi guru dalam menyelenggarakan pelajaran adalah bagaimana menimbulkan aktifitas dan keaktifan dalam diri siswa untuk dapat belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa.
Salah satu cara untuk menimbulkan aktifitas belajar siswa adalah dengan merubah kegiatan – kegiataan belajar yang monoton. Salah satunya adalah dengan menerapkan strategi belajar PQ4R pada bidang studi fiqih. Strategi PQ4R merupakan teknik belajar untuk membantu siswa memahami dan mengingat materi yang dibaca dan dapat membantu proses belajar mengajar di kelas yang dilaksanakan dengan kegiatan membaca buku.
Strategi ini digunakan untuk meningkatkan kinerja memori dalam memahami substansi teks yang dapat mendorong pembaca melakukan pengolahan materi secara lebih mendalam dan luas. Strategi PQ4R merupakan suatu strategi belajar yang meminta siswa untuk melakukan Preview (tugas membaca cepat dengan memperhatikan judul-judul dan topic utama, tujuan umum dan rangkuman, serta rumusan isi bacaan), Question (mendalami topic dan judul utama dengan mengajukan pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan dalam bacaan tersebut, kemudian mencoba menjawabnya sendiri), Read (tugas membaca bahan bacaan secara cermat dengan mengajukan pengecekan pada langkah kedua), Reflect (melakukan refleksi sambil membaca dengan cara menciptakan gambaran visual dari bacaan dan menghubungkan informasi baru di dalam bacaan tentang apa yang telah diketahui), Recite (melakukan resitasi dengan menjawab pertanyaan melalui suara keras yang diajukan tanpa membuka buku) dan Review (mengulang kembali seluruh bacaan kemudian membaca ulang bila diperlukan dan sekali lagi menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan) pada materi yang dipelajari. Oleh karena itu, penerapan strategi belajar PQ4R dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam ini dianggap relevan karena strategi PQ4R merupakan strategi untuk memahami materi yang dibaca sedangkan membaca mempunyai aspek sosial, yaitu proses yang menghubungkan perasaan, pemikiran dan tingkah laku seorang manusia yang lain.
Dengan menggunakan strategi PQ4R dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam diharapkan siswa dapat menjadi pembaca aktif dan terarah langsung pada intisari atau kandungan-kandungan pokok yang tersirat dan tersurat dalam materi Pendidikan Agama Islam. Selain itu dapat memotivasi belajar siswa dan mampu memahami, mengingat dan menerapkan pesan yang terkandung dalam materi PAI.
Di samping itu, motivasi merupakan salah satu factor yang turut menentukan keefektifan proses balajar mengajar. Callahan dan clark mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah satu tujuan tertentu.
Motivasi belajar memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar. Sehingga siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi akan mempunyai semangat yang besar untuk melaksanakan kegiatan belajar tersebut. Oleh karena itu, motivasi belajar yang ada pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan penerapan strategi belajar PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) dalam membantu peserta didik memahami materi fiqih, maka penulis mengkaji dan meneliti permasalhan tersebut dengan judul skipsi “Efektifitas Strategi Belajar PQ4R terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Bidang Study Fiqih Kelas V di MI Negeri X.”

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pelaksanaan Strategi Belajar PQ4R dalam pembelajaran bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X?
2. Bagaimana motivasi belajar siswa tehadap bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X?
3. Adakah efektifitas penerapan startegi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan Rumusan Masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan strategi PQ4R pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X.
2. Untuk mendeskripsikan motivasi belajar siswa melalui strategi PQ4R pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X.
3. Untuk membuktikan adanya efektifitas penerapan strategi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X.
Adapun penelitian ini mempunyai beberapa manfaat yang dapat diperoleh, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bagi siswa
a. Memberikan motivasi kepada siswa sehingga lebih aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran.
b. Memberikan motivasi kepada siswa sehingga dapat mencapai ketuntasan belajarnya.
2. Bagi Guru sebagai masukan dalam melaksanakan strategi pembelajaran PQ4R sehingga berguna bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran pada materi Pendidikan Agama Islam.
3. Menambah wawasan keilmuan peneliti khususnya dalam pembelajaran pada materi Pendidikan Agama Islam.
4. Sebagai prasyarat karya tulis ilmiah untuk memenuhi program sarjana strata satu (S1) pada fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri X.
5. Memberikan sumbangsih terhadap dunia pendidikan Indonesia.
6. Menambah kesempurnaan dan kelengkapan dalam riset pendidikan baik secara implisit maupun eksplisit tanpa mengurangi hasil dari riset pendidikan yang telah diimplementasikan maupun belum.

D. Batasan Masalah
Sangatlah penting bagi penulis dalam membatasi masalah untuk membuat pembaca mudah memahaminya. Dalam skripsi ini penulis hanya memfokuskan pada :
1. Strategi belajar yang dikembangkan adalah strategi belajar PQ4R.
2. PAI dalam penelitian ini diaplikasikan pada bidang studi Fiqih Kelas V materi binatang yang halal dan haram.
3. Pelaksanaan penerapan strategi PQ4R pada bidang studi Fiqih difokuskan pada kelas V di MI Negeri X. Kelas V A sebagai kelas kontrol dan kelas V B sebagai kelas eksperimen.

E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban/kesimpulan sementara terhadap masalah yang diteliti dan diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian.
Menurut Suharsimi Arikunto, penelitian mempunyai dua hipotesis, yakni :
1. Hipotesis Kerja/Hipotesis Alternative yang berlambangkan (Ha). Hipotesis ini menyatakan bahwa ada hubungan antara variabel Independent (X) dengan variabel Dependent (Y). Yakni “Adanya pengaruh yang signifikan antara strategi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X.”
2. Hipotesis Nol/Hipotesis Nihil yang berlambangkan (Ho). Hipotesis ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel Independent (X) dengan variabel Dependent (Y). Yakni “Tidak adanya pengaruh antara strategi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih Kelas V di MI Negeri X.”
Dengan melihat pada dua hipotesis diatas, peneliti mengambil hipotesis yang pertama, hipotesis ini digunakan untuk mencari jawaban atas rumusan masalah yang ketiga yakni “Adanya efektifitas pelaksanaan strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi Fiqih kelas V di MI Negeri X”. Dengan demikian, Rumusan Masalah yang ke tiga dapat dipenuhi jika (Ha) diterima. Sedangkan untuk mencari (Ho) digunakan analisis data menggunakan Uji “t”.

F. Definisi Operasional
Agar dalam pemahaman penulisan ini tidak terjadi kerancuan makna/salah persepsi, maka dipandang perlu dalam penulisan ini dicantumkan definisi dari permasalahan yang di angkat :
1. Efektifitas : berasal dari kata efektif yang berarti tepat guna, berhasil atau ada efeknya, pengaruhnya, akibatnya. Dalam skripsi ini yang dimaksud dengan efektifitas adalah ada pengaruh antara pelaksanaan strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih kelas V di MI Negeri X.
2. Strategi : Rencana yang cermat untuk mencapai sasaran.
3. Strategi belajar PQ4R : teknik belajar untuk membantu siswa memahami dan mengingat materi yang dibaca. P singkatan dari Preview (membaca selintas dengan cepat), Q untuk question (bertanya), 4R singkatan dari Read (membaca), Reflect (refleksi), Recite (tanya jawab sendiri) dan Review (mengulang secara menyeluruh).
4. Motivasi : tenaga dari dalam diri manusia yang mendorong bertindak, suatu proses yang berlangsung dalam dari seseorang.
5. Belajar : suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut di tampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap kebiasaan, keterampilan daya pikir dan lain-lain kemampuan.
6. Siswa : salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar.

G. Metodologi Penelitian
1. Identifikasi Variabel
Bertolak dari masalah penelitian yang telah dikemukakan diatas maka dengan mudah dapat dikenali variabel-variabel penelitiannya. Bahwa dalam penelitian masalah yang kita bahas ini mempunyai dua variabel, yaitu :
a. Independent Variabel atau Variabel Bebas disebut dengan Variabel (X) yaitu Strategi PQ4R disebut demikian karena kemunculannya atau keberadaannya tidak dipengaruhi variabel lain.
b. Dependent Variabel atau Variabel Terikat disebut dengan Variabel (Y) yaitu motivasi belajar disebut demikian karena kemunculannya disebabkan atau dipengaruhi variabel lain.
2. Jenis dan Rancangan Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan peneliti atau penulis untuk meneliti (mengetahui) ada atau tidaknya pengaruh strategi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa bidang studi fiqih kelas V di MIN Negeri X adalah merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen yaitu penelitian yang membandingkan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan menerapkan treatment strategi PQ4R.
Menurut Ibnu Hajar, penelitian eksperimen dapat dikenali dengan enam ciri khusus, sebagai berikut :
1) Ekuivalensi statistik dari subyek dalam kelompok yang berbeda.
2) Adanya perbandingan antara dua kelompok atau lebih.
3) Adanya manipulasi perlakuan, setidaknya pada satu variabel independent.
4) Adanya pengukuran untuk masing-masing variabel dependent.
5) Penggunaan statistik inferensial.
6) Adanya desain yang dapat mengontrol secara ketat variabel asing.
Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu perlakuan.14 Cambell dan Stanley mambagi jenis-jenis desain penelitian berdasarkan baik buruknya eksperimen atau sempurna tidaknya eksperimen.15 Secara garis besar mereka mengelompokkan atas :
1) Pre-eksperimental design (eksperimen yang belum baik).
2) True-eksperimental design (eksperimen yang dianggap baik).
Penelitian ini adalah jenis penelitian True-eksperimental design (eksperimen yang dianggap baik), yaitu penelitian yang meneliti kemungkinan ada hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada salah satu atau lebih kelompok eksperimen, satu atau lebih kondisi perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. 16 Sedangkan desain yang digunakan adalah pre tes and post tes group design.

Kelompok Pre test Treatment Post test
E O1 X O2
K O1-O2
Keterangan :
E : Eksperimen
K : Kontrol
X : Strategi PQ4R
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan data berupa angka sebagai alat untuk menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Angka-angka yang terkumpul sebagai hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan metode statistik. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan dari data kuantitatif.
Jadi peneliti melakukan penelitian dengan melihat perbedaan kemampuan antara siswa kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan siswa kelas eksperimen yang menggunakan strategi belajar PQ4R pada bidang studi fiqih.
b. Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitian adalah sebagai berikut :
1) Tahap Persiapan
Pada tahap ini, peneliti mempersiapkan beberapa hal yang harus dilakukan sebelum diadakan penelitian. Yang antara lain, pembuatan perangkat pembelajaran.
2). Tahap Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan penelitian setelah persiapan dilakukan. Adapun langkah-langkah dalam tahap pelaksanaan sebagai berikut :
a. Memberikan pre test pada kelas kontrol dan kelas eksperimen tentang bidang studi fiqih materi binatang halal dan haram.
b. Melaksanakan pembelajaran dengan strategi belajar PQ4R pada bidang studi fiqih materi binatang halal dan haram yang sebelumnya kelas eksperimen belum menggunakan Strategi PQ4R.
c. Selama proses pembelajaran berlangsung diadakan pengamatan kemampuan guru dalam mengelola kelas dan aktivitas siswa.
d. Memberikan postest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Dan kelas eksperimen sudah menerapkan Strategi PQ4R.
e. Memberikan angket kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan strategi belajar PQ4R pada bidang studi fiqih materi binatang halal dan haram.
3). Tahap Analisa Data
Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan.
3. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi pada dasarnya suatu elemen atau individu yang ada dalam wilayah penelitian atau keseluruhan subyek penelitian.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa :
“Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian apabila seseorang ingin meneliti semua subyek, maka penelitian tersebut merupakan penelitian populasi. Maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25% atau lebih.”
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V A dan V B di MI Negeri X yang berjumlah 53.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut pendapat lain adalah seluruh penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi.
Dalam pengambilan sampel penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu didalam pengambilan sampelnya atau penentuan sample untuk tujuan tertentu. Hanya mereka yang ahli yang patut memberikan pertimbangan untuk pengambilan sample yang diperlukan. 21 Adapun sampel yang penulis ambil adalah dua kelas yaitu kelas V A sebagai kelas kontrol dan sebagai kelas eksperimen yaitu kelas V B.
Adapun alasan penulis memilih kelas V A dan kelas V B dikarenakan :
a. Pihak sekolah menyarankan untuk menjadikan dua kelas tersebut sebagai sampel.
b. Kemampuan tingkatan kelas sebelumnya masih belum dapat menjangkau strategi ini.
4. Jenis Data dan Sumber Data
a. Jenis Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini digolongkan menjadi dua jenis yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.
1) Data Kuantitatif
Yaitu data yang dapat diukur dan dihitung secara langsung dengan kata lain data kuantitatif adalah data yang berupa angka-angka, adapun yang termasuk data kuantitatif dalam penelitian ini adalah :
a) Jumlah guru, pegawai dan siswa.
b) Hasil nilai pretes dan posttes siswa setelah menerapkan Strategi PQ4R.
2) Data Kualitatif
Yaitu data yang dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak menggunakan angka-angka dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif. 22 Dalam hal ini yang termasuk data kualitatif adalah :
a) Sejarah berdirinya MI Negeri X.
b) Letak geografis MI Negeri X.
c) Visi, misi dan tujuan.
d) Struktur organisasi.
e) Keadaan guru, karyawan dan siswa.
f) Pelaksanaan strategi PQ4R yang terdapat di MI Negeri X.
Terhadap data yang bersifat kualitatif, yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisahkan menurut kategori untuk mendapatkan kesimpulan. Sementara untuk data yang bersifat kuantitatif yang berupa angka-angka yang dapat diukur dan dihitung dapat diproses dengan cara prosentase dan mencari nilai rata-rata.
Serta dijumlahkan, diklarifikasikan sehingga merupakan suatu susunan urut data, untuk selanjutnya dibuat tabel.23
b. Sumber Data
Yang dimaksud dengan sumber data ialah subyek darimana data itu diperoleh. 24 Berlandaskan pada penilaian diatas maka sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah :
1) Library Research : yaitu kajian kepustakaan dengan menelaah dan mempelajari buku-buku yang dipandang dapat melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini.
2) Field Research : yaitu data yang diperoleh dari lapangan penelitian. Adapun dalam penelitian ini ada dua cara untuk memperoleh data dilapangan, yakni :
a. Manusia : meliputi kepala sekolah, dewan guru Pendidikan Agama Islam dan para siswa kelas V yang ada ditempat penelitian.
b. Non Manusia : untuk memperoleh atau dengan mencatat atau melihat dokumen yang ada di MI Negeri X.
5. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang dikehendaki sesuai dengan permasalahan dalam skripsi ini, maka penulis menggunakan metodemetode sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan penelitian dengan sistematik terhadap fenomena yang diselidiki, sedangkan Pauline V. Young mendefinisikan observasi adalah merupakan suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diarahkan dengan menggunakan alat indra (telinga, mata) terhadap kejadian-kejadian yang langsung ditangkap pada waktu kejadian itu berlangsung. 25 Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data-data tentang gambaran umum pelaksanaan strategi PQ4R pada bidang studi fiqih kelas V di MI Negeri X.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan observasi partisipan dan non partisipan. Pada observasi secara partisipan, pengamat sungguh-sungguh menjadi bagian dan ambil bagian pada situasi yang diamati. 26 Instrumen yang digunakan adalah checklist.
Dalam hal ini peneliti menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Peneliti memilih metode observasi ini untuk melakukan pengamatan pada saat guru memulai pembelajaran dan diakhiri pada saat guru mengakhiri pembelajaran. Lembar observasi ini terdiri dari
1). Lembar kemampuan guru mengelola strategi PQ4R pada bidang studi Fiqih.
Lembar ini digunakan untuk mengamati kemampuan guru mengelola strategi PQ4R. Dalam melakukan pengamatan, peneliti sendiri sebagai pengamat, pengamatan dilakukan dalam tiga kali pertemuan.
Kemampuan ini dapat dilihat dari lembar observasi yang berisi butir-butir berikut ini :
a) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b) Mengaitkan materi binatang halal dan haram dimakan dengan kehidupan sehari-hari.
c) Memotivasi siswa.
d) Menjelaskan pada siswa mengenai aktivitas yang diharapkan.
e) Menjelaskan materi dengan memodelkan strategi belajar PQ4R.
f) Melatih siswa menerapkan strategi belajar PQ4R dalam proses pembelajaran.
g) Memeriksa pemahaman siswa terhadap materi yang di pelajari dengan menggunakan strategi belajar PQ4R.
2). Lembar aktivitas siswa
Lembar ini digunakan untuk mengamati aktivitas-aktivitas siswa dikelas yang menggunakan strategi PQ4R pada bidang studi fiqih meliputi hal-hal berikut ini :
a) Memperhatikan penjelasan guru.
b) Membaca dengan menggunakan strategi PQ4R.
c) Mengajukan pertanyaan dari materi yang dibaca.
d) Mengerjakan tugas atau LKS.

e) Mempresentasikan hasil belajar.
f) Perilaku yang tidak relevan.
Dari aktivitas-aktivitas tersebut diatas dikategorikan menjadi aktivitas siswa aktif dan aktifitas siswa pasif. Untuk aktivitas siswa aktif meliputi urutan b sampai dengan e. Sedangkan urutan a dan f termasuk aktivitas siswa pasif.
3). Lembar kendali
Lembar kendali disini berupa : RP (Rencana Pembelajaran) dalam rencana pembelajaran tercantum kompetensi dasar, indikator pencapaian, uraian materi. Langkah-langkah pembelajaran : pendahuluan, kegiatan inti, strategi pembelajaran, penutup dan evaluasi.
Pada saat melakukan observasi ini peneliti mengisi instrumen observasi yang telah tersedia dengan cara memberikan nilai pada kolom yang tersedia.
b. Angket
Tehnik pengumpulan data ini melalui formulir sebaran pertanyaan – pertanyaan yang dianjurkan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang di perlukan. Metode ini di gunakan untuk memperoleh data statistik tentang efektifitas strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih kelas V di MI Negeri X. Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai kebaikan sebagai instrument pengumpulan data.
Adapun untuk memberikan skor terhadap butir-butir pertanyaan dalam angket agar lebih cermat dari spesifikasi teknis angket adalah :
a. jawaban a dengan skor 3.
b. jawaban b dengan skor 2.
c. jawaban c dengan skor 1.
c. Tes
Tes yang dilaksanakan yaitu pretes dan postes. Pretes digunakan untuk mengetahui kondisi siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan postes digunakan untuk mengetahui motivasi belajar siswa setelah menerapkan strategi PQ4R pada bidang studi fiqih.
6. Metode Analisa Data
Ditinjau dari data yang ada maka ada dua teknik yang bisa dipakai, yaitu :
a. Untuk data yang bersifat kualitatif maka analisis yang digunakan dengan cara komparasi atau perbandingan.
b. Sedangkan data yang bersifat kuantitatif, maka analisis yang akan digunakan adalah analisis statistik yang mana untuk membuktikan kebenaran dari hipotesa yang diajukan penulis tentang apakah hipotesa diterima atau yang diajukan ditolak.
Karena skripsi yang penulis susun termasuk penelitian tentang korelasi (hubungan antara dua variabel atau lebih), yaitu efektifitas Strategi PQ4R terhadap motivasi belajar siswa. Maka penulis menggunakan data statistik dengan Rumus Uji “t” atau “T tes”. Setelah data terkumpul maka dapat ditarik kesimpulan dari hasil-hasil penelitian.
Dalam menganalisis data tersebut peneliti menggunakan teknik analisis data sebagai berikut :
1) Teknik Analisis Data Hasil Observasi
a. Analisis Data Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola strategi PQ4R
Data hasil pengamatan kemampuan guru mengelola strategi PQ4R dianalisis dengan mencari data-data kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran selama tiga kali pertemuan.
Kategori kemampuan guru untuk setiap aspek dalam mengelola Strategi PQ4R ditetapkan sebagai berikut :
1. Skor 4 kategori sangat baik.
2. Skor 3 kategori baik.
3. Skor 2 kategori kurang baik.
4. Skor 1 kategori tidak baik.
Sedangkan untuk memberikan interpretasi terhadap ratarata skor akhir yang diperoleh digunakan kategori sebagai berikut :
Tabel 1.1
Pedoman Rata-Rata Kategori Kemampuan Guru
No Skor X Kategori
1. 3,25 < x < 4,00 Sangat Baik
2. 2,50 < x < 3,25 Baik
3. 1,75 < x < 2,50 Kurang Baik
4. 1,00 < x 1,75 Tidak Baik
b. Analisis Data Aktivitas Siswa
Data hasil penelitian untuk aktivitas siswa selama pembelajaran dianalisis secara deskriptif dengan menentukan jumlah aktivitas siswa aktif dan jumlah siswa pasif. Jika jumlah rata-rata aktivitas siswa aktif lebih besar dari jumlah rata-rata aktivitas siswa pasif maka dalam pembelajaran strategi PQ4R ini aktivitas siswa tergolong aktif.
c. Analisis Data Respon Siswa
Untuk mengetahui respon siswa atau komentar siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar PQ4R, data respon siswa dianalisis dengan menggunakan rumus prosentase sebagai berikut :
P = F x 100%
N
Dimana :
P = Prosentasse
F = Frekwensi
N = Jumlah Respon
Setelah mendapat hasil berupa prosentase kemudian hasilnya dapat ditafsirkan dengan kalimat besifat kualitatif sebagai berikut :
1). 76%-10% = Kategori Baik
2). 56%-75% = Kategori Cukup
3). 40%-55% = Kategori Kurang Baik
4). 0%-35% = Kategori Jelek.27
2). Analisis Statistik Data Kuantitatif
Analisis statistic digunakan untuk menganalisis data dari hasil post test, uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t 2 pihak, dimana uji t digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh atau tidak penggunaan strategi pembelajaran PQ4R terhadap motivasi belajar siswa kelas V di MIN X. Prosedur yang dilakukan dalam uji hipotesis adalah penentuan hipotesis, menentukan taraf signifikansi sebesar 1% dan menghitung t dengan rumus.28
Adapun rumus-rumus statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Adapun langkah-langkahnya sebgai berikut :
1). Menentukan hipotesis
Ho = Sampel berdistribus i normal
Ha = Sampel berdistribusi tidak normal
2). Menentukan taraf signifikansi a = 0,01
3). Menghitung mean (X) dan standar deviasi
4). Membuat daftar frekuensi observasi dan frekuensi ekspektasi langkah yang digunakan
a). Menentukan banyaknya kelas (k)
k = 1 + 3,3 log n
b). Menentukan panjang kelas (p)
R = Rentang = data terbesar – data terkecil
c). Menentukan batas bawah dan batas atas pada tiap-tiap kelas interval
d). Menentukan besarnya bilangan baku (z) tiap-tiap kelas interval z = S bk-X
e). Menentukan luas setiap interval (L) dengan menggunakan daftar z
f). Menghitung frekuensi ekspektasi (Ei)
Ei = n X L, hasilnya satu decimal
5). Menghitung nilai Chi Kuadrat X²
X² = Ei
(Oi-Ei)²
6). Menemukan derajat kebebasan (db) db = k-3
7). Menentukan nilai X ²dari daftar
8). Penentuan normalitas
Ho diterima jika X² hitung < X ² 0,99 tabel
Ho ditolak jika X² hitung = X 0,99 tabel
9). Menarik kesimpulan
Analisis data ini digunakan untuk mengetahui hasil dari nilai Post-Test.
b. Uji Homogenitas
1. menentukan Hipotesis
Ho = d 1 = d 2 (kedua variansi homogen)
Ho = d 1 ¹ d 2 (kedua varians i tidak homogen)
2. Menentukan taraf signifikansi a = 0,01
3. Menencari nilai F
F = Vk Vb
Keterangan :
Vb = Variansi besar
Vk = Variansi kecil
4. Menentukan derajat kebebasan
db1 = n1-1 db2 = n2-1
Keterangan :
db1 = derajat kebebasan pembilang
db2 = derajat kebebasan penyebut
n1 = ukuran sampel yang bervariansi besar
n2 = ukuran sampel yang bervariansi kecil
5. Menentukan nilai F hitung dari daftar
6. Penentuan Homogenitas
Ho = diterima jika F hitung < F 0,01
Ho = diterima jika F hitung = F 0,01
7. Menarik kesimpulan
Kemudian untuk mengetahui adanya penggunaan efektifitas penggunaan strategi PQ4R penulis menggunakan rumus uji “t”.
Adapun langkah-langkahnya :
1) Menentukan hipotesis
Ho = p1 = p 2 (kedua strategi mengajar tidak ada yang lebih baik)
Ho = p1 ¹ p2 (kedua strategi mengajar ada yang lebih baik)
2) Menentukan taraf signifikansi a = 0,01
3) Menghitung deviasi standart gabungan dsg = 2 (1) (1) 1 2 1 1 2 2 +--+-
4) Mencari nilai t t = 1 2 1 2 1 1 n n dsg X +-
5) Menentukan standart kebebasan
db = n1 + n2-2
6) Mencari nilai t dari daftar
7) Menguji hipotesis
Ho = diterima jika t 0,995 < t hitung
Ho = ditolak jika t hitung > t 0,995
8) Menarik kesimpulan
Tehnik Analisa Pre-Test dan Post-Test One Group Design atau “t” tes, di gunakan untuk mengetahui efektifitas strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang studi fiqih di MI Negeri X. Karena menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok pembanding maka,
Rumus yang digunakan sebagai beriku :
*** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

Kemudian kita berikan interpretasi dengan menggunakan table nilai “t” (Table Harga Kritik) dengan ketentuan sebagai berikut :
1). Jika to sama dengan atau lebih besar dari pada harga kritik “t” yang tercantum dalam table (tt) maka hipotesis nihil (Ho) ditolak, berarti Hipotesis alternatif (Ha) diterima.
2). Jika to lebih kecil daripada harga kritik “t” yang tecantum dalam table (tt), maka hipotesis nihil (Ho) diterima, berarti Hipotesis alternatif (Ha) ditolak.

H. Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan, yang meliputi beberapa sub antara lain : Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah, hipotesis penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II : Landasan teori, yang meliputi : tinjauan tentang strategi belajar PQ4R, yang meliputi : pengertian strategi belajar, tujuan pengajaran strategi, teori yang mendukung pengajaran strategi, pengertian strategi belajar PQ4R, dan sintaks strategi belajar PQ4R dalam pembelajaran. Sedangkan motivasi belajar antara lain : pengertian motivasi belajar, ciri-ciri motivasi, macam-macam motivasi, fungsi motivasi belajar, motivasi belajar siswa pada bidang study fiqih. Selanjutnya tinjauan tentang efektifitas strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang study fiqih, aktivitas siswa dan respon siswa.
BAB III : Laporan hasil penelitian, yang meliputi : gambaran umum obyek penelitian, yang meliputi : sejarah berdiri, letak geografis, visi, misi dan tujuan, keadaan guru, karyawan, siswa, sarana dan prsarana, dan struktur organisasi di MI Negeri X. Hasil penelitian dan pembahasan, yang meliputi laporan pelaksanaan strategi belajar PQ4R dalam bidang studi fiqih. Penyajian data meliputi tentang pelaksanaan strategi belajar PQ4R terhadap motivasi belajar siswa pada bidang study fiqih. Analisis data yang meliputi tiga pokok permasalahan di dalam rumusan masalah.
BAB IV : Penutup, yang berisi kesimpulan dan saran-saran yang kemudian dilanjutkan dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
Skripsi Dampak Strategi Modeling Partisipan Terhadap Pemahaman Materi Tata Krama Pribadi Pada Siswa Kelas 1 SMA X

Skripsi Dampak Strategi Modeling Partisipan Terhadap Pemahaman Materi Tata Krama Pribadi Pada Siswa Kelas 1 SMA X

(Kode PEND-AIS-0002) : Skripsi Dampak Strategi Modeling Partisipan Terhadap Pemahaman Materi Tata Krama Pribadi (Berpakaian, Berhias, Adab Dalam Perjalanan, Bertamu Dan Menerima Tamu) Pada Siswa Kelas 1 SMA X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan persoalan yang krusial dan sangat penting dari zaman ke zaman sampai sekarang ini, terutama pendidikan bagi generasi muda. Karena pendidikan merupakan modal utama dalam memajukan bangsa dan negara. Dengan pendidikan akan lahir generasi-generasi yang sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan pendidikan pula dihasilkan jiwa-jiwa bertanggung jawab atas diri dan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dijelaskan dalam UU No. 20 Tahun 2003, yaitu :
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengambangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Sebab pada hakekatnya pendidikan adalah usaha sadar yang punya tujuan untuk mengubah tingkah laku dan sikap anak didik. Menurut H. Abu Ahmadi bahwa, pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan secara sadar dengan sengaja dan positif, untuk membantu perkembangan anak didik dalam membentuk dirinya menjadi manusia dewasa dalam arti yang utuh. Salah satunya adalah melalui PAI, hal ini sangat penting dan kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan agama Islam merupakan suatu usaha sadar untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta dapat menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Pada suatu lembaga pendidikan, materi Pendidikan Agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang ada, dimana dalam proses pembelajarannya tentu banyak mengalami kendala-kendala, antara lain seperti kesulitan siswa dalam memahami suatu materi, hal ini sangat penting.
Dalam mengukur sampai dimana pengelolaan pendidikan itu berhasil, salah satunya adalah dengan melihat tingkat pemahaman anak didik terhadap materi yang diberikan dalam lembaga pendidikan. Dalam hal ini guru harus mampu mengolah, menyusun dan menyajikan materi pelajaran agar materi tersebut dapat dipahami dan diterima oleh anak didik. Dengan kata lain, guru harus benar-benar menguasai strategi pengajaran dengan baik, karena dalam suatu interaksi edukatif antara guru dengan anak didik terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah tentang pemakaian strategi. Kita semua mengetahui bahwa dalam proses belajar mengajar tidak hanya guru dan murid yang menjadi pendukung dalam keberhasilannya, tetapi juga dibutuhkan strategi, agar materi yang disampaikan mudah dipahami.
Oleh karena itu, jika kita bicara tentang mengajar tentu ada subjek yang belajar. Belajar dan mengajar meskipun dua hal yang berbeda, namun keduanya saling berhubungan sangat erat sekali. Mengajar akan efektif dan efisien bila hal ii didasarkan pada prinsip-prinsip belajar. Belajar akan efektif dan efisien bila kesiapan anak didik diperhitungkan. Jadi, mengajar itu sebenarnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dan murid yang dalam hal ini guru mengharapkan siswanya mendapatkan pengetahuan, kemampuan atau keterampilan dan pemahaman yang disesuaikan dengan struktur kognitif yang diambil dari anak didik. Sedangkan menurut Bagne (1977) bahwa belajar merupakan sebuah proses pengubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecenderungan manusia, seperti sikap, minat dan nilai serta perubahan kemampuannya, yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja). Perubahan tingkah laku tersebut harus bertahan dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan positif yang terjadi pada tingkah laku siswa sebagai subjek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, apresiasi, kemampuan berpikir logis dan kritis, kemampuan interaktif dan kreatifitas yang telah dicapainya. Konsep belajar demikian menempatkan manusia yang belajar tidak hanya pada proses teknis, tetapi sekaligus pada proses normative. Hal ini amat penting agar perkembangan kepribadian dan kemampuan belajar siswa terjadi secara harmonis dan optimal.
Proses belajar bisa berlangsung secara efektif apabila semua faktor internal dan faktor eksternal siswa diperhatikan oleh guru. Seorang guru harus bisa mengetahui potensi, kecerdasan, minat, motivasi, daya belajar, sikap dan latar belakang sosial ekonomi dan budaya yang merupakan faktor internal siswa. Begitu juga faktor eksternal seperti tujuan, materi, strategi, pendekatan pembelajaran, metode, iklim sosial dalam kelas, sistem evaluasi dan lain-lain.
Namun, berbeda jika kita lihat sistem pendidikan di Indonesia pada saat ini. Menurut Benjamin Franklin, sistem pendidikan yang ada di Indonesia menganggap siswa sebagai bejana kosong yang perlu di isi, bukan menyalakan semangat agar siswa bergairah belajar. Karena tujuannya untuk mengisi bejana, maka siswa sering dijejali dengan berbagai materi pelajaran sebanyak-banyaknya. Waktu belajar siswa di sekolah selama 6-7 jam sehari, serasa belum cukup sehingga para murid diberikan tugas rumah yang memerlukan waktu sampai larut malam untuk melaksanakannya. Sistem pendidikan seperti ini membuat semangat anak didik untuk belajar menjadi pudar. Apabila tidak ada semangat belajar, kegairahan serta rasa cinta untuk belajar, maka harapan untuk membentuk manusia unggul yang cerdas akal budinya, kreatif serta mampu memberikan solusi bagi masalah kehidupan akan gagal pula.
Sering kali kita menjumpai sekolah-sekolah seperti yang dipaparkan di atas, siswa dianggap sebagai bejana kosong yang harus diisi tanpa memikirkan akibatnya atau hasilnya. Karena pada kenyataannya masih banyak siswa yang belum betul-betul paham dengan materi yang diberikan, sedangkan materi yang diberikan melebihi batas kemampuan siswa. Hal ini sering terjadi disebabkan target yang telah ditetapkan dengan kreativitas yang dimiliki oleh guru tidak seimbang, kadang hanya menjelaskan materi tanpa ada suatu praktek. Hal ini akan sulit dipahami oleh siswa. Melihat kondisi dan kesiapan siswa pada saat ini, mereka lebih senang dan tertarik jika dalam proses belajar dihubungkan langsung dengan alam sekitar. Hal ini akan terlihat nyata bagi mereka, tidak lagi merekareka karena yang mereka dapatkan hanya berupa teori-teori atau cerita-cerita dari guru.
Disini, teori belajar sosial Albert Bandura berusaha menjelaskan hal belajar dalam latar wajar, tidak seperti yang terjadi di laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempatan yang luas kepada individu untuk memperoleh keterampilan atau pemahaman tentang pengetahuan yang kompleks melalui pengamatan terhadap tingkah laku model dan konsekuensinya.
Sebagai ringkasan, ada tiga asumsi yang mendukung teori belajar sosial, ketiga asumsi adalah sebagai berikut : pertama, proses belajar menuntut dari si belajar proses kognitif dan ketrampilan pengambilan keputusan. Kedua, belajar ialah hubungan segitiga yang saling berkaitan antara lingkungan, faktor pribadi, dan tingkah laku. Ketiga, belajar menghasilkan pemerolehan kode tingkah laku verbal dan visual yang mungkin diunjukan, mungkin juga tidak.
Dengan demikian, seorang guru dalam proses belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan tidak boleh mendominasi pengetahuan anak didik. Anak didik harus diberi kebebasan dalam mengga li pengetahuan dan guru harus lebih kreatif dalam menyusun strategi, sehingga anak didik bisa belajar dengan baik dan dapat menerima serta memahami materi yang diberikan, di samping adanya lingkungan sebagai pendukung.
Strategi pembelajaran yang berkembang saat ini banyak sekali, antara yang satu dengan yang lainnya memiliki karakteristik yang berbeda. Pada dasarnya strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah berguna untuk mendukung berlangsungnya penyampaian materi agar bisa diterima dan dipahami oleh peserta didik dengan benar. Belajar yang efektif dan efisien akan tercapai apabila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar yang diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
Strategi pembelajaran merupakan suatu usaha atau siasat yang digunakan oleh guru yang dirangkai secara sistematis agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta didik. Proses belajar mengajar akan berhasil jika strategi yang digunakan sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan.
Strategi pembelajaran modeling partisipan adalah strategi belajar yang membantu guru agar lebih mudah memahamkan peserta didik, tentang hal-hal yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan atau pemahaman siswa tidak hanya dilihat dari tampilan kuantitatif saja, tetapi juga lewat aplikasi dalam kehidupan yang nyata. Dengan skema konseptual seperti itu, hasil pembelajaran bukan sekadar wacana yang melangit, akan tetapi merupakan hal yang harus membumi dan bermakna bagi siswa.
Dalam strategi modeling partisipan, klien melihat model nyata. Biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh model meniru tingkah laku yang dikehendaki, sampai akhirnya melakukan sendiri tanpa bantuan. Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforcement yang nyata, dalam penelitiannya ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain. Bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat reinforcement dari tingkah lakunya. Belajar melalui observasi jauh lebih efisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung. Melalui observasi, orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga banyaknya. Yang diikuti dengan penguatan atau hubungan.
Dalam hal strategi modeling, siswa tidak hanya sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan model, tetapi modeling melibatkan penambahan dan pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif.
Dengan demikian Strategi modeling partisipan cocok jika diterapkan pada materi tata krama pribadi. Hal ini akan sangat bagus jika guru benar-benar dapat mengatur, karena dengan adanya tampilan dari seorang model guru dapat mengatur lingkungan yang ada sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, karena dengan adanya tampilan dari seorang model siswa dapat mengetahui hal-hal nyata yang berhubungan dengan materinya yaitu materi tata krama pribadi.
Materi tentang tata krama pribadi yakni tata krama yang ada pada diri pribadi, meliputi; berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu. Tata krama sering diasosiasikan dengan budi pekerti. Dimana budi pekerti itu adalah kesadaran yang ditampilkan seseorang dalam berperilaku. Budi pekerti secara operasional merupakan perilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan, artinya seseorang diajarkan suatu tata krama yang baik mulai sejak kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan. Misalnya, tentang berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah, dan sebagainya.
Tata krama juga sering diasosiasikan dengan budi pekerti yang juga berisikan tentang kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan antar manusia. Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, norma, dan aturan. Krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Dengan demikian, tata krama berarti adat sopan santun yang menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam menerapkan budi pekerti. Dalam kehidupan, sering terjadi benturan-benturan nilai dan norma yang kita rasakan. Apa yang dahulu kita anggap benar mungkin sekarang sudah menjadi salah. Apa yang kita anggap tabu dibicarakan, sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Misalnya, berbicara masalah politik, hak asasi, dan sebagainya.
Sehingga penting kiranya bagi guru untuk menyajikan materi tata krama pribadi dengan menggunakan strategi modeling partisipan, agar siswa tidak hanya menerima teori saja tanpa mengetahui secara nyata tanpa mengetahui bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Melihat mayoritas agama yang dianut adalah agama Islam, sehingga penting kiranya bagi peserta didik agar dapat memahami materi tata krama pribadi, karena ketika peserta didik sudah memahami materi tersebut, maka akan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Biasanya dalam proses belajar mengajar, guru menjelaskan materi tersebut, setelah itu dipraktekkan dengan cara menampilkan model. Tujuannya untuk mempermudah anak didik dalam memahami materi tersebut.
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “Dampak Strategi Modeling Partisipan terhadap Pemahaman Tata Krama Pribadi (Berpakaian, Berhias, Adab Dalam Perjalanan, Bertemu Dan Menerima Tamu) Di SMA X”.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
2. Bagaimana penerapan strategi modeling partisipan di SMA X?
3. Adakah dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang terkumpul tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
2. Untuk mengetahui penerapan strategi modeling pada materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?
3. Untuk mengetahui dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) di SMA X ?

D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan khususnya mengenai dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas I SMA X. Demikian strategi modeling partisipan ini merupakan suatu proses belajar mengamati tingkah laku individu atau kelompok dengan ketentuan adanya seseorang sebagai model, ada tingkah laku yang diamati untuk menghasilkan tingkah laku baru yang diinginkan. Dengan menggunakan strategi modeling partisipan diharapkan akan menghasilkan suatu pemahaman tentang materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu).
2. Bagi lembaga (sekolah) yang diteliti
Dapat digunakan sebagai masukan bagi seorang guru agar dapat mengukur tingkat pemahaman siswa pada setiap materi yang diajarkan, terutama pada materi yang berkaitan dengan strategi modeling dan digunakan untuk membantu siswa menguasai dan memahami suatu materi.
3. Bagi peneliti lain
Penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan dan mengembangkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai pemahaman siswa pada materi tata krama pribadi

E. Hipotesa Penelitian
Hipotesis berasal dari kata hypo yang berarti di bawah dan thesa yang artinya kebenaran (kebenaran yang masih perlu diuji). Jadi hipotesa adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesa dibagi menjadi 2, yaitu hipotesa kerja (Ha) dan hipotesa nol (Ho).
Dari uraian tersebut dapat ditarik suatu hipotesa penelitian yaitu :
Ha : Strategi modeling partisipan mempunyai dampak terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X.
Ho : Strategi modeling partisipan tidak mempunyai dampak terhadap materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X

F. Definisi Operasional
Kerlinger (1973), menyatakan bahwa definisi operasional adalah definisi yang dapat diukur, karena dalam penelitian harus diketahui definisi istilah atau konsep yang jelas.
Agar pembahasan lebih mudah dipahami, penulis menegaskan istilahistilah penting yang perlu dimengerti, antara lain :
Dampak : Pengaruh kuat yang mendatangkan akibat (baik negatif maupun positif). Dengan demikian dampak merupakan akibat yang muncul dikarenakan adanya suatu penyebab.
Strategi Modeling Partisipan : Suatu strategi yang digunakan untuk merubah tingkah laku yang dipelajari melalui mengobservasi orang lain, aktivitas atau simbol selaku contoh, dengan kata lain suatu teknik memanfaatkan model sebagai alat untuk mempermudah perubahan tingkah laku.
Maksudnya adalah guru menyajikan seorang model atau lebih, kemudian diikuti pengamatan dari peserta didik, guna memperoleh tingkah laku baru atau memperkuat tingkah laku yang telah ada. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyajikan model hidup, model simbolik, atau diskripsi verbal.
Pemahaman materi tata krama pribadi. Mengerti tentang aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari yang berlaku untuk diri sendiri baik yang berkaitan dengan aturan, sopan santun. Norma-norma dan tindakan kelakuan di masyarakat, dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari.

G. Metode Penelitian
Dalam usaha penelitian apapun, penggunaan metode merupakan hal yang sangat penting, apalagi dalam penelitian ilmiah, sebab dengan menggunakan metode akan mempengaruhi proses pengumpulan data juga dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu tujuan penelitian serta menentukan asal dari asal penelitian.
Oleh sebab itu agar menghasilkan skripsi yang baik, penulis menggunakan beberapa metode penelitian yang diperlukan dalam penelitian skripsi ini.
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif, deskriptif yaitu data-data yang berupa tulisan atau lisan dari orang orang atau pelaku yang dapat diamati. Sedangkan kuantitatif yaitu suatu proses menemukan pengetahuan menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Dalam hal ini, penulis menggunakan data dari angket yang kemudian diberi nilai, kemudian dari nilai tersebut dianalisis melalui rumus yang telah sesuai dengan masalah penelitian, yaitu rumus product moment.
2. Populasi dan sampel
a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, 18 dapat berupa manusia, gejala-gejala, tingkah laku, dan sebagainya yang menjadi obyek penelitian.
Menurut kamus riset, karangan Drs. Komarudin, yang dimaksudkan dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengembangan sampel. Pada kenyataannya, populasi ini adalah sekumpulan kasus yang perlu memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Kasus tersebut dapat berupa barang, binatang, hal, atau peristiwa.
Sedangkan menurut dr. siswojo, definisi dari populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti. Disini peneliti dapat menentukan sendiri kriteria-kriteria yang ada pada populasi yang akan diteliti, misalnya semua laki-laki yang ada di Jakarta yang berambut putih, atau semua remaja yang kecanduan narkoba di Indonesia sebagai populasi. Jadi kriterianya, semua laki-laki berambut putih dan semua remaja yang kecanduan narkoba di Indonesia. Dengan menetapkan populasi ini, peneliti dapat mengukur sesuatu sesuai dengan kasusnya dan tidak berlebihan dengan populasi yang diacu.
Dengan demikian, yang dimaksud populasi adalah keseluruhan obyek yang menjadi sasaran dalam suatu penelitian, baik berupa manusia, hewan, peristiwa atau kejadian.

b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sebagai antisipasi apabila subyeknya kurang dari seratus, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar atau lebih dari 100 dapat diambil 10-15% atau lebih. Berhubung dalam penelitian yang menjadi subjek peneliti kurang dari 100, maka peneliti mengambil semua, sehingga penelitian ini adalah penelitian populasi.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan sistematik terhadap fenomena yang diselidiki. Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan tertentu yang diinginkan atau suatu studi yang disengaja yang sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati atau mencatat. Yang dilakukan waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam katagori yang tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu, seperti alat pencatat, skala penilaian (formulir) dan alat mekanik (tape recorder).
Dapat disimpulkan bahwa observasi adalah mengamati langsung di lapangan yang dijadikan obyek penelitian atau lebih jelasnya peneliti langsung terjun sendiri ke lapangan yang melibatkan panca indera.
b. Metode Interview
Interview bisa dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak kepada tujuan penelitian. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu dan masing-masing dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.
Menurut Prof. Dr. A. Nasution, MA, interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara, pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilakukan melalui telepon.
Jadi interview atau yang sering disebut-sebut dengan wawancara adalah komunikasi langsung atau berhadapan satu orang dengan orang lain atau lebih dengan tujuan untuk memperoleh informasi, disamping itu interview juga dapat dilakukan melalui telepon. Hal demikian dapat terjadi disebabkan jarak antara peneliti dengan responden terlalu jauh, sehingga tidak memungkinkan untuk bertatap muka, atau karena ada hal lain.
Wawancara berfungsi sebagai deskriptif, yaitu melukiskan dunia kenyataan seperti yang dialami oleh orang lain, misalnya dunia kehidupan gelandangan, suku terpencil, tukang becak, dan sebagainya. Disamping itu, interview juga berfungsi eksploratif, yaitu bila masalah yang kita hadapi masih samar-samar bagi kita karena belum pernah diselidiki secara mendalam oleh orang lain. Misalnya, kita belum ada studi yang mendalam tentang KKN, kehidupan mahasiswa di kontrakan, pelaksanaan pembaharuan pendidikan, dan lain-lain. Kita dapat melakukan studi eksploratif dengan mengadakan wawancara dengan sejumlah sampel yang kita pilih. Dalam wawancara itu, kita memperoleh gambaran yang jelas tentang masalah itu, variabel yang terkandung didalamnya, hipotesishipotesis yang perlu diuji, dan lain-lain, sehingga kita dapat mengadakan penelitian yang lebih sistematis untuk menemukan sejumlah generalisasi atau prinsip yang lebih umum dan obyektif.
Dengan demikian, interview adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan responden untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
c. Metode angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang dipergunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Dapat disimpulkan bahwa metode angket adalah metode yang dilakukan dengan menyebarkan data lewat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden yang dijadikan satu dalam penelitian.
Menurut Prof. Dr. A. Nasution, MA, angket adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan melalui pos untuk di isi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab dibawah pengawasan peneliti.
Angket pada umumnya meminta keterangan tentang fakta yang diketahui oleh responden atau juga mengenai pendapat atau sikap, misalnya keterangan tentang sekolah (jumlah guru, pegawai, ruang kelas, fasilitas, murid, dan sebagainya), tentang sikap mengenai masalah sosial, ekonomi, politik, moral, dan sebagainya.
Jenis angket ada dua macam :
1) Menurut jawabannya, terbagi menjadi tiga macam yaitu :
a) Tertutup.
b) Terbuka.
c) Kombinasi kedua macam itu (tertutup dan terbuka).
2) Menurut administrasinya, terbagi menjadi dua macam yaitu :
a) Dikirimkan melalui kos.
b) Diberikan dalam situasi tatap muka.
d. Metode dokumentasi
Dokumentasi dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang, tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku, majalah, dokumen, peraturanperaturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.
Sebenarnya metode dokumentasi adalah pengumpulan data lewat dokumen tertulis, karena dokumentasi asal katanya adalah dokumen, yaitu barang-barang tertulis. Dengan demikian jelas bahwa nantinya yang jadi sumber data ini antara lain seperti; buku majalah, catatan harian, dan sebagainya.

H. Teknik Analisa Data
Data-data yang sudah terkumpul dan diolah kemudian dianalisis dengan metode analisa deskriptif kuantitatif, yaitu suatu analisa data yang dilakukan dengan membaca tabel-tabel, grafik-grafik atau angka-angka yang tersedia, kemudian melakukan uraian dan pena fsiran. Setelah itu data yang diperoleh dari angket diolah dan dianalisis dengan rumus prosentase.
*** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

Dari hasil analisis dengan menggunakan rumus tersebut di atas, maka diperoleh dampak strategi modeling partisipan terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X dengan cara menetapkan hasil standart berupa angka yang bersifat kuantitatif, sebagai berikut :
76 %-100 % : Baik
56 %-75 % : Cukup
40 %-55 % : Kurang
0 %-35 % : Buruk 33
Sedangkan untuk mengukur sejauhmana dampak strategi modeling terhadap pemahaman materi tata krama pribadi (berpakaian, beerhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu), digunakan rumus Product Moment, yaitu :
*** BAGIAN INI SENGAJA TIDAK DITAMPILKAN ***

Untuk mengetahui sejauh mana dampak strategi modeling partisipan terhadap materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertamu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X, maka disesuaikan dengan tabel interpretasi sebagai berikut :
Tabel I
Interpretasi Nilai “r” Product Moment
Besarnya “r” Product
Moment
Interpretasi
0.800 – 1.00 Tinggi
0.600 – 0.800 Cukup
0.400 – 0.600 Agak rendah
0.200 – 0.400 Rendah
0.00 – 0.200 Sangat rendah/tak berkorelasi
I. Sistematika Pembahasan
Dalam pembahasan skripsi ini penulis mencantumkan sistematika pembahasan, agar jelas gambarannya mengenai apa saja yang dibahas, antara lain :
Bab I : Pendahuluan, merupakan garis besar (pokok penulisan skripsi), berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan memilih judul, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II : Landasan Teori, membahas tentang hal-hal yang bersifat teoritis, meliputi pengertian strategi modeling dan tahap-tahapnya, proses belajar mengajar dan dampak strategi modeling terhadap peningkatan materi tata krama pribadi (berpakaian, berhias, adab dalam perjalanan, bertemu dan menerima tamu) pada siswa kelas 1 SMA X
Bab III : Meliputi laporan penelitian, penyajian data dan analisis data hasil penelitian.
Bab IV : Penutup, berisi uraian, kesimpulan dan saran dari penulis.
Skripsi Analisis Konsep Kecerdasan Perspektif Howard Gardner dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Skripsi Analisis Konsep Kecerdasan Perspektif Howard Gardner dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

(Kode PEND-AIS-0001) : Skripsi Analisis Konsep Kecerdasan Perspektif Howard Gardner dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. Dan dengan kecerdasan Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang mempunyai bentuk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain. Allah menegaskan di dalam surat at-Tin ayat 4 :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. at-Tin : 4)
Selama ini pendidikan di Indonesia menilai kecerdasan manusia terlalu sempit, manusia dianggap hanya memiliki satu kecerdasan yang dapat diukur yang disebut kecerdasan logika-matematika, sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur kecerdasan tersebut adalah tes IQ.
Praktek-praktek pembelajaran di Indonesia yang masih mengandalkan pada cara-cara yang lama yang manganggap anak hanya perlu melaksanakan kewajiban yang telah digarisbawahkan oleh guru dan orang tua harus diubah. Pembelajaran satu arah, berorientasi pada keinginan guru dan kurikulum, dan cenderung sangat mengutamakan prestasi akademik saja perlu dikaji ulang, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat.
Kecenderungan pembelajaran yang selalu menekankan pada prestasi akademik ini akan menghasilkan generasi muda yang kurang berinisiatif seperti menunggu instruksi, takut salah, malu mendahului yang lain, hanya ikut-ikutan, salah tetapi masih berani bicara (tidak bertanggung jawab), mudah bingung karena kurang memiliki percaya diri, serta tidak peka terhadap lingkungannya. Di samping itu generasi demikian akan memiliki sifat-sifat yang tidak sabar, ingin cepat berhasil walaupun melalui jalan pintas, kurang menghargai proses, mudah marah sehingga banyak menimbulkan kerusuhan dan tawuran.
Pendekatan di dalam pembelajaran yang sangat mementingkan aspekaspek akademik cenderung memberikan tekanan pada perkembangan intelegensi hanya terbatas pada aspek kognitif, sehingga manusia telah dipersempit menjadi sekedar memiliki kecerdasan kognitif atau yang sering disebut IQ.
Howard Gardner memperkenalkan penelitiannya yang berkaitan dengan multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Teorinya menghilangkan anggapan yang ada selama ini tentang kecerdasan manusia. Gardner menolak asumsi, bahwa kognisi manusia merupakan satu kesatuan dan individu hanya mempunyai kecerdasan tunggal. Meskipun sebagian besar individu menunjukkan penguasaan seluruh spektrum kecerdasan, tetapi setiap individu memiliki tingkat penguasaan yang berbeda. Individu memiliki beberapa kecerdasan, dan kecerdasankecerdasan itu bergabung manjadi satu kesatuan dan membentuk kemampuan pribadi yang cukup tinggi.
Setiap kecerdasan tampak memiliki urutan perkembangan sendiri, tumbuh dan menjelma pada waktu yang berbeda dalam suatu kehidupan. Setiap orang memiliki kecenderungan pada bidangnya masing-masing. Penemuan Howard Gardner ini akan membuat sebuah sistem pendidikan menjadi terbuka sesuai dengan polanya masing-masing.
Howard Gardner memberikan definisi tentang kecerdasan sebagai : 1. Kecakapan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. 2. Kecakapan untuk mengembangkan masalah untuk dipecahkan. 3. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam kehidupan.
Negeri Republik Indonesia yang telah merdeka selama 63 tahun masih terbilang terbelakang dalam bidang pendidikan meskipun terdapat banyak lembaga pendidikan di dalamnya. Hal ini dikarenakan kurangnya penghargaan lembaga maupun pendidik terhadap kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh anak didiknya. Setiap lembaga pendidikan hanya mengutamakan kecerdasan lingual dan logika-matematika saja.
Dalam pendidikan, guru menginginkan siswanya berhasil. Seorang guru ketika memilih karir menjadi pendidik dan sebagai pendidik akan merasa puas jika dapat membuat perubahan dalam kehidupan generasi muda. Oleh karena itu, sudah seharusnya para guru tidak hanya menggunakan satu metode dalam pengajaran, guru dapat menggunakan berbagai macam variasi model yang berlainan disesuaikan dengan intelegensi peserta didik, sebab para peserta didik mempunyai intelegensi yang berbeda dan siswa akan lebih mudah belajar bila materi disajikan dengan cara yang sesuai dengan intelegensi mereka yang menonjol.
Sebagai pendidik semestinya sadar bahwa :
1. Pendidik percaya bahwa semua anak bisa belajar.
2. Pendidik percaya bahwa sekolah tidak lebih baik daripada kualitas para pengajarnya.
3. Pendidik percaya bahwa peran kepala sekolah adalah untuk membantu setiap orang di dalam sekolah untuk belajar.
Teori Howard Gardner tentang multiple intelligences tersebut sangat bermanfaat jika diterapkan dalam memberikan pengajaran pendidikan agama Islam di sekolah, sehingga guru tidak konsisten dengan satu metode dalam mengajar, karena adanya kesadaran guru tentang multiple intelligences yang dimiliki oleh anak didiknya.
Dari pemaparan di atas penulis merasa pentingnya pengetahuan tentang multiple intelligences (kecerdasan dari sudut pandang Howard Gardner) kepada para pendidik untuk mengetahui bagaimana kondisi kecerdasan peserta didiknya, sehingga mereka bisa memberikan metode pengajaran yang bervariasi dalam pengajaran pendidikan agama Islam pada khususnya dan seluruh pembelajaran pada umumnya, maka penulis ingin melakukan penelitian yang berjudul : ANALISIS KONSEP KECERDASAN PERSPEKTIF HOWARD GARDNER DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner?
2. Bagaimana penerapan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan penerapan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi atau gambaran pemikiran Howard Gardner mengenai konsep Kecerdasan yang telah dikemukakan oleh beliau. Namun sesuai dengan beberapa rumusan masalah maka ada beberapa tujuan yang menjadi penunjang dalam mencapai tujuan utama dalam penelitian ini, yaitu :
1. Untuk mendapatkan gambaran tentang konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner.
2. Untuk mendapatkan gambaran cara penerapan pembelajaran pendidikan agama Islam dengan menggunakan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner.
3. Untuk mendapatkan gambaran tentang apa saja kekurangan dan kelebihan penerapan pembelajaran pendidikan agama Islam dengan menggunakan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner.

D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan hasil penelitian ini, yaitu :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memperkaya khasanah pemikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran, pendidikan agama Islam khususnya.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan bangunan ilmu pengetahuan dan mengembangkan pendidikan agama Islam. Khususnya di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri dan di Indonesia umumnya.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah dan masyarakat.

E. Metode Penelitian
Metode di sini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang akan dilakukan dalam proses penelitian, sedangkan penelitian itu sendiri diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran.8 Oleh karena itu, di sini akan dipaparkan mengenai :
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian yang mrngumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang terdapat dalam kepustakaan (buku) atau jenis penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun kelompok.
Menurut tempat penelitian itu dilaksanakan, maka penelitian ini tergolong penelitian perpustakaan. Penelitian kepustakaan ini bertujuan untuk mngumpulkan data ataupun informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang terdapat di ruang perpustakaan, seperti buku-buku, jurnal dan lain sebagainya.
2. Pendekatan Penelitian
Oleh karena penelitian ini tergolong penelitian pustaka atau literer, maka penelitian in menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan data secara kuantitatif.
3. Sumber Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan literatur yang berkaitan dengan teori, ada dua bentuk sumber data :
a. Data primer :
Sesuai dengan konsepsi awal bahwa variabel adalah apa yang menjadi titik perhatian dalam sebuah penelitian, jadi yang menjadi titik perhatian dalam penelitian ini adalah Konsep Kecerdasan Perspektif Howard Gardner Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Dan adapun buku primer yang digunakan adalah : Howard Gardner : Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk Teori Dalam Praktek).
b. Data sekunder
Data sekunder adalah berupa buku yang berbicara mengenai kecerdasan yang pernah di tulis oleh para ahli, bisa berupa majalah, jurnal, makalah, internet dan sebagainya yang mempunyai relevansi dengan tema atau judul penelitian. Adapun yang menjadi buku sekunder dalam penulisan skripsi ini antara lain adalah :
1) Thomas R. Hoerr : Buku Kerja Multiple Intelligences.
2) Evelyn Williams English : Mengajar Dengan Empati.
3) Thomas Armstrong : 7 Kind Of Smart.
4) Joy A. Palmer : 50 Pemikir Pendidikan.
5) Agus Efendi : Revolusi Kecerdasan Abad 21.
6) Paul Suparno, Teori Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah.
7) Dan lain sebagainya.
4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode dokumenter, yaitu mencari atau mengumpulkan data mengenai hal-hal atau variabel penelitian yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen, prasasti, rapat, leger, agenda, dan sebagainya. Metode ini dipandang relevan untuk memperoleh data yang bersumber dari buku sebagai sumber utama.
5. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisa data tersebut. Oleh karena penelitian ini bersifat kualitatif, jadi ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisa data-data yang ada, diantaranya;
a. Metode deduktif, yaitu cara berpikir dengan menggunakan analisis yang berpijak pada pengetian atau fakta-fakta yang bersifat umum, kemudian diteliti dan hasilnya dapat memecahkan persoalan khusus. Dalam penelitian ini, metode deduktif digunakan untuk memperoleh gambaran secara detail pemikiran Howard Gardner.
b. Metode induktif, yaitu cara berpikir yang berpijak dari fakta-fakta yang bersifat khusus kemudian diteliti dan akhirnya ditemui pemecahan persoalan bersifat umum. metode induktif digunakan untuk memperoleh gambaran yang utuh terhadap pemikiran Howard Gardner dari beberapa sumber buku.
c. Metode komparatif, yaitu metode dengan cara menggunakan logika perbandingan dengan teori-teori untuk mendapatkan keragaman teori yang masing-masing mempunyai relevansi. Dalam penelitian ini, metode komparatif digunakan untuk membandingkan sudut pandang Howard Gardner tentang dengan sudut pandang para ahli yang lainnya.

F. Definisi Operasional
Agar dalam penulisan ini tidak terjadi kerancuan makna atau salah persepsi, maka dipandang perlu dalam penulisan ini dicantumkan definisi dari permasalahan yang diangkat.
1. Analisis : Penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan lain sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkara, dan sebagainya).
2. Konsep : Ide atau pendapat yang diabstrakkan dari peristiwa kongret.
3. Kecerdasan : Kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan dan dapat menghasilkan produk atau jasa yang berguna dalam berbagai aspek kehidupan.
4. Perspektif : Sudut pandang.
5. Howard Gardner : Seorang pemikir pendidikan yang mempelopori teori multiple intelligences.
6. Penerapan : Proses, cara, perbuatan menerapkan.
7. Pembelajaran : Suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
8. Pendidikan Agama Islam : Upaya mendidikkan Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.
Skripsi ini berisikan penyelidikan atau penganalisaan ide serta pendapat Howard Gardner tentang kecerdasan dan bagaimana menerapkan sudut pandangnya tentang kecerdasan tersebut dalam pembelajaran pendidikan agama Islam. Di skripsi ini, penulis ingin mencoba membuat teori tentang penerapan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner dengan menggunakan pedoman buku-buku panduan tentang penerapan kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran secara umum, kemudian penulis mencoba untuk membuat teori bagaimana cara menerapkan konsep tersebut dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.

G. Sistematika Pembahasan
BAB I : PENDAHULUAN : yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metodologi penelitian yang meliputi : jenis penelitian, pendekatan penelitian, sumber data, metode pengumpulan data dan teknik analisa data. Definisi operasional dan sistematika pembahasan.
BAB II : KONSEP KECERDASAN DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, meliputi kecerdasan yang meliputi : pengertian kecerdasan, teori faktor kecerdasan (factor theories of intelligence), teori kecerdasan berorientasi-proses (process-oriented theories of intelligense), kecerdasan intelektual (iq), kecerdasan emosional (eq) dan kecerdasan spritual (sq). Pembelajaran pendidikan agama Islam yang meliputi : pengertian pembelajaran pendidikan agama Islam, teori pembelajaran pendidikan agama Islam, dasar pembelajaran pendidikan agama Islam, unsur-unsur pembelajaran pendidikan agama Islam, tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran pendidikan agama Islam.
BAB III : KONSEP KECERDASAN PERSPEKTIF HOWARD GARDNER, yang terdiri dari : biografi Howard Gardner dan karya-karyanya, pengertian kecerdasan perspektif Howard Gardner, bukti teori kecerdasan perspektif Howard Gardner dan jenis-jenis kecerdasan perspektif Howard Gardner.
BAB IV : PENERAPAN KONSEP KECERDASAN PERSPEKTIF HOWARD GARDNER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, yang meliputi : mengenal multiple intelligences siswa, mempersiapkan pengajaran, strategi pengajaran, menentukan evaluasi, model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menerapkan kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dan metode yang dapat digunakan untuk menerapkan kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
BAB V : KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENERAPAN KONSEP KECERDASAN PERSPEKTIF HOWARD GARDNER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, meliputi : kelebihan penerapan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dan kekurangan penerapan konsep kecerdasan perspektif Howard Gardner dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
BAB V : PENUTUP, yang berisi : simpulan dan saran-saran.
Peranan Public Relation Officer Dalam Membangun Citra Perusahaan Di PT Radio X

Peranan Public Relation Officer Dalam Membangun Citra Perusahaan Di PT Radio X

(Kode ILMU-KOM-0026) : Tugas Akhir D3 - Peranan Public Relation Officer Dalam Membangun Citra Perusahaan Di PT Radio X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi saat ini, radio swasta diharapkan mampu memberikan informasi dan hiburan (entertain) yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Selain radio sebagai media massa elektronik yang harganya cukup terjangkau sehingga hampir semua orang memilikinya dan bersifat auditif serta dalam menyampaikan pesan dapat langsung didengarkan oleh pendengarnya. Oleh karena itu, radio dapat menjadi pilihan selain televisi.
Dalam menghadapi era global, X 92,9 FM dituntut untuk dapat menciptakan budaya perusahaan yang baik agar mendapatkan kepercayaan dari publik, apalagi X 92,9 FM tergolong stasiun radio swasta yang masih baru yaitu baru beroperasi sekitar tiga tahun yang lalu. Untuk dapat menciptakan citra yang baik maka dibutuhkan seorang Public Relations Officer professional yang diharapkan mampu membangun good image dari X 92,9 FM. Public relations sangat penting bagi sebuah organisasi karena aktivitasnya dapat menjadi wahana integrasi internal, menjembatani saling pengertian anggota komunitas, sehingga menimbulkan loyalitas pada kalangan karyawan dan memperkuat etos kerja di kalangan direksi / manajer.
Disinilah kegiatan humas (public relations) memegang peranan penting. Sebab peran humas sangat dominan dalam menjalin hubungan antara perusahaan dengan publiknya, baik publik internal maupun publik eksternal, karena segala kegiatan public relations terkandung unsur – unsur yakni citra baik(good image), itikad baik (good will), saling pengertian (mutual understanding), saling mempercayai (mutual appreciation) serta toleransi yang dapat menghantarkan perusahaan pada hubungan yang baik dan pada akhirnya akan membentuk citra yang positif terhadap perusahaan. Selain itu, seorang public relations juga mempunyai peranan yang penting dalam menangani persoalan – persoalan yang berkaitan dengan keinginan dan harapan stakeholders, baik itu stakeholders internal (pihak internal perusahaan) maupun stakeholders eksternal (pendengar dan media massa baik cetak seperti koran dan majalah ataupun elektronik dalam konteks ini adalah stasiun televisi) demi perkembangan X 92,9 FM untuk kearah yang lebih baik serta dapat membangun kepercayaan publik. Adanya kepercayaan dari publik (public trust) akan memberikan image yang positif terhadap keberadaan X 92,9 FM.
Kuliah Kerja Media bisa dikatakan mempunyai arti yang penting bagi profesi public relations adalah untuk meningkatkan serta memperluas pengalaman autentik di dalam dunia kerja nyata, selain ini untuk menerapkan teori serta praktek yang telah diberikan selama mengikuti perkuliahan. Kuliah kerja Media adalah kesertaan mahasiswa secara nyata dan langsung dalam kegiatan kerja profesi baik pada satu atau lebih perusahaan instansi tempat KKM merupakan wahana untuk menerapkan dan mempraktekkan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan serta untuk mengenal dan mempelajari pekerjaan yang berkaitan dengan public relations.
Untuk itulah penulis memilih PT. X (X 92,9 FM) yang terletak di jalan Menteri Supeno No. 6 Manahan Surakarta ini sebagai tempat melaksanakan Kuliah Kerja Media (KKM) 2006, ini dengan pertimbangan bahwa penulis ingin lebih mengetahui segala kegiatan public relations X 92,9 FM karena X 92,9 FM tergolong sebagai stasiun radio baru yang masih dalam tahap membangun image positif dari publik. Penulis memulai KKM pada tanggal 1 Februari sampai dengan 16 Maret 2006 dan ditempatkan pada Bussines Development Division sebagai Public Relations.

B. Tujuan Kuliah Kerja Media (KKM)
Selain sebagai salah satu syarat kelulusan guna memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md) bidang Komunikasi Terapan, proses Kuliah Kerja ini dilaksanakan agar mahasiswa dapat mengambil suatu pelajaran yang positif selama melaksanakan Kuliah Kerja Media. Adapun tujuan penulis dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Media di PT. X (X 92,9 FM) adalah sebagi berikut :
1. Ingin mengetahui peranan Public Relations Officer dalam membangun image perusahaan di PT. X (X 92,9 FM)
2. Memperoleh pengalaman secara nyata tentang dunia kerja beserta system kerja yang sebenarnya.
3. Mengenal lebih dekat aktivitas kerja kehumasan radio di PT. X (X 92,9 FM)
4. Melatih penulis untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghadapi permasalahan dan menyelesaikan tugas – tugas di lingkungan kerja.
5. Membekali mahasiswa untuk menambah ketrampilan dan pengetahuan khususnya bidang kehumasan agar dapat terjun ke dunia kerja secara maksimal serta menjadi seorang humas yang professional.
Kegiatan Komunikasi Sebagai Sarana Humas Untuk Meningkatkan Citra Positif Perusahaan Di Mata Publik Internal Dan Eksternal PT PLN Distribusi X Dan X

Kegiatan Komunikasi Sebagai Sarana Humas Untuk Meningkatkan Citra Positif Perusahaan Di Mata Publik Internal Dan Eksternal PT PLN Distribusi X Dan X

(Kode ILMU-KOM-0025) : Tugas Akhir D3 - Kegiatan Komunikasi Sebagai Sarana Humas Untuk Meningkatkan Citra Positif Perusahaan Di Mata Publik Internal Dan Eksternal PT PLN Distribusi X Dan X

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sebuah organisasi, Public Relations atau biasa disebut dengan Humas merupakan salah satu bagian / departemen yang mempunyai tugas bertanggung jawab mendengarkan dan menampung segala kritik, keluhan, ataupun saran dari masyarakat. Bidang Public Relations/ Humas adalah suatu bidang yang sangat luas yang menyangkut hubungan dengan berbagai pihak. Public Relations/Humas tidak selalu merupakan alat promosi, karena dalam kenyataannya masih sering dijumpai salah pengertian tentang Public Relations/Humas. Kebanyakan orang menganggap Public Relations/Humas sekedar menjual senyum, propaganda dengan tujuan memperoleh kemenangan sendiri, atau mendekati pers dengan tujuan memperoleh suatu pemberitaan. Padahal sebenarnya Public Relations/Humas merupakan hal yang sangat penting yang keberadaannya harus dapat menyesuaikan sebuah organisasi dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat.
Kebutuhan tenaga seorang Public Relations/Humas sangat dibutuhkan oleh beberapa perusahaan, terlebih lagi kebanyakan beberapa perusahaan yang cukup besar di Indonesia sangat memerlukan tenaga seorang Public Relations untuk membangun hubungan yang baik dengan publik internal maupun publik eksternal.
Kemampuan secara praktis sangat diperlukan dalam era globalisasi seperti sekarang ini yang semuanya serba modern dan menggunakan teknologi canggih. Tenaga-tenaga yang terampil yang tidak hanya berbekal kemampuan teoritis akan semakin diperhitungkan dan dibutuhkan dalam dunia kerja. Untuk itulah setiap mahasiswa dilatih untuk bisa mempraktekkan segala ilmu yang diberikan pada saat kuliah ke dalam latihan praktek dunia kerja yang nyata dan salah satunya adalah dengan Kuliah Kerja Media, sebagai salah satu wadah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimilikinya. Kuliah Kerja ini juga dipersiapkan untuk para mahasiswa agar setelah lulus nantinya dapat langsung terjun ke dunia kerja yang sebenarnya.
Sehubungan dengan hal tersebut maka penulis memilih PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X sebagai tempat untuk mempraktekkan semua teori yang telah di dapatkan di bangku kuliah dan tempat untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang komunikasi, khususnya pada bidang Public Relations/Humas supaya terampil dan memiliki wawasan tentang dunia kerja Public Relations.
PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X merupakan sebuah perusahaan yang memiliki Budaya Perusahaan yang jelas yang meliputi falsafah, visi dan misi, serta tata nilai perusahaan PT. PLN (Persero) yang mampu mewujudkan wawasan bersama dengan selalu menjunjung tinggi dan menerapkan nilai-nilai, diantaranya :
a. Saling percaya (mutual trust)
b. Integritas (integrity)
c. Peduli (care)
d. Pembelajaran (learner)
Dalam kesempatan ini penulis akan dapat memahami dan mengetahui bagaimana peran dan tugas seorang Public Relations/Humas dalam menjalankan tugas kesehariannya. Beban yang dipikul oleh seorang Public Relations/Humas tidaklah ringan karena sebagai ujung tombak sebuah perusahaan yang sudah dikenal banyak orang pastilah memiliki berbagai macam permasalahan. Saat menyelesaikan sebuah permasalahan perusahaan seorang Public Relations/Humas harus sangat berhati-hati, karena segala keputusan yang diambil sangat erat kaitannya dengan hubungan baik perusahaan di mata publik eksternal maupun internalnya. Untuk itulah, pada kesempatan ini penulis bermaksud menyusun Tugas Akhir dengan judul “ KEGIATAN KOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HUMAS DALAM MENINGKATKAN CITRA POSITIF PERUSAHAAN DI MATA PUBLIK INTERNAL DAN EKSTERNAL PADA PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI X DAN X “

B. Tujuan Kuliah Kerja Media (KKM)
1. Tujuan Umum
Praktek Kuliah Kerja Media (KKM) merupakan persyaratan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa semester akhir Program Diploma III Komunikasi Terapan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta untuk memenuhi kegiatan proses akhir perkuliahan yang juga merupakan salah satu syarat kelulusan dan mendapatkan gelar Ahli Madya.
Dalam kegiatn praktek Kuliah Kerja Media (KKM) ini penulis dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang penulis peroleh selama di bangku kuliah dalam suasana kerja yang sesungguhnya. Sehingga berdasarkan hasil praktek kerja lapangan maka seterusnya akan disusun dalam bentuk Laporan Praktek Kuliah Kerja Media.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendapatkan gambaran yang nyata tentang dunia kerja yang sebenarnya sehingga dapat melatih rasa percaya diri, daya kreativitas serta keberanian bersikap dalam diri setiap mahasiswa dalam menghadapi lingkungan kerja yang kelak akan dihadapi.
b. Dengan Kuliah Kerja Media (KKM) ini mahasiswa bisa menerapkan dan mempraktekkan ilmu-ilmu yang diterima di bangku kulia dengan terlibat langsung dalam proses kerja secara nyata pada divisi Humas PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X pada khususnya.
c. Dapat mengetahui tugas-tugas penting yang harus dilakukan seorang PR/Humas di sebuah perusahaan.
d. Dapat mengamati, memahami dan melakukan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X.
e. Mengetahui sejauh mana peran dan fungsi Humas PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X.
f. Mengetahui kendala yang dihadapi selama menjalankan fungsi Humas pada PT. PLN (Persero) Distribusi X dan X.
Tesis Strategi Memenangkan Persaingan Dalam Pemasaran Surat Kabar Harian Di kota X Kasus Fajar-Tribun Timur Dan Pedoman Rakyat

Tesis Strategi Memenangkan Persaingan Dalam Pemasaran Surat Kabar Harian Di kota X Kasus Fajar-Tribun Timur Dan Pedoman Rakyat

(Kode ILMU-KOM-0024) : Tesis Strategi Memenangkan Persaingan Dalam Pemasaran Surat Kabar Harian Di kota X Kasus Fajar-Tribun Timur Dan Pedoman Rakyat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tertulis dalam sejarah Indonesia bahwa, pada tahun 1999 Indonesia melakukan perubahan besar yaitu masyarakat menuntut kebebasan yang disebut reformasi, masa ini masyarakat menuntut transparansi dari pemerintah. Pers dalam hal ini ikut mengambil bagian terpenting dan menguntungkan, karena semua warga negera Indonesia berhak untuk mendirikan perusahaan pers.
Hal ini membuat bisnis dibidang pers mengalami persaingan yang sangat ketat karena itu industri pers dituntut untuk mengemas produk informasinya lebih canggih lagi mengingat bisnis informasi sudah menjadi trend diawal millenium III.
Dalam bidang informasi, menguasai pangsa pasar dan masuk dalam persaingan ketat antara perusahaan menjadi bagian terpenting dan tidak bisa dielakkan karena masyarakat penikmat informasi menjadikan berita sebagai kebutuhan sehar-hari yang tidak bisa diabaikan keberadakannya. Oleh karena itu, kehadiran media informasi baik milik pemerintah maupun swasta sangat menunjang pengadakan informasi dan itu sangat diperlukan. Informasi itu bisa melalui media cetak maupun elektronik.
Dalam persaingan media massa, selain media cetak sendiri, media elektronikpun (radio dan Televisi) dan media internet walaupun hanya satu persen bangsa Indonesia yang terkait ke internet, juga melakukan persaingan namun tidak separah dengan persaingan media cetak, karena kita mengenal lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional seperti surat kabar daerah, majalah daerah.
Karena itu, saat ini bisnis surat kabar pada saat ini merupakan bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha pers, selama masyarakat Indonesia masih terikat dalam media konvensional, namun hal ini perusahaan pers perlu manajemen yang baik untuk mencapai tujuan perusahaan dalam persaingan persuratkabaran dewasa ini.
Dalam hal ini perusahaan pers yang berusaha menciptakan produk, guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Karena demikian besar dan ketatnya persaingan yang mendominasi dunia usaha dewasa ini, dimana perusahaan berlomba menguasai pangsa pasar.
Namun dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan, seringkali perusahaan tersebut dihadapkan pada berbagai kesulitan, misalnya kesulitan merebut pangsa pasar yang lebih luas sebagai akibat dari persaingan antara perusahaan untuk mengatasi keadakan tersebut diatas.
Memperhatikan kepuasan kepada konsumen dan masyarakat merupakan tujuan utama suatu perusahaan yang menganut konsep pemasaran yang mengajarkan bahwa rumusan strategi pamasaran sebagai suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut, harus berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Konsumen perusahaan bukanlah merupakan tindakan khusus, tetapi lebih merupakan pernyatakan yang menunjukkan usaha-usaha pokok diarahkan untuk mencapai tujuan. Strategi pemasaran itu sendiri terdiri dari unsur-unsur pemasaran terpadu yaitu product, price, place, dan promotion (komunikasi pemasaran) yang selalu berubah-ubah sejalan dengan aktivitas perusahaan dan perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan prilaku konsumennya.
Dengan adanya perusahaan dalam masyarakat, pola beli yang berubah-ubah telah mengakibatkan banyaknya perusahaan hidup dalam situasi yang tidak menentu sehingga para pengusaha dituntut untuk mendalami pengetahuan tentang strategi bersaing yang mana merupakan salah satu aspek yang dapat memperlancar tujuan perusahaan yang ingin dicapai.
Beberapa perusahaan pers di X yang telah melayani segmen pembaca surat kabar kini mengalami panetrasi pasar dan produk bersaing dalam era globalisasi informasi ini.
Persaingan terdapat dari suatu industri yang mengejar pasar sasaran yang sama. Strategi bersaing meliputi penentuan posisi dalam suatu untuk memaksimalkan nilai kemampuan yang membedakannya dengan para pesaing, karena aspek yang sangat penting dalam perumusan strategi bersaing adalah analisis pesaing, yang mana sasarannya adalah pengembangan profit, sifat dan sukses dari akibat kemungkinan perubahan strategi yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap pesaing.
Di X ada tiga perusahaan surat kabar yaitu harian Fajar Tribun Timur dan Pedoman Rakyat yang dianggap mempunyai persaingan dalam pemasaran. Mereka dituntut bagaimana dapat mempertahankan perkembangan pemasarannya

B. Permasalahan
Strategi apa yang diterapkan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan persaingan dalam pemasaran.
Pertanyakan Penelitian :
1. Apakah strategi pemasaran yang dilakukan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dapat meningkatkan oplah penjualan ?
2. Apakah bauran pemasaran yang digunakan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat berbeda dalam mempertahankan pangsa pasarnya?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah dapat dikemukakan sebagai berikut :
Untuk mengkaji strategi pemasaran yang digunakan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan strategi persaingannya.
Untuk mengkaji bauran pemasaran yang dilakukan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam mempertahankan pangsa pasarnya.

D. Kegunakan Penelitian
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi studi pemasaran yang akhir-akhir ini makin banyak memperoleh kajian dari berbagai disiplin ilmu baik melalui kajian teoritis maupun melalui kajian riset dibidang terapan.
Manfaat Praktis
Secara paraktis penelitian ini diharapkan dapat merefleksikan efektifitas penggunakan strategi dalam memenangkan persaingan pemasaran, dan tidak kalah pentingnya bahwa penelitian ini dapat memperkaya hasil penelitian pada ilmu komunikasi (komunikasi bisnis) khususnya dan pada strategi pemasaran pada tiga surat kabar di X yaitu Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam kegiatan pemasarannya untuk meningkatkan dan mempertahankan pembacanya.
Tesis Pesan Komunikasi Politik Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia Dan Pengaruhnya Terhadap Kalangan Nahdliyin Di X

Tesis Pesan Komunikasi Politik Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia Dan Pengaruhnya Terhadap Kalangan Nahdliyin Di X

(Kode ILMU-KOM-0023) : Tesis Pesan Komunikasi Politik Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia Dan Pengaruhnya Terhadap Kalangan Nahdliyin Di X

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah

Memasuki tiga dasawarsa terakhir dipenghujung abad ke-20, ada satu fenomena menarik di tengah-tengah masyarakat dunia, khususnya bangsa Indonesia, yaitu menguatnya tuntutan akan demokratisasi. Menguatnya tuntutan ini lantaran demokrasi dipandang sebagai sistem yang mampu mengantar masyarakat ke arah transformasi sosial politik yang lebih ideal. Demokrasi dinilai lebih mampu mengangkat harkat manusia, lebih rasional, dan realitis, untuk mencegah munculnya suatu kekuasaan yang dominan, represif, dan otoriter.
Demokrasi dapat dimengerti sebagai suatu sistem politik di mana semua warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yang diadakan secara periodik dan bebas, yang secara efektif menawarkan peluang pada masyarakat untuk mengganti elit yang memerintah. Menurut Sundaussen dalam Murod (1999:59), demokrasi juga bisa dipahami sebagai suatu “policy” di mana semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat, mempunyai hak yang sama di depan hukum, dan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipeluknya. Meskipun begitu, Sundaussen meyakini bahwa tidak semua manifestasi-manifestasi tentang demokrasi di atas pernah dijalankan sepenuhnya, bahkan dalam suatu sistem yang demokratis sekalipun.
Setelah orde baru tumbang dan Indonesia secara dramatis sudah melangkah ke tahap institusionalisasi demokrasi, sebetulnya perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi. Minimal dari segi pranata, legal dan institusional. Kita sudah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, kemudian banyak ritual-ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat itu bisa diinstitusionalisasi berlangsung secara berkala dan reguler. Partai dibebaskan untuk berdiri, Indonesia mengalami periode dimana liberalisasi politik berpuncak pada multi partai yang luar biasa besar. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai point of no return. Sejauh kita bertekad untuk meneruskan mekanisme politik seperti ini secara legal dan konstitusional.
Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin proses itu berlangsung terus. Beberapa perubahan penting yang cukup mendasar, salah satunya adalah desentralisasi. Sekarang dalam tahap menuju desentralisasi demokrasi. Memang kita akui mengandung banyak sekali kelemahan, banyak pertikaian yang tidak perlu, dan banyak sekali benturan kepentingan yang sengit agar desentralisasi betul-betul bermakna desentralisasi demokrasi maupun desentraliasi kekuasaan. Suasana ini sudah berlangsung sebagai basis bagi kehidupan berkala kita selama lima tahun proses sirkulasi kekuasaan. Hanya saja, siapa yang memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan institusi ini, memanfaatkan mekanisme dan prosedur yang sudah demokratis seperti ini. Kita tahu bahwa yang berhasil memanfaatkan secara maksimal ternyata adalah aktor-aktor politik. Hal ini bisa dilihat pada semangat elit politik mendirikan partai politik guna meraih kekuasaan.
Jadi yang kita pahami menyangkut gerakan demokrasi di Indonesia adalah berbasis aktor. Penulis mengasumsikan itu sebagai upaya berbagai kelompok aktor di kalangan masyarakat Indonesia, dan itu bisa berbagai variasi, yang berusaha memperkuat institusi-insitusi demokrasi pada tingkat yang lebih jauh, yaitu politik demokratisasi. Termasuk juga bagaimana demokrasi harus diberi konteks sosial kultural.
Diantara aktor politik yang turut berperan dalam gerakan demokrasi di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Sebagai mantan presiden RI keempat hasil koalisi poros tengah dan mantan ketua Umum NU selama tiga periode, Gus Dur sangat dikenal sebagai tokoh yang “nyeleneh”, vokal, dan kontroversi. Sebagai contoh kasus pencabutan SIUPP Monitor tahun 1990, di saat mayoritas umat Islam mengecam angket yang dibuat Tabloit Monitor, Gus Dur justru sebaliknya mengecam tindakan tersebut. Kecaman Gus Dur ini bukan semata-mata membela Monitor, namun sikap umat Islam dalam pandangannya sudah kelewat batas. Dalam pengertian, sikap umat Islam justru sudah mengarah pada sikap anti-demokrasi, misalnya meminta pencabutan terhadap Harian kompas dan Gramedia Group. Gus Dur menyatakan tidak setuju menyelesaikan masalah hanya dengan pencabutan SIUPP saja tanpa mengedepankan perkara ke pengadilan.
Gayanya yang seperti “pemain ketoprak” ini oleh Abdurraman Wahid sudah dirajut semenjak dia mulai berkecipung dalam discourse pemikiran pada awal 1970-an. Hanya saja lantaran setiap lontaran pemikirannya dipandang tidak lazim untuk zamannya, penuh kontroversi, dan selalu membuat orang “terkejut”, tidak heran bila ada atau bahkan banyak yang menganggap Gus Dur sebagai cendekiawan Muslim penuh kontroversi, dan aneh. Predikat ini secara konsisten dipertahankannya hingga sekarang (Murod, 1999: 86).
Predikat ini tampaknya cukup tepat, bila mengamati sikap dan pemikiran politik Abdurrahman Wahid, sejak kemunculannya sebagai seorang scientist sampai kemudian menjadi seorang aktor politik (political player) yang cukup mumpuni, atau sebagai politisi paling ulung di era 1990-an, menurut Salim Said dalam Murod (1999:86). Dalam berbagai sepak terjangnya, Abdurrahman Wahid nyaris selalu berseberangan dengan mainstream sebagian cendekiawan Islam.
Secara faktual asumsi ini tak bisa dibantah, hanya saja menurut Al-Zastrouw (1994:2), bila dikaji secara lebih jauh apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid sebenarnya hal yang wajar dan biasa terjadi dalam proses kehidupan. Jika dikatakan aneh dan kontroversi itu lantaran keberaniannya untuk berbeda dan keluar dari kelaziman. Ini diperkuat Emha Ainun Nadjib yang menyebut Abdurrahman Wahid sebagai “orang gila” dalam sejarah. “Orang gila” yang dimaksud Emha Ainun Najib adalah orang yang menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain (1993:12).
Sementara Hakim (dalam murod,1993:87), menyarankan bahwa untuk memahami Abdurrahman Wahid, ada tiga kunci yag harus diperhatikan, liberalisme, demokrasi, dan universalisme. Bila kita memahami dalam bingkai tiga kata kunci ini, apapun pemikiran atau langkah Gus Dur akan bisa dimaklumi. Artinya, bukan Abdurrahman Wahid yang mendahului jamannya, tetapi terkadang tidak sedikit orang yang terlalu konservatif, a-priori, picik, dan sempit pandangan dalam mengekspresikan sepak terjang Abdurrahman Wahid.
Sebelumnya, Abdurrahman Wahid juga pernah melontarkan berbagai gagasan yang terbilang aneh, seperti mengganti assalamu’alaikum menjadi “selamat pagi, sore atau malam”, menjadi juri Festifal Film Indonesia (FFI), membuka Malam Puisi Jesus Kristus di gereja, menolak bergabung dengan ICMI, di kala sebagian besar umat Islam mendambakan kehadirannya, termasuk juga keterlibatannya sebagai ketua di Forum Demokrasi (Fordem), serta kunjungannya ke negara Zionis, Israel.
Bukan hanya itu, dalam konteks pergulatan politik di tingkat elit, Abdurrahman Wahid juga terbilang kontroversi dan vokal. Karenanya tidak mengherankan kalau kemudian ia sering terhalang oleh berbagai rintangan. Akhir 1998-an sampai dengan pertengahan XXXX merupakan masa penuh tantangan bagi Abdurrahman Wahid dalam konstelasi politik nasional.
Dalam rangka membangun demokrasi di Indonesia, Abdurrahman Wahid bersama tiga tokoh nasional lainnya, M. Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengadakan pertemuan politik di Ciganjur hingga melahirkan deklerasi Ciganjur (10/11/1998), disamping merupakan peristiwa ‘langka’, memiliki makna signifikan bagi gerakan demokrasi di Indonesia.
Menurut Alfian (2001:36), setidaknya ada tiga makna signifikan atas pertemuan Ciganjur. Pertama, ia bermakna mendalam bagi kemajuan pendidikan politik secara luas. Ini terlihat dari delapan butir kesepakatan, yang menekankan orientasi persatuan dan kesatuan bangsa secara utuh, pengembalian kedaulatan rakyat, desentralisasi pemerintahan, perspektif reformasi untuk generasi baru, pemilu yang independen, penghapusan dwifungsi ABRI, pengusutan harta kekayaan Soeharto, dan pembubaran pengamanan swakarsa SI MPR.
Kedua, ia bermakna signifikan bagi perkembangan konstruktif Indonesia masa depan, tatkala kini kebekuan (kultur) politik terjadi. Munculnya kekuatan-kekuatan politik baru, yang mewujud dalam banyaknya partai politik baru, merupakan fenomena yang perlu dijawab dengan sikap-sikap kedewasaan dalam pergaulan politik nasional.
Ketiga, ia mengawali sebuah ‘tradisi baru’ bagi upaya membangun demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia. Tradisi ini menyiratkan pentingnya duduk bersama untuk merundingkan masalah-masalah bersama, dalam konteks reformasi dan kebangsaan.
Deklerasi Ciganjur merupakan starting point bagi elit politik untuk meneruskan gerakan demokrasi di Indonesia pasca kejatuhan orde baru, peristiwa ini juga merupakan jempatan bagi Abdurrahman Wahid menjadi presiden RI ke-empat.
Peristiwa yang cukup spectacular dalam kehidupan politik Gus Dur juga nampak ketika ia membacakan dekrit presiden dengan maksud membubarkan parlemen DPR dan MPR, ia menganggap tindakan dewan sudah melampaui batas dan keluar dari koridor demokrasi, namun tindakan ini jadi bumerang bagi Gus Dur yang berakibat harus turun dari jabatannya sebagai presiden.
Sikap Gus Dur bertendensi politis lainnya yang masih aktual adalah ketika ia memilih Golput (golongan putih) dalam pemilihan presiden secara langsung XXXX. Gus Dur melakukan hal itu sebagai protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurutnya melanggar sejumlah undang-undang Pemilu.
Sekalipun atas nama pribadi, sikap golput KH. Abdurrahman Wahid tersebut diduga berdampak pada peran serta masyarakat dalam pemilihan presiden secara langsug, hal ini dapat dilihat pada rekapitulasi KPU dari 155.048.803 pemilih terdaftar, lebih dari 36 juta di antaranya tidak mempergunakan hak pilihnya (golput). Jumlah ini jauh lebih tinggi dari perolehan suara pasangan Megawati Soekarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi yang berada di urutan kedua dengan 31,5 juta suara (26,6 %). Perilaku golput ini meningkat pada pelaksanaan pilpres II menjadi 44 juta lebih besar dari perolehan suara pasangan Mega-Hasyim yang tetap diurutan kedua dengan 43,2 juta suara (39,1 %).
Pilihan golput masyarakat terjadi di semua kota di Indonesia, seperti juga di X tempat penelitian ini dilakukan, Sebanyak 32,52 persen atau 683.635 pemilih yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak suaranya alias golput dalam Pilpres putaran kedua 20 September XXXX. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Pilpres putaran pertama yang mencapai 29,95 persen atau 607.483 pemilih dari jumlah pemilih terdaftar sebanyak 2.028.160 orang.
Sebagai seorang tokoh NU dan telah menjadi ketua umum selama tiga periode, manuver politik Gus Dur tak lepas dari perjalanan NU. Melalui partai politik PKB yang berbasis massa warga nahdliyin. Agaknya Gus Dur hendak mengangkat derajat politik di kalangan NU. Hal ini setidaknya, terbaca dalam dua hal. Pertama, Gus Dur sengaja memunculkan namanya dengan legitimasi pimpinan NU yang memiliki banyak pengikut sebagai repsentasi kelompok informal-luar sistem.
Kedua, Gus Dur berhasil memantapkan dirinya sebagai poros politik dominan ditubuh NU walaupun ditubuh NU terbelah dalam beberapa partai politik, bahkan lebih dari itu Gus Dur telah menjadi tokoh nasional dan internasional (Alfian, 2001:35)
Melihat banyaknya aktivitas Gus Dur yang mengandung pesan politik dalam gerakan demokrasi di Indonesia dan diduga turut mempengaruhi perilaku politik rakyat Indonesia khususnya warga NU menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam.

Rumusan Masalah
Bagaimana pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di X ?
Bagaimana perilaku Kalangan Nahdliyin dalam Menerima Pesan Gus Dur?
Bagaiman pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan nahdliyin X ?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang diangkat, yaitu untuk:
Untuk menganalisis bentuk pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di X.
Untuk menganalisis perilaku Kalangan Nahdliyin dalam menerima Pesan politik Gus Dur.
Untuk menganalisis pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan Nahdliyin X.

Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi, baik secara teoritis maupun praktis.
Diharapkan dapat memberi sumbangan bagi upaya perkembangan ilmu pengetahuan, khusunya Ilmu Komunikasi dan studi komunikasi politik.
Diharapkan menjadi bahan rujukan bagi peneliti yang berminat pada kajian yang sama dengan permasalahan yang berbeda dengan wacana membangun demokrasi Indonesia yang akan datang.
Diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat dalam mengambil keputusan atau langkah-langkah bagi yang berkepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.